Short
She Faked Her Amnesia, I Went Back to Being Rich

She Faked Her Amnesia, I Went Back to Being Rich

Oleh:  ForresterTamat
Bahasa: English
goodnovel4goodnovel
10Bab
350Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

After the car accident, one of the Laurent heiresses has died, while the other lives. The moment my religious wife, Amelia Laurent, opens her eyes in the hospital, she addresses me as her brother-in-law. Then, she claims that her older sister, Penelope Laurent's soul has possessed her body. I quickly get all the doctors and priests I can find, hoping to swap Penelope's soul out for Amelia's. That is, until I overhear Amelia's conversation with our daughter, Charlotte Robinson, at night. "Mom, you've had a crush on Uncle Samuel for so many years, and you've even gone into abstinence by staying in the monastery for years. Now, you can finally be with him in the open." Amelia pats Charlotte on the head. "If it wasn't for the need to prevent your father from ruining Samuel's relationship back then, I wouldn't have married your father in the first place." As I struggle to register the truth from the shadows, I witness what happens next after Charlotte leaves the ward. Amelia, who has always prided herself on her composure and restraint; who has practiced abstinence for seven long years for the sake of her religion, proceeds to be physically intimate with Samuel Bennett—a fresh widower—on the cramped hospital bed. The next day, I apply for Amelia's death certificate immediately before burning our marriage certificate. On the day Amelia throws a grand proposal banquet for Samuel, I board the helicopter that has flown over to pick me up. But strangely enough, Amelia tears through the streets while chasing after the helicopter.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Chapter 1

TUAN LUKAS DI PERKOSA WANITA!

"Itu membuatku ingin mencium bibirmu, Tuan," kata Davina sambil berjingkat memeluk lukas.

'Cup' bibir mereka saling beradu, awalnya hanya sekedar saling menempel namun lama- lama menjadi lumatan. Dengan beraninya Davina mendorong tubuh Lukas sampai lelaki itu berbaring diatas kasur hotel. Dia menduduki perut rata Lukas kemudian melumat bibir Lukas lagi.

"Ahhhh, mmmmhhh," desahan keluar dari bibir mereka.

"Kau tidak menyuruhku untuk tidak melakukannya kan?" tanya Lukas memandang wajah Davina.

"Aku bisa beranggapan kita sama- sama mau kan, Tuan?" sahut Davina sambil membuka atasan bajunya.

Sontak saja perbuatan Davina itu menampakkan dua gundukan buah dada yang tampak bulat di hadapan Lukas yang tertindih di bawah. Lukas langsung membalik keadaan.

"Sekali lagi aku bilang, kau akan dalam masalah kalau memintaku untuk melakukannya. Karena itu memacu birahiku," ujar Lukas.

"Sttt! Nikmati saja, Tuan," perintah Davina sambil membuka kancing baju Lukas.

"Aku akan memberikannya untuk mu malam ini! Malam yang penuh gairah membara."

Panasnya wine yang ada dalam tubuh mereka kali ini membuat keduanya kehilangan kendali. Hal yang seharusnya tak terjadi antara atasan dan bawahan. Davina yang sudah kehilangan kesadarannya justru membuka bajunya sendiri di hadapan Lukas. Tanpa banyak berkata Lukas langsung menindihnya.

"Agh... Tu- Tuan..." erangan Davina ketika dua tangan Lukas bermain di putingnya. Lukas mulai mencubit, menekan dan memelintirnya.

"Akhhhh! Sakit," gumam Davina lirih saat Lukas mengisapnya.

"Ah maaf, kalau begitu apakah boleh begini?" tanya Lukas sambil memberikan bekas cupang di leher, tangan, dan pundak Davina, tangannya tak berhenti meremas.

"Ck! Itu ekspresi sakit menikmati bukan sakit siksaan bukan! Hahaha," sindir Lukas sambil memasukkan tangan nya ke lubang kehangatan milik Davina.

"Ahhhh! Aghhh!" pekik Davina tertahan.

"Kau pasti sensitif di bagian sini ya? Lihatlah," kata Lukas sambil menunjukkan cairan milik Davina dan menjilatnya tanpa rasa jijik sedikitpun.

"Kau tidak jijik, Tuan?" tanya Davina.

"Rasa ini manis sekali."

"Cepat masukkan Tuan," bentak Davina sambil melebarkan kakinya.

"Kau sangat tidak sabaran rupanya! Baiklah kalau begitu!" kata Lukas langsung menindih Davina.

"Aggghhh!" teriak Davina sambil mencengkram seprai hotel.

"Bukan kah kau yang memintanya? Bagaimana?" Emhhh... Kedutan lubang milikmu sangat erat! Apakah kau baru melakukannya?"

"Ahhh...Haaa,,,, Ughhh! I- ini terlalu besar, Tuan," kata Davina dengan terbata- bata.

Tanpa menjawab Lukas langsung melumat bibir Davina. Mereka melakukannya dengan penuh nafsu semalaman. Meninggalkan bekas cupang di sekujur tubuh Davina dan Lukas tanda malam penuh gairah.

Pagi datang, Davina membuka matanya, dia menyapu ke seluruh ruangan. Kepalanya sakit sekali, dia mendengar suara nafas lelaki asing dari belakang punggungnya. Saat Davina menoleh dia justru melihat sosok yang sangat familier.

"APA? INI BOHONG KAN?" pekik Davina sambil menutup mulutnya tak percaya.

"Sungguh, pasti bukan! Aku telah menghabiskan malamku bersama Tuan Lukas, Tuan Presiden Direktur!" teriak Davina dalam hati, wajahnya seketika wajahnya memucat.

"Gilaaaa!" teriaknya melihat kembali ke arah Lukas yang memang telanjang dalam selimut yang sama dengannya.

Dengan perlahan Davina langsung beranjak dari kasur agar tak membangunkan Lukas. Dia langsung mengambil baju nya yang berserakan di lantai serta sepatu heelsnya kelua berlari tanpa alas seperti orang bodoh.

Di sisi lain, Lukas terbangun dari tidurnya. Dia memegangi kepalanya yang begitu sakit kemudian menyibak selimut.

"Astaga," gumam Lukas lirih mendapati tubuhnya yang telanjang tanpa sehelai pakaian. Dia terdiam dan mencoba mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi.

"Sialan! Aku tak mengingatnya sama sekali," kata Lukas sambil mengusap wajahnya dengan kasar.

Saat hendak turun dari ranjang, dia melihat sepatu wanita di sana. "Apa yang sebenarnya terjadi? Apa karena aku minum banyak wine semalam?"

Dengan segera Lukas mengambil pakaian dalamnya dan mencari wanita itu ke seluruh ruangan hotelnya. 'Brak' dengan kasar Lukas membuka pintu kamar mandi, kosong.

"Tidak ada! Dia tidak ada di kamar mandi maupun ruang tidur. Tidak ada jejak wanita itu. Bagaimana bisa?" gumam Lukas.

"Apakah aku melakukannya?" batin Lukas memandangi semua ruang hotel itu.

Tidak ada bekas kondom, tanda itu bukan lah malam yang di sengaja. Namun di seprei terdapat banyak bercak darah.

"Apakah wanita itu baru pertama kali melakukan ini?" batin Lukas sambil berjalan ke kamar mandi.

Saat bercermin Lukas melihat bekas cupang memenuhi tubuhnya, tanda betapa ganasnya perempuan itu memperkosanya.

"Bagaimana bisa seorang Presiden Direktur perusahaan besar di perkosa seorang wanita? Memalukan! Bahkan aku tak tahu siapa wanita itu! Apakah mungkin anak perawan memperkosa dengan beringas? Sialan!" umpat Lukas sambil segera bersiap berangkat di kantornya.

****

"Se- selamat pagi Tuan Lukas," sapa Davina sambil membungkukkan badannya sata presiden direkturnya itu lewat.

Lukas melewati Davina tanpa banyak bicara. Dia masuk dalam ruangannya lalu mengeluarkan sepatu wanita dalam tasnya. Sepatu berwarna merah menyala, tanda pemakai sepatu ini wanita yang pemberani. 'Tok' 'Tok'

"Masuk!" perintah Lukas.

"Permisi Tuan," kata Davina menyodorkan beberapa file yang harus dia tanda tangani.

"Semua file kontrak yang harus Tuan tanda tangani," sambung Davina sambil membungkukkan badan hendak berpamitan. Saat mendongakkan mata, dia melihat sepatu nya ada diatas meja Presdirnya itu.

"Sial! Kenapa sepatuku bisa tertinggal ya?" batin Davina mencoba mengingatnya.

"Kau tahu sepatu siapa ini?" tanya Lukas melihat Davina memandangi sepatu itu.

"Ah, Ti- tidak, Tuan," ucap Davina tergagap.

"Permisi Tu- Tuan, saya harus pergi meeting dengan bagian team devisi satu," kata Davina langsung berpamitan. Davina keluar ruangan dengan tergesa.

"Mati aku! Mati aku! Bagaimana bisa aku sangat ceroboh seperti ini? Kenapa aku harus keluar hotel tanpa alas sampai tak menyadari sepatuku tertinggal.

"Tenang Davina! Tenang. Dia tidak akan menemukanmu, kau cukup diam dan berpura- pura selah- olah tak tahu apapun," batin Davina menghela nafasnya panjang.

Tanpa di sadari Davina, Lukas mengamati gerak geriknya dari dalam ruangan kerjanya. Karena ruangan itu di batasi kaca riben.

"Mengapa Davina mengenakan baju panjang di tengah cuaca musim panas seperti ini? Semalam Davina lah yang menemaniku menghadiri acara peresmian Mega Mall itu. Apakah ini..." gumam Lukas sambil mengambil gagang telpon yang ada diatas meja kerjanya.

"Halo, Leo! Aku mau kau mengumpulkan semua data rekaman CCTV lorong kamar hotel tempatku menginap. Cari tahu siapa wanita yang masuk sebelum atau sesudah ku masuk," perintah Lukas.

"Kau tak akan pernah bisa lari! Sejauh apapun kau bersembunyi dalam diam mu, maka aku akan menemukanmu!" geram Lukas menatap tajam ke arah Davina.

AKANKAH LUKAS TAHU JIKA WANITA ITU ADALAH SEKERTARISNYA SENDIRI DAVINA? LALU APA REAKSI YANG AKAN TERJADI?

BERSAMBUNG

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Tidak ada komentar
10 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status