ログイン“You’re being so good for me, baby girl,” he hissed. “Look at how you take it. You were born for this, weren’t you? To be used by a man who knows exactly how to break you.” Step into a world where the lines between pleasure and pain are blurred, and the word 'forbidden' is merely an invitation. The Taboo Chronicles is a curated collection of dark, twisted, and unapologetically erotic stories designed to push the boundaries of conventional desire. From the sacred halls of a silent church to the high-stakes shadows of obsessive power plays, these stories explore the raw, unyielding side of human hunger. Whether it’s the thrill of a secret shared in the dark or the surrender of a soul to a dominant force, nothing is off-limits. Warning: This collection is intended for mature audiences only. It features high-heat, explicit content including: Taboo & Forbidden Relationships, power dynamics (CNC, BDSM, and Roleplay), psychological thrills (mind Alterations and obsessive themes), and diverse Pairings (straight, MM, reverse harem, and harem dynamics.
もっと見るDi sebuah rumah sederhana di jantung Distrik Madeleine, Paris, yang temboknya mulai pudar dimakan usia, dan jendelanya hanya dibalut tirai lusuh warna putih gading, suara gaduh terdengar pecah—kursi tergeser kasar, pintu dibanting, disusul bentakan nyalang seorang wanita yang memecah keheningan malam. Suara itu bukan sekadar amarah, melainkan kepingan dari dendam yang lama dipendam, memantul di dinding-dinding sempit yang menjadi saksi bisu akan kehidupan yang jauh dari kata damai.
“Kamu itu hanya anak pungut, Joana! Kalau Ibu tidak memungutmu di tempat sampah malam itu dan membawa pulang ke rumah, pasti kamu sudah mati! Jadi, jangan tidak tahu balas budi!” berang seorang wanita berpenampilan sederhana dengan tatapan penuh amarah, setelah berhasil menampar perempuan muda di hadapannya hingga tersungkur ke lantai. Tidak cukup sampai di sana, wanita tersebut segera berjongkok, dan kembali mencengkeram kasar kedua sisi rahang tirus sosok cantik yang sudah banjir air mata. Benar-benar tak berperasaan. “Kamu harus menuruti semua perkataan Ibu, Joana!” “Sa-sakit, Bu. Le-lepaskan aku, tolong!” Joana Leshia Valery mengiba dan merintih kesakitan karena perbuatan kejam wanita itu. “Melepaskan kamu? Jangan bermimpi! Selama ini Ibu sudah cukup baik sama kamu, Joana. Ibu yang membesarkan kamu dari bayi! Sudah saatnya kamu balas budi. Malam ini, kamu harus menikah dengan Tuan Roland! Hanya dengan cara ini Tuan Roland bersedia mengembalikan sertifikat rumah Ibu yang sudah digadaikan Kakakmu, Javier. Tuan Roland juga berjanji memberikanmu mahar lima puluh ribu dolar. Jadilah berguna, Joana!” sentak wanita itu seraya menyeringai miring, membuat Joana menggeleng ketakutan di tempatnya. “Pokoknya Ibu tidak mau tahu! Pakai gaun pengantin yang dikirim Tuan Roland sekarang juga karena sebentar lagi kamu akan dijemput oleh anak buahnya. Mengerti?” hardiknya lagi penuh penekanan. Cengkeraman itu langsung dilepas dengan kasar hingga perempuan cantik berwajah mungil tersebut terhuyung ke belakang. Kepalanya kembali terantuk cukup kuat. Rasa sakit menjalar dengan cepat sampai air mata itu tak mampu dibendungnya lebih lama. “Dandan yang cantik. Ibu tunggu di depan!” Vioneta Harvey, wanita yang baru diketahui bukanlah ibu kandungnya, kini langsung bertolak pergi meninggalkannya sendirian di kamar sempit dan tak layak huni tersebut. Sekarang Joana kembali meratapi takdirnya, memeluk kedua lutut sambil menangis sesenggukan. Mengapa nasibnya begitu malang? Apa ia tidak pantas merasakan sedikit kebahagiaan? Setelah disiksa dan diperbudak selama belasan tahun, kini wanita itu semakin semena-mena memaksanya menikah dengan seorang pria yang sudah beristri. Demi apa pun, Joana tidak sanggup lagi bertahan dengan keluarga Valery yang kejam dan tak punya hati. “Aku harus mencari cara untuk kabur dari sini. Ya, hanya aku yang bisa mengubah takdirku sendiri. Aku akan meninggalkan keluarga Valery dan kabur dari pernikahan yang direncanakan si mesum Roland itu.” Dengan tergesa-gesa, Joana menyeka wajahnya yang terlanjur dipenuhi jejak air mata. Kini, satu rencana gila pun tercetus di benaknya. Joana langsung melirik gaun nikahnya itu dan mengulas senyuman tipis tak terbaca. *** Mobil jemputan sudah tiba di pelataran halaman depan kediaman Valery yang teramat sederhana di Distrik Madeleine, Kota Paris tersebut. Vioneta menyambut dua anak buah Roland dengan senyuman mengembang. “Tunggu sebentar, ya. Saya panggilkan Joana,” serunya ramah. Kedua lelaki berwajah sangar itu pun mengangguk pelan. Salah satunya segera menyahut tegas, “Cepat! Jangan lama-lama. Tuan besar kami tidak sabar menikahi putrimu yang cantik jelita.” “Tentu sa—.” “Aku di sini, Bu. Aku siap pergi ke acara pernikahanku dan Tuan Roland sekarang.” Tiba-tiba Joana muncul di belakang Vioneta dengan penampilan yang sangat cantik menawan. Vioneta sampai berdecak kagum menyadari kepiawaian putri angkatnya dalam berdandan. Wanita itu baru mengetahuinya. “Wah, cantik sekali. Ah, ayo cepat pergi dengan mereka, sebelum Tuan Roland menghubungi Ibu lagi. Dia sudah tidak sabar menikahimu. Cepatlah, Joana.” Tubuh ramping proporsional Joana sampai terdorong ke depan karena ulah Vioneta yang memaksanya memasuki mobil mewah tersebut. Joana hanya bisa mengembuskan napas panjang. Kali ini tidak ada lagi bantahan. Begitu sliding door mobil MPV mewah itu digeser anak buah Roland untuknya, Joana pun mengangkat sedikit gaun indahnya dan segera masuk ke sana. Ia masih sempat melirik kecil wanita kejam itu sebelum pintu benar-benar tertutup sempurna. Selamat tinggal, Vioneta. Mobil mewah berbodi besar itu pun melaju dengan akselerasi kecepatan tinggi memecah jalanan Kota Paris. Ada jantung yang berdetak dengan ritme lebih cepat dari sebelumnya. “Apa masih jauh, Pak?” cicit Joana dari jok tengah. Salah seorang anak buah Roland menoleh cepat ke arahnya. “Sekitar tujuh menit lagi kita sampai di mansion Tuan besar. Bersabarlah, Nona Joana.” “Oh, oke,” sahut Joana, tampak tenang. Akan tetapi, setelah itu ia segera membawa tangannya ke atas rambut, melepas satu penjepit hitam miliknya. Gadis itu diam-diam menyeringai. Dalam satu gerakan cepat, ia berhasil menekan lock pintu dan menggesernya. Pintu pun terbuka. Anak buah Roland tersentak bukan main. “Hei, apa yang kamu lakukan, Nona?” pekiknya. “Tahan dia, Tom!” teriak anak buah lain yang duduk di balik kemudi. “Oke, Andy!” Kala tangannya dicekal kuat, saat itu juga Joana menusuk tangan lelaki itu dengan penjepit rambutnya yang tajam. Teriakan nyalang dibersamai erangan kesakitan pun memendar. “Arghhh! Gadis sialan!” Berhasil. Cengkeraman lelaki itu terlepas dan Joana langsung melompat keluar. Tubuhnya sampai terguling di atas badan jalan. “Gadis itu benar-benar gila! Berhenti, Andy! Jangan sampai Joana kabur dengan mudah!” Lelaki yang terluka tangannya itu langsung berteriak pada temannya yang tengah mengemudi hingga pedal rem pun diinjak dengan cergas. Suara decitan ban terdengar ngilu merasuki indra pendengaran Joana. Menyadari mobil berhenti, gadis itu buru-buru melepas high heels putihnya dan berlari sekuat tenaga. Menahan sakit pada kedua lututnya yang terluka karena tadi terseret di atas aspal. Namun, nahas. Saat ia menyeberang, sebuah Mercedes Benz melaju cepat ke arahnya. Suara klakson berbunyi cukup nyaring. Gadis itu terperanjat dan refleks berjongkok ketakutan. Suara decitan ban mobil pun terdengar begitu sumbang. Saat Joana memejamkan mata dan berpikir tidak akan selamat, sekarang ia malah mendengar sebuah suara bariton memendar di dekatnya. “Nona, are you okay?” Joana mendongak cepat dan mendapati seorang lelaki dengan garis ketampanan sempurna, mata elang kebiruan yang mampu menjerat lawannya, dan aura dingin mencekam yang tengah berdiri. “Tu-Tuan, tolong saya!” Gadis bermata hazel itu langsung memeluk kaki jenjang berotot tersebut dan memelas dengan wajah sudah dipenuhi rinai air mata. High heels-nya malah terjatuh dari genggaman tangannya tersebut. “Tolong aku, Tuan. Ada orang jahat yang mengejarku. Mereka memaksaku menikah dengan lelaki mesum yang sudah beristri. Tolong bawa aku pergi dari sini. Aku mohon.” “Saya tidak punya waktu menolong wanita asing seperti kamu. Bagaimana jika kamu seorang penipu dan—.” Sepasang mata lelaki itu sukses terbelalak karena Joana baru saja membungkam bibirnya. To be continued ….CHAPTER 10: THE THRILL OF THE FORBIDDEN III quickly swallowed the moan that tried crawling up my throat as pleasure shot up my spine."Yes," I hissed, trying my best not to arch into her palm. "Yes, we do. This is insane. If he walks in here and sees us—"She only smirked and wrapped her hand around me through my shorts.I let out a strangled moan as she squeezed my hard length rhythmically."Tell me to stop," she whispered against the skin of my neck before biting it roughly.Her grip tightened and began to move, stroking me."Stop," I whispered, but the word came out with no structural integrity whatsoever. My hips rolled forward
Joe’s POVThe sound of the front door opening at seven in the evening was like a gunshot to my heart, but having spent the entire day fucking, my brain was having a hard time booting. I had cum so many times that my balls felt like squeezed oranges.I turned and cuddled her closer, satisfaction humming in my bones as her soft warmth and the scent of her hair soothed me. I never want to leave this moment.Then my eyes shot open when the sound finally registered in my brain.The door!!I sat up so fast that Maryse's head dropped to the mattress, and her eyes flew open instantly, sharp and alert in a way that told me she had been a lighter sleeper than she had let on.“Why?” she grumb
“Lie back,” I ordered.He obeyed immediately, his back hitting the mattress, his chest rising and falling too fast, his eyes tracking me as I stood and let the robe slip off my shoulders and pool on the floor.His lips parted.I watched his eyes move over me slowly, his throat working, his hands fisting in the sheets at his sides like he needed something to hold onto.I climbed onto the bed and straddled his thighs, making sure not to touch his hard, jutting cock, and watched him try not to thrust upward."You’ve been a very good boy, Joey,” I whispered, running my hands down the sleek muscles of his chest. “And good boys get rewarded."
After my bath, I stood in my own bedroom for five minutes, staring at my reflection, shocked that my hands were actually shaking.It was a foreign sensation; I was the one who held the strings, but the thought of the raw, unrefined potential that was Joe Spouse waiting just down the hall had my pulse hammering against my ribs like a trapped bird.I went inside, sat on the edge of my bed, and breathed slowly until my pulse settled into something reasonable.Then I stood, shook my hair loose, and pulled my silk robe over my naked body, tying it loosely at the waist. I looked at myself in the mirror for a moment.“Calm the fuck down,” I told my reflection.I smoothed the black silk slip over my hips, the fabric






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.