Too Late to Want Me; I chose your Billionaire Brother

Too Late to Want Me; I chose your Billionaire Brother

last updateLast Updated : 2025-10-31
By:  EdenCompleted
Language: English
goodnovel16goodnovel
10
1 rating. 1 review
212Chapters
1.6Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

It’s been a stormy three weeks for Benita Dawson. It all started when Gaby fell ill, then it took the most unexpected turn. The truth behind her marriage of ten years unraveled! Benita Dawson wasn’t loved, she was being used. She had chosen him against her father’s wishes, only to uncover that she was just being used? They were the dream couple in college. For them, the word “college sweethearts” was formed. Was it all a lie? When Benita discovers the truth, she will stop at nothing to bring him down. With his billionaire brother by her side of course. Cilian Dawson is finally out of prison. He has vowed to take down his enemy, the one who put him there. “I’m not just taking back what’s mine— I’m taking everything he’s values. The company. His status. His perfect little wife. One by one, I’ll strip him bare. And you’ll be the first thing he loses.”

View More

Chapter 1

Day of Despair

"Jadi karena ini kau memutuskanku?”

Lean Marquise melemparkan tatapan tajam dan kalimat sinisnya pada lelaki yang kini tengah berdiri di samping wanita lain yang tak lain adalah sahabatnya.

Sore tadi, lelaki yang masih sebagai tunangan Lean itu menghubungi ayah Lean dan memutuskan pertalian itu tanpa sebab. Namun, melihat pemandangan di hadapannya, kini ia tahu mengapa lelaki itu membuangnya.

"Kau tidak berhak menyalahkan orang lain, Lean." 

Lelaki itu tampak tidak senang atas ucapan Lean tadi, sementara sang wanita yang berdiri di sampingnya terus menatap Lean dengan wajah gusar.

"Seharusnya kau sadar diri, Lean Marquiese! Kau sudah tahu, 'kan kalau kekasihku ini sama sekali tidak suka padamu?" Wanita itu kini turut angkat bicara.

Mendengar kata ‘kekasih’ meluncur enteng dari mulut mantan sahabatnya membuat dengusan keluar secara spontan di bibir Lean.

"Oh? Benarkah?" katanya sembari tersenyum miring. "Bukankah sudah jelas karena kau yang telah menggodanya?" sela Lean.

"Itu karena salahmu!" tuding wanita itu tak mau kalah, lalu menoleh ke arah kekasihnya. "Brad, tolong katakan sesuatu padanya, mengapa kau hanya diam saja melihat dia menghinaku?!" protesnya pada Brad.

Di hadapan Lean, Brad tampak menghela nafas. Lalu dengan arogan, mantan tunangannya itu berkata, "Bisakah kau tidak menyalahkan orang lain atas kelemahanmu, Lean?” Brad lalu memandang sekujur tubuh Lean dengan pandangan menilai. “Kau terlalu polos. Kau bahkan tidak pernah berdandan, dan tidak mau kusentuh. Kau juga terlalu sibuk.  Aku tidak ingin menikahi wanita membosankan sepertimu!” 

"Aku… membosankan?" jantung Lean berdegup penuh kemarahan ketika ia mendengar ucapan Brad itu. 

Sama sekali tidak pernah menduga bahwa alasan Brad memutuskan pertunangan mereka ternyata sangat klise. Apakah selama ini ia yang terlalu memandang tinggi Brad? Padahal pria itu hanyalah seorang pria biasa yang tidak bisa menjaga hatinya dengan baik.

Melihat keterkejutan di wajah Lean, Isla justru tersenyum penuh kemenangan. "Kau dengar, 'kan? Jika Brad sampai meninggalkanmu, itu karena kau memang pantas untuk ditinggalkan!"

Tak menunggu waktu, tangan Lean yang sedari tadi mengepal karena menahan emosinya itu lantas terayun ke atas.

Plakk!!

Satu tamparan keras mendarat ke pipi Isla. Beberapa tamu pesta bahkan sampai melirik, karena suara tamparan yang terdengar cukup nyaring.

“Kurang ajar!” 

Plakk!!

Tak terima kekasih barunya dipermalukan, Brad pun naik pitam dan membalas tamparan Lean.

Pipi Lean memerah, sejalan dengan air matanya yang mengembun, tak menyangka lelaki yang dulu dicintainya tega mengayunkan tangan padanya.

“Jangan pernah lagi menyentuh Isla!” ancam Brad, sementara bisik-bisik dari para tamu pesta mulai terdengar. “Berkacalah agar kau sadar kalau kau tidak pantas untukku!”

Hati Lean sudah teramat sakit. Diputuskan tanpa sebab, lalu mengetahui ia dikhianati oleh sahabatnya sendiri, hingga dipermalukan oleh mantan tunangannya … membuat Lean kini berani menatap Brad dengan tajam.

Tidak ada sepatah kata pun terucap dari Lean. Bahkan hingga Brad membawa pergi Isla dari hadapannya, Lean masih menatap penuh dendam ke arah mereka.

Tatapan Lean baru terputus saat suara seorang wanita terdengar khawatir menghampirinya.

"Lean? Apa kau baru saja bertengkar dengan Brad?”

Lean menghela nafas, lalu melemparkan pandangannya pada Eve, saudarinya. 

Dan, alih-alih menjawab pertanyaan Eve, Lean justru mengambil segelas whisky dari pelayan yang melintas di hadapannya dan menghabiskan minuman tersebut dalam satu kali tenggak.

Lean menatap frustrasi saudarinya. Ia juga meletakkan gelas whisky yang telah kosong dengan kasar.

"Oh? Jadi Kakak sudah tahu kalau dia akan datang?” cecarnya. “Bukankah Kakak yang menyuruhku datang ke sini untuk melupakan kesedihanku?!" protes Lean. 

“Dia … dia diundang bosku karena perusahaannya adalah klien kami.” Eve mencoba menjelaskan dengan wajah yang terlihat cemas.

Lean berdecak, lalu ketika seorang pelayan lewat di depannya, wanita itu memesan minuman di bawah tatapan Eve yang penuh waspada.

Setelah itu, barulah ia berkata lagi pada Eve, "Pergilah, Kak! Aku ingin sendiri. Kakak tidak perlu khawatir, aku janji tidak akan membuat keributan lagi.”

Tak lama setelah kepergian Eve, pelayan tadi kembali datang membawakan jus jeruk pesanannya. Perlahan, Lean menyesap minumannya yang terasa menyegarkan. Saking wanita itu menikmati minumannya, juga terlena akan pikirannya sendiri … ia tidak menyadari, jika dari kejauhan seorang wanita tengah tersenyum sinis manakala Lean meneguk jusnya.

Ketika minumannya tandas, Lean yang baru saja berniat meninggalkan lokasi pesta tiba-tiba merasakan keanehan di sekujur tubuhnya.

Napasnya seketika memburu, seiring suhu ruangan yang tiba-tiba terasa begitu panas hingga membuat keringatnya bercucuran.

"Mengapa sangat panas sekali di sini?" Dua tangan wanita itu mengusap peluh yang berjatuhan bahkan mengalir hingga lehernya yang jenjang.

Di tengah kebingungan itu, tak jauh dari hadapannya muncul dua orang pria asing. Tatapan haus, juga seringai menjijikkan yang dikeluarkan para pria itu membuat Lean semakin panik. Terlebih, saat dua pria itu mencoba meraih tubuhnya dari arah yang berlawanan.

"Siapa kalian?!" hardik Lean, mulai terpojok ke tembok dengan dua pria yang semakin menghimpit di kedua sisinya. Lean semakin gusar mana kala mereka mulai berani menyentuh lengannya. "Kalian ... apa yang ingin kalian lakukan padaku?"

Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, Lean berusaha memberontak. Namun sayang, semakin ia banyak bergerak tubuhnya justru semakin lemas dengan pandangan yang mulai kabur.

Tepat saat dua pria itu hendak membawanya, tiba-tiba suara bariton seorang pria terdengar menginterupsi, “Siapa kalian berani berbuat keributan di tempatku?!”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Kanny
Kanny
First to read… promising story ...
2025-05-15 20:18:32
1
0
212 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status