Mag-log inA werewolf only has one fated mate in their lifetime. But my Alpha husband Derek refused to acknowledge me. All because I was human. Six years ago, to be with him, I was forced to sign a humiliating breeding contract with the pack elders. Bear an heir within one year: receive ten million. Bear an heir within three years: receive three million. If no pregnancy occurred within six years, I could not interfere with my husband's affairs outside the marriage. Derek's eyes burned red as he roared at me: "Did you become my mate because of me, or because of the Thorn Pack's fortune?!" From that day on, to punish me, he deliberately brought his assistant Camilla to every event, doting on her right in front of me. Until the sixth year, when he moved Camilla into the villa and put my Luna necklace around her neck in front of everyone. "Camilla is pure and kind. She deserves this necklace more than you do." He thought no matter what he did, I would never leave. But he didn't know there was another clause on the second page of that contract: If we still hadn't produced a child within six years, either party could choose to terminate the mate bond. Our contract was set to expire in seven days.
view more"Jadi, berapa uang yang kamu butuhkan?" tanya Davin pada sekretarisnya.
Naura menunduk, bingung harus menjawab karena nominalnya sangat tidak masuk akal. "Sa—satu-" Naura belum sempat menyelesaikannya, namun suara Davin memotong ucapannya. "Satu juta?" Naura menghela napas berat. Ia bingung harus menjawab apa. Demi apapun, Naura sangat malu. "Cepat katakan!" desak Davin. Sambil memejamkan mata, sang sekretaris kembali menjawab, "Satu miliar, Pak Davin." Alis Davin sontak berkerut. Bisa-bisanya sekretaris yang baru bekerja satu bulan dengannya berani meminjam uang sebesar itu. "Mau dipakai untuk apa uang itu, Naura?" Suara berat Davin membuat Naura semakin gugup dan menunduk. "Lihat lawan bicaramu!" ucap Davin lagi. Naura mengangkat wajahnya, menatap CEO Abimanyu Group, perusahaan nomor satu di Sun City, yang mempunyai ketampanan nyaris sempurna. Kulit putih, tinggi badan 185 cm, kekar, mata abu-abu, hidung mancung, dan rambut yang selalu disisir rapi ke atas. "Sa—saya harus melunasi biaya pengobatan ibu saya, Pak. Rentenir tempat saya meminjam uang memberi saya waktu tiga hari untuk melunasinya. Kalau saya tidak membayar, maka saya harus siap menjadi istri ketiga," jawab Naura jujur. Matanya berkaca-kaca karena harapannya hanya pada Davin, meski terdengar mustahil untuk dikabulkan. "Bukankah itu jauh lebih baik daripada berhutang Naura?" suara Davin seperti mengejeknya. Naura tercekat tak mampu menjawabnya. "Lalu kamu mau membayarnya pakai apa? Gaji kamu sebagai sekretaris baru di kantor ini berapa?" cecarnya lagi. "Sa—saya siap bekerja sampai tua di kantor ini, Pak." Davin mendengus sebal mendengar jawaban Naura. "Dan kamu pikir, setelah kamu bekerja sampai tua di kantor ini, uangnya akan terkumpul? Lalu, biaya hidup kamu mau dicari di mana? Kenapa kamu tidak pinjam pada kekasihmu? Bukankah dia jabatannya bagus di kantor ini, hmmmm?" tanya Davin. Andai Davin tahu kalau Naura sudah lebih dulu minjam uang sama Aldo, tapi pria itu justru memarahi Naura. Jabatan Aldo sebagai manajer keuangan di kantor ini memang sudah terkenal punya penghasilan fantastis setiap bulan. Tapi dia tak ingin membantu Naura, terlebih uang yang Naura butuhkan sangat besar. "Apa harta paling berharga yang kamu punya dan bisa dijaminkan pada saya?" tanya Davin. "Tubuh saya. Hanya tubuh saya yang paling berharga untuk saat ini." Linangan air mata semakin deras, dan Naura tak peduli jika dia disebut menjual diri pada atasannya. Davin memicingkan mata. "Maksud kamu, kamu mau menyerahkan dirimu untuk melayani saya?" Naura mengangguk. "Maafkan saya, Pak, karena hanya ini yang bisa saya lakukan. Saya tidak ingin menjadi istri ketiga pria rentenir tua yang bahkan anaknya sudah seusia ibu saya." Davin ikut geram mendengarnya. "Memangnya kamu masih perawan, sampai berani bilang kalau tubuhmu yang paling berharga?" tanya Davin. "Ma--masih Pak." "Kamu yakin Aldo tak pernah menyentuhmu?" Naura mengangguk, berhasil membuat pria tampan itu menarik sudut bibirnya. "Baiklah. Sekarang kamu ikut dengan saya ke hotel. Kalau kamu benar masih perawan dan kamu bisa memuaskan saya, maka saya akan memberimu pinjaman hari ini juga dengan syarat-" "Sya--syarat?" Naura terbata. "Ya. Kamu harus tidur dengan saya setiap hari, dan selalu ada saat saya menginginkanmu. Dan kamu baru boleh berhenti melakukannya kalau saya sudah bosan denganmu!" Naura membisu beberapa saat, entah Aldo akan mau menerimanya dalam keadaan tidak perawan, atau hubungan mereka akan berakhir? "Baik, Pak," jawab Naura cepat. Wanita cantik berusia 24 tahun itu tidak memiliki pilihan lain. Dia harus siap menanggung segala risiko. Naura tak peduli dengan pandangan buruk Davin tentang dirinya, juga tak peduli kalau dianggap menjual tubuh pada atasannya, karena saat ini tidak ada cara lain yang bisa ditempuh. Waktu tiga hari sangat singkat untuk bisa mengumpulkan uang sebesar itu. CEO dan sekretaris barunya pun keluar dari kantor menuju ke hotel yang sudah direservasi sebelumnya. Setelah sampai di hotel, Davin segera melakukan check-in dan langsung menuju kamar. Jantung Naura semakin berdebar ketika suara pintu kamar hotel dikunci oleh atasannya. Pria itu duduk di atas sofa sambil menaikkan kedua kakinya ke atas meja. "Buka bajumu, saya mau melihatnya sekarang," ucap Davin. Naura benar-benar gugup melakukannya. Ini pertama kali ia harus membuka pakaian di hadapan orang lain. "Cepat buka!" bentak Davin saat menyadari Naura hanya diam. Tak ada pilihan lain, Naura segera melepaskan pakaiannya hingga menyisakan pakaian dalam yang menutupi aset paling berharga miliknya. Kulit putih mulus tanpa noda sedikit pun berhasil membuat Davin terpesona. Pria itu melonggarkan dasi yang mulai terasa mencekik lehernya, lalu berjalan mendekati Naura sambil melepaskan jas kerjanya. "Ukuran dadamu sangat menggoda mataku Naura," ucap Davin berbisik di samping telinga Naura. Pria itu berdiri di belakang tubuh Naura, mulai menyentuh lengannya hingga ke bawah, membuat tubuh Naura meremang. Davin mulai mencium leher Naura dengan lembut, dan dengan sekali gerakan, Davin berhasil membuka pengait penutup gunung kembar Naura hingga terlepas ke lantai. Davin mulai menyentuh dan meremasnya pelan. "Aaaaaaah," desah pria itu, merasakan gejolak dalam tubuhnya yang tak bisa dikendalikan. Sementara Naura menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara desahan. Davin membalik tubuh sang sekretaris hingga keduanya berhadapan, mencium bibir Naura penuh hasrat, lalu melepaskannya setelah keduanya kehabisan napas. "Ingat Naura, kamu harus menjadi simpananku sampai aku yang memintamu pergi, dan jangan pernah berani menceritakan hubungan terlarang kita pada siapapun termasuk Aldo. Apa kamu mengerti?" "Mengerti, Pak," jawab Naura yang merasa harga dirinya telah hancur. Kegadisan yang ia pertahankan untuk calon suaminya kelak, kini terpaksa ia jual demi biaya pengobatan ibunya. "Saya janji akan melakukannya dengan pelan, dan saya akan membiayai seluruh keperluanmu bila kamu berhasil membuat saya puas dan ketagihan," kata Davin lagi. Naura kembali hanya bisa mengangguk pasrah. Davin mulai melepaskan pakaiannya sendiri hingga tubuh keduanya polos. Dia mendorong tubuh Naura pelan ke atas ranjang. Baru saja Davin hendak mengambil posisi di atas tubuh sang sekretaris, suara ketukan pintu kamar hotel itu menghentikan niatnya. Note Author : Aku ada buku baru terbit tgl 10 atau 11 April 2025 ya gengs ..... Masih buku untuk pembaca dewasa. Oia kalau dibelakang nanti kalian lihat noteku tentang koin, itu sudah gak berlaku ya. Terima kasih.The moment the blade went in, the wound hissed and began to blacken, rotting at the edges."Derek!"Arthur came charging from the mouth of the alley, pinning Camilla to the muddy ground.She was still screaming, her voice raw. "Let me go! I'm going to kill Chloe!""Derek, you deserve to die too! We'll all die together! We'll all burn in hell!"Camilla was completely insane. But nobody was listening anymore.Derek pulled the dagger from his shoulder and let it clatter to the ground. He staggered, then grabbed my wrist and checked me from head to toe.Once. Twice. Again.When he was sure I was unharmed, the man who never cried went red around the eyes."You scared me," he rasped, managing a broken smile as blood ran down his arm. "Thank God... I made it.""Why are you still following me?" I pulled my hand away."I am. I've been following you the whole time." He didn't deny it. "I was afraid you'd hate me, so I kept my distance. Just watched from afar—watched you close up shop, watched yo
(Chloe's POV)I stopped in a small seaside town.Nobody here knew the Luna. Nobody cared who the Alpha's mate was.I used the money I'd saved over the years to rent a small storefront and open a flower shop.Arranging bouquets, trimming stems, misting the eustomas. Working until I passed out at night—for the first time in six years, I didn't need sleeping pills to fall asleep.The flower farmer next door was a gentle human named Arthur. His eyes crinkled when he smiled.He always happened to pass by when I was carrying pots. He'd leave me a bundle of fresh baby's breath after closing time. He remembered I was allergic to lilies and never put them in my orders."Chloe," he said one day, "your eyes are beautiful. But they look tired. If you ever need a break, my greenhouse is always open."I didn't say yes to anything. But that evening, I sat in his greenhouse until the sun went down.Life was calm, like the sea after the tide goes out.I thought it would stay like that.On the fifth day
His knuckles went white around the report. He shot out of the villa and ran all the way to the hospital.The VIP room door was slightly ajar. Derek stood outside, and Camilla's laughter drifted out."I already heard Chloe's gone. That contract really came in handy, hahaha. Finally got that eyesore out of the way.""Poisoned? Please. I dabbed some powder on my own wound. Hurt like hell, sure, but look—worth it, right?""Derek's such an idiot. He bought the whole thing. He even made Chloe test the antidote. Shame I didn't get to see her drink it—the healer said she was writhing on the floor in agony. So pathetic.""Once I'm healed, I'll figure out how to make him fall for me. Then I'll be Luna.""Yeah, that's the plan. Once I'm Luna—"Derek's blood went cold.So the pure and innocent act was for his benefit.The tears were props. The fragility was a script.He kicked the door open.The crash made Camilla drop her phone in shock."D-Derek?" Her face drained of color. She babbled, "How muc
(Third Person POV)A few days later.Camilla had finally recovered under the healers' careful watch after taking the antidote."Derek, going through all this made me realize my true feelings for you. I like you...""A woman like Chloe doesn't deserve you. Are you really going to stay with her?"Derek's expression hardened. His voice turned cold."Camilla, from the very first day you came to work for me, I told you—my mate will only ever be Chloe.""If you bring this up again, whatever relationship we have ends here."Camilla felt like a hand had squeezed her heart. Her nails dug into her palms, and something vicious flickered behind her eyes.Then her face crumpled, tears threatening to spill as she wrapped her arms around his waist. "No, I didn't mean it like that. I don't want the Luna's position. I just want to be with you forever..."Derek looked down at her pale face.For the first time, what rose in his chest wasn't tenderness. It was irritation.An image flashed through his mind


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Rebyu