LOGINDuring a long holiday, my husband booked flights for a family vacation. On the way to the airport, I suddenly saw numbers appearing on everyone’s head. The numbers on my husband’s head indicated sixty years, but my parents and I had only six hours indicated on our heads. While I was puzzled over the meaning of those numbers, I noticed that the driver next to us only had six seconds indicated over his head through the car window. Five… Four… Three… Two… One. When the number turned zero, a massive truck immediately rammed into the car next to us. I saw flickers of fire, flesh and blood exploding before my eyes. People were screaming for help, but I could not hear anything. I trembled as cold sweat drenched my entire body. It was because my flight would be taking off in six hours.
View More"Gimana Van? Apa lo cocok tinggal di sini?" tanya Badru, teman Revan yang memberitahu tempat kos sederhana ini pada Revan.
"Lumayan sih, rapih dan bersih. Sekarang tinggal cari kerja sampingan nih. Lo ada channel gawean nggak buat gue?" tanya Revan. "Gue denger dari anak-anak, ada lowongan sopir pribadi. Gajinya lumayan, kerjanya juga nggak ribet. Yang penting lo bisa bawa mobil dan punya SIM." "Sopir pribadi? Buat siapa?" tanya Revan dengan nada penasaran. "Katanya buat orang kaya di kawasan elit. Lo bisa sambil kuliah juga, soalnya mereka fleksibel asal lo bisa diandalkan," jawab Badru sambil menyulut rokoknya. Revan terdiam sejenak, mempertimbangkan. Ia memang butuh pekerjaan, dan menjadi sopir sepertinya tak terlalu buruk. Ia juga punya SIM A, jadi syarat itu tak jadi masalah. "Oke, gue mau coba," ujar Revan akhirnya. "Lo tahu alamatnya?" Badru menyerahkan secarik kertas kecil dengan alamat yang tertera. "Ini, gue dapet dari kenalan gue. Coba aja, siapa tahu mereka cocok sama lo." "Thanks Dru, besok gue coba ke sana deh." Revan memasukan kertas tersebut ke dalam tas ranselnya yang sudah lusuh. Revan baru saja menyewa kamar kecil di sudut gang yang cukup nyaman untuk ukuran kantong mahasiswa semester empat sepertinya. Namun, Revan tahu betul, uang tabungannya tak akan bertahan lama. Ia butuh pekerjaan sampingan secepat mungkin. Keesokan harinya, Revan berdiri di depan sebuah gerbang tinggi berwarna hitam. Rumah yang menjulang di baliknya sangat megah, dengan taman luas dan deretan mobil mewah di garasi. Ia sempat merasa ragu, namun akhirnya memberanikan diri menekan bel di samping gerbang. Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya dengan seragam security menghampirinya. "Ada perlu apa, Mas ?" tanyanya dengan ramah. "Saya mau melamar jadi sopir pribadi. Katanya ada lowongan di sini," jawab Revan dengan sopan. Si penjaga memandang Revan dari ujung kepala hingga kaki, lalu mengangguk. "Tunggu sebentar, ya. Saya kasih tahu Bu Elma dulu." Security itu bergegas masuk ke dalam rumah besar itu. "Bu Elma?" gumam Revan pelan menyebut calon bosnya itu. Ia membayangkan wanita bernama Elma itu adalah sosok seorang wanita paruh baya yang angkuh, seperti bos-bos besar pada umumnya. Tak berapa, security rumah itu kembali lagi dan menyuruh Revan masuk ke dalam. "Mari ikut saya, Bu Elma sudah menunggu," ujarnya mengajak Revan masuk. "Silakan tunggu di sini, Mas," ujar security, menunjuk ke sebuah sofa di ruang tamu yang luas. Revan duduk dengan hati-hati, merasa asing di tempat semewah ini. Tak lama kemudian, suara langkah sepatu hak terdengar, dan seorang wanita muncul. Rambutnya yang hitam tergerai rapi, wajahnya cantik dengan aura kharismatik yang begitu kuat. Ia mengenakan setelan kerja elegan Elma mempunyai bentuk tubuh yang aduhai dengan melon besar yang menghiasi penampilannya. Pikiran Revan yang kotor telah membayangkan jika ia bisa memainkan melon segar itu. Pasti nikmat rasanya. "Ehem...!" Dehaman Elma membuyarkan lamunan Revan dan membuat pria itu sedikit gugup. Elma duduk di depan Revan, menatapnya dengan dingin namun penuh wibawa. Kesan pertama yang Revan rasakan saat melihat calon majikannya itu adalah cantik dan seksi. Tubuhnya terlihat cukup sin tal dan padat. Sungguh sangat beruntung pria yang jadi suaminya. Namun ia juga merasa kalau Elma ini adalah wanita yang galak dan tegas membuat Revan sedikit merinding. "Kamu yang melamar jadi sopir pribadi?" tanyanya langsung, suaranya tegas. Ia memandang Revan dari ujung kepala hingga kaki. "Iya Bu, nama saya Revan," jawab Revan dengan sopan. "Kamu tinggal di mana sekarang?" "Saya baru pindah ke kos-kosan di daerah Tebet, Bu. Dekat kampus saya." "Oh jadi kamu mahasiswa?" Elma sedikit terkejut dengan status Revan yang seorang mahasiswa. "Iya, Bu. Saya kuliah semester empat di jurusan Ekonomi," jawab Revan dengan santai. Elma mengangkat alisnya. "Mahasiswa sambil kerja? Bukannya itu berat?" "Mungkin berat, Bu. Tapi saya sudah terbiasa membagi waktu. Saya harus kerja untuk membiayai kuliah saya." Elma menatapnya beberapa detik, mencoba membaca kesungguhan di wajah pemuda itu. "Pernah jadi sopir sebelumnya?" lajut Elma. "Belum, Bu. Tapi saya punya SIM A, dan saya sering mengemudi untuk keluarga atau teman. Saya juga cepat belajar." "Oke. Bagaimana dengan jadwal saya? Kadang saya butuh sopir pagi-pagi sekali, kadang malam hari. Kamu bisa fleksibel?" "Selama saya tahu jadwalnya lebih awal, saya bisa atur, Bu. Kuliah saya kebanyakan pagi atau siang, jadi saya bisa bekerja di luar jam itu." "Tanggung jawabnya besar. Kalau saya ada acara penting, saya tidak mau ada kesalahan. Kamu yakin bisa diandalkan?" "Saya yakin, Bu. Saya selalu serius dengan pekerjaan saya." Elma kembali memandangi Revan, kali ini dengan sorot mata yang lebih lembut, seolah melihat sesuatu yang menarik. "Baiklah, saya beri kesempatan. Tapi ini masa percobaan. Kalau kamu tidak bisa memenuhi ekspektasi saya, kamu harus mundur." "Terima kasih, Bu. Saya akan bekerja keras." Revan tersenyum sumringah. Ia senang karena langsung diterima bekerja. Elma mengangguk, lalu berdiri. "Besok pagi jam tujuh kamu sudah harus di sini. Pakaiannya harus rapi dan jangan terlambat." "Siap, Bu." Revan mengangguk mantap. Revan berangkat lebih awal, pukul tujuh kurang, agar tidak terlambat sampai di rumah Elma. Ia mengenakan pakaian serba hitam yang rapi dan menyesuaikan diri dengan seragam sopir pribadi yang diberikan. Setelah menghindari kemacetan, ia akhirnya tiba di rumah Elma tepat pukul tujuh pagi. Begitu sampai, ia disambut oleh penjaga yang membukakan gerbang untuknya. "Mas Revan langsung masuk saja Mas, Ibu sedang sarapan di ruang makan," ujar security itu. "Maksudnya saya di suruh masuk langsung ke ruang makan?" tanya Revan masih bingung. "Ya, tadi Bu Elma bilang begitu." Security itu mengangguk. "Baiklah kalau begitu." Revan akhirnya melangkahkan kakinya menuju ruang makan rumah itu. Namun sebelum ia masuk lebih dalam terdengar suara orang yang sedang berbincang. Revan menghentikan langkahnya dan memilih menunggu untuk sedikit menguping. "Mas, aku ingin bercerai." Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Elma saat dia dan Aditya sedang sarapan pagi itu. Aditya terdiam sejenak, seolah mencerna kalimat itu. Ia tidak menyangka kalau Elma akan mengatakan hal tabu itu. "Bercerai?" Aditya mengulang kata itu dengan nada datar, seolah tak merasa terkejut. "Ya, jangan tanya alasan kenapa aku minta cerai, tanpa aku jelaskan kamu pasti sudah tahu alasannya kan?" cecar Elma yang sudah muak sekali dengan pernikahan ini. Baginya pernikahan ini seperti neraka karena Aditya sama sekali tidak pernah menganggapnya sebagai istri. Lelaki itu malah lebih sering menghabiskan waktunya dengan Arumi, kekasih gelap Aditya. Aditya hanya tersenyum tipis. Ia menatap sejenak wajah Elma yang masam. "Jangan macam-macam El, kamu juga pasti tahu kalau kedua keluarga kita tidak akan mengizinkan perceraian ini. So, lebih baik kita jalani saja pernikahan ini dengan santai. Toh aku juga membebaskan kamu untuk mencari lelaki lain yang kamu sukai." Kata-kata itu seperti tamparan keras bagi Elma. Hatinya mendidih mendengar nada dingin suaminya. "Apa maksudmu, Mas?" Elma menahan napas, mencoba mengendalikan emosinya yang mulai meledak. "Kamu suruh aku selingkuh seperti kamu dan Arumi ?" lanjut Elma dengan kesal. "Jangan bawa-bawa Arumi! Ini urusanku dengan kamu, tidak ada hubungannya dengan Arumi." Emosi Aditya memuncak dan seketika selera makannya rusak. Pria itu bangkit dari duduknya dan menyambar tas kerjanya. "Mau kemana kamu Mas, kita belum selesai!" Elma melihat Aditya bersiap pergi. "Malas aku berdebat sama kamu, jadi lebih baik aku berangkat kerja saja." Aditya menjawab sambil berjalan keluar. "Kenapa kamu begitu egois, Mas?" Elma tak bisa menahan amarahnya lagi. Namun teriakan Elma tidak mendapatkan balasan apapun dari Aditya. Pria itu berjalan dengan tergesa-gesa menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan rumah megah milik Aditya dan juga Elma. Elma merasa seperti ada sesuatu yang patah di dalam hatinya. Dia tahu dia telah mencoba, berusaha bertahan, tetapi di hadapan suaminya yang semakin asing, dia merasa seperti wanita yang tak lagi dihargai. "Mas, kita tidak lagi saling memahami. Aku merasa sendirian, bahkan saat kita tinggal di rumah yang sama. Aku lelah menunggu perubahan yang tak kunjung datang," ujar Elma, suaranya perlahan melemah. Revan yang sedang menguping menatap miris ke arah wanita cantik yang tampak sakit hati itu. Namun kehadirannya segera diketahui oleh Elma. "Ngapain kamu di situ?" tanya Elma dengan suara tegas. Tak ada lagi raut kesedihan di wajahnya. Elma begitu cepat mengubah suasana hatinya. "Em... maaf Bu, saya disuruh security untuk ke sini." Revan terlihat canggung dan berjalan menghampiri Elma. Elma terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu. Tak berapa lama wanita itupun mendongak dan menatap wajah Revan. "Apa kamu sudah punya pacar?" tanya Elma tiba-tiba. "Me-memangnya kenapa Bu?" "Em, tapi tidak masalah kalaupun kamu punya pacar. Begini Revan..." Elma bangun dari duduknya dan berjalan mengelilingi Revan yang masih berdiri terpaku. "Aku akan kasih kamu uang yang sangat banyak asal kamu mau jadi selingkuhanku." "Apa?"The police said they were about to reach and asked me to buy more time. I suddenly had an idea. I said to the kidnappers, “You’re going to die soon, in less than an hour.” Looking at their puzzled expression, I continued to lie to them. “Don’t you want to know why I found out your plan?”It was indeed something the kidnappers wanted to ask. After all, they had a hostage. My father would not betray them. My husband was also blinded by money. That was why they were so confident. They felt nothing would go wrong, but I had proven them wrong at every turn. When they hesitated, I explained, “It’s because I can see everyone’s survival time on top of their heads. If you don’t run, none of you would live more than an hour. If you run now, you could still live for another fifty years.” I was bluffing about the years. The law would not let them off the hook. As they were hesitating, I stepped on my accelerator. The kidnapper flew away from the impact. I rushed toward the directi
I got a year older. I was supposed to die in a plane crash. The irony was funny. My father, who never remembered my birthday, suddenly cared about it because he was using that opportunity to sell me off. But before I could think of the way I should deal with my father and my husband, I saw the number on top of my head start to plummet. My expression changed. The number was dropping too quickly. It seemed like the kidnapper had found out that something had gone wrong. The incident at the airport had been too conspicuous. They must have wanted to kill us all off. I subconsciously wanted to call the police, but my survival time was less than fifteen minutes. I gritted my teeth. I did not have enough time. I must save myself on the spot. I dragged my husband and my father into the bedroom and played the voice recording so it seemed like they were chatting. I grabbed a knife from the kitchen and dashed to my garage. I called the police while I quickly did some calculations.
“Your mother is such an evil woman! I’m going to make her pay tomorrow. I’m going to divorce her and find someone else who can give me a son.” I was expressionless. He wanted to make my mother pay? That was right. I wanted to make my father and husband pay for what they did. After all, they wanted to kill me. It was reasonable for me to defend myself. I started tearing up after I recalled my mother’s gaze when she left. My mother had indeed killed Joe, and she had the intention of blaming me. However, she had only done so to protect me. After I got home, I immediately went to read my mother’s diary. It finally broke the illusion that I had a loving family. Three years ago, my mother discovered that my father had had an affair and produced an illegitimate son. However, as a housewife, she did not confront my father. When my father’s illegitimate son was kidnapped after gambling and owing a huge sum of money, my father prepared to sell my mother and me overseas for money
Upon hearing my words, the internet and everyone at the scene immediately quietened. As quickly as the surroundings had fallen silent, a huge commotion quickly erupted. “The murderer is trying to drag her mother into this! What a horrible person!” “What the heck? This person should be executed.” Upon hearing my accusation, my mother immediately burst into tears. However, I calmly explained myself. “Mom, we have similar builds. Even our facial features were quite similar. We even wore matching outfits today. You did this to put the blame on me.” Upon hearing my words, my mother stiffly adjusted her jacket. After I came back from the washroom, I realized that my mother had changed clothes. Initially, I thought it was because the air-conditioning had been too cold. It turned out that she was creating an alibi. I continued to speak calmly. “There’s also the matter of the murder weapon, my hairpin. I clearly recall placing it back into my bag and passing it to you personal












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.