INICIAR SESIÓNLa amabilidad de Gaby Duarte la llevara a involucrarse en problemas que se salen de sus manos, con el corazón roto por la traición de su mejor amiga y su prometido, ella se embarcará en un viaje para encontrarse a si misma, y tal vez para encontrar al hombre que de verdad la merezca.
Ver másSayup-sayup Wilona mulai membuka mata. “Ssst … aw,” desis Wilona sembari memegang kepalanya yang terasa sangat berat, pemandangannya juga berkunang-kunang.
Ceklek. “Kak Ona sudah sadar?” Terdengar suara seorang wanita yang sangat tidak asing ditelinga Wilona, baru saja membuka pintu. Wanita itu pun segera berjalan ke arah Wilona dengan antusias, juga dengan senyum yang merekah. Meskipun pandangan Wilona masih sedikit kabur, tapi dia tahu betul siapa gerangan wanita yang menghampirinya saat ini. “Kak Wilona sudah sadar?” tanya wanita itu lagi sembari memegang telapak tangan Wilona. Plak! Bruk! Dengan kepala yang masih terasa sangat berat dan pandangan tidak jelas, Wilona bangun dari tidurnya serta menampar wanita tersebut dengan kekuatan penuh, hingga dia tersungkur di bawah ranjang. “Aw, apa yang Kakak lakukan?” jerit wanita itu. “Pergi kamu! Pergi … ! Wilona berteriak sekencang-kencangnya. “Kak Ona, ini aku Rosa.” Wanita itu mencoba menenangkan Wilona sembari berusaha berdiri. “Pergi!” “Pergi!” “Dasar wanita licik!” Bugh. Wilona terus berteriak sembari melemparkan bantal dan benda lain yang ada di dekatnya ke arah wanita tersebut. “Pergi!” “Pergi!” Krak! Hingga akhirnya, jarum infus yang tengah menancap di punggung tangan Wilona pun terlepas, tentu saja hal itu menyebabkan tangan Wilona berdarah. “Kak, hentikan kak, ini aku.” Rosa terus berusaha menyadarkan Wilona yang nampak seperti orang kesurupan tersebut. “Pergi kamu!” “Jangan pernah menunjukkan wajahmu di hadapanku lagi!” “PERGI …. ! BRAAAK. “Ada apa ini?” Seorang wanita paruh baya masuk ke ruangan Wilona dengan tergopoh. “Pergi!” “Pergi!” Sementara Wilona masih terus menjadi-jadi. Wanita paruh baya tersebut pun segera memegang pundak Rosa dan membawanya melangkah mundur. “Ibu, tenang bu, ada apa ini?” “Raka.” Seorang anak laki-laki juga masuk ke ruangan tersebut tanpa diketahui. “Raka, kenapa kamu nampak berbeda?” Wilona mulai memelankan suaranya sembari terus menatap Raka, dia mencoba mengusap matanya beberapa kali, agar penglihatannya bisa lebih jelas. Sedangkan Raka tidak memperdulikan pandangan Wilona yang nampak keheranan, dia segera menyambar tisu yang ada di atas nakas, kemudian menekan luka di punggung tangan Wilona yang terus mengeluarkan darah. “Ibu, Ibu sudah sadar?” “Kenapa Ibu terus berteriak?” tanya Raka dengan terus fokus pada luka Wilona. “Itu Dok, Ibu sudah sadar, tolong diperiksa.” Seketika Wilona mengalihkan pandangannya pada sumber suara. “Rani?” gumam Wilona. Dokter dan Rani pun segera menghampiri Wilona. “Rani, kenapa kamu nampak seperti beberapa tahun yang lalu?” gumam Wilona yang suaranya masih bisa didengar oleh beberapa orang yang ada di dekatnya. “Ibu, apa yang ibu katakan? Kenapa Ibu terus berteriak?” tanya Rani. “Apa aku sedang mimpi?” gumam Wilona lagi, tanpa menjawab pertanyaan semua orang yang terus penasaran dengan teriakan Wilona. “Tidak bu, Ibu tidak bermimpi, hanya saja Ibu baru sadar setelah pingsan beberapa hari,” terang dokter sembari membalut luka di punggung tangan Wilona. “Pingsan?” tanya Wilona yang semakin keheranan. “Iya bu, kami berdua menemukan ibu tergeletak di bawah wastafel kamar mandi,” ucap Raka sembari menatap Rani sejenak. “Sepertinya Ibu sedang kelelahan hingga pingsan di sana, karena dokter tidak menemukan adanya bekas kekerasan ataupun luka,” sahut Rani. “Benarkah seperti itu?” tanya Wilona sembari menatap Dokter. “Iya bu, Ibu hanya kelelahan dan juga anemia,” jelas Dokter. “Anemia? Ya, aku memang kerap punya penyakit darah rendah, dan itu akan semakin memburuk jika aku tidak makan dengan baik serta kelelahan,” gumam Wilona dalam hati. “Beruntung dua anak ini segera membawa ibu ke rumah sakit,” ucap dokter sembari tersenyum setelah membalut luka dan memasang infus kembali dengan jarum yang baru, di tangan sebelah kanan. “Eh, tunggu dulu Dok, apa paru-paru ku baik-baik saja? Mungkin saja paru-paruku kemasukan banyak air,” ucap Wilona. “Tidak ada bu, anda hanya kelelahan saja, kami sudah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh,” terang Dokter. “Sekarang apa ada yang ibu keluhkan?” tanya dokter tersebut. “Hanya kepala saya sangat berat dok,” jawab Wilona. “Itu wajar, karena Ibu telah pingsan beberapa hari dan memaksa untuk duduk, sebaiknya Ibu berbaring dulu untuk memulihkan tenaga,” ucap dokter tersebut yang kemudian pergi meninggalkan ruangan. “Dasar wanita gila!” “Sudah sakit-sakitan, gak bisa kasih keturunan, bisanya nyusahin saja!” “Beruntung Rosa masih mau rawat kamu!” umpat wanita paruh baya yang tadi masuk ke ruangan dengan tergopoh. Wanita paruh baya itu merupakan Ibu mertua Wilona. “Merawat? Wanita gila itu mau merawatku? Bukankah aku berada di sini karena ulahnya?” monolog Wilona dalam hati. “Lebih baik Bram menikah dengan Rosa saja, dari pada dengan kamu yang selalu membawa sial buat keluarga!” “Ayo Rosa, kita keluar saja, biarkan dia, tidak usah kamu rawat lagi!” ucap Mama Arina, beliau merangkul pundak Rosa dan berjalan keluar ruangan. “Hah, bukankah Mas Bram dan Rosa memang sudah menikah?” monolog Wilona dalam hati yang semakin kebingungan. “Sabar ya Bu,” ucap Rani sembari mengelus pundak Wilona, yang juga seketika menyadarkan Wilona dari lamunannya. “Raka, Rani, anak-anak yang selalu aku sia-siakan dan tidak pernah aku perhatikan, tapi mereka berdua terus merawatku dengan baik, juga sangat perhatian padaku,” monolog Wilona dalam hati lagi sembari memandang Raka dan Rani secara bergantian. Tes. Hingga tidak terasa, butiran air matanya tiba-tiba saja terjatuh. “Ibu, apa Ibu sedang kesakitan?” tanya Raka sembari memegang tangan Wilona yang tadi terluka. Wilona pun hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan. “Ah, benar!” “Apa aku bisa meminjam handphone?” tanya Wilona yang lagi-lagi memaksa duduk meskipun kepalanya masih terasa berat. “Handphone?” tanya Raka. “Iya, pinjam handphone kalian,” ucap Wilona lagi. “Kami mana punya handphone bu,” sahut Rani. “Bukankah aku sudah membelikan kalian handphone tempo hari,” ucap Wilona. “Kapan Ibu membelikan handphone untuk kami?” tanya Raka sembari mengerutkan keningnya. “Ibu lebih baik istirahat dulu,” ucap Rani. Ceklek. “Sayang, apa kamu baik-baik saja?” “Mas Bram,” ucap Wilona sembari berhambur ke pelukan Bramasta, yang secepat kilat sudah berada di pinggir ranjang. “Maaf, karena aku sudah mengganggu Bapak saat bekerja,” ucap Rani lirih sembari menundukkan kepalanya. “Tidak apa, kamu melakukan hal yang benar,” ucap Bramasta. “Kamu tadi menelepon Mas Bram?” tanya Wilona sembari menatap ke arah Rani, tanpa melepas pelukannya. “Iya bu, maaf,” ucap Rani dengan terus tertunduk, seakan merasa takut dan juga bersalah. “Katanya tadi kamu gak punya handphone?” tanya Wilona dengan tatapan penuh menyelidik. “Aku tadi menggunakan telepon rumah sakit,” jawab Rani. “Mereka berdua kan memang tidak punya handphone sayang, tapi mereka hafal dengan nomor telepon kita,” jelas Bramasta yang seketika membuat Wilona melepaskan pelukannya. “Iyakah? Bukankah aku sudah membelikan handphone pada mereka berdua?” tanya Wilona dengan sangat penasaran. “Membelikan mereka berdua handphone? Sejak kapan kamu perhatian dengan mereka berdua, hmm?” tanya Bramasta yang semakin membuat Wilona sangat kebingungan. “Kenapa? Apa ada yang salah dari ucapanku?” tanya Bramasta setelah melihat ekspresi istrinya yang sangat kebingungan. “Kenapa semua kejadian hari ini sangat aneh?” monolog Wilona dalam hati. “Kalau begitu, aku pinjam handphone kamu,” ucap Wilona yang langsung dituruti oleh Bramasta, karena memang tidak ada hal apapun yang disembunyikan oleh Bramasta, maka dari itu dia tidak keberatan untuk meminjamkan handphonenya. “Sayang … Apa kamu salah set tanggal?” “Kenapa tahun 2021?” tanya Wilona dengan terus melihat layar ponsel Bramasta. “Ya memang sekarang tahun 2021 sayang,” jawab Bramasta sembari duduk di sebelah ranjang, sedangkan Rani mengambil botol air mineral untuk diberikan pada Bramasta. “2021? Bukakah sekarang tahun 2025?” tanya Wilona. Tujuan Wilona meminjam handphone memang untuk melihat tanggal hari itu. “Sayang, apa kamu pikir kamu berasal dari masa depan?” tanya Bramasta yang membuat Raka dan Rani tersenyum tipis. Wilona segera membuka aplikasi kalender, dan hasilnya masih sama, yaitu menunjukkan tahun 2021. “Ibu, apa Ibu masih belum sadar sepenuhnya? Sekarang memang tahun 2021 bu,” ucap Raka sembari menunjukkan kalender yang ada di atas nakas. Dengan segera, Wilona menyambar kalender tersebut dan membalik setiap lembar, tapi yang dia dapat hanya angka 2021, tidak ada angka 2025 di sana. “Ssst …” Wilona mendesis sembari memegang kepalanya yang semakin berat. Lambat laun pandangannya kabur dan semakin lama semakin gelap. Tap. Bugh. “Ibu … ” “Sayang … ” Wilona sudah tidak bisa melihat apapun lagi, hanya suara Bramasta, Raka dan Rani yang masih terdengar, mereka terdengar kebingungan dan juga panik memanggil dokter, tapi suara-suara itu pun semakin lama juga tidak terdengar lagi oleh Wilona.Mire dormir a Jay, se veían tan inocente, bastardo! Le di un golpe en el brazo y el se levantó de inmediato- Que paso?-Me preguntó, se veía bastante alerta.- Nada! Simplemente no puedo soportar verte tan tranquilo! –El me sonrió- De verdad te vas a enojar por eso? Olvidemoslo! Ven y dame un beso –Yo lo fulmine con la mirada y me acosté dándole la espalda, senti la mano de Jay acariciándo mi vientre.- Cómo sigas voy a partirte un dedo, y hablo enserio!-Lo amenace, el se rió y quito la mano inmediatamente.- Eres tan malvada! Yo solo quiero estar con mi esposa, dame amor Gabriela! –Yo me di media vuelta- Una patada es lo que he mereces! Tengo rabia contigo!-El me acerco, y me dio un beso en la cabeza.- Te invito a una cena, solo los dos, quiero disfrutar de tu compañía –Yo me mordí el labio inferior y asenti.*Era domingo, Jay había mandado a las niñas con Tony, según el, iba a consentirme en lo que yo quisiera! En estos momentos es cuando me recriminó no ser una chica que
83Hoy fui a la entrevista de trabajo, estaba nerviosa esperando mi turno, ya que habían varias personas más, tenía el corazón en la garganta! Quería ser más que perfecta.El celular sonó, era un mensaje de Jay.“ Ánimo amor! Tu eres la mejor “Sonreí un poco y guarde el celular de inmediato, mi turno llegó yo me levanté y entre a la oficina. NMe presenté, el señor fue muy amable, hablamos de todo un poco, la verdad me sentía bastante relajada ahora, estaba segura que iba a ser elegida entre los candidatos, seguimos hablando por un par de minutos más hasta que la entrevista acabo.- Muchas gracias –Le dije al señor y me despedí, salí del lugar más feliz que nunca, puede que no me quedé con el trabajo, pero este era un muy buen comienzo, si fracaso aquí, iré a tocar puertas a otro lado, iba a perseguir mi sueño, y lo iba a alcanzar!*Despues de la entrevista me fui a la cafetería, quería distraerme un poco.- Gaby –Me detuve en seco, era Eddy, y tenía en los brazos a un bebé rubio
82Cuando salimos de la boda, Jay y yo entramos de inmediato al coche, el se veía tan deprimente, yo no quería verlo así! el no merecía esto, Jay se había desvivido para cuidar de ella y darle una buena vida, era tan injusto!- Crees que ella se ha arrepentido de lo que nos hizo?-Me preguntó el viendo al frente, yo agarre su mano que la tenía en el volante y apreté, Susy nunca se iba a arrepentir de eso, pero no podía decirle esas cosas, necesitaba subirle el ánimo un poco. N- No lo sé, lo que si estoy segura es que ella es una tonta al no cuidarte, eres una gran persona, un hombre amoroso, es una lastima que ella no pudo valorar eso, pero si lo hizo, deberías considerar hablar con ella.Jay me sonrio, como odiaba este tipo de sonrisa en el, Jay se merecía el cielo, el era una muy buena persona! alguien que te ayudaría sin esperar algo a cambio.- Gracias Gabriela, eres la mejor mujer del mundo, no sabes cuánto te amo, no de si yo pudiera aguantar esto solo -Yo le sonreí un poco y
81Jay llegó con varias bolsas y las puso en la cama, yo estaba durmiendo a la niña.- que es eso?-le pregunté- Susy se casa pasado mañana, está es la ropa que nos pondremos -me dijo el- yo no iré al matrimonio de tu hermana, ella no me cae bien, y después de lo que te hizo, ahora me cae peor -esa mujer era una persona tan horrible! no entiendo cómo Jay quería ir a ese evento!- Gabriela! eres mi esposa o quieres que busque a alguien más para que me acompañe?-yo le tire una almohada- y entonces? solo vamos un rato y después regresamos, solo iremos a la recepción, quiero despedirme de ella -yo puse a la niña en la cama y camine a Jay- Jay, tienes que decirle a Tony, el merece saber por qué te vas a apartar de su hija -Jay me abrazo y me dió un beso- lo voy a pensar, pero por el momento solo quiero ir y despedirme, y quiero que tú estés conmigo-yo asenti y le di un beso en el pecho- ok! pero solo será por un momento, no quiero estar cerca de tu hermana por mucho tiempo, ell












Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.
reseñasMás