LOGINDua tahun diabaikan suami, Alya tersiksa oleh penyakit medis langka yang menuntut pelepasan fisik. Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia memalukan itu adalah Dewa Erlangga, CEO barunya yang posesif dan berpengaruh. Lewat "terapi" rahasia yang manipulatif, Dewa tak hanya menawarkan penawar sakit, tapi juga menyeret Alya masuk ke dalam perangkap kekuasaannya. "Status pernikahanmu tidak menyembuhkan rasa sakit di bawah sana, Alya. Tapi aku bisa." Ketika rasa sakit berganti menjadi ketergantungan, siapakah yang sebenarnya gila dalam permainan ini?
View More"Devan," panggil Dewa dengan suara berat dan datar yang menusuk tulang.Devan langsung menegakkan posisinya dan berbalik. "Iya, Pak Dewa?""Bukannya aku menyuruhmu mengurus berkas eksternal dan memindahkan barang-barang Alya dari bawah?" tegur Dewa. "Kenapa kamu masih mengobrol di sini?""Maaf, Pak Dewa. Saya hanya sedang menjelaskan kerja asisten pada Alya," jawab Devan sopan, meski ia bisa merasakan perubahan emosi atasannya yang mendadak tajam."Penjelasanmu sudah cukup," potong Dewa dingin. "Segera turun ke lantai bawah dan selesaikan tugasmu. Aku butuh berkas investasi eksternal di mejaku sebelum jam makan siang.""Baik, Pak. Saya permisi dulu," pamit Devan membungkuk hormat, lalu memberikan anggukan kecil pada Alya sebelum berjalan cepat keluar ruangan.Kini, tinggal Alya dan Dewa yang tersisa di ruangan itu. Suasana mendadak hening, hanya terdengar deru halus pendingin udara.Dewa melangkah maju mendekati meja Alya. Setiap tumpuan langkah kakinya terasa seperti hitungan
Dewa melangkah mendekat, mengikis habis jarak hingga tubuh Alya terbentur pelan pada pinggiran meja."Bukan gila, Alya," bisik Dewa dengan nada tenang namun mengintimidasi. "Tapi lebih ke empati seorang dokter."Alya mendongak, menatap iris mata hitam pria itu dengan napas yang tertahan di dada. Kata-kata Dewa terdengar begitu ironis di telinganya."Empati apa...!" gumam Alya sangat pelan, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri.Melihat raut wajah Alya yang dipenuhi penolakan dan keberanian kecil untuk melawan, naluri Dewa justru makin bergejolak.Sikap Alya yang terus bertahan di bawah tekanan ini tidak membuat Dewa mundur. Sebaliknya, Dewa merasa semakin tertantang untuk terus menjadi satu-satunya dokter bagi Alya, pria yang paling dibutuhkan untuk menyembuhkan rasa sakit fisik yang membakar tubuh wanita itu."Sudah, jangan banyak alasan. Cepat tanda tangani," titah Dewa tegas, mengetuk jari telunjuknya di atas kertas dokumen itu.Alya masih mematung, jarinya yang memegan
"Buka kedua kakimu. Lebarkan," bisik Dewa lewat gagang telepon. "Lalu sentuh dirimu sendiri di titik yang paling berdenyut.” Napas Alya tertahan. Sambungan telepon di telinganya terasa begitu panas, mengalirkan suara berat Dewa yang terdengar begitu mendominasi di tengah keheningan kamar. "S-sentuh diri sendiri...?" ulang Alya dengan suara tercekat dan gemetar hebat. "Ya. Sentuh titik yang paling berdenyut ngilu di bawah sana. Jangan pura-pura tidak tahu di mana lokasinya." Alya menggigit bibirnya erat-erat. Air mata keputusasaan menetes di pipinya. Rasa malu luar biasa menyergap dadanya karena harus mendengarkan instruksi seperti ini dari pria yang baru saja tadi pagi dilantik sebagai CEO di kantornya. Namun, sengatan rasa terbakar dan denyutan kram di organ intimnya begitu menyiksa, seolah memaksa akal sehatnya untuk menyerah. Dengan tangan gemetar, Alya merayap pelan di atas ranjang. Ia melebarkan kedua kakinya, lalu menyusupkan jarinya sendiri di balik gaun tipis y
Alya mencengkram kemeja di dadanya, tepat di bagian kartu identitasnya baru saja diselipkan oleh Dewa. Sentuhan dan kata-kata pria itu meninggalkan bekas dingin yang membakar harga dirinya hingga ke dasar."Saya tidak mau!" tegas Alya dengan suara gemetar, berusaha keras mengumpulkan sisa keberanian yang ia miliki. "Anda bukan dokter, tidak mungkin saya menjadi pasien Anda!"Dewa tidak tampak marah atas penolakan keras itu. Pria itu justru melangkah mundur dengan santai, menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja mahoni sembari bersedekap. Tatapannya begitu tenang dan tajam, seolah sedang memperhatikan seekor mangsa yang berusaha berlari dari perangkap yang sudah terkunci rapat."Aku hanya ingin memberikan penawar untuk sakit yang diciptakan oleh suamimu sendiri," ujar Dewa dengan nada datar. Pria itu merogoh saku jas abu-abunya, mengeluarkan sebuah kartu nama berukir tinta emas yang mewah, lalu meletakkannya di atas meja."Ini kartu namaku, barangkali kamu berubah pikiran," uca






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews