Sinners Confessions: Dirty, Sinful & Depraved Affairs

Sinners Confessions: Dirty, Sinful & Depraved Affairs

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-05-31
Oleh:  MissAngelSiteOngoing
Bahasa: English
goodnovel18goodnovel
10
1 Peringkat. 1 Ulasan
10Bab
435Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

18+ Explicit Content - Reader Discretion Strongly Advised Content Warnings: This collection contains graphic sexual content, taboo relationships, age-gap dynamics, power imbalances, infidelity, and explicit adult language. Reader discretion is advised. Every sinner has a confession waiting to be heard. From forbidden affairs to dangerous temptations, Sinners Confessions: Dirty, Sinful & Depraved Affairs unveils stories of lust, betrayal, obsession, and the dark desires people often hide. Some secrets are intoxicating. Some are destructive. And some should’ve never been confessed at all. *** "I'm so fucking hot for you, Father," I groaned, arching my back and shuddering as my thumb circled my cl*t. "And I'm all yours. I'm your little sinner, and this p*ssy is the altar you need to worship today. Come on, Father. Give in to the temptation. Put your holy tongue right here and clean me up." He let out a tortured breath, his knees visibly trembling, his eyes pinned to my fingers sliding over my soaking cl*t. "God forgive me..." he muttered, a panicked prayer slipping through his teeth. He gave in. He dropped to his knees right on the floor between my spread thighs. A wicked smile pulled at my lips as I tilted my hips forward, pressing my dripping wetness right against his mouth. "There's no salvation in here. Just you, me, and the sin you're about to swallow. Now open your mouth and eat me."

Lihat lebih banyak

Bab 1

SIN 1: Bless Me, Father, I Have Sinned (1)

Surabaya, 2022.

Suasana ruang kerja pengacara terasa dingin, meski kipas angin gantung sudah berputar kencang. Di atas meja kayu gelap yang mengilap, terbentang selembar dokumen tebal dengan segel merah di setiap sudutnya. Dokumen tebal itu berisi surat Perjanjian Pernikahan Berjangka.

Alika Adhistya Maheswari, gadis berusia dua puluh tiga tahun itu, menatap lembar demi lembar tulisan itu. Tangannya yang memegang pulpen sedikit gemetar. Di sampingnya terlihat seorang pria yang sedang duduk. Pria paruh baya itu adalah ayahnya yang menunduk lesu, matanya penuh rasa bersalah.

Perusahaan keluarga hampir bangkrut, dan satu-satunya jalan keluar adalah dengan pernikahan ini, yaitu menikah dengan Arkana Zayyan Adhiraga, pria berusia tiga puluh tahun, seorang pewaris tunggal dari perusahaan ternama yaitu PT Adhiraga Corp. Group.

Pintu ruangan terbuka perlahan. Seorang pria melangkah masuk. Posturnya tinggi tegap, mengenakan kemeja hitam yang mempertegas garis rahangnya yang tegas. Wajahnya tampan, tapi matanya sedingin es. Pria itu adalah Arkana.

Ia duduk di kursi seberang, menatap dokumen tanpa melirik sekilas ke arah Alika.

"Gimana? Apa kamu sudah baca semuanya?" Suaranya berat, tenang, tapi tak menyisakan ruang untuk tawar-menawar.

Alika mengangguk pelan. "Sudah."

"Bagus. Kamu sudah paham syarat utamanya, kan? Kalau kita menikah hanya satu tahun. Setelah itu, bercerai dengan cara baik-baik. Selama masa pernikahan, hanya aku yang berhak mengatur hidupku sendiri. Aku juga tidak akan menyentuhmu, tidak akan tidur sekamar denganmu, dan tidak akan pernah ada ikatan hati di antara kita." Arkana akhirnya menoleh, menatap tajam ke manik mata Alika. "Karena hatiku sudah jadi milik orang lain. Dan itu selamanya," ucap Arkana tegas tanpa keraguan.

Deg!

Kata-kata itu seperti jarum halus yang menusuk dada Alika. Ia menelan ludah, berusaha rasa sakit yang tiba-tiba menyerang. Ia tahu ini bukan pernikahan atas dasar cinta, tapi mendengarnya diucapkan langsung begitu dingin tetap saja terasa menyakitkan.

"Saya mengerti," jawabnya lirih.

"Uang untuk menyelamatkan perusahaan ayahmu akan cair setelah tanda tangan ini selesai." Arkana mengambil pulpen, lalu dengan santai menuliskan namanya di kolom yang tersedia. Tulisannya tegak, tegas, tak ada keraguan sedikit pun.

Alika menarik napas panjang. Ia mengingat wajah ibunya yang sudah tiada, mengingat usaha ayahnya yang hancur perlahan. Demi mereka, demi nama keluarga yang harus diselamatkan. Ia menekan pulpen ke kertas, menuliskan namanya dengan tangan yang kini berhenti gemetar.

Alika Adhistya Maheswari.

Tinta hitam meresap ke kertas. Selesai. Hidupnya kini terikat perjanjian dengan pria yang tak pernah memandangnya sebagai wanita.

"Sudah?" tanya Arkana memastikan wanita di depannya itu menandatangani surat kontrak perjanjian.

Alika hanya membalas dengan anggukan kepala, sedangkan Arkana mengukir senyum tipis saja.

Sore itu juga, Alika pindah ke kediaman utama keluarga Adhiraga. Sebuah rumah besar bergaya modern klasik di kawasan perumahan elite Surabaya, yang terlihat megah dari luar tapi terasa kosong dan sunyi di dalamnya.

Arkana menyerahkan kunci kamar tamu utama di sayap kanan rumah. "Ini kamarmu. Kamar sebelah di sayap kiri adalah kamar milikku. Kita tinggal satu atap, tapi jangan pernah berharap aku akan menganggapmu lebih dari sekadar tamu atau perjanjian bisnis," ucap Arkana dengan penuh penekanan.

Ia berbalik hendak pergi, tapi Alika memberanikan diri bertanya. "Siapa wanita itu? Maksud saya, wanita yang Anda maksud milik Anda selamanya?"

Langkah Arkana terhenti sejenak. Ia menoleh sedikit, senyum tipis yang menyimpan rindu mengembang di bibirnya. "Nadia. Dia cinta pertamaku. Dan satu-satunya wanita yang akan kucintai seumur hidupku," balas Arkana dengan tegas.

Tanpa menunggu jawaban Alika, ia berjalan pergi, menghilang di balik pintu kamarnya.

Alika berdiri sendirian di lorong yang panjang. Hanya menyisakan suara langkah kaki Arkana yang bergema pelan lalu menghilang. Ia menatap bayangannya sendiri di pantulan kaca jendela.

"Baiklah Arkana, satu tahun. Aku akan bertahan satu tahun ini. Setelah itu aku akan pergi, dan tidak akan pernah mengganggu kamu dan Nadia lagi," bisiknya pelan pada diri sendiri.

Malam itu, hujan turun membasahi kota Surabaya. Alika terbaring di kasur empuk yang sepi. Ia memeluk dirinya sendiri, berusaha menahan dingin yang bukan hanya datang dari cuaca, tapi juga dari hati pria yang kini resmi menjadi suaminya di atas kertas.

Di kamar seberang, Arkana justru sedang menatap foto lama di meja samping tempat tidurnya, foto dirinya berpelukan erat dengan seorang wanita cantik berambut panjang. Foto itu milik Nadia, cinta pertama Arkana, wanita yang dia puja-puja selama ini.

"Sebentar lagi, Sayang. Sabar, ya," bisiknya lembut pada foto itu. "Cuma satu tahun saja. Lalu setelah itu aku bebas kembali padamu."

Tak ada yang tahu, di antara dinding rumah mewah itu, dua hati sedang berjalan di jalan yang berbeda, terikat tali pernikahan yang seharusnya menyatukan, tapi justru memisahkan lebih jauh dari sebelumnya.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Ulasan-ulasan

Cutie Venice
Cutie Venice
First story is 10/10 but i think im going to hell reading that
2026-05-30 01:13:08
1
0
10 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status