Share

Bab 7

Author: Budi Nanas
Kurang dari satu jam kemudian, Ardi menghentikan kapalnya. Hari sudah gelap, tetapi untungnya cuaca di laut cerah. Bulan perlahan terbit dari permukaan laut.

Dengan memanfaatkan cahaya bulan, dia melambaikan tangan ke arah kapal Madya, memberi isyarat agar kapal itu mendekat.

Melihat isyarat itu, Madya mengarahkan kapalnya mendekat. Setelah menjatuhkan jangkar untuk menstabilkan kapal, dia keluar dari kabin.

"Kita mau nangkap ikan, 'kan? Kenapa malah mengajak aku ke sini?"

Sepanjang perjalanan tadi, dia juga memperhatikan kompas dan jam. Tempat ini hanya berjarak sekitar 16 kilometer dari pelabuhan.

Biasanya, dia harus pergi jauh ke laut lepas untuk menangkap ikan. Berdasarkan pengalamannya, lokasi ini tidak terlihat seperti tempat yang dihuni banyak ikan gulama.

Ardi tersenyum.

"Om, aku mengajak Om ke sini ya jelas buat nangkap ikan gulama. Sekarang sudah malam, kalau aku tebar jaring sendirian, paling banter cuma sempat menebar satu kali. Aku butuh bantuan Om. Tolong tebar jaring sesuai permintaanku nanti."

"Jaring milik keluarga Om lebih besar dan ada mesin penarik jaringnya. Kalau beruntung, sekali tarik bisa dapat 250 sampai 300 kilo. Tapi, Om harus mengikuti arahanku."

Ekspresi Madya seketika menjadi dingin. Melihat Ardi yang masih bisa tersenyum santai, dia merasa makin kesal. "Memangnya aku perlu diajari buat nangkap ikan? Urus saja kerjaanmu sendiri."

"Kalau kamu terus bicara, nanti hari keburu terang!"

Melihat Madya tidak menolak, Ardi mengangguk. Dia mengenakan celana terusan setinggi dada, lalu mulai memasang jaring. Pertama, dia menggunakan light fishing dengan memasang lampu utama dan lampu pendamping pada jaring.

Setelahnya, dia kembali ke kapal dan mulai menebarkan umpan. Madya yang juga sedang memasang jaring makin terkejut saat melihat gerakan Ardi yang begitu luwes dan terampil.

Tidak berlebihan jika mengatakan bahwa kemampuan Ardi tidak kalah jauh darinya.

Madya sudah menangkap ikan selama hampir 40 tahun. Sedangkan Ardi baru berusia 23 tahun. Meskipun sejak kecil pemuda itu sering ikut ayahnya melaut, rasanya mustahil bisa menguasai keterampilan seperti itu.

Terlebih lagi, Ardi hampir tidak pernah pergi melaut. Mungkinkah anak ini memang memiliki bakat alami?

Namun, sesaat kemudian tindakan Ardi benar-benar membuat Madya terkejut. Dia melihat Ardi mengeluarkan satu set sonar dari dalam kabin kapal!

Di bawah cahaya bulan, Madya memang tidak bisa melihat mereknya dengan jelas, tetapi dia tahu betul betapa mahalnya benda itu.

Di Desa Pasirya, satu-satunya cara untuk mendapatkan sonar adalah melalui pasar gelap di kota.

Namun, yang paling murah sekalipun harganya mencapai 300 ribu. Semuanya merupakan barang modifikasi buatan luar negeri yang prinsip kerjanya meniru suara kawanan ikan untuk memancing ikan mendekat. Soal cara mengoperasikannya, dia hanya pernah mendengar dari orang lain. Inilah pertama kalinya dia melihat benda itu secara langsung!

Bagaimana Ardi bisa mendapatkan barang semahal itu? Dari caranya bertindak, sepertinya Ardi bahkan tahu cara menggunakannya? Benda yang bahkan hanya dia dengar dari cerita orang itu, bagaimana Ardi bisa mempelajarinya?

Sambil menyetel sonar, Ardi mengangkat kepala dan melihat Madya menatapnya tanpa berkedip. Dia mengira Madya belum pernah melihat sonar sebelumnya, jadi dia tersenyum dan menjelaskan, "Om, benda ini namanya sonar. Fungsinya meniru suara ikan waktu mencari pasangan dan mencari makan."

"Jangan lihat bentuknya yang cuma kotak besi begini. Malam ini kita bisa nangkap 500 kilo lebih ikan gulama atau nggak, semuanya bergantung sama benda ini."

Madya mendengus. "Nggak usah kamu jelaskan. Aku juga tahu benda itu namanya sonar."

"Tapi, siapa yang tahu benda milikmu itu asli atau palsu? Jangan-jangan kamu cuma bawa kotak besi buat mencoba nipu aku."

"Lima ratus kilo ikan gulama? Kalau kamu sehebat itu, kenapa bisa terlilit utang judi banyak banget? Omong kosong ...."

Setelah berkata begitu, Madya memalingkan wajah dan kembali bekerja.

Ardi hanya tersenyum tanpa membantah. Dia bisa mendengar dengan jelas bahwa meskipun Madya masih menyangkal, nadanya sudah tidak seyakin sebelumnya.

Sekarang, diberi penjelasan panjang lebar pun Madya tidak akan percaya. Namun, setelah mereka menarik jaring dan mendapatkan ratusan kilogram ikan gulama, itu pasti akan lebih meyakinkan.

Memikirkan hal itu, Ardi menundukkan kepala dan kembali menyetel sonar.

Dia akan memanfaatkan sonar ini untuk memancarkan frekuensi tiga hertz yang meniru suara ikan gulama saat mencari pasangan, mencari makan, dan saat terkejut. Hal ini akan memicu naluri ikan untuk berkumpul.

Ardi meletakkan sonar di atas pelampung yang sudah disiapkan. Setelah mengatur sudutnya dengan tepat, dia perlahan menurunkannya ke laut. Kemudian, dia mulai memutar suara gelombang frekuensi yang meniru aktivitas makan dan kawin kawanan ikan.

Dia terus menatap layar sonar dan mengamati titik-titik hijau di atasnya sambil menghitung waktu dalam hati. Selama proses itu, setiap 15 menit sekali Ardi menebarkan cumi-cumi fermentasi ke laut.

Setelah dua kali menebarkan umpan, dia kembali melihat layar sonar.

Ketika kepadatan ikan di layar menunjukkan lebih dari 50 kilogram per meter kubik, dia langsung mengganti gelombang suara menjadi suara ikan yang sedang ketakutan!

Dalam sekejap, terbentuk bayangan hitam yang sangat luas di bawah permukaan air. Itulah kawanan ikan gulama yang sudah berkumpul!

"Om, angkat jaring!" teriak Ardi kepada Madya yang sedang menguap di atas kapal.

Madya terkejut dan langsung berkata dengan kesal, "Kenapa teriak-teriak? Memangnya kamu pikir ikan bisa naik hanya karena dipanggil? Kamu sudah sibuk sendiri semalaman, jangankan ikan, bayangannya saja nggak kelihatan ...."

Namun, sebelum selesai berbicara, sudut matanya menangkap sesuatu. Di bawah permukaan air tampak bayangan hitam yang sangat besar berputar-putar.

Pengalaman puluhan tahun menangkap ikan langsung memberitahunya bahwa itu adalah kawanan ikan!

Madya seketika bersemangat. Dia segera mengulurkan tangan dan menekan tombol mesin penarik jaring. Untuk mengatur kecepatan penarikan jaring, dia menggunakan alat yang dimodifikasi dari rem kendaraan.

Jaring makin mengencang.

Bayangan hitam di bawah air makin mengecil.

Warnanya juga makin pekat!

Ardi juga tidak berani membuang waktu. Dia mulai menarik jaring menggunakan alat penarik manual. Sambil menarik jaring, dia tertawa. "Om, dari sekali tarik jaring ini saja, hasil kita paling sedikit 250 kilo."

"Kali ini Om sudah nggak punya alasan lagi buat melarang aku mendekati Kinara. Nggak lama lagi aku harus mulai manggil Om ayah mertua."

Mendengar ucapannya, wajah Madya langsung menggelap. Dia menatap jaring yang terus mengerucut, lalu mendengus pelan. "Bocah, jangan keburu senang dulu! Belum tentu isi jaring ini ikan gulama."

Ardi tertawa pelan.

Ketika melihat jaring milik Madya hampir terangkat seluruhnya, dia langsung berkata, "Ikan gulama atau bukan, lihat saja sendiri."

Baru saja kata-kata itu diucapkan, jaring sudah terangkat sepenuhnya dari laut. Madya menatap jaring insang sepanjang 200 meter di hadapannya. Di dalamnya, tampak kawanan ikan gulama memenuhi seluruh jaring. Dia langsung mematung di tempat. Pikirannya seakan kosong.

Menatap tumpukan ikan gulama yang menggunung di depannya, kedua kakinya sampai sedikit gemetar.

Hampir 40 tahun! Dia sudah menangkap ikan selama hampir 40 tahun, tetapi belum pernah sekali pun mendapatkan ikan gulama sebanyak ini hanya dengan sekali menarik jaring.

Bukan hanya dirinya ....

Sejak Desa Pasirya ada, belum pernah ada keajaiban seperti ini.

Namun, saat ini keajaiban itu benar-benar terjadi di depan matanya. Parahnya lagi, orang yang menciptakan keajaiban itu bukan orang lain, melainkan Ardi yang selama ini selalu dia pandang rendah!

Sejak memasang jaring, Madya sudah merasa ada sesuatu yang tidak biasa. Kemudian, ada pula metode light fishing. Baik posisi pemasangan lampu maupun waktu penebaran umpan dilakukan dengan ketepatan yang tidak kalah darinya.

Pamungkasnya, Ardi mengeluarkan sonar.

Dia sempat mengira Ardi hanya mendengar omongan orang, lalu membawa kotak besi itu untuk berpura-pura pintar dan mencoba mengelabuinya. Namun, hasil tangkapan ikan gulama di hadapannya sekarang bagaikan tamparan keras yang menghantam wajahnya tanpa ampun!

Ardi tidak hanya bisa mengoperasikan sonar. Dia bahkan mampu menggunakannya untuk menangkap ikan gulama sebanyak ini.

Dibandingkan dengan hasil yang diperlihatkan Ardi malam ini, pengalamannya menangkap ikan selama hampir 40 tahun ini seolah tidak ada apa-apanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 50

    Di pelabuhan ....Madya sedang mengisi solar ke kapalnya ketika tiba-tiba mendengar seseorang memanggil dari belakang."Om Madya!""Om Madya!"Dia menoleh dan melihat Badrul berlari cepat menghampirinya.Wajah Madya seketika menjadi muram. Dia masih ingat jelas kejadian tempo hari, saat Badrul datang ke rumahnya dan menagih paksa biaya sewa tambak.Setelah sampai di dekatnya, Badrul langsung berkata, "Om, ada sesuatu yang perlu aku ceritakan! Kinara dan Ardi sudah jadian!"Madya hanya melirik Badrul sekilas, lalu memalingkan wajah dan melanjutkan mengisi bahan bakar ke kapal.Melihat reaksinya, Badrul mengira Madya tidak mendengar. Dia pun mengulanginya lagi, "Om, Kinara sama Ardi betulan sudah jadian!"Madya mengernyit. Bahkan kepalanya pun tidak diangkat. "Ya, aku sudah dengar."Mendengar itu, kedua alis Badrul hampir menyatu. Dengan wajah penuh keheranan, dia berkata, "Om sudah pikun ya? Aku bilang putri Om, Kinara, sudah pacaran sama Ardi si bajingan itu! Kenapa Om sama sekali ngga

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 49

    Ardi memandang Badrul, lalu tersenyum. "Kenapa? Kamu takut?"Badrul mendengus dingin. "Aku? Takut sama kamu?"Ardi mengangkat alis. "Kalau nggak, buat apa sengaja nungguin aku di sini?"Badrul mendengus pelan, sorot matanya penuh penghinaan. "Aku cuma mau ingatkan, jangan ikut campur urusan yang bukan urusanmu.""Dulu orang yang berebut jadi pemasok ikan restoran milik negara jumlahnya bisa antre sampai ujung jalan.""Tapi kenapa pada akhirnya yang dipilih justru keluargaku? Itu karena ayahku kenal sama Bu Rahayu, wakil manajer bagian pengadaan!""Jangan mentang-mentang sekarang dekat sama Pak Dayat, kamu merasa bisa merebut usaha keluarga kami. Selama Bu Rahayu masih ada, kamu nggak akan bisa berbuat apa-apa.""Dan satu lagi, jangan coba-coba nangkap ikan bahaba. Kalau nggak, aku akan kasih tahu Om Madya soal hubunganmu dengan Kinara.""Kita lihat saja nanti, kakimu bakal dibuntungin sama Om Madya nggak!"Mendengar itu, Ardi malah tertawa. Awalnya dia mengira Badrul sengaja mengadang

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 48

    Badrul mengangguk, tetapi dalam hati dia merasa heran. Kenapa tiba-tiba Rahayu menanyakan soal Ardi?Rahayu menatap Badrul. "Coba ceritakan, sebenarnya siapa Ardi itu?"Badrul mengernyit, lalu menjawab, "Bocah itu cuma penjudi kelas kakap. Sejak ayahnya meninggal, dia nggak pernah bekerja serius. Malah setiap hari datang terus ke rumahku, maksa ngajak main kartu.""Dia gila judi, tapi kemampuan mainnya payah. Akhirnya dia kalah sampai hartanya habis. Terus dia terus-terusan minjam uang dari aku. Setelah nggak sanggup bayar, dia mulai mencuri barang milik warga desa.""Pas sudah ketahuan, dia malah nggak mau ngaku. Orangnya juga suka nipu. Setiap hari ada saja kebohongan baru yang dia bikin buat nipu duit orang. Sekarang warga desa langsung menjauh kalau lihat dia."Rahayu sedikit memicingkan mata. Ardi ternyata lebih buruk daripada yang dia sangka. Kemungkinan besar, Dayat sudah ditipu oleh Ardi sampai berani menggantungkan harapannya pada orang semacam itu.Awalnya dia sedikit khawati

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 47

    Rahayu sempat terdiam mendengar sindiran itu, lalu tersenyum sambil mengangguk. Kini, dia sudah paham. Dayat memang sengaja melawannya."Karena kamu juga sudah dapat orang, gimana kalau tugas ini dikasih ke kedua pihak saja? Siapa yang berhasil menangkap ikan yang lebih besar, dialah yang kita pakai."Dayat mengangguk. "Oke, sepakat.""Tapi, rasanya kurang menarik. Gimana kalau kita tambahkan sedikit taruhan?"Rahayu memutar bola matanya dan langsung memahami maksud Dayat. Ini berarti mereka berdua akan bertaruh hasil.Dia tahu kemampuan melaut Badrul dan Imsyaq. Memang kemampuan Badrul biasa saja, tetapi kemampuan Imsyaq termasuk salah satu yang terbaik di Desa Pasirya. Dengan dua orang itu, dia yakin ikan bahaba pasti akan jatuh ke tangannya.Menurutnya, Dayat hanya sedang panik dan asal bertaruh pada seorang mantan penjudi. Kalau orang seperti itu bisa menang, baru aneh."Boleh. Kalau mau main, kita main yang besar sekalian. Kalau kamu kalah, kamu harus menemui manajer utama dan min

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 46

    Saat mereka sedang berbincang, Siddiq mendorong pintu belakang dan keluar.Begitu melihat ikan kerapu di tangan Dayat, dia sempat tertegun sejenak, lalu cepat-cepat mendekat sambil menunduk. "Pak, Bu Rahayu cari Bapak."Dayat langsung mengernyit. "Cari aku untuk apa?"Terhadap Rahayu ini, dia memang sama sekali tidak punya kesan yang baik. Rahayu adalah wakil manajer mereka. Dia bertanggung jawab atas bagian pengadaan di restoran milik negara.Dari sisi wewenang, posisi mereka memang sering berbenturan. Dahulu setiap kali Dayat ingin membeli bahan baku, dia harus mengajukan laporan dan meminta persetujuan Rahayu.Belakangan karena sudah tidak tahan, dia pernah menemui manajer utama. Baru setelah itulah dia mendapatkan hak pembelian sendiri dalam jumlah tertentu. Namun, batasnya hanya 3 juta per bulan. Jika nilai pembeliannya melebihi batas itu, dia tetap harus melapor kepada Rahayu.Kalau hanya soal itu, sebenarnya Dayat tidak terlalu mempermasalahkannya. Yang membuatnya curiga adalah

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 45

    "Tapi, ayahku dulu pernah bilang, kalau mau mengakui seseorang sebagai kakak, nggak bisa cuma asal panggil. Harus ada hadiah perkenalan.""Kamu juga tahu, aku cuma nelayan. Selain ikan, aku nggak punya barang lain yang pantas dijadikan hadiah. Jadi, semoga kamu mau menerima ikan ini."Dayat menatap ikan kerapu besar di hadapannya. Untuk sesaat, dia tidak tahu harus berkata apa. Ikan kerapu ini adalah yang paling besar dan paling bagus di antara seluruh hasil tangkapan tadi. Menurut perkiraannya, berat ikan itu bisa mencapai sekitar 2,5 kilogram.Dengan harga yang baru saja mereka sepakati, yaitu 60 ribu per kilogram, nilainya mencapai sekitar 150 ribu.Bagi seorang teknisi pabrik, 150 ribu setara dengan penghasilan sebulan penuh. Apalagi Ardi hanyalah seorang nelayan desa.Seorang nelayan muda yang memiliki cara berpikir dan keluasan hati seperti ini benar-benar sulit dipahami.Melihat Dayat tidak segera merespons, Ardi juga tidak terburu-buru. Dia yakin Dayat pasti akan menerimanya. K

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status