LOGINOn the day of my wedding anniversary, I was cleaning my house when I found a picture album. As it turned out, my husband had been religiously taking pictures with the girl of his dreams every year on this precise date. He had been doing it since he was forty years old and he was now sixty years old. His hair had progressed from a jet black to a faded white and yet, he kept up the tradition. There was a written message in his handwriting at the back of the picture that read, “Eternal Love.” Since he doesn't love me, I will no longer bother washing his clothes and cooking for him. I will no longer care for his children and grandchildren. I may have foolishly wasted half of my life, but it was not too late to make a change.
View More"Retha, cepat sapu lantainya!" teriak Yuni, yaitu ibu mertuanya Aretha.
Belum sempat Aretha menyahut, dari arah belakang pundak Aretha ditepuk oleh Nina, yaitu adik iparnya."Mbak, tolong cucikan bajunya Nilna dulu, dia habis gumoh, takutnya membekas nanti." Menyodorkan baju bayi yang terlihat kotor dan juga bau."Iya, kamu rendam dulu aja, nanti setelah aku selesai nyapu--""Aduh, Mbak. Sekarang aja, nanti kalau membekas dan bau, kamu mau gantiin dengan yang baru?""Tapi--""Retha, .... cepetan!!! Teman-teman Ibu sudah hampir sampai ini, dan rumah masih berantakan!""Iya, Bu, ...." Lalu tanpa mempedulikan Nina lagi, Aretha langsung pergi ke ruang tamu untuk menuruti perintah ibu mertuanya."Dari tadi dipanggil baru nongol, lelet banget jadi orang! Kamu sengaja ya mau bikin Ibu malu!" Yuni langsung mengomel, sedangkan Aretha hanya bisa menghela napas panjang.Sabar ... sabar ... sabar ...Aretha hanya bisa merapalkan kalimat itu untuk menghadapi semua orang yang ada di sini.Tepat setelah Aretha selesai menyapu lantai ruang tamu, teman-teman Yuni datang, dan Aretha kembali disuruh Yuni untuk membuatkan minuman untuk mereka.Namun, saat hendak berjalan menuju dapur, Aretha melihat baju bayi yang teronggok di lantai."Ini pasti bajunya Nilna tadi, astaga ... tinggal direndam dulu aja, kenapa Nina tidak mau melakukannya sih ...." keluh Aretha seraya memungut baju bayi tersebut.Sambil menaruh sapu di belakang, Aretha terlebih dahulu membilas noda di baju Nilna, lalu kemudian ia merendamnya.Namun, saat Aretha baru saja selesai merendam baju tersebut, ibu mertuanya yang tidak sabaran itu menghampirinya di dapur."Astaga ... Aretha! Dari tadi kamu ngapain aja sih? Sudah Ibu suruh bikin minuman, tapi malah kelayapan di belakang! Kamu benar-benar sengaja mau bikin Ibu malu ya!""Nggak, Bu. Aku lagi ngrendam bajunya Nilna yang terkena gumoh. Nina nya tadi nggak mau disuruh ngrendam, jadi aku--""Halah, dasar kamu nya aja yang lelet. Ngrendam baju gitu aja lama banget! Udah, sekarang cepat kamu bikinin minuman untuk tamu-tamu Ibu!""Baik, Bu." Lagi-lagi Aretha hanya bisa menghela napas panjang, ia sudah biasa menjalani kehidupan seperti ini, Aretha hanya dianggap seperti pembantu di rumah ini.Jika ada yang tanya, apakah Aretha tidak pernah marah? Ia tentu sangat marah, bahkan saking kesalnya ia ingin mencekik keluarga ini satu persatu. Namun, jika ia melakukan itu, bisa-bisa dia dipenjara, lalu bagaimana nasib Vano nantinya? Yaitu anaknya yang masih bersekolah TK.Dan, alasan ini jugalah yang membuat Aretha masih bertahan tinggal di rumah ini. Aretha yang tidak diperbolehkan Fauzan bekerja, ia jadi bergantung hidup pada suaminya tersebut.Apalagi keluarganya Aretha sendiri sudah tidak mempedulikannya lagi, sebab selama ini Aretha hanya tinggal bersama pamannya, karena kedua orang tua Aretha sudah meninggal semenjak ia kecil.Aretha yang sudah pernah merasakan hidup tidak adil selama ia tinggal bersama dengan paman dan juga keluarganya, maka ia tidak kaget lagi ketika mendapat perlakuan seperti ini dari keluarga suaminya.Setelah selesai membuatkan minuman, Aretha langsung mengantarnya ke ruang tamu. Namun, di sana ia kembali mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dari ibu mertuanya, dan juga teman-teman mertuanya. "Owalah, ini to menantumu, Mbak Yun. Beneran biasa aja ya, pokoknya jauh banget sama Nila, pantas kamu nyesel jadiin dia menantumu," sindir salah satu tamu dengan senyum mengejek."Iya, padahal kalau Nila yang jadi menantuku. Uhh ... hidupku pasti bahagia sekali. Tapi, lugunya si Fauzan dulu, malah milih dia daripada putrimu yang cantik itu.""Aduh, sayang sekali ya, Bu Yuni. Padahal kalau kamu berbesan dengan Bu Retno, pasti hidupmu lebih menyenangkan lagi," timpal tamu yang lain."Iya, benar itu," sahut yang lainnya yang juga ikut menimpali perkataan ibu tersebut."Iya, sebenarnya aku ya inginnya besanan sama Bu Retno. Tapi, mau bagaimana lagi? Fauzan sudah terlanjur nikah sama dia,""Eh, tapi kan si Nila belum menikah, terus laki-laki kan boleh menikah sampai empat kali. Ya ... mungkin saja kalau si Nila mau gitu, hehehe ...." celetuk salah satu ibu-ibu yang semakin tidak mempedulikan keberadaan Aretha yang masih berada di tengah-tengah mereka.Sedangkan Aretha yang sedari tadi diam dan hanya fokus menyuguhkan minuman saja, kini ia melirik ibu-ibu tersebut."Apa maksud orang ini? Mau nyuruh Mas Fauzan poligami gitu? Heh, tentu tidak akan bisa! Sebab aku tidak akan pernah mengizinkannya," batin Aretha kesal.Sedangkan Yuni yang melihat Aretha mulai bereaksi setelah mendengar perkataan temannya, bukannya menyejukkan perasaan Aretha, namun Yuni malah tambah memperkeruh perasaan Aretha."Oh, iya, ya ... kalau begitu nanti aku coba ngomong sama Fauzan saja, ya kali aja dia mau. Tapi, asalkan boleh sama Bu Retno, hehehe ....""Kalau aku sih terserah Nila nya saja, sebab bagiku yang utama itu adalah kebahagiaan anak-anak," timpal Retno yang membuat hati Aretha semakin tergerus oleh emosi.Aretha yang merasa tidak kuat mendengar ini lebih jauh lagi, ia lantas langsung pergi ke dapur tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.Sesampainya di dapur, napas Aretha jadi ngos-ngosan karena marah, ia tidak menangis ataupun sedih setelah mendengar kalimat-kalimat menyakitkan itu, sebab dirinya bukanlah tipe wanita yang cengeng.Aretha memang tidak mau meminta cerai duluan, meskipun ia selalu disakiti oleh keluarga suaminya. Namun, bukan berarti Aretha adalah sosok istri yang bucin pada suaminya. Akan tetapi, ia hanya memikirkan nasib anaknya jika mereka berdua berpisah nanti.Dan, bukan berarti juga Aretha tidak berani meminta pisah jika sampai Fauzan berani berpoligami, sebab selain masa depan Vano yang ia jadikan alasan untuk mempertahankan pernikahan ini, namun kesetiaan Fauzan lah yang juga jadi pegangan kuat untuk ia tetap mempertahankan rumah tangga ini.Akan tetapi, jika saja Fauzan sampai mau menikah lagi, maka pernikahan ini akan benar-benar berakhir."Astaga ... kok ada ya, di dunia ini perempuan yang hidup macam mereka semua, bisa-bisanya mereka mengatakan itu di depanku."Aretha benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan ibu mertuanya dan juga teman-temannya itu. Dan, karena mentang-mentang selama ini Aretha adalah sosok istri yang pendiam dan juga penurut, sepertinya semua orang mengira bahwa ia adalah seorang wanita yang lemah, dan akan menerima saja jika direndahkan seperti ini.Kesabaran sebenarnya tidak ada batasnya, karena para nabi selalu diberi ujian berat, namun kesabaran mereka tidak pernah habis.Akan tetapi, bagi manusia biasa seperti Aretha, perlakuan dan perkataan semena-mena orang itulah yang membuat kesabaran itu jadi berbatas."Huh! Spertinya karena selama ini aku selalu diam, maka mereka jadi terbiasa menginjak-injak harga diriku. Kalau begitu baiklah, mulai sekarang aku tidak akan diam lagi jika ada orang yang menyinggungku."Arthur turned pale in an instant and was at a loss for words. I could recognize the anguish in his eyes.My son could not bear to see him so distraught too. He whimpered softly, “Mom.”I was done talking to them. I shut the door and cut them out of my world.It took another three months before I heard the news about Arthur again.By then, I had a well-developed foundation of foreign languages and could maintain basic conversation.I received an unexpected call from my son. He told me Arthur was in the hospital.He was admitted because of carbon monoxide poisoning.What I gathered was that Sylvia was cooking in the kitchen when she got into a heated argument with Arthur. They were so busy arguing that she completely forgot about turning off the gas stove.Fortunately, the property maintenance staff happened to be inspecting the wires and managed to rescue both of them in time.It was not as severe in Sylvia’s case. She woke up shortly after the doctors treated her.Upon waking
As it turned out, my granddaughter had been brainwashed, her idea of love had been corrupted by Sylvia. Not only did she begin to idolize the role of a mistress, but she also started chatting with some strangers online.My daughter-in-law sneered sardonically, then she called my son and made him go home at once.“Look what she’s done to our daughter.”She proceeded to show my son the conversation logs my granddaughter had been having with strangers online.My son clenched the phone tightly while his frown gradually tightened.After he had finished reading the messages, his first thought was to give my granddaughter a furious beating. However, my granddaughter cried out and pleaded for mercy, “It was Grandma Sylvia who taught me! You were the one who said that I should listen to her like I should listen to my teachers because she's a well-educated granny!”My son was stunned and turned to cast a baffled look at Sylvia.“Sylvia, I let you take care of my daughter because I trust
The other day back at the court, someone had been filming the exchange between myself, Sylvia, and Arthur.My face was blurred, but their faces were not.“Forever love? As if! These two are a pair of venomous snakes, that’s what they are!”“There were several witnesses that day, they all saw the old fart wanting to divorce his wife! Meanwhile his mistress has been shamelessly flaunting herself to the world, how can you live this long but still have no self-respect?”The scandal began to fester online and even the boutique studio caught some heat for advertising a false romance. They had no choice but to release a statement.They claimed all they did was take pictures for the couple. Furthermore, Sylvia and Arthur had been religiously coming to the photoshoot every year so they had no reason to suspect their relationship.This only further enraged the netizens.“This old fart used to be the foreign language professor in my previous university! He was a very attentive professor, I
Tasha, who was about my age and lived next door, threw her door open and bellowed.“Go to hell! Do you think being sixty years old means you’re one foot in the grave already? We can easily live another twenty years, but not with someone like you though! Living just a year with you is hell!“Quit whining and scram! I’m done listening to you complaining!”My son was no match for Tasha.His objections were caught in his throat and he ended up having to scurry away with his head hung low....Thirty days passed in the blink of an eye. With that, I went to the court with Arthur to get the official documents for our divorce.The moment I got the document, a wave of relief washed over me.At that very moment, the weight that I had been carrying for most of my life had been taken off my shoulders.Arthur was not as thrilled as I thought he would be.He was very gloomy on the whole and I could recognize the fatigue in his eyes.He clutched the document tightly and looked at me, it lo
It was around evening when my son came home with Arthur who had largely recovered from his fever.The fever had done a number on him. He seemed to have grown older and looked very haggard.My son on the other hand seemed very stoic. He still resented me for slapping him.My daughter-in-law greeted me r
Arthur neither agreed to my tactful suggestion for divorce nor did he refuse the option.He refused to communicate and with that, we began to stonewall each other.The combination of being drenched in the rain last night and his age had not been merciful to him. His health was no longer what it once w






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews