LOGIN“Ini adalah privasi pasienku, jadi aku nggak bisa menjelaskannya lebih jauh kepadamu,” ujar Novin sambil tersenyum tipis. “Orang yang memiliki gangguan psikologis memang memiliki pola pikir yang berbeda dengan orang normal. Jangan salah paham. Ini bukan kata-kata merendahkan, melainkan hanya penjelasan yang jujur.”Dia lalu mendorong pintu ruang konsultasi dan masuk lebih dulu.Setelah berbincang singkat dengan Clarin, Novin mengajaknya menjalani beberapa pemeriksaan profesional. Di antaranya ada pengambilan darah, tes evoked potensial, tes psikologi, EEG khusus, dan berbagai pemeriksaan lainnya.Dibandingkan dengan minggu lalu, hasil analisis neurotransmiter kali ini menunjukkan perubahan negatif yang cukup jelas.Terutama penurunan kadar dopamin.Semua data itu menunjukkan bahwa kondisi penyakit Clarin semakin memburuk.Novin berbicara cukup lama dengan Clarin, membimbingnya agar mau mengungkapkan hal-hal yang belakangan ini membuat suasana hatinya terpuruk. Kemudian, dia memberikan
Di dalam mobil, Carles menyodorkan kantong itu ke hadapan Clarin.“Koki dessert di rumah kita baru mengembangkan kue ini. Coba cicipi.”“Aku nggak selera makan.” Alis Clarin sedikit berkerut, nadanya datar.Carles menarik kembali tangannya, membuka kantong itu dengan tenang dan elegan, mengeluarkan kotak kaca berisi kue serta garpu perak, lalu memotong sepotong kecil, memasukkannya ke mulut dan mencicipinya perlahan.Tatapan Clarin tanpa sadar tertuju padanya.Wajahnya tetap tak berekspresi, tetapi setiap gerakannya memancarkan keanggunan dan wibawa.Padahal dia bukan penggemar makanan manis.Namun, dia terus mengambil satu suap demi satu suap seolah kue itu benar-benar lezat.Selera makan Clarin pun tergugah. Tapi, dia sudah bilang tidak ingin makan ….Carles melirik tatapannya pada kue itu. Dia tahu Clarin ingin makan, tapi gengsi tak mau mengaku.“Coba saja, apakah cocok dengan seleramu,” kata Carles sambil menyodorkan kue itu lagi. “Kalau ada yang kurang, setelah pulang nanti bisa
Clarin merasa Carles benar-benar aneh.Dia memutar bola mata dan berkata dengan kesal, “Carles, kamu punya trauma diselingkuhi? Kenapa selalu berkhayal aku selingkuh darimu?”“…”Carles terdiam, lanjut berpakaian tanpa menjawab.“Dulu memang aku pernah berkhayal, kalau aku kaya dan lajang, aku mau memelihara tujuh gigolo biar bisa ganti setiap hari dalam seminggu. Tapi, itu cuma khayalan. Aku nggak benar-benar melakukannya!” kata Clarin. Semakin lama semakin kesal sendiri. “Keberanianku cuma cukup buat aku diam-diam menekan tombol suka pada foto pria-pria berotot ataupun platform video pendek!”Kalau sudah tekan tombol suka, algoritma akan tahu tontonan yang disukainya.Baru nanti direkomendasikan lagi.Gerakan Carles mengancingkan jasnya terhenti. Wajahnya makin muram, rahangnya menegang sampai hampir terdengar berderak.Berani-beraninya Clarin mengaku langsung bahwa dia sering menonton pria lain di internet!Setelah mengenakan jas, dia memasang dasi dan mengenakan jam tangan mahalnya
Tengah berbicara, dia tak kuasa menahan isak tangisnya.Tiba-tiba dia merasa dirinya terlalu berlebihan.Carles berpikir sejenak, lalu berkata dengan serius, “Aku akan mengatur ulang psikolog lain untukmu. Dia nggak akan bisa disuap oleh Herni. Kamu bisa memercayainya 100 persen.”“Soal Valen yang menusukmu dari belakang, biar aku yang menanganinya.”“Apa yang mau kamu lakukan pada Valen?” tanya Clarin spontan.“Kenapa? Kamu kasihan padanya?” balas Carles.“Bukan.” Clarin menggeleng.Dia ingin mengatakan bahwa Valen hanyalah bidak catur, Herni-lah dalang di balik semuanya.Namun, dia teringat bahwa Carles dan Herni adalah teman sekolah selama 20 tahun.Jadi, Carles mungkin tidak akan menyentuh Herni.“Besok sore aku temani kamu menemui psikolog,” ujar Carles kembali ke topik awal.“Baik.” Clarin berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Aku kembali ke kamar.”Baru saja dia berbalik, Carles sudah menarik pergelangan tangannya.“Tidur denganku,” ucap Carles dingin. “Kamu sudah masuk trimester
Clarin mendekat ke telinganya dan berbisik pelan, “Nanti aku ceritakan.”Carles memutar bola mata hitam legamnya ke sudut mata, melirik Clarin dengan sorot miring.Setelah terdiam sejenak, dia memasukkan ponselnya ke saku.Sesampainya di restoran shabu-shabu, Clarin memesan kuah dua rasa dan banyak sekali lauk.Siang tadi dia muntah sampai perutnya kosong. Sekarang dia lapar sampai merasa bisa menghabiskan seekor sapi.Tak lama kemudian, pelayan mengantarkan kuah dan tiga mangkuk es cincau, lalu menuangkan air panas ke dalam cangkir teh bertutup.Clarin duduk di kursi dekat dinding. Sambil menyendok es cincau, dia berkata pada Carles, “Perutku sudah besar, keluar-masuk agak susah. Bisa bantu aku racik saus cocolan?”“Hm.” Carles berdiri dan berjalan ke area bumbu.Dia masih ingat resep saus kesukaan Clarin. Cincangan bawang putih, daun bawang, daun ketumbar, seledri kecil, wijen, saus tiram, kecap asin, minyak wijen yang banyak, cabai rawit kecil, sedikit gula, dan setengah buah jeruk
Kirana menepuk-nepuk punggung Clarin dengan lembut, lalu menasihatinya dengan nada pelan, “Manusia itu makhluk yang punya perasaan. Kamu mengetahui dirimu dikhianati teman. Wajar banget kamu merasa sakit hati. Jadi, menangislah. Luapkan semua emosimu. Setelah itu, kamu akan merasa lebih enak. Kamu mengenal sifat aslinya sekarang jauh lebih baik daripada mengetahuinya nanti ketika dia menimbulkan kerugian yang lebih besar padamu ….”Setelah capek menangis, barulah emosi Clarin perlahan mereda.Tiba-tiba terdengar bunyi keroncongan dari perutnya yang memecah suasana sendu.“Bu, kita makan di luar saja,” kata Clarin.“Baik. Kamu mau makan apa?” Kirana mengusap air mata di wajah putrinya dengan telapak tangan.“Kita makan shabu-shabu saja. Cuaca sedang dingin, enak makan yang hangat-hangat.”“Kalau begitu, kamu cuci muka dulu.”Clarin pun turun dari ranjang, mengenakan sandal rumah berbulu, lalu masuk ke kamar mandi.Setelah mencuci wajah dan berganti pakaian, dia keluar kamar dan mendapat
“Iya. Aku sudah tahu,” jawab Carles datar.“Kalau begitu… selamat tidur.”“Selamat tidur.”Telepon ditutup.Setelah pikir-pikir, Clarin tetap tidak tenang. Kalau sepenuhnya menyerahkan urusan hadiah pertemuan pada Carles, kesannya dia tidak menghargai pertemuan tersebut.Namun, dia tidak tahu apa ya
Tak ingin Carles menutupi sesuatu, Nenek Vivian langsung mengancam galak, “Kalau kamu nggak jujur, nanti begitu aku bertemu cucu menantuku, aku akan langsung bongkar identitasmu di depannya!”Carles menatapnya dingin. “Memang saya sudah menikah dengannya. Tapi, saya belum sepenuhnya menilai apakah d
“Ada apa, Nek?” tanya Clarin.“Carles suka membangkang. Tolong bantu Nenek pastikan dia habiskan sup ini, ya?” kata Nenek Vivian.Clarin tidak langsung mengiyakan, hanya tersenyum sopan dan berkata, “Nek, nanti malam saya akan ingatkan dia.”“Baik, terima kasih, Clarin. Kamu benar-benar anak baik. C
“Selamat datang, Bapak dan Ibu!”Staf di butik perhiasan itu menyambut dengan senyum profesional.“Beli cincin,” ucap Carles datar dan tegas.“Silakan ikut saya, cincin ada di sisi sebelah sini,” ujar tenaga penjual sopan sambil menuntun mereka ke area cincin.Begitu sampai di depan etalase cincin,







