Share

Sebulan Masa Hukuman

"Di mana aku menaruhnya?!"

Begitu mengingat tasnya sempat jatuh di ruangan Aditya tadi, Selena langsung buru-buru ke kantor. 

Bisa tamat riwayatnya kalau sampai Aditya menemukan pil tersebut, apalagi jika sampai pria itu mengetahui fungsi pil itu.

Sayangnya, ruangan Aditya terkunci sehingga Selena tidak bisa masuk ke sana. Satu-satunya yang bisa ia cek kemudian adalah ruangannya sendiri.

Laci kerjanya jadi sasaran Selena untuk diobrak-abrik. Penjuru ruangannya pun tak kalah dari pantauannya. Namun, yang ia dapati hanya ruangannya jadi berantakan, tanpa menemukan pil yang ia cari.

“Hah….” Selena mendesahkan rasa kecewa. Pil itu mungkin bisa ia beli lagi, tetapi yang menjadi pikirannya adalah … bagaimana jika ada yang menemukan dan mengetahui kalau ialah pemiliknya?

Saat akan keluar dari ruangan, terdengar suara langkah kaki melangkah lalu berhenti di depan pintu ruangannya. 

Selena melirik ke arah jam dinding. "Jam sembilan? Siapa yang masih ada di lantai lima di jam segini, ya?" gumamnya seraya

mengedarkan pandangan ke isi ruangannya yang berantakan.

Ia berbalik badan. Cepat-cepat merapikan mejanya. Belum juga selesai, suara ketukan keras di pintu ruangan membuatnya berhenti. 

Ketika membuka pintu, Selena kaget setengah mati melihat Aditya lah berdiri di hadapannya.

‘Kenapa dia masih di sini?’ pikir Selena dalam hati.

Karena takut, jantungnya berdetak kencang, napasnya juga mulai tidak teratur. 

"M-maaf, Pak. Saya kemari untuk mencari dompet saya yang ketinggalan tadi," ucapnya berbohong seraya meremas telapak tangannya yang banjir keringat.

Wajahnya tampak memutih, ketika Aditya langsung masuk ruangan dengan mendorong bahunya untuk membuat ia menyingkir dari pintu. 

Selena bergeser, tidak berdaya menghalangi bosnya masuk. Di belakang Aditya, Selena melihat punggung bosnya menegang melihat ruangannya yang berantakan.

Tidak lama, pria itu memutar badan dan menatapnya dengan wajah merah padam. 

"Kamu mencuri?" tuduhnya membuat Selena membeku sesaat sebelum menggeleng cepat.

"S-saya mencari dompet --"

“Kamu pikir saya akan percaya?” katanya dengan alis menukik. "Pilih! Dipecat atau dihukum!" tindasnya kemudian.

Seketika bulu kuduk Selena berdiri. Entah dosa atau kutukan apa yang ia terima lagi kali ini. 

Dipecat adalah pilihan yang tidak mungkin ia ambil. Sebab, ia butuh uang untuk dikirimkan ke orang tuanya di kampung. 

Namun, dihukum pun Selena takut. Sebab, pribadi Aditya yang menakutkan di mata semua karyawan. Akan tetapi, ia tidak punya pilihan lain.

"Dihukum, Pak," jawabnya tanpa berani menatap sang atasan.

Dalam hati Selena merutuki sikap Aditya yang kejam. Jelas-jelas yang ia buat berantakan adalah ruangannya sendiri.

Kalau pria itu bijak, ia seharusnya menghukum Selena merapikan ruangannya. Namun … entahlah hukuman apa yang akan diberikan Aditya padanya.

Pria itu melangkah mendekat, lalu berbisik tegas.

"Ikut aku!" 

Selena bergeming sesaat dengan mata terbuka lebar. Tak lama, sebab detik berikutnya langkah gadis itu sudah mengikuti Aditya keluar dari perusahaan.

Tanpa banyak bertanya, Selena mengekori langkah atasannya yang lebar. 

Rupanya, Aditya membawanya ke sebuah rumah megah yang ia pikir lebih layak disebut hotel. Tapi yang membuatnya kaget, di jalan depan rumah itulah ia bertemu dengan pria tua yang membeli tubuhnya waktu itu.

Beberapa saat, kepalanya celingukan seperti mencari-cari pria tua itu. Namun, yang ia temui hanya sepi … tidak ada orang yang hilir mudik.

"Masuk!" Aditya membuyarkan lamunannya, seraya mendorong bahu Selena dengan ujung jari telunjuk.

Selena gugup, merasa asing di rumah yang dipenuhi fasilitas mewah dan para pelayan itu.

"U-untuk apa membawaku kemari, Pak?" Selena memberanikan diri membuka suara seraya menahan langkahnya.

Tidak ada sahutan. Aditya kembali mendorong bahunya, kali ini lebih kasar seperti peringatan. Selena pun tidak berani bertanya lagi, pasrah mengikuti pria itu menaiki tangga hingga ke lantai tiga.

Ia juga tidak melawan saat dibawa masuk ke kamar yang luas. Aditya menjentikkan jarinya pada Selena sembari mendorong kursi plastik dengan ujung kakinya.

Selena menghela napas sebelum duduk. Ia pasrah apapun yang akan dilakukan Aditya padanya. Apalagi melihat hanya mereka berdua saja yang ada di kamar tersebut.

"Baca ini!" Aditya mencampakkan selembar kertas padanya, kemudian beranjak dari sana.

"P-Pak, Pak Aditya," panggilnya mengejar, tetapi Aditya segera menghilang di pintu lift.

"Hukuman apa lagi ini," bisiknya. Ada rasa takut harus berada di dalam rumah yang asing baginya.

Ia pun mulai membaca isi kertas yang diberikan Aditya tadi.

"Apa-apaan ini?" pekiknya dengan mata terbelalak sampai-sampai bola matanya menonjol keluar membaca isi kertas yang ternyata berisikan tugas-tugas.

Mengantar susu jam lima pagi, serapan jam enam, makan siang jam dua belas, antar susu ….

“Susu? Dia pikir aku babysitter?” ujar Selena dalam hati. Kemudian, pikirannya mulai penuh dengan tugas-tugas seorang babysitter.

Ada rasa khawatir jika benar ia ditugaskan menjaga seorang bayi. Karena, meski berasal dari desa … tapi ia belum pernah melakukan pekerjaan semacam itu.

Andai saja Selena punya keberanian untuk meminta sisa pembayaran ganti ruginya kemarin. Mungkin, ia akan segera mengajukan surat resign jika berhasil mendapatkan sisa uangnya.

‘Selena, Selana … malang sekali nasibmu!’ keluhnya sembari berbaring di ranjang. 

Lalu, pikirannya kembali melanglang buana, mengingat sudah dua hukuman dari Aditya yang dijatuhkan padanya.

“Kalau dipikir-pikir, kenapa dia gemar sekali memberiku hukuman??”

**

Komen (2)
goodnovel comment avatar
Uppa chosma
tau ah pusing sjnendbv kali
goodnovel comment avatar
Uppa chosma
suka bagus jajakakshdbbs
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status