LOGINAfter being reborn, the first thing I did was switch my newborn daughter. In my previous life, soon after she was born, a blood test showed her type was AB. But mine was B, and my husband's was O—there was absolutely no way we could have an AB-type child. My husband flew into a rage and demanded a paternity test on the spot. To everyone's shock, the results proved she was biologically related to me, but not to him. He slapped me hard across the face, his voice trembling with disappointment. "I've always treated you well. I only ever loved you—and this is how you repay me?" My mother-in-law wailed and cursed me for cheating, accusing me of bearing another man's child to steal their family fortune. I was completely stunned. I knew better than anyone who the father of my child was—how could she possibly not be my husband's? In no time, everyone turned against me. They called me a cheater, a tramp. My husband divorced me and went online to play the victim, stirring up a storm of hate and harassment that never seemed to end. With nowhere to go and no one left to believe me, I took my baby in my arms and jumped from a building. Even in death, I couldn't make sense of it all. And when I opened my eyes again, I was back on the day my daughter was born.
View More“Heiii ... kamu mo ngapain berdiri di situ? Kamu mo merampok ya?” bentak seorang pria gagah di balik pagar hitam yang tinggi itu.
Si pemuda di balik pagar itu seketika memundurkan badannya dari pagar hitam itu karena kaget dengan bentakan bapak-bapak yang ada di balik pagar.
“Gak, Pak! Ehmmm ... anu, Pak ... saya mo ketemu Ibu Sonya!” jawab Arya yang juga memundurkan wajahnya dari pagar besar itu dengan suara gemetaran karena lumayan takut melihat pria bertubuh kekar dan besar di balik pagar itu.
Tak lama kemudian, pintu pagar hitam itu pun terbuka sedikit dan menyembulkan kepala pria kekar tadi.
“Gimana, Mas? Tadi saya kurang dengar!” ucap pria itu yang sekilas kalau dilihat sangat mirip dengan artis pemeran film laga tempo dulu, yaitu Advent Bangun.
Terlihat otot-otot lengan yang besar milik pria itu sangatlah menonjol, juga dengan dada sixpack-nya, karena sang pria hanya menggunakan celana panjang yang digulung hingga dengkulnya.
Tangannya terlihat membawa linggis besi. Hal itu membuat Arya makin ketakutan melihatnya.
“Aa ... aanu, Pak ... sesss ... sssaya mo ketemu Ibu Sonya!” ucap Arya mengulangi ucapannya tadi.
“Ada perlu apa dengan Ibu Sonya?”
“Saya mo melamar jadi sopir, Pak!” jawab Arya sambil agak membungkukkan tubuhnya untuk sedikit memberi hormat kepada pria besar itu.
“Kamu sudah ada janji dengan beliau?” tanya pria itu lagi.
“Ehmm ... sudah, Pak!” jawab Arya sambil sedikit melirik sebagian penampakan bagian depan rumah besar itu.
“Tunggu di sini!” balas sang pria. Pria itu pun memencet sebuah tombol di dekat pintu pagar, semacam interkom, untuk menghubungi seseorang.
“Halo, Bu Sonya. Ini ada laki-laki muda datang, katanya mo melamar jadi sopir!”
“Owh, suruh masuk aja, Pak Dirman!” terdengar suara perempuan di interkom itu, yang mungkin saja itu Ibu Sonya yang ingin ditemui Arya sore itu.
“Baik, Bu!” ucap pria kekar itu yang terdengar dipanggil dengan nama Dirman.
“Oke, Mas. Masnya disuruh masuk!”
“Terima kasih, Pak!”
Arya pun diantar masuk sampai ke teras halaman depan rumah itu dan Arya terbelalak melihat interior bagian depan rumah itu yang ternyata itu benar-benar rumah mewah. Seluruh bentuk interiornya bagaikan istana raja-raja yang suka Arya lihat di buku-buku dongeng kala kecil dahulu.
Terlihat taman yang sangat indah dan juga kolam ikan yang cukup lebar terhampar di bagian depan rumah mewah itu.
Belum lagi tanaman-tanaman yang berwarna-warni yang kayaknya itu tanaman berharga mahal yang menghiasi halaman depan rumah besar itu.
Cukup lama Arya duduk di bagian teras rumah mewah itu.
Saking lamanya, Arya mencoba membuka kembali sosmed I*-nya untuk mengecek kembali percakapan DM Arya dengan Ibu Sonya.
Adapun Arya bisa sampai di tempat ini karena secara tidak sengaja menemukan akun I* Ibu Sonya dan membaca salah satu posting-an Ibu Sonya itu kalau ada info lowongan pekerjaan sebagai sopir di rumah ini.
Arya kembali membuka-buka beberapa posting-an Ibu Sonya yang sekilas nampak sangat cantik dengan topi lebarnya.
Di beberapa posting-an, Arya melihat Ibu Sonya ini sering berada di lokasi-lokasi yang eksotis seperti pantai dan juga hotel-hotel mewah yang dekat dengan lautan.
Setelah menunggu kurang lebih setengah jam lamanya, akhirnya pintu besar di bagian depan rumah mewah itu sedikit terbuka dan muncul seorang perempuan sekira-kira umuran 35 tahun, kulit sawo matang, berwajah manis dengan tubuh yang cukup ideal untuk mempersilakan Arya masuk ke dalam untuk duduk di ruang tengah rumah mewah itu.
“Dengan Mas Arya ya?” tanya sang perempuan itu.
“Iya betul, Mbak,” jawab Arya dengan sopan sambil tersenyum.
“Ayo masuk ke dalam, Mas Arya!”
Arya pun mengikuti ke mana si perempuan itu berjalan. Arya makin terbengong-bengong melihat seluruh isi rumah besar dan mewah itu.
“Monggo, silakan Mas Arya duduk dulu di sini, karena Ibu Sonya masih di lantai atas,” ucap perempuan itu dengan senyum manisnya.
Arya pun duduk sambil tetap menatap kagum dengan seluruh isi dan interior rumah mewah itu.
Ia pun melihat ada tangga putih yang cukup lebar anak tangganya dengan warna putih meliuk sampai ke atas.
Tebakan Arya mungkin kamar Ibu Sonya itu ada di atas tangga itu.
“Oiya, Mas Arya mo minum apa?” tanya si perempuan yang nampak memakai baju semacam kebaya dengan belahan dada cukup rendah sehingga agak terlihat belahan dadanya yang cukup membuat mata Arya terkesiap melihatnya.
“Apa aja, Mbak. Maaf merepotkan!” ucap Arya sambil tersenyum lagi.
Seketika perempuan itu pun berlalu. Saat berbalik badan, nampak sekali tubuh semok si perempuan tadi dengan baju kebaya rumahan dan rok batik yang ia pakai.
Bentuk pinggulnya yang proporsional kembali membuat mata Arya terkesiap dan jakunnya naik turun melihatnya.
Nampaknya perempuan montok itu seorang asisten rumah tangga di rumah mewah itu.
Tak lama kemudian, si perempuan sudah kembali dengan membawa baki berisi segelas teh hangat plus dua toples berisi kue nastar dan kue keju yang biasanya sering muncul di momen-momen Lebaran.
“Ayo, Mas. Monggo diminum dan dicicipi dulu kuenya!” ucap si perempuan tersenyum dengan sopan.
“Baik, Mbak. Terima kasih, Mbak!” ucap Arya sambil mencoba menyeruput gelas yang berisi air teh hangat itu.
Sementara waktu sudah semakin sore mendekati pukul 18.00 sore, yang artinya sebentar lagi azan Magrib akan bergema.
“Gimana, Mas? Rasanya teh buatan saya?” tanya si mbaknya.
“Wahhh ... enak, Mbak ... Mbakkk ...?” ujar Arya sambil bermaksud menanyakan nama perempuan itu.
“Tini, Mas. Nama saya Surtini. Panggil saja Mbak Tini!” ujar Mbak Tini sambil tersenyum menyodorkan tangan kanannya untuk berjabat tangan.
Mereka pun saling berjabatan tangan karena Mbak Tini tahu kalau Arya ini akan menjadi bagian dari rumah itu ke depannya jika memang benar nantinya jadi bekerja sebagai sopir untuk Ibu Sonya.
“Terima kasih atas teh manisnya. Enak, Mbak Tini!” ujar Arya lagi yang kali ini dengan nada yang lebih lepas karena mencoba lebih akrab dari sebelumnya.
Karena Arya pun tahu kalau ia jadi bekerja di situ akan sering bercengkerama dengan Mbak Tini dan juga Pak Dirman tadi.
“Syukurlah kalo Mas Arya suka. Ayo Mas Arya dicoba juga donk dengan kue-kuenya. Itu aku bikin sendiri loh, Mas!” pinta Mbak Tini sambil membuka kedua penutup toples itu untuk mempersilakan Arya mencicipi kedua kue itu.
Arya pun menurut dan mengambil masing-masing satu kue, baik kue nastar maupun kue keju.
“Hmmm ... enak banget, Mbak. Wah, Mbak Tini ini kayaknya memang jago bikin minuman dan makanan!” ujar Arya sambil mengunyah kedua kue tersebut.
Terlihat Mbak Tini tertawa kecil dan merasa puas dengan ucapan Arya tadi.
“Syukurlah kalo Mas Arya suka!”
Baru saja Mbak Tini selesai berucap, tiba-tiba terdengar langkah kaki dari atas tangga yang mengarah turun ke bawah.
Tak tok tak tok tak tok!
Ternyata itu bunyi suara sepatu sandal dari Ibu Sonya.
Seketika Mbak Tini pun memberitahukan Arya kalau yang sedang berjalan dari tangga atas itu adalah Ibu Sonya.
“Tiniiii ... sudah kamu sediakan tamu kita minuman dan makanan?” teriak suara perempuan cantik yang sedang berjalan turun di tangga lebar itu.
Arya pun mendongak ke atas, matanya tertuju ke arah suara perempuan tadi.
Nampaklah di pandangan Arya yang bikin Arya takjub karena Ibu Sonya yang ia sempat lihat di akun I*******m-nya itu ternyata jauh lebih cantik aslinya saat Arya melihat langsung.
Perempuan yang bernama Sonya itu berkisar umur 40 tahun, berkulit putih bening, dan bertubuh sintal berbalut baju tidur dengan rambutnya ditutupi handuk yang melibat kepalanya.
Wajahnya sangat mirip dengan bintang film India Kareena Kapoor yang cantik dan seksi.
Bibir Ibu Sonya terlihat tebal dan matanya besar. Ia saat itu memakai baju tidur berbahan handuk halus dengan bagian atas baju tidurnya agak terbuka, sehingga dada putih bagian atasnya agak terlihat sangat bening dan mulus.
Sangat terlihat kalau Ibu Sonya itu rajin perawatan tubuh.
“Wah, Ibu Sonya abis mandi ya, Bu?” ujar Mbak Tini yang tetap saja ikut terpesona melihat sang majikan, padahal ia telah bertahun-tahun bekerja di rumah itu, namun tetap saja Mbak Tini sangat mengagumi kecantikan sang majikan.
“Ya, Mbak. Aku cukup kecapean kemarin pulang larut malam sehingga seharian tadi ketiduran cukup lama dan baru tadi baru sempat mandi!” balas sang majikan.
“Sekarang Mbak Tini boleh pergi dari sini. Saya mo interogasi dulu ini anak!” ucapnya sambil melirik Arya dengan pandangan yang dingin.
“Baik, Bu!” ujar Mbak Tini sambil menatap sebentar ke wajah Arya. Dalam hatinya, Mbak Tini bergumam kalau menurutnya Arya terlalu ganteng untuk menjadi sopir karena melihat perawakan Arya.
Arya memiliki kulit putih bersih, berwajah tampan dengan hidung mancung, rambut cepak seperti tentara, nampak seperti sosok artis Adjie Massaid.
Bibir Arya juga terlihat seksi untuk ukuran seorang laki-laki.
Jensen's hands trembled violently, veins bulging at his neck as he hurled his phone to the floor with a sharp crash."You've lost your mind, Wenner!" His eyes were bloodshot with fury. "You violated my privacy! I'll sue you for this!""For exposing your own actions?" I asked, quirking a brow. "I was merely protecting my legal rights—and I was kind enough to blur out your face."Moments earlier, every piece of evidence proving Jensen's affair—along with the official paternity test showing his connection to our daughter and a lawyer's letter—had been released online. Among them was a censored video of Jensen and the nurse, Marin Sherwood, having sex, filmed right inside our home."I was in the hospital waiting to give birth," I said coldly. "And you were sneaking women into our house. You disgust me. Luckily, fate can see—otherwise, no one would've known what kind of man you really are."If I hadn't backed up our home surveillance before moving out, that footage would've been erased
Under Jensen's incredulous stare, I said each word clearly. "This is the real report. And believe me, even I wish my daughter's biological father weren't a piece of trash like you."Jensen panicked completely. He lunged forward, snatching the report from my hands and tearing it into shreds. "It's all fake! You must've forged it. There's no way I'm that bastard's father!"I gathered all my strength and slapped him hard across the face. "That's your daughter! You don't have to love her, but how dare you insult her? I must've been blind to ever marry you, Highmore."He roared, "Stop putting words in my mouth! She's not my daughter!"I laughed sharply. "Really? Shall we do another blood test right here and now? Let's see why, when both children have O-type blood, your test somehow showed AB-type."His voice faltered, and he quickly changed the subject. "What can a blood type prove? If you weren't guilty, why would you switch the baby in the first place?" Thinking he'd found a loophole
The livestream exploded as comments scrolled by in a frenzy, the tide turning once again.'So it really was Roxanne after all—she just admitted it! What was she doing before, pretending to be innocent?''She's got some nerve. Fooled all of us, but Jensen was quick to think and caught her red-handed!''Thought she was clever, huh? She must've switched the baby because she felt guilty, and now it's turned into proof she cheated.'Strangers hiding behind their screens hurled judgment at me without hesitation.Jensen could no longer contain his excitement; his grin was so wide it looked ready to split his face. "Roxanne, you just confessed yourself! You got pregnant by another man, and when you realized your affair would be exposed, you switched the baby while I was gone."That's why you were so calm when I brought up doing the paternity test—you'd already planned to use the 'baby mix-up' excuse to cover your tracks. Lucky I figured it out, or you'd have fooled everyone!" His voice g
Jensen's voice cut off abruptly. His fingers clenched so tightly around the paternity report that his knuckles turned white. His reaction was so obvious that everyone around him stared in confusion, and the livestream chat kept urging him on.'Why'd you stop talking? Hurry up and show the report!''We've already seen the report between the father and the child—what's left to hide? It can't possibly say the kid isn't related to either of them, right?'At that, Jensen's face turned even paler, beads of sweat forming on his forehead. He stared down at the report, flipping it over and over, muttering under his breath, "Impossible."I snatched the report from his hands and studied the results before slowly curling my lips into a smile. Holding it up to the camera, I feigned surprise. "Turns out my report also says there's no blood relation."A flood of question marks filled the screen.'Could it be a mix-up? Maybe the kid they tested wasn't actually their daughter, which would explain






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.