LOGINDua tahun diabaikan suami, Alya tersiksa oleh penyakit medis langka yang menuntut pelepasan fisik. Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia memalukan itu adalah Dewa Erlangga, CEO barunya yang posesif dan berpengaruh. Lewat "terapi" rahasia yang manipulatif, Dewa tak hanya menawarkan penawar sakit, tapi juga menyeret Alya masuk ke dalam perangkap kekuasaannya. "Status pernikahanmu tidak menyembuhkan rasa sakit di bawah sana, Alya. Tapi aku bisa." Ketika rasa sakit berganti menjadi ketergantungan, siapakah yang sebenarnya gila dalam permainan ini?
View More“Ahh... kenapa datang lagi, engh…”
Alya mencengkeram piyama tidurnya, rasa panas yang terus berdenyut di bagian bawah perutnya membuatnya ingin menjerit keras. Sudah dua tahun pernikahan ini berjalan, tetapi tubuh Alya seperti dipenjara oleh rasa dahaga yang menyiksa.Suaminya, Rehan, tak pernah menyentuhnya. Bahkan pria itu selalu tidur membelakanginya.
Penolakan demi penolakan yang halus namun dingin itu meninggalkan tumpukan penderitaan bagi Alya. Setiap kali rasa rindu dan pemicu alaminya melonjak tanpa pernah mendapatkan pelepasan, aliran darah seperti menumpuk hebat di area panggulnya, menciptakan rasa tegang, bengkak, dan denyutan ngilu yang membakar hingga ke ujung saraf. Alya frustrasi. Ada apa dengan tubuhnya? Mengapa dia memiliki dorongan fisik yang begitu tinggi sementara suaminya sendiri seolah jijik padanya?Karena dorongan rasa malu dan bingung yang memuncak itulah Alya akhirnya mendatangi rumah sakit malam itu juga.
Dia butuh jawaban medis atas siksaan fisik yang tak sanggup lagi ditanggungnya. Ia harus diobati.
Sembari memegangi perut bawahnya, Alya mendorong paksa pintu sebuah ruang praktik yang sedikit terbuka. "Dok, tolong... Bagian intim saya sangat sakit," cicit Alya dengan nafas memburu. Pria bersetelan jas rapi yang berada di dalam ruangan itu mendadak menghentikan gerakannya.Dewa Erlangga, pria dengan tatapan mata tajam, mengerutkan alis. Dia sebenarnya hanya ingin mengambil kunci mobilnya yang tertinggal di meja ruang praktek sahabatnya, Dokter Aris.
"Maaf, Nona. Dokter Aris sudah pulang, saya…" Dewa bermaksud menjelaskan bahwa dia bukan dokter yang bertugas. "Dok, cepat... ini benar-benar sakit!" potong Alya dengan mata berair, tak mampu lagi menahan sengatan ngilu yang menjalar di selangkangannya. "Saya nggak tahan..." Melihat wanita di hadapannya hampir ambruk dan memegangi sudut meja, naluri mendasar Dewa, pria yang sempat menyelesaikan pendidikan kedokteran sebelum dipaksa memegang bisnis keluarga, mengambil alih. Dilihat dari reaksi wanita itu, sedikit banyak Dewa bisa menerka apa yang terjadi. Dewa pun menghembuskan nafas pelan, mengunci pintu ruangan dari dalam, lalu mengambil sarung tangan steril. "Berbaringlah biar kuperiksa," ujar Dewa. Alya menuruti perintah itu dengan gemetar. Saat posisi lututnya ditekuk dan terbuka, Alya menatap langit-langit ruangan dengan jantung berdebar keras. Dewa mendekat sambil memakai sarung tangan steril lalu perlahan menyusup masuk ke dalam bagian intim Alya. "Nghh...!" Alya merintih keras, tangannya refleks meremas kemeja Dewa. "Tahan. Otot kamu mengalami spasme karena penumpukan aliran darah yang berlebihan di area panggul," bisik Dewa sembari jari-jarinya melakukan pijatan relaksasi mendalam pada jaringan internal Alya yang tegang."Ini reaksi dari respons hyper-arousal yang tertekan. Tanpa penanganan atau relaksasi, pembuluh darah kamu akan terus membengkak dan memicu denyutan ngilu seperti ini."
Alya menggigit bibir bawahnya. Di antara rasa sakit yang perlahan terurai, ada sentuhan melegakan yang menyengat syarafnya. Dewa terus memijat, membuat Alya semakin terbang melayang. "Ahh..."Dirasa cukup, Dewa menarik tangannya keluar.
Ugh…Desahan itu kembali lolos begitu saja, membuat Dewa menatap Alya dengan senyum tipis. "Sepertinya pijatanku membuat kamu nyaman, apa masih sakit?"
Alya masih memejamkan matanya, masih menikmati kelegaan yang mendalam itu. Lalu dia mengangguk lemah dengan wajah merah padam. “Maaf, Dok,” kata Alya gugup. “Tak masalah,” sahut Dewa sambil membuang sarung tangan ke tempat sampah. “Saya sarankan agar tidak menahan hasrat gairah yang datang, keluarkan saja. Segera lakukan hubungan intim dengan pasangan, dan besok lakukan pemeriksaan lagi dengan Dokter…” “Saya paham, Dok,” potong Alya. "Terima kasih." Diselimuti rasa malu yang teramat sangat karena baru saja disentuh begitu intim oleh seorang pria, serta disadarkan akan fakta medis tentang tubuhnya sendiri, Alya menurunkan kakinya. Wanita itu tidak membiarkan Dewa menyelesaikan kalimatnya, padahal Dewa ingin merujuknya ke dokter Aris, teman sekaligus dokter yang sesungguhnya. “Nona, tunggu, saya belum selesai…” Bukannya mendengarkan, Alya malah bergegas merapikan pakaian, menyambar tasnya, dan berlari keluar ruangan. Dewa terkekeh pelan melihat kepanikan wanita itu. Namun, saat berniat berbalik mengambil kunci mobilnya, mata Dewa menangkap sebuah benda kecil yang terjatuh di lantai. Sebuah lanyard bertali biru. Dewa memungutnya dan membacanya perlahan. ALYA NINDITA, Staff Erlangga Group. Melihat itu, sudut bibir Dewa terangkat membentuk seringai penuh makna."Alya Nindita... Dunia ternyata sesempit ini."
"Tidak! Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikanmu!" teriak Rehan gemetar, dadanya naik turun meluapkan amarah yang membuncah.Sinta justru terkekeh sumbang. Ia menoleh, menatap Rehan dengan sorot mata dingin penuh penghinaan. "Terserah kamu mau ngomong apa, Mas. Yang jelas, aku mau pergi dari hidupmu sekarang juga!"Sinta berbalik, menyambar tas belanjaan dan menyeret kopernya menuju pintu. Rehan yang panik langsung berlari mengejar dan menahan lengan istrinya."Sinta! Kamu tidak boleh pergi!" cengkeram Rehan makin erat, matanya memerah penuh keputusasaan. "Kita selesaikan masalah ini baik-baik!""Lepasin aku, Mas! Sakit tahu enggak?!" bentak Sinta keras. Ia berontak sekuat tenaga, menghentakkan tangannya hingga genggaman Rehan terlepas, lalu melangkah lebar keluar kamar.Keributan hebat itu memancing sang mama keluar dari kamarnya. Melihat Sinta yang menggeret koper terburu-buru menuju pintu depan, sang mama tak sedikit pun berniat mencegah."Biarkan saja dia pergi, Rehan!"
Sepulang kerja, Rehan melangkah gontai membuka pintu rumahnya yang terasa makin hampa. Tubuhnya roboh begitu saja di atas sofa ruang tamu. Lelaki itu merebahkan diri, memejamkan mata sejenak seraya memijat pelipisnya yang terasa pening luar biasa akibat tekanan krisis perusahaan."Bagaimana, Rehan? Masalah dana di perusahaanmu apa sudah beres?" tanya sang mama yang berjalan menghampiri dari arah dapur.Rehan menghela napas panjang tanpa membuka mata. "Belum, Ma. Rehan masih bingung mencari dana darurat dari mana lagi. Investor makin mendesak."Netra Rehan melirik ke sekeliling ruangan, menyadari suasana yang terlampau sunyi. "Sinta di mana, Ma?" tanya Rehan pelan."Entahlah," sahut sang mama dengan nada dingin tak peduli. "Dari pagi sudah keluar dan sampai sekarang belum pulang-pulang."Rehan yang belakangan ini sudah tak lagi tergila-gila pada istrinya hanya diam. Wajahnya tampak biasa saja, tak ada rasa khawatir berlebih seperti dulu. Namun, ketika waktu bergerak cepat dan menu
Sore itu, Dewa dan Alya pergi ke mansion Dewa untuk membahas pesta pernikahan dengan orang tua Dewa. "Mas..." panggil Alya ragu. Dewa menoleh sekilas lalu tersenyum manis. "Ya, sayang? Ada apa?"Alya menghela nafas, memberanikan diri mengungkapkan isi pikirannya. "Soal pernikahan kita nanti kalau boleh, gimana kalau kita adakan prosesi akad nikah saja? Nggak usah pakai pesta yang megah-megah. Kalau dipikir-pikir, pesta megah itu cuma buang-buang uang saja, Mas."Dewa terkekeh pelan, menggenggam erat jari Alya dengan tangan kirinya. "Tapi kita tetap perlu pesta yang megah itu, Sayang. Menikah itu kan sekali seumur hidup, jadi aku ingin pesta pernikahan yang berkesan untuk kita berdua."Alya akhirnya mengangguk pelan. Ia melemparkan tatapannya keluar jendela mobil, menyaksikan pepohonan dan bangunan yang berlalu cepat. Dalam hati kecilnya, Alya merasa tidak pantas menjadi ratu semalam di sebuah panggung pernikahan megah yang disaksikan ribuan pasang mata. Namun, di sisi lain, ia
Seminggu berlalu, pagi itu, pintu rumah Rehan terbuka pelan. Sinta melangkah masuk dengan santai, menyeret koper barunya dan menenteng beberapa tas belanjaan mewah. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia berjalan menuju ruang tengah dan langsung ikut bergabung duduk bersama Rehan dan mama mertuanya.Rehan mengepalkan tangannya rapat-rapat, mencoba menahan gejolak amarah yang membakar dada. Namun, sang mama tidak tinggal diam."Dasar wanita enggak tahu diuntung!" teriak sang mama seraya bangkit berdiri, menunjuk wajah menantunya. "Uang untuk bayar gaji karyawan kamu bawa pergi untuk bersenang-senang! Kamu ini punya otak apa enggak, Sinta?!"Sinta menatap mama mertuanya dengan tatapan sinis. Sama sekali tak ada rasa takut di matanya. "Itu kompensasi buat aku, Ma. Aku habis keguguran gara-gara Mas Rehan. Jadi wajar kalau aku pergi liburan dan belanja-belanja menenangkan diri."Sinta lantas membuka salah satu tas belanjaannya, merogoh kotak perhiasan kecil dan menyodorkannya ke meja. "Ni






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore