LOGINEver turned out to be that your Prince charming might not be whom or what you think he is? Chester Hunt is a reclusive billionaire with a devil-may-care attitude, living a double life as a coffee shop owner, so as to get away from under the control of his over bearing grand father. But there are more than just a few secrets wrapped around the family as a killer is linked to the chaos, and when the bodies start turning up, detective Tia is assigned to the case but then all evidence begin to point to the Hunt family and the reclusive billionaire whose double personality she has begun to fall in love with. The deeper they go into the case, the more they uncover. Will she ever discovered the lie? Will her emotions take over her duties? Who is the killer and what is the real face if Chester Hunt? This is love and war, if business and secrets and an age long grudge as the killer seems to be within this influential circle. Who is out to get who?
View More"500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!"
Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar. Sementara Maudy, sang CEO yang merupakan bos di tempat Bayu bekerja, hanya bisa diam tertunduk melihat perilaku suaminya. “Ini… apa… maksudnya Pak Rio?” tanya Bayu ingin memperjelas maksud dari suami bosnya tersebut. “Kurang jelas? Uang dalam cek ini akan menjadi milikmu, jika kamu bisa menghamili istriku! Kamu punya tubuh yang bugar dan atletis, aku yakin benihmu juga bagus. Tapi, jangan sekali kali kamu berani buka mulut soal ini!” tegas Rio. Beberapa hari lalu, di sebuah rumah sakit, Rio dan Maudy terpaksa harus melakukan test kesuburan organ reproduksi mereka. Bukan tanpa sebab semua itu dilakukan, karena sudah hampir tiga tahun mereka menikah, tetapi belum juga memiliki keturunan. Awalnya Rio menolak hal tersebut, karena sebagai pria harga dirinya akan runtuh jika diketahui mandul. Apalagi, selama ini Rio juga punya masalah dengan organ reproduksinya yang tidak bisa tahan lama, sehingga Maudy sempat mengira bahwa suaminya yang bermasalah. Pada akhirnya Rio menyetujui pemeriksaan itu, tetapi dia memilih untuk berangkat sendiri tanpa Maudy. Karena Rio hanya ingin mendengar hasil pemeriksaan seorang diri. "Saya sudah meninjau hasilnya berulang kali, Pak Rio, dan hasilnya sama. Kondisi ini... bersifat permanen. Secara medis, Anda tidak akan bisa memiliki keturunan," terang Sang Dokter tanpa ada keraguan akan hasil tersebut. Dunia di sekitar Rio seolah berhenti berputar. Kalimat itu menghantam dadanya, menyisakan sesak yang luar biasa. Namun, di balik rasa syok yang melumpuhkan, ada ketakutan lain yang jauh lebih dingin merayap di benaknya. "Permanen? Maksud Dokter, benar-benar tidak ada peluang untuk sembuh? Dengan cara Operasi misalnya? Atau terapi hormon?" tanya Rio untuk meyakinkan dirinya sendiri. Dokter Gunawan menggeleng perlahan. "Maafkan saya. Kerusakannya sudah terlalu sistemik," jelas Sang Dokter. Rio menyandarkan punggungnya, menatap kosong ke langit-langit ruangan. “Mampus aku!” batinnya berteriak. Bayangan wajah Ayahnya yang kaku dan penuh tuntutan langsung melintas. Ayahnya menuntut keturunan sebagai penerus bisnisnya. Rio meratap. Tanpa seorang anak, dia tidak mendapat hak apapun atas semua perushaan dan rumah mewah itu. Semua fasilitas mewah, mobil sport, dan posisi owner yang hampir digenggamnya kini terasa menguap begitu saja. Rio tidak bisa tinggal diam, dia harus mencari cara agar dia dan Maudy punya anak. Apapun caranya, Maudy harus hamil. Sehingga muncul rencana jahat di otaknya dengan menyewa laki laki untuk menghamili istrinya, yang nantinya akan dia akui sebagai anak kandungnya. Dan Bayu, adalah laki laki sial yang menerima tawaran itu. Bayu pun terdiam usai mendengar perintah konyol itu. Itu bukanlah perintah yang mudah diterima begitu saja. Tapi saat mendengar nominal uang lima ratus juta, mendadak dia teringat pada Ibunya. “Ibu butuh uang ini, tapi…. Tugas ini terlalu konyol!” gumam Bayu di dalam hati. Satu minggu yang lalu Ibunya Bayu terbaring di rumah sakit dengan diagnosa gagal ginjal. Untuk kesembuhannya, perlu dilakukan transplantasi ginjal yang tentunya membutuhkan biaya yang besar. Bayu hampir frustasi mencari biaya operasi senilai 125 juta, bahkan sudah menyerah dan mempersiapkan diri jika harus kehilangan Ibunya. Akan tetapi, mendadak ada yang menawarkan dirinya tugas dengan upah yang besar. Bahkan tugasnya bisa dibilang sebuah kenikmatan dunia. “Menghamili Bu Maudy? Bahkan dalam mimpi pun aku tidak berani membayangkan lekuk tubuhnya, dan sekarang aku malah nyata nyata dibayar untuk menghamilinya? Apa aku sedang beemimpi?” gumam Bayu di dalam hati sambil menepuk pelan pipinya untuk meyakinkan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi. Sementara itu, Rio bukan tipe orang yang mau menunggu. Dia juga bukan sedang memberikan Bayu tawaran, melainkan sebuah perintah mutlak yang tidak bisa ditolak. “Terima atau angkat kaki dari perusahaan ini. Dan nama kamu telah diblacklist dimana pun. Tidak ada instansi yang bersedia menerima kamu!” gertak Rio, dan seketika membuat Bayu terpaksa menyetujuinya. Selain karena digertak, dia juga memang butuh uang itu. “Ba..baik Pak Rio. Sayaaaa… saya akan menerima tugas ini,” jawab Bayu dengan terbata bata. Setelah memberikan jawaban pada Rio, otak Bayu berkelana. "Main sama Bu Maudy? Kira kira seperti apa ya rasanya? Dari luar aja tubuhnya kelihatan putih dan mulus, gimana kalau dilihat dari dalam? Apalagi bayangin kalau dia sedang bergoyang diatas ku? Huuuuh, pasti seruuuu!" celetuk Bayu di dalam hati. Otak mesumnya sudah membayangkan seperti apa aksi Maudy di ranjang. Rio tersenyum lega mendengar jawaban Bayu. Sungguh berbeda dengan raut wajah Maudy tertunduk lesu. Masih belum bisa dia terima keputusan suaminya yang nekat menyewa laki laki untuk menghamilinya. Apalagi laki laki yang dia pilih adalah seorang OB. Sejenak Maudy mengangkat pandangannya, lalu sekilas memperhatikan penampilan Bayu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dan sialnya, saat pandangan Maudy tepat di wajah Bayu, pandangan keduanya tepat bertemu. Maudy segera membuang pandangan, sementara Bayu kembali menundukkan kepala. Tetapi, OB beruntung itu masih menyimpan sejuta pertanyaan di otaknya. “Kenapa pandangan Bu Maudy padaku berbeda dari sebelumnya? Apa, jangan jangan dia sudah mulai tergoda denganku? Karena kan sebenarnya aku ini lebih ganteng dari pada suaminya, badanku juga lebih berotot dari pada Pak Rio yang kerempeng. Bisa jadi itunya juga kecil…” Bayu terkekeh membayangkan isi otaknya yang liar. Bahkan dia masih melanjutkan pikiran konyolnya itu “Setelah melihat fisik ku, pasti Bu Maudy sudah membayangkan aksi hebatku di ranjang. Sayangnya aja nasibku buruk harus pakai seragam OB ini. Coba kalau aku pakai jas dan sepatu kayak Pak Rio, pasti semua wanita tergila gila padaku.. Hahahahhahahah!” Bayu makin berbangga diri dengan fisiknya. Akan tetapi dengan cepat dia membuyarkan lamunannya itu agar tidak menimbulkan masalah dengan bosnya. Meski dia tergoda dengan tubuh Maudy, tetapi dia tetap harus sadar diri dan menghormati bosnya tersebut. Dan sebelum dia meninggalkan ruangan, Bayu menanyakan sesuatu kepada bosnya. “Maaf Pak Rio, apa saya boleh menanyakan sesuatu? “Katakan,” “Di dalam tugas ini, apa ada aturan tertentu yang boleh dikerjakan dan yang tidak boleh dilanggar?” “Maksud kamu?” Rio balik bertanya dengan kening mengerut. “Emm, maksud saya. Apakah dalam melaksanakan tugas nanti, saya boleh memakai banyak gaya dengan durasi yang lama?” tanya Bayu dengan pelan dan sedikit ragu. Dan hal itu seketika membuat Rio dan Maudy membulatkan kedua bola mata mereka ke arah Bayu. Di satu sisi Maudy terkejut dengan kata kata Bayu. “Banyak gaya dan durasi lama”. Karena selama ini Maudy belum pernah merasakannya bersama dengan Rio. Sementara Rio sendiri, dia merasa tersindir dengan pertanyaan itu karena belum sampai mencoba banyak gaya, dia sudah tumpah duluan. “Jangan macam macam! Tugasmu hanya membuat istri saya hamil, jangan pikirkan hal lain!” bentak Rio sembari menggebrak meja di depannya hingga membuat Bayu gemetar. Tetapi dengan polosnya dia masih lanjut bertanya. “Maaf Pak Rio jika pertanyaan saya tadi lancang. Tapi jujur, saya tadi serius bertanya. Dalam melaksanakan tugas saya nanti, saya boleh pakai gaya apa saja? Takutnya, saya lancang dan tidak sopan.” Rio menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Sebisa mungkin dia menahan diri. Dia tidak tau apakah Bayu benar benar bertanya atau sedang menyindirnya. “Kurang ajaarr! Anak ini kayaknya sengaja nyindir aku. Tapi nggak mungkin. Mungkin dia memang benar benar bertanya. Lagian soal ini kan hanya aku dan Maudy yang tahu. OB ini nggak mungkin tau kalau aku gak tahan lama dan gak bisa banyak gaya!”Monday, the 16th of May.01:12 pmThe pain was minimal but he felt it, it was the first thing he felt when his eyes opened because it throbbed, and so did his head. It was a little too bright in here so he could only open his eyes slowly until they could adjust to the brightness. He took in a deep breath, enjoying the flow of air through his lungs but what he did not like was the smell that flowed with it, it smelled of drugs and medicine. He moved his arm and only then did he realize that somebody’s head was resting on it, he turned his head and the person lifted hers, he was surprised seeing her there beside him but he was also happy. He smiled.“Chester,” She said, standing up close beside him and holding on to his hand. “Are you alright? Feeling much better?”“Tia, you’re here?” He wanted to sit up but she held him down to the bed, he winced.“You’re hurt, stay, don’t move.&rdquo
Saturday 14th of May02:02 pm.Chester did not look surprised at all by what Aiden had just revealed, although he had not known it before hand but he had made a guess, there were only two boys in the Hunt family; himself and Michael, so it was not that difficult to figure it out, but he story behind that, behind how Michael had come to live with them was a surprise no doubt, and he wondered if Michael already knew about it.Aiden got up and walked towards Daniel. “Well now that you all know the story and the reason I had to do this,” He turned directly to Tia who stood rooted to the ground in utter disbelief. He smiled. “You cannot leave this house alive, I’m afraid none of you will.”“Aiden,” Tia called him with a shaky voice. “My… my daughter Aiden… she’s only a child…”He waved a hand in the air to stop her. “I had no intentions to hurt her and I was not the o
Saturday 14th of May12:52 pm.The tension in the room weighed down on all of them, most of all Chester, who was on the ground with his grand father in his arms, he was pained and he was angry, the surprise of seeing the detective Aiden come into the room in support of Daniel who had shot his grand father, had vanished from his eyes, in its place was anger. Raw, mad anger and he was struggling to contain it. His eyes never left the detective as both of them glared at each other. More than anything, Chester wanted to storm over to him and rip his heart out and then he would deal with Daniel later.“You both look surprised.” Aiden said with a chuckle, glancing over at Tia who stared at him like she wanted to put a bullet in the middle of his head. “I know it is a lot to take in.”“Why are you doing this Aiden? You are a police detective.” Tia said.“This is the only reason I had become a detective Tia,
Saturday 14th of May12:12 pmThe ward was empty, the crumpled sheets suggested that she might have not been gone for so long but the fact was that she was not here and even the nurses did they know where she had gone to, and neither did they know when she had left the hospital. All her items were gone; the gun, her badge and her phone, Aiden was furious, how could a patient have left the hospital without anyone taking notice of it? But he did not bother to remain in the hospital after that, what was the use? She was not here.As he drove back to the station, he reasoned to dial her number, he needed to know where she must have gone to and what would have made her leave the hospital, she was still hurt and needed care and rest and it worried him. Maybe she had gone back to the station to talk with Chester to ask for her daughter’s whereabouts, she was a mother after all and if that was the reason she had left then it would make total sense, he understood t
Friday, the 13th of May 07:43am. He knew what time they would be leaving the house, he had studied them, taking his time to map out their schedules and time. He also knew what time the bus left the station there to get here and he had been right on time. He saw the bus pull up
Friday, the 13th of May 04:06am. The CCTV footage had come to them even earlier than they had thought that it would and Tia could not be any happier, it was the CCTV footage from Wagner park, the particular footage showing the entrance of the park where they had seen the tire
Friday, the 13thof May.12:22amNight time was always fun because it was as mysterious as it was thrilling, you just never could tell what night pop out of the corner but tonight, he knew what would be popping out of the corner; he was, bringing with him yet another victim
Saturday, 14th of May 07:46 am. It was much too early for a face off and maybe a little bit too early to be angry but Chester could not care less, he was angry, he was upset, he was boiling, he was fuming and he could not keep calm. Not any more. Yesterday, Tia had been attacked and
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews