เข้าสู่ระบบAfter Iris Miller ditches me at the altar for the seventh time just to be with her childhood sweetheart, Aaron Trent, the Millers personally show up on my doorstep so that they can apologize to me properly. "We'll add on another 11 pounds of gold, three buildings in the south-western district, and nine stores located in prime locations of the city center on top of the current list of wedding gifts in order to make it up to you." Before Daniel Miller is done speaking, Iris, who's listening to the conversation from her phone, lets out a light scoff. "As if Jasper deserves all these gifts. Believe me when I say I'll have him eating out of the palm of my hand with just a pebble I randomly pick up on the street. Grandpa, I might as well invest these wedding gifts in Aaron's art gallery." Daniel quickly ends the call before looking at me in embarrassment. Soft mocking laughter rings out around me. Everyone is waiting for me to quietly endure all the humiliation, just like before. But I've already received such compensation six times in the past. I'm no longer interested in them. Heck, I'm no longer interested in Iris as well. After thinking for a moment, I glance at the crowd with a raised brow, where I find myself staring at Taylor Miller, Iris' most hated half-sister due to her illegitimate lineage. "Mr. Miller Senior, you mentioned that whoever I marry will become the future heiress of the Miller family. This promise still stands, right?" It's fine if Iris refuses to marry me. Plenty of women are dying to marry me anyway.
ดูเพิ่มเติมBrukk! Dia didorong dengan kasar hingga jatuh ke sofa.
"To-tolong, tolong aku, Kak, ... aku mohon tolong aku!" Tubuh gadis itu bergetar hebat. Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya. Dia, kini berada dalam satu ruangan remang dengan suara musik yang cukup keras, hingga membuat telinganya tidak dapat mendengar dengan baik. Beberapa orang laki-laki memandangi dengan tatapan yang sulit diartikan. Mereka semua tertawa dan terlihat sangat menantikan sesuatu yang akan membuat mereka senang. Gadis itu seperti masuk ke dalam sarang serigala kelaparan. "Adikku sayang tenanglah sedikit. Sebentar lagi kau akan merasakan enak!" ucap gadis berambut keriting dan pirang. Dengan make-up yang terlihat tebal, baju yang dikenakannya terlihat kekurangan bahan. Dia mencengkram kasar wajah gadis itu yang terlihat ketakutan. Air matanya sudah membasahi pipinya yang chubby. "Ka-kakak? Kak Shasa ada disini juga, tolong aku kak! Aku tidak mengenal mereka!" pekiknya. Dia menggenggam erat tangannya penuh harap. Berharap dia mendapatkan pertolongan dari kakaknya. "Menolongmu, tentu saja aku akan menolongmu. Tapi, sebelum itu kau harus membantu kakakmu ini. Oke?" ucapnya dengan seringai licik yang tak dimengerti oleh gadis itu. "Membantu apa Kak? Asalkan bisa keluar dari tempat ini, aku akan membantumu!" ucapnya dengan air mata yang masih berlinang. Segenap harapan yang tersisa. Dia hanya bisa menggantungkan keselamatannya kali ini dengan memohon kepada sang kakak. "Kau memang gadis yang penurut dan baik hati, Maureen! Kakak tak salah memilihmu!" Shasa mengusap kepala adiknya dengan sangat lembut. Membantu adiknya tenang dari kondisi yang membuatnya seperti orang gila. Beberapa saat Shasa tampak menenangkan hati adiknya. Dia memberikan minuman untuk adiknya. Maureen menolaknya, karena dia tidak tahu minuman apa yang kakaknya berikan. Namun, ancaman dari kakaknya membuatnya terpaksa meminum. Kakaknya, mengancam akan menghentikan semua perawatan yang sedang dijalankan oleh ibunya. Mana tega seorang anak membiarkan ibunya tersakiti begitu saja didepan matanya. "Anak pintar, kau memang anak yang berbakti. Tunggu disini sebentar. Aku keluar mencari camilan!" Seringai licik memberikan kode pada beberapa laki-laki yang sudah tak sabar menunggu dari tadi. Mereka langsung bersemangat saat mendapatkan kode dari Shasa. "Aku ikut saja kak. Aku tidak mau ditinggal sendiri. Disini sangat menakutkan!" Maureen memegangi lengan kakaknya dengan sangat erat. Dia tak ingin melepaskan. Apalagi dia melihat sorot mata-mata yang seperti akan menelannya hidup-hidup. "Apa yang harus ditakutkan? Mereka semua teman-teman kakak, Maureen sayang. Tenang saja, mereka pasti akan memperlakukan dirimu dengan sangat baik." Sasha kembali berkata sesuatu yang tak dimengerti olehnya. Kenapa kakaknya terus saja ngotot meninggalkan dia bersama laki-laki yang tak dikenalnya. Dia pun berpikir, pasti ada sesuatu yang tak beres. "Pokoknya aku ikut Kakak, Aku tidak mau ditinggalkan sendiri disini!" cetusnya. Tetap menggenggam erat lengan kakaknya. Sasha sedikit geram, dia merasa adiknya sudah dapat membaca rencananya. Jadi, dia putuskan, "Kakak, akan berbicara dengan mereka. Kamu tidak usah khawatir. Jika mereka macam-macam denganmu. Mereka semua, kakak sendiri yang akan menghajarnya!" Sasha berkelit, memberikan keyakinan pada Maureen agar dia bisa pergi darinya. "Be-benar, Kak? Janji, Kakak jangan lama-lama!" "Uhm!" Sasha tersenyum penuh kemenangan. Perlahan melepaskan pegangan adiknya tadi. Kemudian dia berjalan menghampiri mereka dan berkata, "Dia masih eksklusif dan tersegel. Aku jamin kalian akan puas malam ini. Transfer sekarang juga!" ucapnya. Namun, matanya melirik Maureen dengan senyuman yang berbinar yang memperhatikannya dari di sudut sofa. “Kemana kakak pergi? Kenapa dia lama sekali. Apa yang sebenarnya sedang terjadi kenapa dia meninggalkanku disini?” Batin Maureen melihat sekitar ruangan yang sudah dipenuhi dengan kepulan asap rokok dan beberapa orang laki-laki yang bahkan Maureen tak mengenalnya. Maureen mencoba merogoh tas mencari ponsel dan mencoba menghubungi Sasha. Tapi, meskipun sudah beberapa kali dia coba. Telepon Shasa tidak bisa dihubungi. Nomornya mendadak tidak aktif. “Maureen?” seorang laki-laki bertubuh gendut dengan kepedean tingkat tinggi menghampiri lalu menyerobot duduk di sebelahnya. Dia terlihat tak sabaran. Sejak kepergian Sasha dia terus saja mengincarnya. Seperti kucing garong ketemu tulang ikan. Siap menerkamnya kapan saja. “I-i-ya, kau siapa?” Maureen bergeser duduk memberikan jarak. Dia jenggak dengan lelaki tadi yang langsung menaruh tangan pada pinggangnya. “Aku, Roland. Apa Shasa tidak berbicara padamu tadi? Uhm, kalau malam ini kita ada kencan!” ucapnya tanpa basa basi meraih dan menciumi rambut Maureen, menatapnya penuh nafsu. “Kencan? Kakak nggak membahas apapun tadi soal kencan ini. Dia hanya bilang akan keluar sebentar membeli camilan.” Batin Maureen bergemuruh kembali. Semakin merasa tidak beres. “Ma-af mungkin kau salah mengenali orang dan aku bukan Maureen yang kau maksud!” tegas Maureen berusaha menguatkan hati yang tak bisa dijabarkan. Rasanya seperti gado-gado, bercampur aduk. "Kau, Maureen Angelia kan? Dan, Sasha Angelica tadi kakakmu kan? Dia sudah bilang padaku, kalau kau bersedia kencan denganku malam ini," ucapnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa kakaknya menjebak sang adik untuk melakukan kencan buta seperti ini. Dia bahkan tak meminta persetujuan darinya untuk melakukan ini semua. Ponselnya bergetar. Maureen melirik ponselnya. Akhirnya orang yang dia tunggu menelpon, “Ha-hallo, kak Shasa, kau ada dimana? Kenapa belum juga datang aku sudah menunggumu sejak tadi.” Maureen berbicara setengah berteriak karena suaranya hampir benar-benar tidak terdengar oleh dirinya sendiri. Suara musik dalam ruangan bergema semakin sangat keras. Orang bernama Roland terus menatap Maureen dengan intens. Menatapnya dari ujung rambut hingga kaki. Memperhatikan setiap detail lekuk tubuh gadis itu. Walaupun penampilannya biasa saja, bagi laki-laki hidung belang seperti itu tidak akan dipermasalahkan. Apalagi, dia sudah dijanjikan oleh Sasha bahwa Maureen masih tersegel dengan sangat rapi. “Maureen, maaf kakak tidak bisa datang kesana. Kakak ada urusan mendadak dan disana sudah ada Roland kan? Dia akan menggantikan kakak untuk menemanimu!” ucapnya terdengar sangat enteng. Dia bahkan tega meninggalkan adiknya bersama kumpulan para lelaki yang tak dikenal. “Roland? Siapa dia kak? Aku bahkan tidak mengenalnya? Bisakah kakak datang sekarang? Aku tidak kenal siapapun disini, kak!” Maureen setengah merengek agar dituruti oleh kakaknya. “Ayolah, Maureen bantu kakak dan keluarga kita kali ini. Temani, Roland ya. Jadilah anak yang baik dan berbakti. Kau kan masih sangat menginginkan biaya perawatan untuk ibumu? Kau harus bisa menemani dan membuatnya puas malam ini!” perkataan yang membuat tubuhnya bergetar. Bagaimana bisa kakaknya menyuruh adiknya untuk menemani seorang laki-laki. Ah … tidak bukan seorang melainkan ada empat orang disana. Sepertinya untuk kakaknya itu hal yang biasa dan lumrah. “Menemani? Maksudnya apa kak? Aku tidak mengerti. Aku mohon kak, kembalilah kesini. Aku benar-benar takut sendirian disini!” sambil berbicara Maureen terus melirik kearah Roland. Dia sudah terlihat semakin tidak sabar dan bangkit dari duduknya. Menghampirinya. “Bagaimana?” ucapnya. Belum selesai dia berbicara dengan kakaknya. Tangan Roland langsung melingkar di pinggang dengan bebas. Maureen terus bergerak dan menghempaskan tangan nakal laki-laki itu. Sasha sudah memutuskan telepon. “A-aku, tidak bisa!” tegasnya. Dia menolak laki-laki gendut menyebalkan yang akan menariknya duduk kembali bersama dengan para lelaki lainnya. “Ayolah, jangan pura-pura sok polos. Masa yang seperti ini saja kau tidak mengerti! Aku dan yang lain sudah bayar mahal dirimu! Jadi, jangan buat kami kecewa malam ini!” dia terus memaksanya untuk ikut. Menarik paksa hingga tubuh gadis itu terhuyung. Jatuh ke beberapa pangkuan laki-laki yang tak dikenal. Mereka tertawa dengan sangat puas. Mempermainkan Maureen seperti boneka yang baru dibelinya. Menyentuh rambut, mencubit pipinya yang chubby dan sesekali menggerayangi tubuhnya dengan bebas. “Arrgghh!!” pekiknya. Dia terus berusaha melepaskan diri dari sergapan orang yang menantikannya terus berteriak. Sekali Maureen berteriak membuat mereka yang sudah panas terbakar oleh minuman semakin bergelora. Mereka siap menyantap Maureen seperti ayam tanpa tulang. Mereka tinggal melumat Maureen pelan-pelan secara bergantian. “Roland, siapa dulu nih? Aku sudah tak kuat lagi menahannya!” salah satu dari mereka berkata dengan sangat menjijikan. Terdengar di telinga Maureen sungguh memekakan. Dia bahkan tak mengira hal buruk seperti ini akan terjadi pada dirinya.I turned to see Iris dragging Aaron onto the stage.They were dressed in ill-fitting wedding attire, looking as if they had purchased them at the last minute.I couldn't tell if Aaron looked pleased or annoyed. After all, marrying Iris had always been his biggest wish. However, he probably wanted a proper wedding instead of being an afterthought during my wedding.Aaron leaned against Iris when they walked past me, gleefully staking his claim on her."We're going to be a family from now on. You're going to be my brother-in-law."My lips curled up into a smile. "Wishing both of you an eternity of happiness," I said amicably.Aaron grinned smugly while Iris clenched her fists upon hearing my words.I didn't care about what she thought. I turned around and held Taylor's hand, exchanging rings with her after the officiant read out his blessings.I could feel a heated gaze on me as I sincerely said, "I do."…Taylor dawdled outside our home for a long time after the wedding ceremo
Daniel's expression twisted. He descended the stage and dragged me into a room backstage."I know that this isn't what we agreed on, Jasper, but Iris is still my granddaughter. I spent years nurturing her. I just can't find it in myself to name an illegitimate daughter as the successor of the Miller family. Besides, I'm giving Taylor half of Miller Group's shares. I'm not treating her any worse than Iris."However, I knew that the difference between getting half of the company's shares and the authority of the successor of the family was like night and day."Do you intend to go back on your word, Mr. Miller Senior?"Daniel looked troubled yet resolute at my question. "50% of the company's shares is more than enough."I understood what was going on as I watched him avert his gaze. As expected, the elderly were more prone to becoming softhearted.Suddenly, someone kicked the door open.Iris marched into the room. She pinned me with a furious look and pointed an accusing finger at
Iris was stunned and couldn't wrap her head around the situation.Meanwhile, Aaron's eyes darted around the hall, looking as if something had just clicked for him. He pointed at Taylor and asked, "Why is Taylor wearing a wedding dress, Iris?"Iris slowly directed her gaze to the wedding dress. Seconds later, her temper exploded."Are you really going to marry her, Jasper?" she demanded.She was blinded by rage and began running her mouth. "She's just a bastard. The daughter of a mistress. Why the hell are you marrying her?"Iris looked like she was trying to bore holes into Taylor with her glare alone. She also didn't forget to direct her ire to me."When did you start fooling around with her, Jasper?" she asked. "Was it when I went to Vasillica for my business trip? Or was it when you were staying at the Miller residence?"Her fury fueled her single-minded determination to dig up evidence of my infidelity now that she had convinced herself that I was cheating on her with Taylor
Taylor approached me right after the words left my lips. She offered her hand to me and said, "We need to go. They're waiting for us."Fury burned in Iris' eyes when she saw me take Taylor's hand as if it were the most natural thing in the world."How shameless can you be, Jasper Swanson? How dare you be all lovey-dovey with another woman right in front of me?"She stepped forward and tried to slap me, but she was stopped in her tracks by the people around her.Iris was about to curse them out when Aaron suddenly appeared.His face was covered with several comically-large bandaids, and he was wearing an incredibly pitiful expression on his face as if he had just been bullied."Those people are so scary, Iris!" he cried. "They told me that they were going to make me suffer because I offended Mr. Swanson. I barely managed to escape!"I watched Aaron put on his act with an icy gaze.The people that he was referring to were part of the Miller family, which made it incredibly unreal
The woman in the painting looked at me tenderly as if she were trying to silently comfort me.My nose stung as I held back my tears.Mom passed away when I was young, leaving me with only this portrait of herself. She had said that she hoped to see me get married, have children, and live a good li
Iris frowned deeply as she glared in irritation at my empty finger."Can you stop causing a fuss now? I'm not going to go back on my word since I already told you that I'm going to marry you. There's no need for you to play hard to get."A hint of glee flickered in Aaron's eyes. He suddenly pointe
Aaron laughed smugly as he urged Iris to hang up.A look of remorse crossed Daniel's face. He was too embarrassed to continue convincing me to wait for Iris."Are you sure you want to choose Taylor? Her history—"I interrupted him before he could say more. I took a deep breath and stared into Tay
Bewilderment crossed everyone's faces when they realized that I wasn't joking. After all, this wasn't the first time that Iris Miller had stood me up at the altar.I had never mentioned wanting to call off the engagement. Not even when the Swanson family was ridiculed for six months after headlines


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.