LOGINOne night of desire at my best friend’s wedding and One man I couldn’t forget. I had expected him to be my best friend who I had a crush on for years but now, staring at the stranger in my bed made me realize how I had messed up things badly. With every heartbeat, every glance, pulls me closer to a want I shouldn’t have. “Fuck, Tim… I want to ruin every thought you have about me.” He growled, a small smile making its way to my lips as I unbuckled his belt. I tug the waistband of his pants down. “Ruin me..” I said as his junior springs free from his boxers standing proud, staring at me like it just couldn’t wait for the next action. And I couldn’t either.
View More"L-Lepaskan!" Nayla Pratama berseru dengan suara tertahan dan mencoba melawan. Kedua mata indahnya menatap tajam kepada Zavier Abraham.
Pundak mulusnya diterkam kencang dan tubuh molek miliknya dihempaskan di atas kasur mewah yang mereka miliki sepanjang pernikahan selama dua tahun terakhir.
"Ini kewajibanmu! Diam dan patuhi!" Suara Zavier terdengar lantang dan ketus. Pria itu segera bergerak memenuhi tuntutan batinnya tanpa memperdulikan perasaan sang istri yang menderita dan tidak menerima perlakuan kasar Zavier.
Nayla menggenggam sprei di sampingnya dengan erat, menahan kesakitan pada titik sensitif di sekujur tubuhnya sambil melihat ke langit-langit kamar, dengan tatapan sendu dan air mata yang berkumpul di matanya.
“Zavier… Tolong pelankan…”
Namun, suara parau Nayla tak pernah digubris oleh Zavier yang sibuk menuntaskan hasratnya.
Setelah berselang lama, Zavier selesai dan langsung bangkit seraya mengambil baju mandinya.
Dengan ekspresi datar, dia meninggalkan tubuh sang istri dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara Nayla segera menarik selimut, untuk menutupi tubuh yang masih gemetaran dan masih terasa sakit.
Nayla memandang punggung suaminya itu, punggung yang beberapa tahun lalu selalu diusap dengan lap yang dibasahi dengan air hangat olehnya, saat Zavier masih terbaring koma.
Dua tahun lalu, Zavier mengalami sebuah kecelakaan tragis yang menyebabkannya koma selama bertahun-tahun.
Takut anaknya tak akan menikah sampai akhir hayatnya, keluarga Zavier menikahkannya dengan Nayla.
Nayla sendiri terpaksa menerima pernikahan kontrak itu sebab membutuhkan uang untuk biaya pengobatan sang adik yang sedang sakit keras.
Tidak ada gaun pengantin, tidak ada acara pesta bahkan tidak ada makanan mewah yang tersaji.
Pernikahan tanpa penghulu atau pendeta itu dilaksanakan dengan suasana tegang di dalam kamar Rumah Sakit.
Hanya disaksikan oleh Xander Abraham, ayah Zavier sekaligus Pemilik perusahaan Cypro Holding Technology, ltd, sebuah perusahaan teknologi berbasis Artificial Intelligence terbesar di dunia dan seorang pegawai catatan sipil.
Cap jempol dari Nayla dan Zavier yang sedang koma itu dibubuhkan bersamaan dan mereka resmi menjadi suami istri secara hukum.
Namun, ketika keajaiban itu datang dan Zavier akhirnya tersadar, bukan tatapan kasih sayang yang Nayla dapatkan. Melainkan tatapan kebencian yang selalu membayang di kepalanya.
Zavier tidak pernah menyetujui sebuah pernikahan. Apalagi bersama seseorang yang tidak pernah dikenalnya dengan baik.
Tidak ada perasaan cinta yang ada dari setiap sentuhan yang diberikan oleh Zavier kepadanya, membuat wanita itu merasa direndahkan dan hanya bisa patuh.
Sesaat kemudian pria tampan bertubuh atletis, dada bidang dan perut berkotak itu sudah keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk putih yang melilit di pinggangnya.
Nayla menatap suaminya dengan pasrah. Pria tampan itu tidak sebaik rupa fisiknya. Dia tidak pernah memperlakukan dirinya dengan baik walau Nayla berusaha menjadi istri yang sempurna.
Sejak menjadi istri Zavier, Nayla melakukan semua pekerjaan Rumah Tangga dengan baik, mulai dari memasak, mencuci bahkan memenuhi semua kebutuhan Zavier, seorang pewaris kaya raya yang sengaja tidak mau mempekerjakan Asisten Rumah Tangga, hanya untuk menunjukkan kekecewaannya terhadap pernikahan yang tidak dia inginkan.
"Kamu mau ke mana?" tanya Nayla dengan suara yang masih bergetar menahan sakit, pada saat melihat Zavier sudah berpakaian rapi dan sedang menyemprotkan parfum kesayangan.
Zavier sama sekali tidak menoleh, melainkan tetap melanjutkan kegiatannya lalu meninggalkan Nayla yang tenggelam dalam keheningan kamar mewah tersebut.
Nayla segera menarik selimut putih dan membalut tubuhnya lalu berdiri dan berlari mengejar Zavier.
"Zavier!" panggilnya dari atas tangga.
Zavier menghentikan langkahnya di depan pintu utama, namun dia tetap tidak menoleh.
"Kamu pulang nanti malam?" tanya Nayla dengan suara parau.
"Pulang, kalau tidak pulang, apakah kamu akan melaporkannya kepada tua bangka itu?" Zavier berkata ketus usai menjawab lalu melanjutkan langkahnya.
Nayla membeku. Tangannya menggenggam pegangan tangga dengan keras sambil menahan air matanya jatuh.
Namun, sebelum Zavier menutup pintu, ia berhenti sejenak.
“Jangan lupa buang bekas pengaman tadi!”
Bruk!
Nayla masih mematung ke arah pintu yang baru saja dilewati Zavier. Pria itu benar-benar tidak pernah menganggap keberadaannya di rumah itu.
Selama dua tahun terakhir, Zavier selalu menuntut haknya di atas ranjang, tetapi pria itu tidak ingin Nayla mengandung benih yang dia tanam berkali-kali sesukanya. Zavier selalu memakai pengaman agar Nayla tidak pernah hamil.
Nayla melirik bekas pengaman yang masih ada di lantai yang terasa sedingin hatinya saat ini, lalu meraihnya dan membuangnya ke tong sampah.
Air mata mengalir membasahi pipi yang cantik itu. Nayla tak kuasa menentang apa yang dialaminya saat ini karena dia terlanjur mencintai pria itu.
Saat Zavier koma, Nayla merawatnya dengan sepenuh hati, menjaga semua kebutuhan nutrisi bahkan memandikannya. Namun, Zavier tidak mengetahui semua itu.
Nayla tahu, Zavier diam-diam selalu berhubungan dengan seseorang, dan Nayla menebak adanya perempuan lain dalam kehidupan suaminya.
Nayla bahkan pernah mendapatkan informasi dan beberapa laporan dari temannya bahwa mereka melihat suaminya sedang bersama dengan wanita lain di restoran ternama, sementara Zavier tidak pernah membawa Nayla walau sekedar untuk makan bersama di luar rumah.
Mengingat semua itu, Nayla menghembuskan nafasnya yang terasa berat di dada lalu berusaha tidur setelah selesai mandi.
Keesokkan harinya, Nayla terbangun dan mendapatkan sang suami sudah tertidur di sebelahnya.
Dia tidak tahu jam berapa suaminya pulang karena sudah sangat kelelahan semalam.
Seperti rutinitas biasa, Nayla bergegas berdiri dan mengerjakan semua pekerjaan Rumah Tangga. Dengan telaten dia juga sudah menyiapkan sarapan lalu melanjutkan dengan mencuci pakaian menggunakan tangan.
Zavier bahkan meminta Nayla untuk melakukan segala pekerjaan rumah tangga seorang diri. Semua itu demi melihat istri yang tak diinginkannya itu menderita.
Padahal, dengan kekayaan yang keluarga Zavier miliki, ia dapat menyewa puluhan ART untuk mengurusi rumah tangga mereka.
Setelah Zavier bangun, pria itu buru-buru berangkat kerja tanpa menyentuh sarapan yang dibuat Nayla.
"Zav ... " Kalimat Nayla terhenti karena bayangan Zavier sudah menghilang di balik pintu dan terdengar suara mobil, menandakan pria itu sudah berangkat kerja tanpa menyapa.
Nayla menatap kedua tangannya yang masih penuh dengan buih sabun. Dia sedang mencuci.
Namun, saat melanjutkan cuciannya, matanya melebar saat dia menemukan sebuah struk di kantong kemeja yang dipakai Zavier semalam.
"Hotel Internasional, kamar suite atas nama …”
Awalnya Nayla membaca perlahan, tapi sampai di akhir struk, dia tidak dapat menahan air matanya.
“SEFIA…"
Mendadak, kedua lututnya terasa lemas dan tidak bertenaga. "J-jadi, dugaanku selama ini benar?"
꧁♡ 𝓣𝓲𝓶♡꧂ “Stop running, Micah!” My voice echoed through the house as the little menace laughed loudly while running down the stairs with one shoe on and the other missing. “I don’t wanna wear it!” he shouted back dramatically. “You said the same thing about the pants!” “Because they’re itchy!” “They are not itchy!” “Yes they are!” I heard Frank snort from the kitchen. Traitor. I glared toward the sound while still trying to chase after a six year old that somehow moved faster than grown adults. This was my life now. And honestly? I loved it. Two years ago, Frank and I had decided to stay in Italy permanently. What started as temporary peace slowly became home before either of us realized it. I resigned from the hospital back in New York, and surprisingly, I didn’t regret it. Italy felt softer. Slower. Like life here gave us permission to breathe. Frank had built a legitimate business here too, and although I knew there were still shadows of his old life hanging arou
꧁♡ 𝓣𝓲𝓶♡꧂The moment we stepped into the room, Sheila immediately wiped her tears away like they had never existed in the first place.It was honestly impressive.One second she looked like she was about to break down in the hallway and the next she had that same cold expression back on her face like emotions personally offended her.Phil noticed too.I could tell from the tiny smile that appeared on his lips before he quickly hid it behind sarcasm. Sheila walked toward the bed slowly, crossing her arms once she stopped beside him.“So,” she said flatly. “You’re still alive.”Phil looked pale as hell against the pillows, but somehow he still managed to smirk. “Disappointed?”“A little.”“Wow,” he muttered dramatically. “And here I thought you’d cry over me.”Sheila rolled her eyes instantly. “Don’t flatter yourself.”“I got shot for this relationship.”“There is no relationship.”“Cold.”She stared down at him for a second longer before muttering quietly, “You look terrible.”Phil g
꧁♡ 𝓣𝓲𝓶♡꧂“Frank.”His name left my mouth immediately the moment I saw him standing there. For one second, I genuinely thought I was hallucinating.Maybe it was the alcohol still sitting in my system. Maybe it was the panic from almost getting assaulted. Maybe my brain had simply missed him too much and decided to create him out of thin air.But no.He was real.Standing under the dim streetlights with murder written all over his face, my breath caught in my throat as I stared at him. The black coat hanging over his shoulders moved slightly with the night breeze, his expression cold enough to freeze the entire damn street.The man pinning me against the wall finally noticed him too. “Who the fu—”Frank moved before he could finish.Everything happened so fast.One second Luca was still holding me and the next Frank had grabbed him violently by the collar and slammed him against the nearby wall so hard the sound echoed.Sheila gasped nearby.Luca barely got the chance to react befor
꧁♡ 𝔉𝔯𝔞𝔫𝔨 ♡꧂The moment the doctor told me Phil was going to be fine, the tightness around my chest finally loosened.“He lost a lot of blood,” the doctor explained while adjusting his gloves, “but the bullet missed anything fatal. He’ll need rest and observation for a few days.”I exhaled slowly, dragging a hand down my face. “Thank you.”The doctor nodded once before walking away down the hallway, leaving me standing there outside the private ward with exhaustion practically hanging off my body.Everything from the last twenty four hours crashed into me all at once. Kagemoto Kazama was dead, Laura was dead, Eric was dead and Tim was somewhere in Italy probably worrying himself sick.I leaned back briefly against the wall and closed my eyes for a second.Just one second.That was all I allowed myself before pushing away and walking toward Phil’s room. The VIP ward was quiet when I stepped inside. Machines beeped softly while Phil laid against the hospital bed looking pale as hell






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews