LOGINViolet terkejut melihat Damian mengulurkan tangannya dan mengajaknya berdansa. Benarkah laki-laki yang selalu menatapnya datar dan dingin itu ingin berdansa dengannya? Rasa-rasanya tidak mungkin. Pasti ada alasan lain. Dan benar saja, dari arah panggung Elena berjalan mendekat dengan langkah pasti, berjalan menghampiri mereka dan berhenti tepat di hadapan Damian. “Damian, ayo berdansa denganku?” ajaknya tanpa basa basi. Gadis itu mengulurkan tangannya kepada Damian. Namun, Damian hanya menatapnya datar. Alih-alih menjawab dan menerima ajakan Elena, Damian justru mengalihkan pandangannya kepada Violet. Elena mengikuti arah tatapannya, dan seketika dadanya naik turun menahan kesal. Namun Damian sama sekali tidak peduli. Ia justru meraih tangan Violet dengan tenang.“Kau bersamaku malam ini. Jadi, kau yang akan berdansa denganku,” ucapannya membuat Violet terpaku. Begitupun Elena yang masih berdiri disitu, ia menyaksikan keduanya dengan sorot mata yang semakin sulit disembunyik
Violet baru saja hendak mengambil sepotong kue ketika sebuah suara terdengar dari sampingnya.“Hai, Nona.”Tangannya berhenti sejenak, kemudian Violet langsung menoleh kesamping dan mendapati seorang pria bertopeng berdiri di sampingnya. Jas hitam yang dikenakannya terlihat rapi, sementara tangannya memegang gelas.Wajahnya tertutup topeng masquerade, menyisakan sepasang mata yang terlihat jelas. Dan tentu saja, Violet tidak bisa mengenali siapa pria itu.Ia menatapnya sebentar, sejenak merasa ragu karena ia ingat pesan Damian yang mengatakan ‘jangan mengatakan apapun selama acara berlangsung.” Namun, apa salahnya hanya membalas sedikit sapaan. Ia pikir Damian terlalu mengaturnya. Ia pun membalas sapaan pria itu. “Hai...”Pria itu tersenyum tipis sebelum melirik piring di tangan Violet. “Kau sendiri?”Violet menggeleng pelan. “Tidak. Aku datang bersama seseorang.”Pria itu menoleh sekilas ke arah ballroom, seolah mencoba mencari orang yang dimaksud Violet.“Oh, ya?” Pria itu menga
Violet berusaha mengabaikan bisikan-bisikan itu. Sampai akhirnya mereka terus berjalan hingga berhenti di depan sebuah meja panjang yang ditempati beberapa orang.Di sana duduk Elliot Beaumont, salah satu rekan bisnis utama Devereaux yang menjadi tuan rumah acara malam itu. Di sampingnya duduk putri tunggalnya, Elena Beaumont, perempuan yang sudah cukup lama mengenal Damian melalui berbagai pertemuan bisnis bersama ayahnya.Begitu melihat Damian, wajah Elliot langsung berubah cerah.“Damian,” sapa Elliot seraya berdiri menyambut kedatangannya. “Selamat malam, tuan Elliot.” Damian menjawab dengan ekspresi datar tanpa memaksakan senyum formalnya. Elliot masih memaksakan senyum formalnya. Tapi begitu pandangannya turun pada tangan Damian yang masih menggenggam tangan Violet, seketika senyumnya perlahan memudar. Elliot melirik putrinya, Ellena yang juga terpaku pada genggaman tangan mereka. Padahal sebelumnya Ellena sempat tersenyum sebelum menyadari hal itu. “Siapa dia?” tanya Ellena
Violet sedikit memiringkan kepalanya sedikit mengintip ke belakang tubuh Derren. Namun ia tidak melihat Damian. Lalu ia kembali menatap Derren.“Kau sendiri?” “Damian menunggu ditempat tujuan,” jawab Derren. Ia langsung mengerti maksud pertanyaan Violet. Violet menatapnya dengan kening berkerut. “Tempat tujuan?” Derren tidak menjelaskan apapun lagi. Ia hanya memberi isyarat agar Violet mengikutinya.Violet pun berdiri dan berjalan mengikuti Derren dengan rasa penasaran yang semakin besar.Derren membawanya masuk ke dalam mobil. Setelah beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah hotel mewah. Mereka berdua turun, lalu Derren membawanya masuk melewati lorong hotel hingga berhenti di depan pintu besar.Dua orang pelayan langsung membukakan pintu begitu Derren menyerahkan sebuah kartu kecil mirip seperti kartu undangan. Begitu pintu itu dibuka, alunan waltz klasik memenuhi ballroom. Biola dan cello berpadu dengan denting piano, sementara cahaya lampu kristal memantul pada ratusan
Violet berkedip beberapa kali. Pertanyaan dan tindakan Damian benar-benar di luar dugaannya. Ia sempat terdiam sebelum akhirnya menjawab. “Tidak.” Damian mengangkat pandangan dan menatapnya. Tanpa berkata apa-apa, jarinya menekan tangan Violet tepat pada bagian yang kemerahan. “Ah!” Violet langsung menarik tangannya dengan cepat. Wajahnya spontan berkerut menahan nyeri. “Sakit!” Ia menatap Damian dengan mata membulat. “Kenapa kau tekan?!” Damian tetap tenang, lalu menjawab. “Katanya tidak sakit.” “Aku kira kau cuma melihatnya!” Violet mengusap lengannya sambil mengerucutkan bibir. Rasa nyerinya memang hanya sebentar, tetapi cukup membuatnya kesal. “Kau sengaja, kan?” Damian tidak menjawab. Violet semakin kesal ketika melihat wajah laki-laki itu tetap datar seolah tidak melakukan apa-apa. “Dasar aneh,” Violet mencibirnya pelan. Damian hanya menatapnya sebentar. “Lain kali jangan bilang tidak kalau memang sakit!” Violet hanya mendengus tanpa memperpanjang percakapan
“A-apa?” suara Layla terdengar mulai sedikit ketakutan. Damian melangkah mendekat, menatap Layla semakin dingin. “Siapa yang memberimu hak untuk menyentuhnya?” Wajah Layla seketika berubah. Ia tidak menyangka reaksi Damian akan sejauh itu hanya karena seorang perempuan yang baru pertama kali dilihatnya berada di ruangannya. Benar-benar di luar ekspektasinya. Derren yang sejak tadi hanya memperhatikan menyadari perubahan ekspresi Damian. Ia mengenal tatapan itu. Sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan, ia harus segera menegurnya. “Damian,” tegurnya rendah. “Kendalikan dirimu.” Damian tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Ada amarah yang jelas tertahan dalam dirinya, tetapi ia memaksanya tetap tenang. Derren mulai memahami sesuatu. Sepertinya Violet bukan sekadar seseorang yang bekerja untuk Damian. Meskipun ia belum tahu asal usulnya, tapi ia sadar ada sesuatu yang membuat Damian bereaksi lebih. Sementara itu, Violet justru berdiri dengan wajah bingung. Ia tidak m







