Catalog
14 Chapters
Chapter 10: Jessica Phantom
Jes melihat-lihat isi sekolah yang kelewatan luas ini. Ia berkali-kali mengitari bagian belakang sekolah tapi tidak menemukan apa yang ia cari, Jes duduk di bangku taman jauh dari gedung kelas. Sedetik kemudian ponselnya berdering, ada nama yang sangat ia kenal tertera disana. “Halo” kata Jes pelan. “Kau dimana?” tanya seorang lelaki bersuara berat dari seberang telepon. “Aku di taman” jawab Jes singkat. “Cepatlah kemari, aku memintanya menjemputmu” kata lelaki itu. “Baiklah, aku sudah bertemu dengannya” jawab Jes saat melihat seorang lelaki bertubuh kekar berdiri dan bersandar di gedung samping taman. Lelaki bertubuh kekar itu memberikan isyarat pada Jes untuk mengikutinya, Jes hanya mengangguk dan berjalan mengikuti langkah lelaki tegap itu. Tiba di depan tempat yang dia maksud, lelaki itu membukakan pintu untuk Jes. “Masuklah, mereka sudah lama menunggumu” ucap lelaki berwajah tampan tapi menyeramkan itu. Saat Jes masuk dalam tempat paling di takuti oleh muri
Read more
Chapter 11: Pentas Dream Boy
Suasana sekolah siang ini begitu riuh, sekolah yang harusnya bubar sejak satu jam yang lalu kini disulap menjadi tempat pentas untuk menghibur para siswanya. Kebanyakan mereka tidak langsung pulang melainkan melihat pertunjukan band favorit mereka, riuh suara siswa dari kelas satu hingga kelas tiga terdengar memanggil-manggil nama anggota Dream Boy. “Dream Boy! Dream Boy! Dream Boy!” teriak mereka makin riuh. “Halo semuanya, selamat siang. Untuk memeriahkan acara orientasi siswa tadi pagi, maka kami akan mempersembahkan penampilan dari anggota band paling bersinar, Dream Boy” teriak sang MC memanggil anggota band. “Are you ready guys?” tanya Daniel sang vokalis utama di belakang panggung. “Yeah, always be” jawab Steven, Franklin, Nicolas dan Leo bersamaan. “Rose, kalian sudah siap?” tanya Frans meyakinkan. “Iya, kami selalu siap mendampingi kalian” jawab Rose mantap dan di setuji oleh anggukan Vic, Shella dan Robbin juga rekan tim kesehatan lainnya. “Rose, aku akan
Read more
Chapter 12: Tradisi Persahabatan
Di hari sabtu yang cerah, Rose berkali-kali melihat di depan cermin di kamarnya, gadis cantik itu tak henti membetulkan pakaian berenda khas remaja yang ia kenakan. Sedangkan Vic yang berada di atas tempat tidur yang sedari tadi terlihat sibuk melihat ponselnya kini mulai penasaran dengan tingkah Rose, matanya melihat ke arah sahabat baiknya itu. “Rose, kamu mau kemana dari padi aku perhatikan kamu dandan melulu?” tanya Vic penasaran. “Leo dan Nico memintaku untuk menemani mereka melihat kafe di cabang baru milik ayahnya Steven” jawab Rose. “Oh ya? Tumben kamu menerima ajakan mereka? Biasanya kamu kan tidak mau jalan kalau bukan dengan Daniel” tanya Vic memojokkan Rose, sebenarnya Vic hanya berniat menggoda Rose saja. “Aah iya, sekali-kali aku juga ingin pergi dengan yang lain. Temanku kan bukan hanya Daniel saja” kata Rose bohong, sebenarnya ia juga tidak enak dengan yang lain karena hanya mau jalan dengan Daniel sang lelaki pujaan saja. Ting.. Satu pesan masuk ke da
Read more
Chapter 13: Kue Mematikan
   Senin pagi yang cerah, hawa sejuk terasa sangat nyaman di seluruh kulit dan tubuh Rose. Baginya ini adalah pagi yang indah seperti biasanya, tidak ada kesukaran, tidak ada kebimbangan, semua hal menjadi indah di mata cantiknya.   "Selamat pagi, kamu" ucap Rose pelan sambil menatap foto seorang lelaki tampan di meja belajarnya.   Ucapan selamat pagi yang selalu ia sampaikan pada seseorang yang jauh disana tanpa disadari oleh sang pujaan hati, melihat wajah dan senyumnya saja sudah cukup bagi Rose.   "Uuugh.." erang Vic yang tidur di bednya, hari sudah pagi tapi Vic masih setia memejamkan matanya.   Biasanya, Rose yang bangun paling pagi lalu pergi ke kamar mandi lebih dulu lalu dia akan bersiap-siap memakai seragam sekolah dan membangunkan sahabat sekaligus rekan sekamarnya.   "Vic, ayo bangun. Nanti kamu terlambat loh" ucap Rose sambil membetulkan dasi pita di kerah bajunya.Read more
DMCA.com Protection Status