Tolong! Pelayan Tidak Sengaja Tidur dengan Bos Metropolis

Tolong! Pelayan Tidak Sengaja Tidur dengan Bos Metropolis

โดย:  Maya Pertiwiอัปเดตเมื่อครู่นี้
ภาษา: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
คะแนนไม่เพียงพอ
50บท
1views
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

Nancy Jinora tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari dia akan melakukan hal seperti itu dengan seorang pria asing di dalam pesawat. Dia berbalik dan kabur. Begitu turun dari pesawat, dia langsung dipaksa ayahnya untuk merayu Tuan Winson yang dirumorkan itu. Sebelum sempat bertindak, dia menyadari bahwa Tuan Winson ternyata adalah pacar sahabatnya! ... Di pesawat, Winson Morgan tidur dengan seorang wanita asing, dan kenangan itu terus menghantuinya. Setelah bersusah payah menemukan wanita tersebut, dia merasa ada sesuatu yang hilang. Dia tidak semenarik 'pelayan' yang dicari neneknya untuknya. Meskipun takut dan ngeri padanya, dia tidak melupakan tujuan mendekatinya, yaitu merayunya. Dia paling benci wanita yang terlalu melebih-lebihkan kemampuan sendiri. Dia baru saja berpikir untuk mengusirnya .... Wanita itu justru merawatnya sepanjang malam ketika dia jatuh sakit. Dan ketika dia disergap, wanita itu juga berdiri di depannya untuk melindunginya. Setelah melewati banyak lika-liku, ternyata orang yang selama ini dicarinya selalu berada di sisinya. Saat dia ingin mengaku, pelayan itu telah menjadi incaran banyak orang, dan dia harus mengantre. Tidak apa-apa, dia pasti bisa merebut wanita yang dia inginkan.

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

Bab 1

Nancy Jinora tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari dia akan melakukan hal seperti itu dengan seorang pria asing di dalam pesawat.

Pesawat itu terguncang beberapa kali.

Nancy masih menatap kosong pesan di ponselnya.

[Kalau nggak ingin sesuatu terjadi pada ibumu, pulang sekarang juga!]

Itu adalah pesan dari ayahnya, pria yang menikahi selingkuhannya tepat di hari dia bercerai dengan ibunya.

Ibunya menemani ayahnya memulai dari nol, melewati berbagai kesulitan, dan akhirnya sukses.

Namun, yang ibunya terima sebagai balasannya adalah surat cerai dari ayahnya, yang memaksa ibunya pergi tanpa membawa apa pun.

Pada akhirnya, ibunya memilih untuk berkompromi agar mendapatkan hak asuh anak.

Setelah menerima pesan tersebut, Nancy juga tidak bisa menghubungi ibunya lagi.

Jadi, dia hanya bisa naik pesawat yang telah diatur oleh ayahnya.

"Nancy, kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali."

Cindy Kurniawan, kakak senior di samping, menyenggol lengan Nancy.

Nancy, yang terbiasa tidak suka merepotkan orang lain, segera menggelengkan kepalanya.

"Nggak apa-apa. Aku pergi ke toilet dulu."

Cindy menyerahkan tas rias kepadanya. "Selagi semua orang sedang tidur sekarang, pergilah berdandan. Biar ayahmu yang berengsek itu nggak memandang rendah dirimu."

Nancy ragu sejenak, tetapi tetap mengambil tas rias itu, lalu berdiri.

"Terima kasih, Kak Cindy."

"Oh ya, jangan berkeliaran ke mana-mana. Tadi aku dengar pramugari bilang kelas bisnis telah dipesan oleh seorang penumpang yang katanya sangat sulit dihadapi."

"Hm."

Nancy mengendap-endap menuju toilet, dan tanpa sengaja bertemu dengan seorang pramugari yang hendak menyajikan minuman.

Melihat anggur di troli makanan, entah apa yang merasukinya, dia mengambil segelas dan masuk ke toilet.

Setelah minum segelas anggur, pipinya memerah, tetapi dia tetap tidak bisa menyembunyikan kelelahan di matanya.

Dia menarik napas dan membuka tas rias itu.

Dengan bunyi 'srek', sesuatu jatuh keluar.

Ini kartu identitas karyawan milik Kak Cindy dari program magangnya di sebuah perusahaan di luar negeri.

Kak Cindy mengatakan bahwa karena kinerjanya yang luar biasa, dia dipindahkan kembali ke kantor pusat di tanah air, yang merupakan perusahaan yang sangat besar.

Alangkah bagusnya kalau dia bisa sehebat Kak Cindy.

Sembari memikirkannya, Nancy membungkuk untuk memungut kartu itu, tetapi karena mabuk, pandangannya tiba-tiba menjadi kabur.

Saat mengulurkan tangan, lampu di atas tiba-tiba padam, dan pintu toilet yang tadinya tertutup, terbuka dengan sendirinya.

Dalam kegelapan, tubuh yang sangat panas memaksanya kembali ke wastafel.

"Kamu siapa .... Ugh."

Mulut Nancy ditutup oleh pria di depannya.

Pria itu menatapnya dari atas, seolah-olah dia mampu menembus kegelapan.

"Aku akan berikan kompensasi."

"..."

Nancy sama sekali tidak punya waktu untuk melawan, dan pria itu telah menciumnya.

Dia secara naluriah mundur.

Tepat saat dia hendak menabrak cermin, sebuah tangan dengan kuat menopang kepalanya dan menciumnya dengan kasar.

Panas dari telapak tangannya membuat Nancy bisa dengan jelas merasakan panjang jari-jari pria tersebut.

Dia beberapa kali meronta, dan tanpa sengaja menyentuh ponsel di atas wastafel.

Layar menyala, dan cahaya redup itu secara samar-samar menyoroti wajah pria yang nyaris sempurna itu.

Namun, pria itu tidak memperhatikannya.

Matanya yang cekung sedikit menyipit, dan napasnya yang berat terdengar terus-menerus.

Makin Nancy melarikan diri, makin berbahaya kilatan di mata pria itu.

Dia mengangkat tangannya untuk mendorong dada pria itu, mencoba mendorongnya menjauh, tetapi pengaruh anggur membuatnya makin linglung, dan tubuhnya makin tidak terkendali.

Dia terisak, seolah-olah memprovokasi pria tersebut.

Ketika lampu kembali redup, pria itu bagai binatang buas yang mengintai dalam kegelapan, dan dengan rakus melahap mangsanya.

Nancy kesulitan bernapas dan nyaris tidak bisa mengeluarkan suara. "Ja ... jangan ...."

Pria itu mengangkatnya ke atas wastafel, lalu berkata dengan suara rendah dan serak, "Peluk aku."

"Sakit ...."

Nancy bergumam pelan dan menggigit bibir pria itu.

Pria itu mengerang, bukan karena kesakitan, tetapi wanita itu seolah-olah telah menyalakan sebuah saklar. Seluruh darah di tubuhnya mengalir ke satu tempat dan otot-ototnya makin menegang.

"Nggak pandai ciuman?"

"..."

Nancy sudah mabuk, dan samar-samar mendengar pria itu terkekeh.

Detik berikutnya, bibir Nancy dicium oleh pria itu, dan tubuhnya diangkat perlahan.

Nancy merasa seolah baru saja terbangun dari mimpi yang melelahkan, sementara pria di depannya tampak tak kenal lelah.

Keringat mengalir di otot-ototnya yang tegang, bercampur dengan napasnya, seolah mencoba meleburkannya ke dalam tubuhnya.

Sampai pengumuman pesawat terdengar.

"Bapak dan Ibu yang terhormat, pesawat akan segera mendarat. Mohon kembali ke tempat duduk Anda dan kencangkan sabuk pengaman ...."

Nancy tiba-tiba tersadar, tubuhnya tegang dan kaku. Pria di depannya tersentak. "Rileks."

Mendengar itu, dia tampak ketakutan.

Melihat pria itu mencoba memeluknya lagi, Nancy mendorongnya menjauh dan bergegas keluar, sambil meraih tas rias.

Pada saat itu, para penumpang kelas ekonomi sedang mengemasi barang-barang mereka. Tidak ada yang memperhatikan kekacauan yang dialaminya.

Dia segera merapikan roknya dan kembali ke tempat duduknya.

Cindy bangkit untuk mengambil tasnya dan terkejut melihat wajahnya yang memerah.

"Nancy, kamu baik-baik saja? Mengapa lehermu merah-merah?"

Nancy memegang lehernya. "Ng ... nggak apa-apa, cuma tergores. Ayo kemasi barang-barang dulu."

Dia tidak sanggup mengatakan bahwa di toilet barusan dia bersama seorang pria ....

Cindy juga tidak terlalu memikirkannya dan mengulurkan tangan untuk mengambil tas rias.

"Eh, mana kartu identitas kerjaku?"

Nancy terpaku. Dia baru menyadari bahwa kartu identitas karyawan itu tertinggal di dalam toilet.

Dia memaksakan diri untuk berkata, "Aku ... aku pergi cari dulu."

Cindy menariknya kembali. "Lupakan saja. Toh, aku sudah ganti kantor baru. Nggak ada gunanya menyimpan kartu lama itu lagi. Ayo turun."

"Oke."

Nancy mengangguk dengan perasaan bersalah, tetapi ketika dia meraih tasnya, dia menyadari bahwa gelang yang diberikan oleh ibunya telah hilang dari pergelangan tangannya.

Dia buru-buru menerobos kerumunan. "Kak Cindy, kamu turun dari pesawat dulu. Aku kehilangan sesuatu dan perlu mencarinya. Sekalian bantu kamu cari kartu identitas kerjamu itu."

"Kehilangan apa ...."

Sebelum Cindy selesai berbicara, Nancy telah menghilang, jadi dia terpaksa turun dari pesawat dulu.

Nancy menggeledah toilet, tetapi tidak menemukan apa pun. Toilet itu sangat bersih hingga semuanya terasa seperti mimpi.

Lupakan saja, anggap saja itu hanya mimpi.

Dia berjalan keluar dari bandara, tampak bingung dan kehilangan arah. Dia mendapati Cindy menatap kosong ke sebuah arah.

Mengikuti arah pandangannya, tampak sesosok gelap yang dikawal pergi oleh kerumunan orang. Auranya yang menyeramkan tampak sangat mencolok di tengah keramaian bandara.

"Kak Cindy, kamu kenal dia?"

Cindy menyadari tatapan Nancy, dan menariknya pergi. "Jangan dilihat lagi. Aku nggak kenal. Mobil sudah datang. Ayo pergi."

...

Satu jam kemudian.

Nancy berdiri di luar gerbang kediaman Jinora. Saat menatap taman yang tertata indah di dalamnya, ada beberapa gambaran jauh terlintas di benaknya.

Sosoknya yang masih kecil duduk di pundak ayahnya sambil memetik buah dari pohon buah yang ditanam ibunya.

Kemudian.

Ketika perselingkuhan ayahnya terungkap, ayahnya mulai membenci ibunya, dan juga membenci dirinya.

Hukuman paling ringan adalah dimarahi, dan hukuman paling parah adalah menggunakan kekerasan.

Dia tidak mengerti bagaimana dua orang yang dulunya saling mendukung bisa berakhir seperti ini.

Tepat saat itu, pelayan membuka pintu.

"Nona sudah datang. Pak Arman sudah menunggu Nona."

"Hm."

Nancy mengikuti pelayan melewati gerbang, di mana pohon-pohon buah di taman telah digantikan dengan bunga-bunga halus yang disukai nyonya rumah.

Semuanya telah berubah.

Ketika memasuki ruang tamu, Arman Jinora hanya melirik Nancy, dengan sorot mata yang dipenuhi rasa jijik.

"Beberapa tahun ini telah membuatmu mewarisi penampilan lusuh ibumu. Pantas saja kamu sama sekali nggak berubah meskipun telah keluar selama tiga tahun."

Ayah dan anak perempuan itu sudah lima tahun tidak bertemu, tetapi mereka bahkan tidak saling menyapa saat bertemu, dan kata-kata pertama mereka penuh dengan rasa jijik.

Namun, ayahnya sepertinya lupa dengan siapa yang membantunya berhemat ketika dia baru saja merintis bisnisnya.

Nancy mengepalkan tinjunya dan membalas dengan tegas, "Karena kamu begitu murah hati, mengapa kamu nggak melunasi tunjangan anak yang kamu utang selama sepuluh tahun terakhir ini?"

"Kamu! Beraninya kamu bicara seperti itu padaku! Apa kamu ingin memberontak!"

Arman berdiri. Jari-jarinya yang terulur itu seolah ingin menusuk wajah Nancy.

Namun detik berikutnya, dia tertawa sinis.

Lalu, terdengar bunyi gemerincing di luar pintu, dan seekor hewan peliharaan berwarna putih berlari masuk.

Itu adalah anjing peliharaan wanita itu.

Nancy menatap anjing itu dan langsung mengenali liontin giok yang tergantung di lehernya.

Itu adalah jimat pusaka keluarga milik ibunya.

Meski bukan terbuat dari giok terbaik, itu tetaplah barang antik. Itu adalah kenang-kenangan yang secara pribadi dipasangkan di leher ibunya oleh kakek dan nenek dari pihak ibunya.

Bahkan di masa-masa paling sulit sekalipun, dia dan ibunya tidak pernah mempertimbangkan untuk menjual batu giok itu.

Sekarang benda itu justru telah menjadi aksesori anjing.

Mendengar suara itu, Arman langsung membuat bunyi decapan bibir di depan Nancy.

Anjing itu mengibas-ngibaskan ekornya, melompat, dan berputar mengelilinginya. Sementara giok itu bergoyang maju mundur.

Diliputi rasa malu dan terhina, Nancy dengan marah menyerang anjing itu, tetapi dia malah ditangkap oleh para pengawal di belakangnya dan dipaksa berlutut di lantai yang dingin.

Dia berusaha meronta-ronta. "Lepaskan aku! Di mana ibuku? Apa yang kamu lakukan pada ibuku?"

Arman menatapnya. "Ibumu pingsan karena kelelahan. Dia didiagnosis menderita masalah hati dan ginjal. Aku sudah mengirimnya untuk berobat. Kalau kamu ingin dia pulang dengan selamat, itu tergantung pada pilihanmu."

"Apa maksudmu?" Nancy memiliki firasat buruk.

"Kalau kamu nggak mau menikah dan menjadi menantu Keluarga Tanadi, kamu harus pergi ke Keluarga Morgan untuk menjaga Tuan Winson."

Arman menawarkan dua pilihan.

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ

ถึงผู้อ่าน

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

ไม่มีความคิดเห็น
50
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status