LOGINDemetrio Laureti is the most sought-after millionaire in town. An arrogant, domineering and extremely handsome man, he is used to taking all the women he wants into his bed. When his secretary is fired, he immediately sends for a new one. Confident that they have hired the most beautiful of them all, he decides to make a bet with his best friend and conquer Evangelina Anderson, a woman of grotesque appearance, which is not at all to the taste of the Italian, but, however, manages to drive all his senses crazy. Will Demetrio be able to conquer his secretary? Will Eva be able to forgive Demetrio after this bet?
View MoreDi sebuah klub malam, musik berdentum keras seolah tak memberi ruang bagi siapa pun untuk berpikir jernih.
"Udah jauh-jauh ke sini, malah bengong!" "Tau ih, jarang-jarang tahu kita ke tempat ginian!" Wilona hanya menghela napas berat mendengar protes kedua temannya. Ia menyandarkan tubuh ke sofa, kepalanya sedikit mendongak menatap langit-langit klub yang dipenuhi lampu strobo. Wajahnya kusut seperti cucian yang sudah seminggu tak disetrika. Matanya terlihat lelah, bukan karena kurang tidur, melainkan karena terlalu banyak hal yang ia pikirkan sendirian. "Kenapa sih, Wil? Mikirin Revan lagi?" tanya Vera sambil menyesap minumannya membuat es di dalam gelas berdenting pelan. Wilona tak langsung menjawab. Ia menelan ludah, dadanya terasa sesak setiap mengingat kekasihnya. "Salah gak sih kalau aku cemburu sama kesibukan dia?" gumam Wilona pelan, nyaris tenggelam oleh musik yang makin menggila. “Dia nggak pernah ada waktu buatku. Aku kangen dia yang dulu….” "Udahlah, biarin dia sibuk!" cetus Tika. "Dia sibuk, kamu juga bisa cari kesibukan sendiri!" "Nah bener tuh kata Tika. Dia aja bisa gak mikirin kamu, kenapa kamu harus mikirin dia!" sahut Vera cepat, nada bicaranya lebih tegas. Wilona menoleh. "Maksudnya?" Vera tersenyum tipis, lalu mengangkat gelas di tangannya. "Aku ajak kamu ke sini buat happy happy. Lupain Revan sesaat, nih cobain minum." Gelas itu disodorkan ke arah Wilona. Cairan bening di dalamnya berkilau terkena pantulan lampu. Wilona mengerutkan dahinya, menatap ragu. "Ini apa?" tanyanya ragu, alisnya bertaut. Tangannya memegang gelas itu seolah benda asing yang bisa meledak kapan saja. "Udah cobain aja!" sahut Vera santai, nada suaranya seakan meremehkan keraguan Wilona. Wilona menarik napas dalam-dalam. Ia melirik Tika sekilas, lalu kembali menatap gelas di tangannya. "Aargh pahit bangettt!" serunya spontan. Wajahnya langsung meringis, hidungnya mengkerut, dan refleks ia menjulurkan lidah seperti anak kecil yang baru saja memakan obat. "Hahaha, enak tahu!" kata Vera sambil tertawa lepas. "Gak enak ya Wil, aku tadi juga coba setetes gak enak," sambung Tika, ikut tertawa kecil sambil mengangkat bahu, seolah ingin menunjukkan bahwa Wilona tidak sendirian dalam penderitaan itu. "Yaelah, cobain setetes ya emang gak enaklah, gak berasa!" kata Vera membela minuman itu. Ia kembali mengangkat gelasnya, meneguk sedikit dengan gaya santai, seakan ingin membuktikan ucapannya. “Wil, Cobain sekali lagi. Jangan Cuma sekali, biar makin dapet sensasinya.” Wilona menerima gelas keduanya, ketiga hingga tanpa sadar dirinya justru ketagihan, membuat Vera dan Tika melongo tak percaya, melihat sahabatnya kini benar benar sudah diambang batas kesadaran. “Wil! Pelan-pelan!” “Biarin, Tik,” sela Vera. “Biar dia menemukan kenikmatannya hahahhaa!" Dan benar saja. tak butuh waktu lama, Wilona merasakan efeknya. “Kalian tahu gak sih, aku tuh sedih banget. Sedihhh! Hati aku… ini hati aku sesek! Aku capek!” seru Wilona setengah mabuk. Suaranya tenggelam di antara musik, tapi getarannya terasa nyata. Tangannya terus menepuk dadanya sendiri, seolah benar-benar ingin mengeluarkan beban yang menumpuk di dalam sana. Setiap tepukan diiringi dengan satu tegukan minuman, seperti ritual pelarian yang tak masuk akal namun terasa perlu baginya malam itu. “Iya iya Wil, kita tahu kamu capek. Udah ya minumnya. Kamu udah mabuk!” Tika berusaha merebut gelas Wilona, wajahnya cemas. Namun, Wilona refleks menjauhkan tangannya, gerakannya ceroboh tapi cukup cepat. “Eitss, gak boleh direbut, hehehe!” Wilona tertawa kecil, tawa yang terdengar palsu dan rapuh. Ia mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. “Kita ke mana aja sih selama ini, kenapa ada minuman seenak ini, tapi kita gak tahu?!” “Ini semua gara-gara Revan sialan! Dia jahat sama aku … dia kejam, dia jahat! Dia tega sama aku!” Kalimat itu meluncur bersamaan dengan air mata yang akhirnya jatuh. Bahu Wilona bergetar, matanya memerah, maskara yang tadinya rapi mulai luntur. Ia menutup wajahnya dengan satu tangan, sementara tangan lain masih menggenggam gelas seakan takut jika kehilangan minuman itu, ia akan benar-benar runtuh. Wilona mulai terisak, tangisnya pecah, tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Dunia seakan menyempit hanya pada rasa sakit yang ia simpan selama ini. Revan … Nama itu saja sudah cukup membuat dadanya kembali sesak. Sebagai ketua BEM, Revan memang selalu sibuk. Rapat ini, agenda itu, kegiatan ini, evaluasi itu. Hampir setiap hari Wilona harus menunggu, menahan rindu, dan mengalah. Berkali-kali ia meyakinkan diri sendiri bahwa ini hanya fase, bahwa Revan sedang berjuang untuk masa depannya. Tapi lama-kelamaan, Wilona lelah. Karena perjuangan Revan perlahan menghapus keberadaannya. Padahal dulu, saat mereka masih SMA, Revan tidak seperti ini. Revan yang dulu selalu punya waktu. Revan yang rela menunggu di depan kelas hanya untuk pulang bersama. Revan yang mengirim pesan panjang setiap malam, memastikan Wilona tidur dengan senyum. Revan adalah sosok kekasih idaman perhatian, hangat, dan selalu membuat Wilona merasa menjadi satu-satunya. Namun sekarang? Dunia Revan bukan lagi Wilona. Wilona terus meracau seolah meluapkan rasa kesal yang selama ini ia pendam dan tak berani ia ungkapkan. Demi menjaga kedamaian dalam hubungannya. Sementara Vera dan Tika, keduanya hanya bisa menghela napas berat, mencoba menjadi pendengar yang baik. Sampai akhirnya, tiba-tiba Wilona berusaha berdiri. Tubuhnya goyah, langkahnya tidak stabil, tapi semangatnya seperti orang mau ikut lomba joget. “Wilona! Mau ke mana?!” teriak Vera terkejut. “Kata kalian, aku harus cari selingan biar gak mikirin dia hahaha, tungguin yaa!” Seru Wilona dengan vokal yang nyaris hilang. “Aku mau cari selingkuhan!” lanjutnya sambil memutar tubuhnya dan hampir jatuh. “Sumpah ya, aku nyesel kasih saran ke tu anak!’’ keluh Vera menepuk dahinya. Namun Wilona sudah jalan sempoyongan ke tengah kerumunan. “Wilona! Balik!” Tika mencoba mengejar, tapi orang-orang di lantai dansa terlalu rapat. Wilona terus berjalan, sampai…. Bruk! Ia menabrak seseorang. Tumbukan cukup keras hingga minuman pria itu tumpah sedikit. Wilona mendongak. Pria itu tinggi, bahunya lebar, wajahnya tajam tapi tampan, dengan kemeja hitam yang lengan atasnya digulung. Ada aroma parfum maskulin yang langsung menusuk hidung, dan entah kenapa Wilona langsung terpesona. Dia menatap pria itu dengan mata berbinar… penuh kekacauan alkohol. “Hai, Om,” ucapnya dengan senyum ngelantur. “Hehehe, butuh sugar baby nggak?”Extra; A contract with my sexy and awkward secretary."Astrid, why don't you stay with us for the weekend?" Andrea asked his wife."I told you I have a meeting, I can't ruin my dreams of being a model, Andrea Laureti," his wife cried.Andrea furrowed his brow. He had married Astrid two years ago, taken in a beautiful son who was not his, but whom he had learned to love madly. But the woman, as good as he had been to her, refused any opportunity to be involved in business trips, and he spent very little time with her. Jealousy ate away at Andrea, for Astrid was a beautiful woman, and a model as well, whom he himself had promoted worldwide to give her career value."I told you that I can leave the company to one of my brothers and go to Europe with you, besides we haven't spent much time together," Andrea exclaimed, holding the little three-year-old boy in her arms, who had started to cry when he understood that his mother was leaving."Nooo!" Astrid replied immediately. "Mi amor, pleas
Epilogue.The children of the great businessman Demetrio Laureti were the most sought after in the city, not only for their money, but also for their beauty and those beautiful blue eyes that stood out.Fernanda was the most intelligent daughter, the one who organized everything and led her siblings, but she was also the Italian's weakness. When Demetrio said no, all Fernanda had to do was insist with her puppy dog eyes, and Demetrio would give in to her whims.After a while, they went to Italy, to their country of origin. Demetrio had to leave the company in Florida in the hands of Antonio, who was an excellent leader and he liked that."Demetrio!" Eva called from the office door.Demetrio looked up to meet Evangelina's grey eyes, the eyes that always wreaked havoc on him."What's wrong, woman?" he grabbed his head. Having six teenage children was not easy."Fernando and Andrea got into a fight at school," the small woman said, annoyed.Demetrio rolled his eyes and stood up.When he
The final.They had organized a big party with all the entrepreneurs from the different Laureti companies. Demetrio had three companies, one for Android and iOS devices and others for apps and video games.Eva was just getting dressed when Demetrio entered the room and slapped her hard on the bottom."You owe me a rematch," he muttered, arching an eyebrow.Eva smiled and kissed her Italian. She met his gaze with those blue eyes that drove her so crazy."Mr. Arrogant," she whispered against his lips."Miss Evangelina," Demetrio said with a sideways smile, the only one he knew how to give."I think I can give you that revenge tonight, now that I can't give birth, I feel free in your arms, free to sin and scream your name." Demetrius smiled and kissed her. He loved her witticisms and her beautiful way of saying things, she looked sexual."Come on my love, don't make me leave this blissful party and throw myself desperately into your arms," he replied, slipping his hands under Eva's short
They took Demetrio into surgery to remove the bullet that had punctured his lung and was getting worse."You must leave the lady and leave the patient in our hands.""But...""You can't be here, I'm sorry, ma'am," the nurse shouted.Eva stood nervously in the hospital room, pacing up and down."How is my son?" asked Massimo excitedly as he entered the hospital."Massimo, that bitch shot him," Eva rushed into her father-in-law's arms and burst into tears of shock.Massimo looked up at Eva."I know," he exclaimed, and Anderson's face went from fear to shock in a matter of seconds."What do you know?" she asked, confused."Monica was Santino's sister." Eva went still."How so? I've known Santino for a long time, and I've never heard of him having a sister," she explained, still incredulous."She's the daughter Santino's mother had with another man," he explained."And how do you know this, Massimo? And why didn't you tell me?" panicked Evangelina."Calm down, daughter, let me explain so
When Evangelina arrived at the clinic, she was scared, her hands were shaking and her heart was racing. Demetrio Laureti was the only man she had ever loved."Massimo, tell me that Demetrio is all right," she said to her father-in-law, who was sitting in the waiting room with his hands on his head, l
Eva's eyes lit up when she heard Demetrio's words. Her hands began to tremble, and her heart began to pound. While Demetrio drove, with a flirtatious smile on his lips, Evangelina kept trembling, imagining the night she was about to spend."Are you nervous Miss Anderson?" he said smiling at her Where
As soon as Evangelina entered the house, she sighed as she stood outside the door. She felt nervous, like a teenager in love, in love with her first man and the father of her children."I love you Demetrio, I love you from the first moment you kissed me and showed me the pleasure of being a woman," s
As soon as he got home, after a long night with Tamara, he took the little pink notebook and started reading.Today I met my boss, he is a man, beautiful, sexy and arrogant. How I wish I could find someone like him to finally stop being a virgin.Demetrio opened his eyes wide. It was true, the ugly






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews