Renaissance, vengeance de la fille d'un milliardaire

Renaissance, vengeance de la fille d'un milliardaire

last updateآخر تحديث : 2026-02-27
بواسطة:  Claire Moreauمكتمل
لغة: French
goodnovel18goodnovel
لا يكفي التصنيفات
215فصول
5.3Kوجهات النظر
قراءة
أضف إلى المكتبة

مشاركة:  

تقرير
ملخص
كتالوج
امسح الكود للقراءة على التطبيق

Après un accident dévastateur planifié par son mari, Gareth, Seraphina Westbrook se réveille et retrouve sa vie en ruine. Trahie, abandonnée et présumée morte, elle est sauvée et reçoit une nouvelle identité : Sabrina. Alors qu’elle découvre la vérité derrière la froide ambition de Gareth et son complot visant à revendiquer sa fortune, elle découvre l’étendue de sa manipulation et de sa trahison. Le cœur brisé mais la détermination plus forte que jamais, Sabrina revient impertinente, prête à reprendre le contrôle. Faisant équipe avec l'ex-frère aîné de Gareth, Alistair, le véritable héritier de Westvale Corporation, Sabrina entame une mission calculée visant à démanteler l'empire de Gareth de l'intérieur. Alistair, un homme avec ses propres motivations cachées, devient à la fois un allié et une tentation qu'elle a du mal à ignorer. Ensemble, ils se lancent dans un jeu aux enjeux élevés de vengeance, de tromperie et de pouvoir. Mais alors que Sabrina combat les fantômes de son passé, elle doit décider si faire confiance à Alistair sera son salut ou sa chute.

عرض المزيد

الفصل الأول

Chapitre 1

Senja di kota Athena selalu indah, warna oranye keemasan yang memantul di gedung-gedung tinggi dan menerangi seluruh kota seperti karpet cahaya. Dan di tengah kilau itu, satu nama paling bersinar, satu sosok yang membuat investor tunduk dan lawan bisnis gentar: Isabela Manik.

Wanita itu berdiri di balik kaca kantor lantai tiga puluh, menatap dunia yang telah ia bangun dengan tangannya sendiri. Rambut hitamnya jatuh rapi di bahu, matanya tajam namun lelah. Sudah berbulan-bulan ia bekerja tanpa jeda, tidak karena ambisi semata, tetapi karena firasat yang sejak lama mengusik:

Ada seseorang yang ingin mengambil semua ini darinya.

Namun sore itu, ia mencoba menenangkan hati.
Kau terlalu curiga, Bella, katanya dalam hati. Tidak semua orang ingin menjatuhkanmu.

Ia bahkan tidak sadar bahwa hari itu memang akan menjadi hari terakhirnya sebagai Ratu Bisnis Athena.

Ketukan pintu memecah lamunannya.

“Masuk,” ucap Bella tanpa menoleh.

Angkasa Wijaya melangkah masuk dengan langkah ringan. Setelan abu-abunya tampak sempurna, senyum hangatnya seolah mampu meruntuhkan tembok terdingin.

Pria itu adalah tunangan Isabela, mitra bisnisnya, pria yang ia percaya sepenuh hati. Dengan senyum yang merekah di wajah tampannya, ia datang membawa dua gelas kopi.

“Untukmu,” ujarnya lembut. “Kau tidak berhenti bekerja sejak pagi.”

Bella menerima gelas itu. “Terima kasih. Kau selalu tahu kapan aku butuh kopi.”

Angkasa tertawa kecil. “Karena aku memperhatikanmu.”

Kalimat itu membuat Bella menoleh, menatap pria yang sudah ia kenal bertahun-tahun. Mata Angkasa begitu lembut, seolah tak sanggup menyakiti siapa pun. Dan untuk sesaat, Bella merasa bersalah telah meragukannya.

“Jadi, kau sudah siap besok?” tanya Angkasa sambil bersandar di meja.

“Untuk merger?” Bella tersenyum. “Kau tahu, aku lahir untuk momen seperti itu, kan?” ucapnya dengan sedikit sombong.

“Benar. Dan semua ini… akan menjadi milik kita.” Angkasa mengangkat tangannya, menyentuh pipi Bella pelan.

Bella terdiam.

Ada dentingan halus, suara gelas kopi yang bergetar di meja.

Atau mungkin itu hanya jantungnya sendiri.

“Angkasa,” bisiknya, “kau benar-benar… berada di sisiku, kan?”

Bukan tanpa alasan dia bertanya. Selama sebulan terakhir, Bella menerima laporan-laporan aneh: pembocoran strategi perusahaan, pergerakan saham yang tampak diatur seseorang, dan bayangan nama Angkasa yang terus muncul dalam dokumen-dokumen itu.

Namun Bella menepis semua itu. Ia terlalu mencintai pria itu. Ia percaya padanya sepenuhnya.

Angkasa tersenyum. “Tentu, Bella. Selalu.” ucapnya dan meraih tangan Bella.

Hangat. Menenangkan. Meyakinkan.

Namun pada saat yang sama, sesuatu di dalam Bella terasa… salah. Insting bisnisnya—insting yang membuatnya jadi pemimpin termuda di Athena—berteriak bahwa ia sedang berdiri terlalu dekat dengan bahaya.

Bahaya yang menyamar sebagai kasih sayang.

Bukan dia tidak me-warning dirinya. Tapi cinta mematikan alarm dalam dirinya.

***

Malam mulai turun ketika Bella akhirnya memutuskan pulang. Ia masuk ke dalam mobilnya, mengenakan sabuk pengaman, dan menghela napas panjang.

“Satu hari lagi,” gumamnya. “Setelah merger selesai, semuanya akan stabil. Aku janji akan mengurus pernikahanku secepatnya dengan Angkasa.”

Ponselnya berbunyi. Dan nama Angkasa tertulis di sana.

Bella tersenyum dan mengangkatnya.

“Hm?”

“Hati-hati di jalan, Bella,” suara Angkasa terdengar hangat.

“Kau terlalu khawatir,” Bella tertawa kecil.

“Tentu. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu.”

Kata-kata itu terasa manis… tapi ada sesuatu yang aneh. Rasanya suara Angkasa terlalu tenang… dan terlalu terkendali.

Lalu terdengar bunyi ringan—klik—diikuti suara samar yang tidak seharusnya ada dalam panggilan telepon.

Seperti seseorang menutup sesuatu. Atau mungkin mengatur sesuatu.

“Aku akan tiba dalam dua puluh menit,” kata Bella.

“Baik. Sampai jumpa.”

Telepon pun terputus.

Bella memandang jalan yang sepi malam itu. Lampu-lampu kota Athena memantul di kaca depan mobil. Ia menginjak gas perlahan, mencoba menghilangkan rasa gelisah yang tidak jelas dari mana sumbernya.

Namun ketika mobil memasuki terowongan, getaran halus terasa di bawah kursi.

“…apa ini?”

Namun sayangnya sedetik berikutnya, dunia Bella meledak.

Suara dentuman memekakkan telinga. Cahaya putih membutakan. Mobil terpelanting, menabrak dinding beton. Sabuk pengaman menghantam dada Bella, membuatnya sulit bernapas. Segalanya terjadi terlalu cepat, namun sekaligus seperti gerakan lambat dalam mimpi buruk.

Kepalanya terantuk.

Penglihatannya kabur.

Bau bensin memenuhi udara.

Bella terhuyung, mencoba membuka pintu mobil. Ia batuk, darah memenuhi mulutnya.

“T… tolong…”

Tapi tidak ada siapa pun di sana.

Lampu-lampu terowongan berkelip, kehilangan daya. Dan asap tebal menyelimuti mobilnya.

Bella tersungkur, tubuhnya mulai terasa dingin. Ia meraih ponsel, namun pandangannya gelap.

Dalam kabut setengah sadar itu, ia melihat seseorang berdiri di ujung terowongan.

Siluet seorang pria dan wanita.

Berjalan tenang. Dan jelas mereka tidak berlari untuk menolongnya.

“Ang… k… sa…” gumamnya.

Dan sebelum segalanya menghilang, ia melihat sesuatu yang menusuk jantungnya lebih dalam daripada pecahan kaca di tubuhnya:

Senyuman.

Dingin.

Tipis.

Senyuman milik pria yang selama ini ia percayai sepenuh hati.

Senyuman terakhir yang dilihat Isabela Manik sebelum hidupnya padam.

***

Kegelapan menyambutnya seperti selimut es.

Suara detak jantung melambat.

Napas meredup.

Tubuhnya terasa semakin ringan.

Apa aku mati…?

Beginikah akhirnya? Dalam pengkhianatan?

Isabela ingin berteriak.

Ingin memaki.

Ingin membalas.

Namun kelopak matanya terpejam sebelum sempat berkata apa pun.

Hening.

Kosong.

Habis.

Lalu…

Dari kehampaan itu, suara baru muncul. Jauh, tapi jelas.

“Zenia! Bangun! Jangan pura-pura mati, ya!!”

Bella—atau siapa pun ia sekarang—perlahan membuka matanya.

Saat ia melihat sekelilingnya, jelas ini bukan di terowongan.

Tapi perubahan tempat yang membuatnya bingung bercampur heran saat ini tidak ada artinya ketika ia menyadari bahwa ia terbangun bukan di dalam tubuhnya sendiri.

“Di mana ini?” gumamnya, masih mencoba meraba situasi yang tak ia kenali.

Saat ini jelas ia berada di sebuah kamar kecil berbau tanah, dengan seorang wanita berwajah dingin berdiri di atasnya.

“Cepat! Apa kau pikir dengan lompat ke dalam kolam dangkal itu kau akan mati dan aku tidak akan jadi mengantarkanmu ke depan gerbang rumah keluarga Alberto? Jangan terlalu banyak berkhayal, Zenia! Kau sudah menikah dengan si lumpuh Kenzo itu! Jadi tempatmu bukan di sini! Lagi pula, kan sudah aku bilang, kau hanya transit sesaat di sini dari rumah kumuhmu di desa sebelum aku mengantarkanmu ke rumah suamimu yang cacat itu!”

“ZENIA???” pekik Bella dalam hati, membuat matanya terbelalak.

“Menikah?”

“Kenzo? Kenzo Alberto? Musuh bebuyutanku??”

Secepat kilat Bella bangun dan berlari mencari cermin atau apa pun untuk melihat wajahnya saat ini.

“Tidak mungkin aku hidup lagi tapi di tubuh orang lain, kan? Ini terlalu novel untuk menjadi sebuah kenyataan!”

Namun semua celetukan itu seolah menamparnya saat ia melihat wajahnya di cermin lusuh di kamar itu.

“Ini…?” serunya bingung sambil menyentuh wajahnya sendiri, menyadari tubuh yang bukan miliknya.

Satu kesimpulan menghantamnya:

“Astaga… ternyata benar! Aku hidup kembali!”

Dan orang pertama yang menatapnya dengan kebencian—bukan musuh, melainkan keluarga barunya:

Olivia Ramlan, adik tiri Zenia Ramlan.

توسيع
الفصل التالي
تحميل

أحدث فصل

فصول أخرى

للقراء

Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.


لا توجد تعليقات
215 فصول
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status