LOGINHow does it feel to leave your past behind, and struggle to stand at the top only for it to catch up with you again? How do you feel when a man who divorced you painfully years ago, suddenly becomes your first VIP outpatient? Cruel right? Yeah well, that is Stacy Hall's situation now. She is stuck with her past **** Despite being aware that he was out of her league, Stacy had been in love with her elder brother's friend, Carlton, for a long time. She was determined to make him hers at all costs, without the knowledge of anyone around her. Unfortunately, Carlton's announcement of his marriage to another lady shattered her heart mercilessly. One thing led to another, and she was the one standing on the altar to say the vows as his wife without the knowledge of her family. It was to save him, and to save her desire too. However, he could never look at her with affection. Could not love her no matter how hard she tried, and could not fully accept her as his wife. And they ended up divorcing bitterly despite Stacy's pleas because he wanted it. His ex-girlfriend was back! Picking her life from scratch after a stormy divorce, a miserable lady who became a Certified Physiotherapist is finally healing from disownment from everyone. Stacy Hall had now become the most sought-after. ********** "My heart is broken, Stacy. I have not been able to breathe since you left," He begged with tears. "Mr. Howard. My job is to fix broken bones, not hearts," Stacy replied to him curtly.
View MoreBab satu: Adik Laki-laki
***
Irena merasakan tubuhnya diguncang pelan, dan membuatnya memaksakan membuka mata dengan berat. Segera dapat dia lihat bayangan yang buram itu mulai menjelas. Seorang pemuda sudah duduk dipinggir ranjangnya. Menatap ke arahnya yang masih berbaring malas di kasur. Pemuda itu mengulas senyum. Senyuman yang nampak lembut. Sinar matahari dari tirai jendela membuat rambut cokelat itu berkilauan. "Kau tak mau terlambat ke kantor kan?" kata pemuda itu.
"Aku merasa malas pagi ini. Kau tahu kan semalam aku lembur," keluh Irena dengan wajah bantalnya. Kemudian dia beringsut duduk. Ketika itu suara denging khas berbunyi dan pemuda ini berkata. "Sarapan untuk kita sebentar lagi akan siap. Aku tunggu di meja makan." Dia bangun. Berjalan ke luar kamar Irena. Sedangkan wanita itu merenggangkan badannya. Tidak boleh bermalas-malasan! Irena mengingatkan diri. Bekerja dan mendapatkan uang adalah tanggung jawabnya di rumah ini. Maka, meski dengan berat dia menyingkap selimut untuk membersihkan diri di kamar mandi.
***
Irena sudah siap dengan setelan formalnya. Dia berdiri di depan standing mirror. Memperhatikan sekali lagi penampilannya. Stiletto hitam sudah mempercantik kaki jenjangnya, rok hitam selutut, kemeja biru yang dirangkap blazer putih melengkapi penampilan Irena sebagai pegawai kantoran pagi ini. Rambut cokelat lurus dia ikat jadi satu agar tampak rapi dan tidak mudah acak-acakan. Riasan di wajah juga tidak terlalu tebal. Irena sudah mantap dengan stylenya, lantas dia menyambar tas dari meja lalu membuka pintu kamar.
"Woaah!" pukau Irena saat mendekati meja makan. "Semuanya terlihat enak," lanjutnya mendudukan diri di kursi sembari menaruh tas tangannya ke kursi samping. Pandangan Irena tak lepas dari makanan di meja. Ada waffle, bacon, hingga aneka sayuran capcay. Pemuda itu membuatkan makanan kesukaan Irena.
"Kau mau latte atau susu?" tanya pemuda itu. Irena melempar senyum. "Latte saja," jawabnya. Yohan nama pemuda itu. Lima tahun lebih muda dari Irena. Dia sudah menganggapnya sebagai adik laki-laki sejak anak itu datang ke rumahnya sepuluh tahun lalu. Bukan masa lalu yang menyenangkan bagi Yohan. Irena tak pernah membahasnya lagi setelah tahu ceritanya dari sang ayah.
Yohan kembali lagi dari dapur, membawa dua gelas di tangannya. Satu latte diletakkan untuk Irena, sementara dirinya duduk di seberang dengan segelas susu. "Kapan kau akan lulus?" tanya Irena sebelum memasukkan sepotong sayuran ke dalam mulutnya. "Aku pastikan tahun ini aku akan menyelesaikan tugas akhirku," jawab Yohan.
"Berapa biaya kelulusanmu, coba kulihat rincian biayanya," pinta Irena. Yohan bangkit, berjalan menuju meja di ruang tengah. Lalu kembali dengan membawa ponselnya. Dia membuka file dan mencari berkas sebelum ditunjukan pada Irena.
Dengan cermat Irena membaca jurnal keuangan di layar ponsel Yohan. Yohan berada di semester akhir perkuliahan tahun ini. Sudah pasti akan mengeluarkan lebih banyak dana. Irena harus mengatur keuangan untuk melunasi semua itu. "Kau tak perlu khawatir. Pastikan kau harus lulus tahun ini," tandas Irena sambil menaruh ponsel di samping gelas pemuda itu.
Bukan ingin Yohan berkuliah sebenarnya. Alasannya sederhana. Yohan tidak mau membebani orang tua Irena. Namun, Irena dan orang tuanya tetap kekeh memasukan dia ke universitas. Yohan tak punya pilihan selain menerima. "Setelah aku lulus, kau tak perlu bekerja lagi," kata Yohan tiba-tiba. Perkataannya terdengar mengejutkan di telinga Irena. Sehingga dia mendongak dari tatapannya pada makanan. "Huh? Kenapa aku tak boleh bejerja?" heran Irena.
"Aku tahu kau lelah seharian bekerja. Aku hanya tak mau kau kelelahan. Biar aku saja yang menghidupi kita berdua. Kau hanya perlu bersantai di rumah dan menungguku pulang," jawab Yohan lugas. Tidak ada candaan di wajah rupawan Yohan. Irena berkedip dua kali. Hampir sulit dipercaya baginya. "Wah! Yohan... Kau rupanya sudah dewasa, ya? Aku jadi terharu!" Irena berkedip-kedip dengan wajah seakan menangis.
"A-aku serius!" gagap Yohan. Pipi putihnya merona. Dia malu seketika.
"Padahal dulu kau sangat judes dan pelit. Tapi kini kau ingin membagi gajimu padaku? Wah! Sepertinya banyak hal yang telah kulewati dari dirimu." Irena mengatakan fakta. Yohan kecilnya sekarang sudah tumbuh dewasa. Ada rasa bangga di benak Irena sebagai seorang kakak, walaupun bukan kakak kandung. Tapi mereka telah hidup dalam satu atap yang sama.
"Aku mau membuatkan bekal dulu." Yohan malu melihat reaksi berlebihan Irena. Sehingga dia memilih beralih dari hadapan wanita itu, dan mulai membuat satu bekal makan siang. Bukan untuk dirinya. Melainkan untuk Irena.
***
Suasana ruang divisi administrasi agak sepi ketika Irena datang. Meja-meja dibalik kubikel masih tampak kosong tanpa penghuni. Irena menarik kursi berodanya dan duduk dengan nyaman di depan komputer. Sambil menunggu layarnya menyala, seorang datang di meja sebelahnya dan duduk di sana. "Hai, Irena!" sapa wanita itu riang.
Irena menoleh. Tampak seorang wanita dengan kemeja kuning sudah hadir di mejanya. "Kayla!" balas Irena senang. "Kupikir hari ini kau tidak hadir," kata Irena mengingatkan sehari sebelumnya Kayla absen cuti.
"Hehehe, aku tidak boleh cuti terlalu lama walau cuma dua hari, sih..." ujar Kayla, pemilik rambut ikal cokelat sepundak itu. Tipe wajah ceria dan menyenangkan membuat Kayla mudah disukai banyak orang. Kebalikan dari Irena yang kelihatan judes mukanya ketika sedang diam -padahal sudah dari bawaan- yang seringkali dikeluhkan Irena sendiri, lantaran membuat orang lain jadi menjauhinya. Mereka bersahabat tapi saling bertolak belakang. Itulah yang membuat jalinan persahabatan keduanya awet sejak jaman ngampus dulu. Sekarang sudah tujuh tahun terlewati bersama.
"Setelah liburan ke pantai, pulang membawa pacar nih?" goda Irena saat memainkan mousenya. Dia sempat melihat swafoto Kayla di beranda Instagram kemarin dengan background pantai.
Kayla tersenyum kecut. "Pacar dari mana?" Kemudian dia memiringkan tubuhnya mendekat ke samping Irena. "Baru aku dekati, ternyata dia sudah beristri!" bisik Kayla. Lalu menegakkan posisi duduknya lagi. Jika dia bicara keras-keras, akan mudah terdengar siapa pun yang lewat. Dan hal itu tidak menutup kemungkinan jadi topik gosip karyawan di sekitar dengan melebih-lebihkan cerita.
Sementara Irena meringis mendengar itu. "Sabar, ya. Ada banyak pria lain di dunia ini," ujar Irena menghiburnya.
"Huh! Bisa-bisanya aku bercerita pada yang sudah punya pacar," sahut Kayla mengerucutkan bibir.
***
Irena mengeluarkan kotak makan siangnya ke meja. Jam istirahat ini dia ingin makan di meja kerja saja. Ketika itu sebuah pesan masuk muncul di layar ponselnya.
'Selamat makan siang!' Disertai emotikon ceria. Dari pengirim Yohan.
"Apa bekal itu kau sendiri yang menyiapkan?" kata Kayla menengok. Memperhatikan isi bekal makan siang Irena yang tampak sehat dan lengkap.
"Bukan. Yohan selalu membuatkan bekal makan siang untukku," jawab Irena apa adanya.
"Yohan? Adik laki-lakimu? Wah! Dia rajin sekali! Aku punya adik pun tidak pernah seperhatian Yohan. Aku jadi iri padamu!" rengek Kayla. Sedetik kemudian perhatiannya teralih oleh panggilan telepon. Dia membaca nama kontak di layar. "Ibuku menelepon..." Lantas Kayla pamit sambil membawa ponselnya.
***
Hi, dearest readers. It is Author Perls here, and I am saying a big thank you to everyone who stuck with me from the beginning to the end of this book. I am so grateful, and I truly appreciate your support and efforts. You have been the best! Thank you so much, everyone And I hope we truly loved the book, 'The Billionaire's Hired Ex-wife Is A Skilled Doctor.' Please do not forget to drop as many reviews, comments and vote as possible for this book to support it even better. And I do hope we check out my new book too with the title, 'The Billionaire Boss Wants His Doting Sweetheart Back.' Thank you all once again! Bye Everyone...........
It was a beautiful morning at a big, luxurious wedding hall, where every detail had been meticulously crafted to exude a sense of elegance and sophistication, and Carlton and Stacy stood at the altar holding their hands and gazing into each other’s eyes with a synchronizing smile curving their lips, as they prepared to take their wedding vows. Stacy donned a voluminous luxurious lacy white gown of exquisite and intricate adorning diamond that shimmered with fierce intensity of beauty, as she looked so radiant like a celestial being before the altar. Her veil softly framed her beautiful face like a halo, as she held a bouquet, her eyes illuminating so much affection for the man that was standing beside her. Carlton was daunting and dashingly ethereal in his custom-made black suit, his tousled, dark hair framing his breathtaking beauty and piercing beautiful eyes, which were a mesmerizing shade of deep blue that gazed into Stacy's eyes, with sheer happiness radiating within him. G
It was still the early hours of the morning, and the atmosphere was still quite dampened with barely any sign of sunlight, when Carlton entered the room to find Stacy still sleeping. He shook her shoulder tenderly and teased around her face, as she stirred for a few seconds without waking up. Then again, Carlton whispered something into her right ear as she remained in her deep slumber, which aroused a ticklish feeling in her as her hand tried to rub her ear. “Wake up,” Carlton whispered with a smile, and she finally turned in response to his barely audible voice, her eyes flickering awake, even if she was still slightly groggy. “What is going on, Carl?” she mumbled tiredly as a yawn escaped her lips, but a smile curved his lips instead as his hands grabbed her body and pulled her up from the bed, “What time is it?”“Shhhh. You will wake the kids up,” he cautioned, seeing that she was chuckling quite loudly, as she planted a kiss on her cheek and neck, “Put on something and follo
Months flew by faster than expected, and Stacy had been living her best life with Carlton after Nadia moved to Phoenix with Liam. They kept in close contact through video calls and phone calls, telling one another about the new things they were now invested in and how the new city moved in. Nadia launched her new book after she moved to Phoenix, and better than she thought it would be, it was doing excellently well through the influence of her lovely lover, and social media, which gained her thousands of followers in less than six months. And with the brilliant response and love she received for her medical romance book, she started a sequel. She and Liam moved to the penthouse of a hundred-floor skyscraper in one of the wealthy neighborhoods in the city, which had the best view that she could ever wish for as a home. More than anything, Nadia's life had changed beautifully, more than she could have ever imagined, because of the people she got to meet in her life. Within those few
The sunlight rays from the morning filtered softly through the curtains of the bedroom in the vacation house, as Nadia suddenly stirred awake, her lashes slowly flickering open. And her eyes fixed on the white ceiling of the room, she soon realized that she was wrapped in the arms of someone, whose
‘What?! That was it?!’ Nadia scoffed in deep anger, the more she remembered how her frolic moment was cut off by Liam in an instant when he stopped his hand from going further than it had done, and just kissed her forehead. ‘He might hurt her? They should stay away because she was still recuperating
Grounded amidst the beautiful scenery with a large crystal-clear pool, was a vacation house that exuded an air of opulence and luxury standing on the cliff top. The majestic mountains which seemed to be at a distance seemed to touch the sky, and the beautiful mountain wildflower seemed to paint the
“The child is dead?! Are you kidding me?” Marilyn's words hung in the air, incomprehensible, and absurd as Carlton felt a wave of dizziness wash over him as if his mind had been plunged into darkness. “I am sorry to announce this, Carlton. The doctors tried all they could to save her life, but it w






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore