Se connecterMarried to the gay arrogant son of a billionaire, little did she know that she was already pregnant for the love of her life, how long would she go to keep the secret of her pregnancy from her husband to give her unborn child the life of luxury she deserve for her and how long will the billionaire's son keep his dirty secret from her.
Voir plus"Kau yakin ingin melakukannya denganku?" suara husky seorang pria terdengar berat di telinga sang gadis.
Gadis itu menengadah dengan bibir sedikit terbuka saat kecupan lembut menyentuh tubuh bagian atasnya. Pakaian kantornya telah lama lolos meninggalkan tubuhnya. Kini ia tengah berada di bawah kungkungan seorang pria bermanik abu, nyaris tenggelam di balik tubuh kokohnya. "Sentuh aku, bukankah kau sudah lama ingin melakukan ini?" tanya lirih wanita cantik itu dengan mata terpejam menikmati setiap sentuhan lelaki itu. Tubuhnya meremang seperti ada sengatan listrik yang membuat aliran darahnya semakin deras. Bibir sang lelaki tersenyum samar, hampir tak terlihat. Telunjuk besar pria itu menyentuh lembut di bagian bawah, membangkitkan desiran halus dalam tubuh sang wanita. "Pelan-pelan, ini pertama kalinya bagiku... " Perempuan itu merintih kesakitan. Namun entah kenapa tak ada sedikitpun keinginan untuk menghentikan aksi itu. "Apa kau masih suci?" Kedua mata pria itu membelalak tak percaya. Ini sungguh di luar dugaannya. Detik berikutnya keduanya tenggelam dalam permainan yang lebih panas lagi. *** Cahaya pagi menembus tirai tipis, membelai wajah Lilyan yang masih tertidur lelap. Suara detak jam dinding menjadi satu-satunya suara yang terdengar di ruangan itu. Perlahan, kelopak matanya terbuka. Pandangannya kabur beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada langit-langit kamar yang asing. Ini bukan kamarnya. Bukan juga apartemen miliknya. Hatinya mencelos. Saat ia menoleh ke samping, tubuhnya membeku. Di sisi ranjang yang lain, seorang pria tengah terlelap dengan dada terbuka, napasnya berat tapi teratur. Rega Angkasa. Nama itu langsung membuat darahnya berdesir hebat, wajahnya pucat seketika. Jadi, tadi malam dia tidak bercinta dengan Vano? Tapi dengan Rega? Bosnya. CEO perusahaannya yang selama ini selalu bersikap tak acuh padanya, dingin, tegas, dan tak tersentuh, sekaligus saudara tiri Vano, tunangannya. Pria tampan itu bekerja sebagai pemimpin Angkasa Mining Corporation. Sebuah perusahaan kontruksi besar yang memiliki banyak cabang di negeri ini. “Ya Tuhan… kenapa aku bisa ada di sini?” bisiknya nyaris tanpa suara. Ia buru-buru menarik selimut, menutupi tubuh polosnya. Kepalanya berdenyut, pusing, dan potongan kenangan semalam mulai menyeruak dalam ingatan. Tadi malam ia mabuk setelah menghabiskan 4 gelas wine saat mereka duduk bersama klien dari Jepang, membahas kontrak kerjasama dengan perusahaan milik Rega. Lilyan terpaksa menerima tawaran untuk bersulang dan entah 4 gelas wine yang ia habiskan. Yang jelas kesadaran Lilyan mulai hilang setelah itu. "Tidak mungkin aku dan Pak Rega..." Bibir Lilyan bergetar menahan tangis. Ia yakin sesuatu telah terjadi padanya dan Rega. Namun belum sempat Lilyan berpikir lebih jauh, suara berat yang familiar itu membuatnya terlonjak. “Sudah bangun?” Lilyan menoleh, terlihat Rega menatap lurus ke arahnya dengan ekspresi datar. Tidak ada keterkejutan di matanya, seolah ia sudah tahu sejak awal bagaimana pagi ini akan berjalan. Lilyan menelan ludah, jari-jarinya meremas ujung selimut. “P—Pak Rega, kenapa kita...” Lilyan terlihat bingung. "Semalam kau yang memintanya sendiri. Tenang saja, aku akan bertanggung jawab,” potongnya datar. Kedua mata Lilyan membola, bulu matanya yang lentik bergetar. Tidak mungkin dia yang meminta Rega untuk menyentuhnya. Pria berdarah campuran itu bangun dari ranjang, mengambil kemejanyq yang tergeletak di lantai lalu memakainya tanpa mengancingkannya. Dia membiarkan dada bidang dan perut kotak-kotaknya terekspos dan membuat Lilyan menelan ludah. "Aku tahu kau tidak akan percaya dengan ucapanku. Aku punya buktinya kalau kau sendiri yang meminta." Rega meraih ponselnya dan memutar video tadi malam saat Lilyan merengek meminta Rega menyentuhnya. "Astaga..." Lilyan langsung membuang muka dengan pipi yang merona merah. Tak percaya kalau ia akan serendah itu meminta Rega menyentuhnya. "Sekarang kau percaya?" Alis pria tampan itu terangkat tipis. "Tapi meskipun begitu, aku bukan lelaki yang akan lari dari tanggung jawab. Aku akan menikahimu jika kau mau," cetus Rega dengan penuh keyakinan. Kalimat itu menampar keras. Sesuatu di dada Lilyan terasa sesak, bagaimana ia bisa menikah dengan Rega jika dia adalah tunangan dari Vano, saudara Rega sendiri. Itu tidak mungkin terjadi. Lilyan menghela napasnya. Dunia serasa gelap rasanya. "Lupakan saja Pak. Anggap saja tadi malam tidak terjadi apapun di antara kita." Lilyan berusaha tenang meskipun hatinya bergejolak dan jauh dari kata tenang. "Apa maksudmu?" Rega menyipitkan matanya. "Saya tidak mungkin menikah dengan Bapak. Saya sudah bertunangan dengan Vano." Lilyan bangun dari tempat tidur. Ia gunakan selimut tebal itu untuk menutupi tubuhnya. "Bagaimana kau akan menikah dengan Vano jika kau telah kehilangan kesucianmu?" Rega berdecak dan tersenyum miring. "Itu akan jadi urusan saya." Lilyan tak ingin banyak bicara. Dia memungut bajunya yang berserakan di lantai dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. "Lilyan, aku yakin Vano tidak akan mau menerima perempuan yang telah tidur denganku. Pikirkan lagi keputusanmu itu!" Kata-kata Rega membuat langkah Lilyan terhenti sejenak. Ia menghela napas berat. Tapi keputusan untuk menerima tawaran Rega pun bukan keputusan mudah. "Saya tidak akan memberitahu Vano tentang hal ini. Dan saya harap Pak Rega juga mau merahasiakan hal ini darinya," tegas Lilyan dengan yakin. Rega berdecak tak percaya kalau Lilyan telah menolaknya mentah-mentah. Tak lama Lilyan keluar kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapih. Ia bergegas pergi dari hadapan Rega. Jalannya pelan karena bagian bawah tubuhnya terasa sakit. Air mata mengalir dari sudut matanya. Ini semua masih seperti mimpi baginya. Kehilangan kesucian tanpa ia rencanakan sama sekali. Melakukannya dengan seseorang yang bahkan tak pernah ia bayangkan sebelumnya. *** Pagi itu, Lilyan Pramesti melangkah ke kantor dengan langkah berat, berusaha menenangkan diri. Pikirannya masih bergelayut pada malam yang tak mungkin ia lupakan. "Selamat Pagi Bu!" sapa beberapa karyawan dengan sopan. Kedudukan Lilyan yang menjadi tunangan Vano sekaligus asisten pribadinya membuatnya disegani banyak orang di perusahaan itu. "Pagi!" jawab Lilyan dengan senyum tipis di bibirnya. Langkahnya tergesa menuju ruangannya. Di ujung koridor matanya membentur sosok Rega yang sudah berpenampilan rapih dan gagah khas eksekutif muda. Pandangannya sempat terhenti sejenak saat beradu tatap dengan Lilyan. Namun lelaki itu bergegas masuk ke dalam ruangannya tanpa mengindahkan Lilyan. Lilyan menghela napas berat. Apakah ia sanggup melewati semuanya tanpa rasa canggung setelah apa yang terjadi antara dirinya dan Rega tadi malam? "Kau pasti bisa Lilyan." Gadis itu memberi semangat pada dirinya sendiri. "Lilyan!" Baru saja dia akan duduk, tiba-tiba suara berat seseorang memanggilnya. Vano muncul dengan senyum canggung. "Aku minta maaf Ly, aku terpaksa mengutusmu menghadiri rapat yang seharusnya aku datangi bersama Rega tadi malam.” Lilyan menghela napas panjang, menatap Vano dengan mata sedikit kesal. “Jadi, sebenarnya hal apa yang membuatmu tidak bisa menghadiri rapat tadi malam. Kenapa aku yang harus pergi?” tanyanya, mencoba terdengar tegas meski jantungnya berdebar. Vano tampak gugup. Ia menggaruk kepala, menunduk sebentar sebelum menjawab, “Ada… ada urusan mendadak, Ly..." "Urusan apa?" cecar Lilyan. “Ibuku… minta tolong aku untuk mengantarnya ke rumah sakit, jadi semalam aku menemani dia.” Lilyan sejenak terdiam. Ia percaya pada jawaban Vano. Namun jauh di lubuk hatinya ada hal penting yang ia sesalkan dari keputusan Vano tersebut. Seandainya Vano yang pergi tadi malam, tentu one night stand itu tidak akan pernah terjadi. Tok tok tok! Suara ketukan di pintu mengejutkan keduanya. Seseorang masuk ke dalam ruangan membawa satu buah amplop. "Ini surat dari Pak Rega untuk Bu Lilyan," ucap orang itu dengan sopan. Alis Lilyan berkerut dan mengambil amplop berisi surat tersebut. Lalu membukanya dengan tangan bergetar. "Apa isinya?" Vano ikut penasaran. Lilyan membacanya sejenak sebelum kedua matanya membesar.Jennifer He’s in front of me now. My body aches for him,yearns for his closeness,but my mind wants him far away. As far as possible.Nothing good can come out of this.This will either disrupt everything I’ve planned… or set it in motion.My needy flesh spikes, betraying every warning screaming in my head.My throat tightens.“But tonight changed everything,” he says, angling his head. His hand cups my chin gently. My breath brushes his bare chest, warm and hard under his robe. My nipples pebble against the thin fabric of my nightdress, aching for more contact, more warmth.“On that balcony,” he continued, voice low, “when I held your hands… something snapped. Something I never thought was there. Never thought existed.”I closed my eyes tight,wishing this was just a dream.everything My fake marriage.This hidden pregnancy.His complicated sexuality.This mansion.His father.My father.All of it,one big, weary dream I could wake up from.But it’s not a dream.It’s real.And I’m righ
JENNIFER What just happened?The evening after we left the dinner replayed in my head like a broken record.Who does he think he is? Who almost kisses a girl, then acts like it never happened?Yeah. That’s Larry Davidson,the over-pampered, arrogant son of a proud billionaire. My husband. The same man I’m slowly falling in love with.God. How can I hate someone and still love him at the same time?This is so uncool.What was he doing, staying silent when I told him how I felt? I’d opened up to him,peeled back my wounds,and he just poured salt into them.Thank God I left his sorry ass in the car. But even that didn’t restore my dignity. It didn’t put out the fire that’s still burning in me.Rose had already set the table. Dinner sat untouched on the vanity, looking too perfect for my crumbling mood. I sighed heavily.“Thanks, Rosie,” I whispered to no one, jaw tight as I fought back the single tear threatening to ruin the makeup I was about to wash off anyway.Who am I protecting?He d
LARRY The moment we step into the room, it bursts with laughter and light,drunk, smiling rich men in tailored suits holding glasses like trophies.Flashes blind me for a second. For a moment, I want to gnarl at them, then I remember what this night is about,not me, not about Jennifer, but for my father.Cameras click nonstop. A cacophony of reporters and media personalities fight like hyenas for the juiciest scoop of the night. Pictures upon pictures, no moment too small to exploit.“My son and his beautiful wife,” Davison calls out, flashing us a wide, plastic smile, as if this is the first time he is seeing us tonight.His pot belly protruding belly wobble from left to right.As if he hasn’t just cornered us with threats.As if he hasn’t shattered the brief, fragile connection Jennifer and I shared seconds ago on the balcony.Pretentious bastard.I swallow hard. This confirms it,I hate him. But he is my father. Which means I still have to play his game or risk losing everything.We
LARRY For the first time since this whole charade,whatever it is,I bet my father will kill me for thinking his beloved dinner is a mere charade.something loosened between us. Just a little slack. But we both felt it.“I just want to thank you for how you stood up for me this evening,” I said, my voice low. I gazed into her eyes, still glistening under the soft lighting.All beaming, glimmering in every shade of red that needed to be, with a sheen that told me everything. She loved this.The glamour,she just blended right in as if she was born for this.A room full of the one percent,the high and mighty. She’s not used to this lifestyle, but I can tell she’s drinking it in. Who wouldn’t?“Come on, let me show you something.” I gently pulled away from the warm closeness between us and took her hand, tugging her through the sea of dignitaries and guests.She hesitated. “Come on,” I said again, tilting my head toward the direction we were headed.“But Larry…”“Don’t worry, they won’t m
Jennifer povThe sea of unfamiliar faces makes my stomach churn. The moment Larry steps out of the black Rolls Royce Phantom, flashes from a dozen cameras blind us. They explode like fireworks the second our feet hit the red velvet carpet.I knew I had married into a wealthy family, and that my hus
“So it was just a cover?” In a slow manner, I mouthed the words. I knew the game had begun—and I was going to use this recent discovery to my advantage. I turned my back to him, pretending to focus on the espresso machine.“It was never a cover or a game,” he said, gripping the edge of the kitchen
JENNIFERI was laid back by the old lady's single statement “What could she know?” I thought she was probably just trying to milk me off because of my present physical state, with my rough denemor Anyone with half a brain wound sense that I'm passing through a lot.“Old lady, if you need a drink you s
LARRY. Feeling defeated, mad, and weak, I turned to look at the teacher, “I'm sorry lad, there is nothing I can do, Paul’s parents are rich, they are part of the PTA board and their unanimous yearly donation goes a long way in running this institution of learning”.“P






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.