The Heart They Stole: Rebirth of the Scapegoat Bride

The Heart They Stole: Rebirth of the Scapegoat Bride

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-02-24
Oleh:  LunaOngoing
Bahasa: English
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
11Bab
323Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

In her first life, Elara Silas was a biological insurance policy a spare part for her sickly brother and a shadow to her saintly twin sister, Elena. Her existence ended on a cold operating table, her heart harvested while her husband, John Grant, watched with chilling indifference. But death was only a detour. Waking up three years in the past, Elara is no longer the obedient dog begging for scraps of affection. Armed with the memories of her family’s ultimate betrayal, she prepares to dismantle the Silas empire from the inside out. Her first move? Rejecting her father’s control to sign a secret contract with his greatest rival: the enigmatic and breathtakingly handsome Orion. Expectations shatter when she meets him. Orion isn't just a powerful jeweler; he is a man haunted by the same ghost. In a world-altering revelation, he confesses the truth: he wasn't a bystander in the first life—he was the man behind the glass, murdered by Elara’s father while trying to save her. Now, two souls who died in the same tragedy are united by a lethal alliance. As Elara returns to the Silas mansion to play the role of the repentant daughter, she finds herself trapped in the same deadly games—including Elena’s blood-soaked frame-ups and her mother’s toxic healing schemes. But this time, Elara isn't alone. With Orion’s shadow looming over the Silas household and a black opal ring hiding a shared secret, the hunt has begun.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Chapter 1: The Price of a Spare Heart

Karena putranya mendorong putri dari cinta pertamanya di taman kanak-kanak, dia mengurung putranya itu sendirian di balkon. Sementara dia membawa putri cinta pertamanya pergi bermain di luar.

Tubuh mungil putranya menyusup jeruji pembatas balkon dan jatuh dari lantai 18, hancur berkeping-keping.

Saat terjatuh, dia berteriak kepada ibunya minta diselamatkan.

Tapi ibunya bahkan tidak menoleh padanya sama sekali.

Saat itu hari Kamis sebelum libur panjang. Aku pergi bekerja seperti biasa. Putraku yang berusia tiga tahun memelukku dan tidak mau lepas.

"Papa, Papa besok libur?"

"Ya, Papa besok libur tiga hari. Kita bisa piknik bersama di pedesaan nanti!"

"Beneran? Kalau gitu, Leo nggak jadi beli Transformer. Leo cuma mau tinggal sama Papa di rumah selamanya!"

Aku menggendong anakku di bahu, membuatnya kegirangan. Perasaanku menjadi lebih ringan.

Kukira aku bisa hidup bahagia seperti ini selamanya. Aku saat itu belum tahu bahwa ini akan menjadi kali terakhir aku melihat anakku.

Seluruh tubuhku membeku begitu menerima telepon dari pengelola apartemen.

"Pak Kinan, saya dapat laporan dari tetangga. Katanya ada anak yang memanjat pembatas balkon apartemen Bapak. Separuh badannya sudah keluar!"

"Kami sudah ketuk pintu lama sekali, tapi nggak ada jawaban. Kayaknya nggak ada orang lain di dalam. Kami sudah panggil pemadam kebakaran. Sekarang masih dalam perjalanan. Jadi kami mau minta izin Bapak untuk mendobrak pintu dan menyelamatkan anak itu!"

Pikiranku kosong. Aku mengatakan dengan suara gemetar bahwa pintunya boleh didobrak. Asalkan anakku selamat, menghancurkan seluruh rumahku pun aku rela.

Dalam perjalanan pulang, aku menghubungi nomor istriku berulang kali, tapi dia selalu menolak panggilan.

Rasa putus asa yang mendalam menyelimuti hatiku. Aku hanya ingin mobil ini bisa terbang, melaju lebih cepat!

Jalan masuk ke gedung apartemen penuh sesak dengan kerumunan orang.

Mobil polisi, mobil pemadam kebakaran, dan ambulans telah datang.

Perasaan tidak enak muncul di hatiku. Aku buru-buru mendesak maju di antara kerumunan.

Dua orang wanita tua melewatiku dengan wajah sedih dan mendesah.

"Duh, anak sekecil itu. Di mana orang tuanya? Anak tiga tahun dikurung di balkon sendirian! Sial sekali anak itu ...."

"Kalau ini sih sial yang disengaja. Pintu balkonnya katanya dikunci, jadi anak itu nggak bisa keluar. Makanya, dia akhirnya memanjat pembatas balkon. Anak muda zaman sekarang ...."

"Begitu, ya? Waktu pemadam kebakaran datang, anak itu pas jatuh dan menangis sangat keras. Menyedihkan!"

Kakiku sangat berat seperti terpatri di tanah. Aku berdoa dalam hati berulang kali, berharap anak yang mereka bicarakan itu bukanlah anakku.

Tapi saat aku melihat tangan kecil yang terjulur dari bawah kain putih, hatiku terasa seperti kejatuhan batu raksasa. Air mataku pecah saat itu juga.

Tangan anakku yang berlumuran darah sedang menggenggam robot Gundam yang baru kubelikan minggu lalu ....

Aku terjatuh ke tanah, menatap sosok kecil yang sendirian di sana. Hatiku seakan terkoyak dalam sekejap.

Manajer properti berlari kepadaku untuk membantuku berdiri. Suaranya penuh penyesalan.

"Maaf, Pak Kinan. Kami nggak bisa menyelamatkan anakmu. Dia ... jatuh tepat setelah kami telepon Pak Kina."

"Kami turut berduka cita ...."

Untuk sesaat, semua kebisingan menghilang dan sekelilingku melayangkan tatapan kasihan.

Aku membuka mulut, tapi tenggorokanku terasa seperti tersumbat, tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.

Dokter menggelengkan kepalanya dan mengatakan kepadaku bahwa anakku tidak mungkin bisa diselamatkan.

Aku melangkahkan kakiku dengan susah payah ke tempat anakku terbaring dan mengangkat kain putih yang menutupinya.

Sekilas saja, hatiku tertusuk-tusuk sembilu.

Tubuh mungil anakku meringkuk di sana, berantakan dan berlumuran darah.

Aku ingin memeluknya, tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana. Jadi aku hanya bisa membungkuk di atas tubuhnya dan menangis.

"Leo, jangan takut. Papa di sini ...."

Anakku masih terasa hangat, tapi dia tidak bisa mendengar suaraku lagi.

Aku tiba-tiba teringat wajah polosnya saat aku pergi bekerja pagi tadi. Malaikat kecil yang tertawa ceria itu telah menghilang selamanya. Dadaku seolah ditembus pecahan kaca yang tak terhitung jumlahnya. Setiap tarikan napas yang kuambil terasa sangat menyakitkan.

Setelah polisi selesai mengumpulkan barang bukti, aku mengikuti mereka ke kantor polisi dengan kepala linglung untuk dimintai pernyataan.

Di bangku yang dingin, aku menunggu laporan autopsi anakku dengan sekujur tubuh lemas.

Berjam-jam lamanya, istriku masih tidak kunjung mengangkat telepon.

Hatiku serasa mati, dan aku tidak tahu apakah itu karena rasa pedih atau benci.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Tidak ada komentar
11 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status