ログインShe was erased. Now she’s back—with a new face, a new name, and a plan to burn everything down. Five years ago, Katherina Vance had it all: a powerful family legacy, a child on the way, and a future with the man she loved. Then one rainy night shattered everything. Betrayed by her fiancé and sister, left for dead in a staged accident, and robbed of her child, Katherina vanished. Now, reborn as Scarlet Wilde, she returns as her ex’s assistant—unrecognizable, untraceable, and merciless. Every smile hides a weapon. Every touch is a trap. She’ll take back everything. She’ll destroy the sister who stole her life. And the man who broke her heart? He’s next. But vengeance has a price—and so does desire.
もっと見るTas jinjing berbahan kanvas itu sudah pudar warnanya, tergeletak canggung di atas lantai marmer yang mengkilap. Bara berdiri kaku di sana, kedua tangannya saling meremas di depan perut. Dia takut bergerak, takut debu dari sepatu bututnya mengotori kemewahan yang menyilaukan mata itu.
Di hadapannya, duduk seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi yang sedang membaca koran. Handoko, ayahnya. Pria yang dulu meninggalkan Bara dan ibunya di kampung demi mengejar ambisi di kota. "Jadi ... ibumu sudah meninggal?" tanya Handoko tanpa menurunkan korannya. Nada bicaranya datar, seolah sedang menanyakan kabar cuaca. Bara menelan ludah, tenggorokannya tercekat. "Iya, Pak. Bulan lalu," jawabnya pelan dengan logat daerah yang masih kental. Dia ingat bagaimana ibunya meregang nyawa di atas dipan kayu yang reot, sementara ayahnya hidup di istana ini. Rasa panas menjalar di dadanya, tapi Bara buru-buru menunduk. 'Sabar, Bar. Kamu butuh tempat tinggal buat kuliah,: batinnya. Handoko akhirnya melipat korannya, menatap Bara dari ujung kaki ke ujung kepala dengan tatapan menilai yang merendahkan. "Dengar baik-baik," kata Handoko dingin. "Saya izinkan kamu tinggal di sini karena saya tidak mau orang-orang bilang saya menelantarkan darah daging sendiri. Tapi ingat posisimu. Jangan bikin malu. Jangan bertingkah kampungan. Dan jangan ganggu istri dan anak saya." "Baik, Pak," Bara mengangguk patuh. Dia memang tidak berniat mengganggu. Dia hanya ingin bertahan hidup. Saat itulah, suara hak sepatu beradu dengan lantai terdengar dari arah tangga. "Mas, ini anak itu?" Bara mendongak. Napasnya tertahan. Seorang wanita turun dari tangga dengan anggun. Kulitnya putih bersih, rambutnya tertata rapi, dan wangi parfumnya langsung memenuhi ruangan saat dia mendekat. Itu Marissa, ibu tirinya. Dia jauh lebih muda dari dugaan Bara, dan jauh lebih cantik dari wanita mana pun yang pernah Bara lihat di kampung. Di belakang Marissa, muncul seorang gadis remaja yang sibuk dengan ponselnya. Keyla. Dia hanya melirik Bara sekilas dengan tatapan jijik, lalu mendengus. "Ih, Ma. Bau matahari banget orangnya." Bara makin menunduk, merasa kecil. Namun, Marissa justru tersenyum lembut. Dia mendekati Bara, lalu dengan tangan halusnya, dia menepuk bahu Bara yang lebar dan keras karena sering mencangkul di sawah. "Sudah, Keyla. Jangan begitu," tegur Marissa lembut. Dia menatap mata Bara. "Selamat datang ya, Bara. Anggap saja rumah sendiri. Kalau butuh apa-apa, bilang sama Tante." Sentuhan itu membuat Bara gemetar. Di kampung, tidak ada wanita "berkelas" yang mau menyentuhnya. Kelembutan Marissa terasa sangat kontras dengan kekejaman ayahnya dan kesombongan Keyla. "Te-terima kasih, Bu ... eh, Tante," gagap Bara. Handoko berdiri, memutus momen itu. "Sudah, antar dia ke kamar belakang. Saya mau berangkat kerja. Bara, ingat pesan saya. Tahu diri." Ayahnya berlalu begitu saja tanpa menoleh lagi. Bara mengepalkan tangannya di samping tubuh. Dia melihat punggung ayahnya yang menjauh, lalu beralih menatap kemewahan di sekelilingnya. 'Bapak boleh sombong sekarang,' batin Bara perih. 'Aku akan jadi patung di rumah ini. Aku akan diam, aku akan menurut, sampai aku bisa berdiri sendiri dan pergi dari sini.' Marissa berjalan lebih dulu menyusuri lorong dan Bara mengekor di belakangnya dengan canggung. Gaun sutra tipis yang dipakai Marissa menempel ketat di tubuhnya yang montok. Kain itu mencetak jelas lekuk pinggang dan pinggul besarnya yang bergoyang ke kanan dan ke kiri setiap kali dia melangkah. Bara menelan ludah dan mencoba melihat ke lantai, tapi matanya nakal dan kembali melirik betis putih mulus yang mengintip dari belahan gaun itu. Marissa membuka pintu sebuah kamar kecil di bagian belakang. "Maaf ya Bar, kamarnya agak berdebu karena jarang dipakai," kata Marissa lembut sambil masuk ke dalam. Bara hanya mengangguk dan berdiri kaku di dekat pintu. Dia melihat Marissa berjalan ke arah ranjang lalu membungkuk sedikit untuk merapikan sprei yang kusut. Gerakan itu membuat kerah bajunya yang rendah melonggar lebar. Mata Bara langsung terbelalak. Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat jelas belahan dada ibu tirinya itu. Payudaranya yang besar dan putih mulus terlihat begitu penuh, seolah mendesak ingin tumpah dari balik kain tipis itu. Kulit di area itu terlihat sangat halus dan kencang, beda sekali dengan kulit perempuan di kampungnya. Aduh, sadar Bar! Itu istri bapak, batin Bara berperang. Dia buru-buru memalingkan wajah ke tembok. Jantungnya berdegup kencang dan napasnya jadi agak berat. Dia merasa berdosa tapi penasaran setengah mati. "Bar? Kok malah melamun? Kamu kepanasan ya?" tanya Marissa yang tiba-tiba sudah berdiri di depannya. Bara kaget bukan main. Jarak mereka sekarang begitu dekat. Wangi parfum manis dari tubuh Marissa langsung memenuhi hidung Bara. "Eh, ti-tidak apa-apa, Tante. Cuma agak gerah sedikit," jawab Bara gugup sambil menyeka keringat di dahinya. Marissa tersenyum maklum. Tangan halusnya terulur lalu menyentuh pipi Bara. Telapak tangan itu terasa dingin dan lembut, sangat nyaman di kulit Bara yang kasar karena matahari. "Panggil Tante saja biar akrab. Kasihan kamu, pasti capek sekali ya perjalanan jauh naik bus," ucap Marissa dengan nada sayang. Sentuhan di pipi itu membuat lutut Bara lemas. Marissa lalu menurunkan tangannya dan ganti memegang kedua bahu Bara. Dia meremas pelan otot bahu Bara yang keras. "Bapakmu memang galak, tapi jangan diambil hati ya. Ada Tante di sini. Tante akan pastikan kamu betah tinggal di sini," kata Marissa sambil menatap mata Bara dalam-dalam. Posisi tangan Marissa di bahunya membuat tubuh bagian atas wanita itu makin condong ke arah Bara. Bara bisa melihat dada Marissa yang besar itu naik turun saat bernapas. Kulit putih di leher jenjangnya terlihat sangat menggoda. Pikiran Bara jadi kacau, antara haru karena dibela dan pusing melihat kemolekan tubuh di depannya. "Makasih banyak, Tante. Tante baik banget sama saya," kata Bara pelan. Dia menunduk sedikit untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah, tapi matanya malah tak sengaja jatuh lagi ke arah dada itu. Cepat-cepat dia pejamkan mata sejenak untuk mengusir pikiran kotornya. Marissa melepaskan pegangannya lalu menepuk lengan Bara pelan. "Ya sudah, kamu mandi dulu sana. Nanti Tante siapkan handuk bersih. Habis itu kita makan siang bareng, Tante sudah masak enak," ujarnya riang. Marissa pun berbalik dan berjalan keluar kamar. Bara memandangi punggung dan pinggul sintal itu yang bergerak menjauh sampai sosoknya menghilang di balik pintu. Bara menghembuskan napas panjang seolah baru saja menahan napas lama sekali. Dia membanting tubuhnya ke kasur busa yang empuk. Bayangan kulit putih dan dada mulus Tante Marissa masih menari-nari di kepalanya. "Sabar Bar, sabar," gumamnya lirih sambil memegangi dadanya yang masih deg-degan.Their faces hovered close — a breath apart. Scarlet’s pulse thudded in her throat, the air thick with something electric, uncertain. Lysander’s gaze flicked from her lips to her eyes, and for a fleeting second, she thought he might stop — that he’d step back and laugh it off.He didn’t.He leaned in, slow and deliberate, until she could feel the whisper of his breath against her skin. The moment stretched — fragile, dangerous. Her lashes fluttered shut.And then—A flash. Seraphina’s voice. That smug smile. The thought of him — Lysander — holding Seraphina just like this, his mouth on hers, his hands tangled in her hair.Scarlet’s chest tightened. The warmth between them twisted into heat — sharp, bitter. She jerked back like she’d been burned.Lysander blinked, confused. “Scarlet—?”But she was already stepping away, her jaw tight, her breath unsteady. “Don’t,” she said, her voice low, controlled.He reached out, but she moved first — pushing him firmly in the chest. “Don’t you dare.
The morning sun slipped through the tall glass windows, spilling golden light across the room. The house was quiet, wrapped in the soft stillness that only came at dawn. Upstairs, Leo’s small chest rose and fell in steady rhythm, his tiny hand clutching Scarlet’s shirt. She was still fast asleep beside him, her dark hair fanned across the pillow, the faintest smile tugging at her lips as the morning breeze whispered through the half-open window.Down the hall, in his own room, Lysander stirred. His head throbbed slightly—a dull, heavy ache that reminded him of the night before. He groaned, rolling over and blinking against the sunlight filtering through the cream curtains. For a moment, he just lay there, staring at the ceiling, before finally sitting up and stretching his arms above his head.Something felt… off.He glanced down and frowned. His shoes were gone. His jacket, too. His shirt hung loosely over him, half-unbuttoned. He certainly hadn’t gone to bed like this.“What the hel
Lysander sat in the car for a long time after pulling into the driveway, the engine still running, the low hum blending with the rain that had begun to fall. His hands rested on the steering wheel, heavy and motionless. The streetlight outside cast a dull glow over the dashboard, washing his face in pale gold. He closed his eyes, his chest rising and falling unevenly.For a moment, he let his head drop against the wheel, the cool leather pressing into his forehead. He was exhausted—more than tired. The kind of exhaustion that came from years of regret.Katherina’s name slipped from his lips like a prayer. “God, I wish you were still here.” His voice cracked, thick with emotion. “I’d tell you how sorry I am… for everything.”He took a shaky breath, his shoulders trembling as tears broke loose, tracing the lines of his face. “I should’ve protected you,” he whispered. “Instead, I let her destroy everything.”His mind drifted back to Seraphina—her laughter, her lies, the poison she had fe
Scarlet’s fingers shook as she jammed the car keys into the ignition. The engine roared to life, and she pressed her foot hard against the accelerator, tires squealing as she shot out of the driveway.The night air outside was heavy, the streets washed in orange light from the lamps that lined Havenbrook Avenue. She barely noticed. Her eyes were locked ahead, wide and unfocused, her lips moving nonstop.“My baby… my baby, I must find you,” she muttered, her voice cracking. “You’re alive. You’re alive, I know it.”The city blurred by in streaks of light and shadow as she sped through intersections, ignoring the flashing traffic signs. Cars honked behind her, but she didn’t slow down. Her mind was spinning faster than the speedometer climbing past eighty.Somewhere between Eastwood Bridge and Rivergate Road, she nearly slammed into a silver sedan that had pulled out in front of her. The brakes screamed. Her chest hit the steering wheel.“Shit!” she gasped, gripping the wheel hard.The o
ScarletThe morning light spilled over the quiet neighborhood, soft and pale. I turned off the engine and sat there for a second, watching Lysander’s house through the windshield. I took a breath, grabbed my purse, and stepped out. My heels clicked softly against the pavement as I walked up the sh
ScarletLysander leaned back in his chair, a small smile tugging at the corner of his mouth. His eyes stayed on me longer than I wanted them to.“Would you mind coming with us tomorrow?” he asked quietly. “It’s just a few hours. It won’t take much of your time.”My throat went dry. “I… I…” The word
ScarletThe door opened with a sharp click. Two men in black uniforms stepped inside, broad-shouldered, their faces set in stone.Serafina didn’t even glance at them. She just pointed at me, her blouse still wet with coffee. “Get her out. Now.”One of them moved closer. “Ma’am—”“Don’t ma’am me. Yo
ScarletWe stood there under the porch light, none of us speaking at first. The message from Dr. Jude burned in my head like a brand.Ryan broke the silence, his voice low and tense. “If this is true, then how? How would Seraphina even know? How would she connect you to Katherina? And why drag Dr.






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.