Share

Bab 17

Penulis: Tiyas Tuti
last update Terakhir Diperbarui: 2024-05-11 13:53:25

Tes! Bunyi tetesan air terakhir terdengar saat aku memutar keran wastafel. Setumpuk piring langsung aku letakkan di rak setelah selesai mencucinya. Aku dan Vian baru saja selesai sarapan dengan menu sederhana—telur ceplok dan oseng kacang. Vian makan tanpa banyak bicara tadi, dia bahkan makan setengah porsi dari biasanya sehingga sisa makanannya lumayan banyak.

Aku berjalan ke kamar sambil merapikan seragam. Sudut mataku melihat Vian sudah menggendong tasnya dan duduk di kursi ruang tamu. Aku mempercepat persiapanku, segera menggendong tas dan mengajak Vian keluar dari rumah.

“Jendelanya bagaimana, Kak?” tanya Vian.

“Nanti diperbaiki pak satpam, Dek. Sementara ditutup tripleks dulu,” jawabku singkat. “Ayo, Dek!” Aku mengajak Vian keluar dari rumah.

“Kunci rumah sudah kamu bawa, kan?” aku bertanya pada Vian sambil memasukkan kunci rumah ke dalam tas.

“Ada kak, di dalam tas.” Vian menjawabku dengan wajah datar. Aku mengangguk.

Kami berdua memegang kunci sendiri-sendiri—satu set kunci ya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • SELUMBARI   Bab 28

    Hari Sabtu, saatnya family time bagi beberapa keluarga. Tidak semua anak-anak maupun orang tua libur di hari ini, jadi mereka yang memiliki waktu libur lebih panjang pasti lebih memilih hari Sabtu untuk jalan-jalan daripada Minggu. Mereka menghindari kemacetan yang bisa disebabkan di tempat-tempat tertentu. Biasanya mereka akan ke tempat-tempat wisata di dalam maupun luar kota atau sekadar olahraga di alun-alun.Aku berhenti di depan sebuah gedung bercat kuning pastel. Sudah beberapa kali aku mengunjungi tempat ini, menemui seseorang yang disebut dokter. Rentetan kejadian yang menimpaku akhir-akhir ini membuat pikiran dan mentalku tidak baik. Masih bisa melakukan kegiatan sehari-hari dengan baik adalah hal yang benar-benar aku syukuri. Namun itu saja tidak cukup, ada Vian yang harus aku perhatikan kondisi mentalnya juga. Karena itulah, aku sekarang berada di sini.Aku perlahan membuka pintu masuk gedung kuning, agak mengintip kondisi di dalam. Terpantau ada cukup banyak pasien yang ber

  • SELUMBARI   Bab 27

    Aku terhenyak. Vespa kuning? Aku harus fokus mendengarkan cerita ini dengan tetap melihat ke luar jendela.”Apaan? Masa bawa vespa, kuning pula ke sekolah?””Iya. Aku nggak tau dia parkir di mana, tapi seragamnya dari sekolah kita.”“Gila! Keren, sih.”Aku menggelengkan kepala, tidak seharusnya aku memikirkannya di sini. Aku kembali fokus melihat lingkungan sekitar, melihat sampai mana perjalananku. Sebentar lagi aku akan sampai di depan gang, aku harus bersiap untuk turun. Syla ternyata sedang melihatku, entah sejak kapan dia melakukan itu. Aku mengangguk sambil tersenyum, sudah sadar akan segera sampai.“Kiri, Pak!” Aku bicara pada pak sopir dengan nada biasa. Angkot tiba-tiba menjadi hening, sehingga tidak perlu effort lebih agar pak sopir mendengarkan.Angkot berhenti beberapa saat kemudian. Aku turun dari angkot dan membayar pada pak sopir, sebelumnya menyentuh paha Syla untuk berpam

  • SELUMBARI   Bab 26

    “Tidak!” Teriakan menggelegar memenuhi hutan sejenak, berhasil mengalahkan bunyi hujan yang turun dengan deras. Seorang pria paruh baya yang sedang berteduh di bawah pohon besar terhenyak. Ia menoleh mencari asal suara. Dalam kondisi hujan deras dan di tengah hutan, ia harus segera siap menolong orang yang sedang dalam bahaya.Sepertinya pria paruh baya itu sedang menunggu sesuatu, entah menunggu hujan reda atau menunggu seseorang. Agaknya tidak mungkin ada orang yang sengaja berada di hutan apalagi dalam keadaan hujan deras. Raut wajah pria itu terlihat khawatir dan panik, mungkin teriakan tadi berasal dari orang yang dia kenal. Pria paruh baya itu langsung berlari ke arah suara, menghiraukan sakitnya terkena air hujan dan tanah becek yang memperlambat laju langkahnya.Guruh saling bersahutan memenuhi hutan, menambah suasana mengerikan di tengah derasnya hujan. Petir menyambar berkali-kali, memberikan cahaya barang sedetik. Pria paruh baya itu mantap berlari menuju ke arah tertentu s

  • SELUMBARI   Bab 25

    Jam istirahat sudah berbunyi beberapa menit yang lalu, aku di perpustakaan bersama Syla. Minimal seminggu sekali kami berdua pergi ke perpustakaan, update bacaan dan pinjaman buku. Ini sudah waktunya kami ke perpustakaan, dan di sinilah kami berada. Kami mengembalikan buku langsung ke petugas sesampainya di perpustakaan. Kami berpisah mencari bacaan masing-masing setelah mengembalikan buku.Memang benar kemarin aku membeli buku, namun belum aku buka. Aku mengingat dengan jelas hari ini waktunya ke perpustakaan, jadi aku simpan buku yang sudah dibeli untuk dibaca nanti. Buku dari perpustakaan ini yang akan aku baca lebih dulu, setelah tidak ada bacaan aku akan membaca buku baru itu. Aku menuju rak buku fiksi, menelusuri setiap judul dari buku yang ada. Peletakan buku di perpustakaan berdasarkan nama penulis, apa pun genrenya.Aku tidak mengenal penulis bergenre thriller, jadi setiap menemui penulis yang belum aku kenal, aku mengambil buku tersebut dan membaca blurbnya.

  • SELUMBARI   Bab 24

    Hari itu, sinar matahari sangat terik, panasnya menusuk hingga ke tulang. Pengendara sepeda motor banyak yang berteduh di bawah pohon apalagi ketika lampu lalu lintas berwarna merah. Mobil-mobil full AC, mobil yang tidak punya pendingin harus menggunakan kipas angin. Tidak ada pejalan kaki yang mau menanggung panasnya matahari secara langsung. AC di dalam ruangan-ruangan kantor saja hanya berupa angin, tidak terasa dingin–entah karena belum dibersihkan atau cuaca memang sepanas itu.Woosh! Tiba-tiba angin kencang mengembus dari dalam ruangan setelah masuk sebuah gedung. Membuat perbedaan nyata antara di dalam dan di luar ruangan. Walaupun pintu terbuka lebar, suhu panas seperti alergi dengan gedung ini–tidak mau masuk.“Dingin, kak!” Vian tertawa riang, dia berlari ke sebelah kiri ruangan.Aku tersenyum, senang sekali melihat adikku bisa tertawa lepas seperti itu. Begitu banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini, sehingga aku jadi kur

  • SELUMBARI   Bab 23

    Jam pelajaran keempat dimulai, aku berada di laboratorium kimia bersama teman-teman satu kelas. Bu guru sudah memberi tahu kami bahwa minggu ini akan ada praktikum di laboratorium. Kami baru saja selesai berolahraga, praktikum bola kasti di lapangan sekolah. Walaupun setengah jam yang lalu masih pada berkeringat, seluruh ruangan lab kimia menguar wangi parfum. Sekolah kami mewajibkan pelajaran olahraga untuk diselesaikan tiga puluh menit lebih awal dari seharusnya agar para siswa dapat beristirahat sebentar dan berganti pakaian setelah berkeringat.Hari ini kami akan melaksanakan praktikum uji nyala api pada unsur alkali dan alkali tanah. Kami dibagi menjadi enam siswa yang ditempatkan pada satu meja. Masing-masing dari enam orang itu akan mencoba satu kristal senyawa tertentu yang akan diuji unsur di dalamnya dengan larutan Hcl melalui warna nyala api yang dihasilkan. Eksperimen seperti ini sangat menyenangkan bagi kami, karena tidak perlu melihat papan tulis, buku, dan mendengarkan g

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status