Início / Romansa / Terapi Gila Atasanku / Akhirnya Saling Mengungkap Rasa Cinta

Compartilhar

Akhirnya Saling Mengungkap Rasa Cinta

Autor: CitraAurora
last update Data de publicação: 2026-10-09 09:49:42

Malam itu Dewa pulang lebih awal. Namun kali ini ia tidak sendirian, melainkan datang bersama Devan.

​"Eh, Pak Devan," sapa Alya begitu melihat kedatangan mereka di ruang tamu.

​"Devan ingin bertemu dengan Fira," ujar Dewa memberi tahu maksud kedatangan asistennya.

​Alya tersenyum mengerti. Ia segera meminta pelayan rumah untuk memanggil Fira yang sedang berada di kamarnya. Tak selang berapa lama, Fira turun menuruni anak tangga. Melihat keberadaan Devan, secara refleks ia memasang wajah cember
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Terapi Gila Atasanku   Sampai Tak Bisa Jalan

    ​"I Love you too, Mas," sahut Alya.Dewa mengendus leher sang istri gemas, aroma parfum campur keringat Alya membuat Dewa ingin terus mengendus istrinya. "Mas geli kena bulu kamu." Alya nampak kegelian. Bukannya menyudahi Dewa malah semakin menempelkan wajahnya. "Mas...." Teriak Alya sambil tertawa. Melihat Alya bahagia seperti ini Dewa pun sangat bahagia pula. ​Lalu tanpa kata, Dewa langsung menggendong Alya secara bridal style, membawa sang istri menuju ranjang mereka. ​"Mas, kamu mau apa?" tanya Alya terkejut.​"Menunjukkan rasa cintaku," jawab Dewa lembut.​"Mas, kita baru saja sampai dan masih lelah. Masa iya kamu mau 'bekerja'?" Alya berusaha menolak dengan manja.​"Aku enggak lelah. Setiap kali dekat denganmu, rasa lelahku langsung hilang." Sahut Dewa. ​"Ah, gombal banget."​Tak ingin berlama-lama, Dewa pun mengeluarkan jurus andalannya. Dia mulai menyatukan bibirnya dengan bibir sang istri, melumatnya dengan lembut dan menikmati kehangatan peraduan mereka.​"Engh..." er

  • Terapi Gila Atasanku   I Love You

    Pagi itu, Sinta telah memasukkan pakaian di dalam tasnya. Ada rasa senang di dalam hatinya bisa keluar dari apartemen ini. Dengan tas pakaian di genggaman, ia berdiri di ambang pintu, menatap Randy yang baru saja terbangun dari tidurnya.​"Terima kasih, Mas. Aku pamit," ucap Sinta lirih.​Randy menatap wanita itu sejenak dengan raut tenang yang jarang terlihat sebelumnya. "Iya, jaga dirimu baik-baik," sahut Randy pendek.​Sinta mengangguk pelan, lalu membalikkan badan dan melangkah keluar dari apartemen yang selama ini menjadi saksi penderitaannya. Tanpa membuang waktu, ia langsung memesan taksi menuju sebuah penginapan sederhana. Sebelum mencari rumah kontrakan dan pekerjaan tetap, ia memilih menetap di penginapan itu untuk sementara waktu.​Siang harinya, Sinta melangkah keluar dari kamar penginapan dan berjalan menuju sebuah kafe terdekat untuk mengisi perut. Saat pandangannya menyapu area kafe, matanya menangkap sosok Rehan yang sedang duduk menikmati makan siang sendirian.​Mera

  • Terapi Gila Atasanku   Bulan Madu

    Malam itu, Papa Dewa pergi menuju rumah sakit untuk menjenguk Pak Brata.​"Bagaimana?" tanya Papa Dewa begitu melangkah masuk ke dalam ruang rawat VIP.​Pak Brata yang semula berbaring terlentang kini langsung duduk dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dengan raut segar bugar. "Tadi aku meminta orang kepercayaanku menyelidiki apartemennya. Sepertinya teman-teman Rendy langsung pulang. Bisa jadi malam ini mereka tidak melakukan hal aneh-aneh," kata Pak Brata.​Papa Dewa tersenyum lega. "Syukurlah, anakmu itu ternyata masih bisa diselamatkan."​"Ini semua berkat ide sandiwara kalian," kata Pak Brata seraya terkekeh pelan. "Bocah itu memang kalau tidak digertak dengan sandiwara seperti ini tidak akan mau menurut. Semoga saja dia benar-benar bertobat."​"Aku yakin dia pasti bertobat. Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu akan terus berpura-pura dirawat di rumah sakit seperti ini?" tanya Papa Dewa.​"Sepertinya begitu. Sampai dua minggu ke depan aku terpaksa menginap di rumah sakit," ja

  • Terapi Gila Atasanku   Tobat

    Fira tersenyum lalu menepuk pundak kakak sepupunya pelan.​"Tenang saja, Mbak Alya. Nanti aku akan bicara baik-baik dengan Mas Dafa. Toh, aku yakin dia pasti enggak apa-apa," kata Fira menenangkan.​"Syukurlah, Fir. Kamu janji ya harus bicara baik-baik. Jangan sampai menyakiti hati orang yang sudah berniat baik sama kamu," pesan Alya penuh kelembutan.​"Siap, Bu Bos!" sahut Fira riang seraya memberi sikap hormat yang memancing tawa kecil Alya dan Dewa.​Di sisi lain kota, suasana duka dan ketegangan menyelimuti kediaman Pak Brata. Pria paruh baya itu berbaring lemah di atas ranjangnya. Raut wajahnya pucat pasi, namun matanya menatap Rendy penuh kecemasan.​"Fokuslah ke perusahaan, Ren... Jangan melakukan tindakan yang aneh-aneh lagi," bisik Pak Brata serak.​"Tindakan aneh bagaimana sih, Pa?" tanya Rendy frustrasi sekaligus waswas menatap kondisi sang ayah yang kian menurun.​"Kamu membawa wanita ke apartemenmu, kan? Dan setiap malam kamu berpesta gila-gilaan dengan teman-temanmu!"​"

  • Terapi Gila Atasanku   Akhirnya Saling Mengungkap Rasa Cinta

    Malam itu Dewa pulang lebih awal. Namun kali ini ia tidak sendirian, melainkan datang bersama Devan.​"Eh, Pak Devan," sapa Alya begitu melihat kedatangan mereka di ruang tamu.​"Devan ingin bertemu dengan Fira," ujar Dewa memberi tahu maksud kedatangan asistennya.​Alya tersenyum mengerti. Ia segera meminta pelayan rumah untuk memanggil Fira yang sedang berada di kamarnya. Tak selang berapa lama, Fira turun menuruni anak tangga. Melihat keberadaan Devan, secara refleks ia memasang wajah cemberut dan melipat tangan di dada, meskipun di dalam hatinya rasa gembira membuncah tak terkira.​"Fir, boleh kita bicara sebentar?" tanya Devan saat Fira berjalan menghampiri mereka.​"Mau bicara apa, Mas?" balas Fira berusaha jual mahal.​"Nanti akan aku jelaskan," jawab Devan tenang namun pasti.​Fira menatap Dewa dan Alya sejenak. Merasa kakak sepupu dan iparnya itu hanya akan menjadi pengganggu jika bicara di sana, Fira akhirnya mengangguk lalu pergi melangkah keluar bersama Devan.​Sepanjang p

  • Terapi Gila Atasanku   Hanya Pelarian Saja

    Malam itu, Dewa tiba di rumah tepat pukul 12.00 malam. Saat melangkahkan kaki memasuki rumah, ia terkejut melihat sang papa masih duduk di ruang tamu sembari menatap layar ponselnya.​"Papa belum tidur?" tanya Dewa menghampiri.​"Belum," jawab sang papa singkat.​"Ada masalah, Pa?"​"Tidak ada. Hanya saja tadi Pak Brata... kamu masih ingat kan? Klien sekaligus teman Papa yang pernah Papa ceritakan padamu."​"Papanya Rendy?" tanya Dewa memastikan. ​"Iya. Pak Brata sangat khawatir dengan anaknya. Rendy makin hari makin liar kelakuannya. Dia bahkan membawa wanita yang kemudian dipakai bersama teman-temannya," ujar Papa Erlangga prihatin.​Dewa menghela napas panjang. Bayangan Sinta yang tertekan di ruangan bar tadi malam langsung melintas di benaknya.​"Tabiat Rendy memang seperti itu, Pa. Mau bagaimana lagi?" kata Dewa datar.​"Kemarin Papa cerita ke Pak Brata kalau Rendy sudah mengajukan proposal kerja sama dengan Erlangga Group. Pak Brata berpesan dan memohon supaya kamu bisa pelan-

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status