Catalog
68 Chapters
Bab 1
Seorang wanita sedang duduk dan bercanda tawa dengan sahabatnya, dia pun benar-benar sangat senang saat bersama sahabatnya."Rin, lo bahagia kan?" tanya Keyla pada sahabatnya itu.Irin tersenyum tipis, teringat yang telah berlalu namun masih membekas luka di hatinya dan mungkin tak akan pernah bisa terhapus. Luka yang sangat menyayat hati, luka yang benar-benar membuat hidupnya merasa hancur."Lo nggak usah khawatirin gue, Key. I'm okay," Irin menggenggam tangan Keyla dengan senyuman manisnya."Tapi, gue khawatir lo nggak akan bahagia. Kalo emang nggak suka, l
Read more
Bab 2
"Dante, bisa nggak sih jangan cepet-cepet jalannya?" Irin berbicara sambil berlari untuk menyamai langkah lebar kaki Dante. "Gue nggak punya banyak waktu buat ngurusin orang nggak penting kaya lo, lo-nya aja yang lelet," ucap Dante dengan sinis. "Terserah deh," "Buruan lo, lama banget," Dante menarik kasar lengan Irin. "Awhh, Dante.. lepas, sa..kit,"  "Nggak usah lebay lo, gue cuma pegang pelan," Dante masih terus menarik tangan Irin dengan kasar. "Astaga, Dante…" Irin menarik kasar tangannya dan membuat Dante menoleh tajam. Irin menggosok pelan lengannya, membuat lengan dress-nya sedikit tertarik ke atas. Dante terkejut saat melihat lengan Irin, dengan cepat Irin menutupinya. "Tangan lo, kenapa?" "Bukan urusan lo," jawab Irin dengan ketus lalu berjalan mendahului
Read more
Bab 3
Saat ini, Irin sedang bermake up ria. Dia benar-benar sangat cantik, hari ini adalah hari yang harusnya bahagia untuknya dan untuk Dante.Namun, wajah Irin tidak menunjukkan tanda-tanda bahagia, dia tak berekspresi apapun."Nona, kau sangat cantik, benar-benar menakjubkan," puji sang make over dengan tatapan kagum pada Irin."Terimakasih, kak. Ini kan berkat make up dan karyamu," jawab Irin dengan terkikik geli."Tapi, kau benar-benar sangat cantik, Irin." Sambung sang bunda yang kini masuk ke dalam kamar inap Irin."Ah, bunda…" Irin pun merentangkan kedua tangannya, meminta sang bunda untuk mendekat dan mereka pun berpelukan."Anak bunda udah dewasa, hm…""Irin sayang sama bunda, sama ayah… Irin tetap putri manja kalian," mata Irin berkaca-kaca saat ia sadar, jika setelah ini hidupnya akan bergantung pada Dante.Ah, tidak. Aku tidak akan bergantung
Read more
Bab 4
Kini, Dante dan Irin pun berpamitan untuk pulang ke rumah yang dihadiahkan oleh kedua orang tua Dante. "Ayah, bunda… Irin sayang kalian," "Ayah sama bunda pun sangat mencintaimu, kamu jaga diri baik-baik hm," Mereka pun saling berpelukan, Dante menatap malas pada mereka. "Dante, jaga putriku dengan baik," ucap Arman mengingatkan pada Dante. "Iya, ayah." Hanya itu yang terucap dari bibir Dante. Hingga Irin dan Dante pun telah pergi, kini tersisa hanya orang tua Irin dan orang tua Dante beserta dengan Darren. "Kalian akan tau akibatnya jika Irin semakin hancur bersama dengan putramu yang sialan itu," ancam Arman menatap benci pada kedua orang tua Dante. "Aku yang akan menghancurkan adikku jika dia menghancurkan Irin, om." Jawab Darren dengan santai tanpa ia sadari dengan siapa ia bicara. "Kau
Read more
Bab 5
Dante merasa aneh dengan Irin, sejak kemarin siang setelah berdebat dengannya, Irin benar-benar tak keluar dari dalam kamar, bahkan Dante pun tak masuk ke dalam kamar karena ia meminum alkohol di ruang keluarga. "Apa dia udah mati, kalo iya juga nggak masalah." Deggg Hati Dante terasa nyeri saat ia mengucapkan kata itu, padahal ia tahu, jika ia sangat membenci Irin. Tapi, kenapa? Dante pun merasa cemas, lalu berjalan tergesa masuk ke dalam kamar. Ia mendapati Irin, yang terlelap dengan deru napas teratur. Dante menghela napas lega, ia takut jika nantinya akan digiring ke kantor polisi. Dan sangat tidak lucu jika ia mendapati istrinya meninggal tepat di hari kedua setelah pernikahan. Bel rumahnya berbunyi, Dante mengernyit bingung, siapa yang bertamu di pagi hari seperti ini. D
Read more
Bab 6
Darren membawa Irin ke Timezone, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang baru saja jatuh cinta. Namun, siapa tahu jika mereka adalah saudara ipar, Irin adalah istri dari adik Darren. "Aku pikir, kak Darren mau ajak makan nasi Padang di pinggir jalan, ternyata ada juga ya restoran khusus masakan Padang di kota ini," Darren pun terkekeh, "Jelas ada lah, Rin. Kamu haus?" "Dikit sih, capek juga ni habis main loncat-loncat sama kakak," jawab Irin dengan kekehan kecilnya. "Ya udah ayo, kita cari minum." Darren menarik tangan Irin, dan Irin hanya mengikutinya. "Dari dulu loh Irin mau punya kakak, eh malah jadi anak tunggal," keluh Irin dengan imut. Darren terkekeh, "Sekarang aku kakakmu, kan?" "Iya kakak ipar," "Kamu mau minum apa?" "Ir
Read more
Bab 7
"Heh, lo mau sampe kapan tidur di sini?" Seperti mendengar suara seseorang, Irin perlahan membuka matanya. Irin terpekik saat melihat Dante sedang berjongkok di hadapannya. Menatapnya tajam, "Gue pikir lo bunuh diri nyebur ke laut," Deggg Irin hanya menahan napasnya saat Dante mengatakan hal itu, dia pun bangkit dari duduknya. Ya, sejak sore Irin masih berada di bawah pohon kelapa, Irin tertidur di sana. Irin merasakan kedamaian yang menyejukkan ya sesaat. Dante merasa geram karena tanpa terimakasih, Irin justru meninggalkannya. Dante melihat Irin berjalan sambil memeluk tubuhnya sendiri, Irin terlihat rapuh. "Kenapa kamu jadi kurus," gumam Dante lirih, namun terbesit pikiran yang membuatnya merasa benci dengan Irin. Dia kembali menata
Read more
Bab 8
"Bunda, ayah, Irin minta maaf. Irin minta maaf sama kalian, Irin sudah kecewakan kalian." "Irin sayang kalian, Irin harus pergi, Irin harus pergi dengan Alya. Makamkan Irin di samping makam Alya, maafkan Irin…" Dante terduduk saat mendengar racauan Irin saat tidur. Dante benar-benar tak mengerti, mengapa Irin meracau seperti itu? Dan lagi, siapa Alya? Apakah adik Irin? Seingat Dante, Irin tak memiliki saudara, ia hanya anak tunggal di keluarganya. Dante menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, lalu terkejut saat ia baru menyadari jika di ranjang mereka sudah ada darah. "Menjijikan, udah tau pms masih aja nggak pake pembalut," Dante pun berdiri tepat di samping Irin tidur, ia pun dengan sengaja meraih air minum di atas nakas dan menyiramkan ke wajah Irin. Byurrr "Ahhh,
Read more
Bab 9
Irin berteriak sekencang-kencangnya, ia sudah berada di batu karang dekat pantai. Ia berdiri dan menangis terisak, sesak sekali rasanya. "Kamu yang br*ngsek, kamu yang buat aku kecewa, bukan aku hiks...hiks…" "Aku juga tidak tau, kenapa ayah mau aku dijodohkan sama kamu, aku juga tidak mau, tapi itu sudah keputusan dari ayah," "Sulit untukku membantah keinginannya, karena selama ini aku banyak meminta padanya, ya Tuhan… kenapa rasanya sakit sekali, hiks… hiks.." "Kamu kejam, Dante…" "Menangislah sepuasmu, Irin.." Irin pun menoleh saat mendengar seseorang menyebut namanya, Irin langsung menghambur peluk padanya dan langsung dibalas pelukan hangat. "A-alex, hiks… kenapa hidup aku begini hiks, kenapa aku nggak mati aja?" "Ssst, kamu nggak boleh
Read more
Bab 10
Tiga minggu kemudian, Dante sudah menjalani hari-hari seperti sebelumnya, ia harus pergi ke kantor untuk melakukan tugasnya. Irin pun berniat untuk pergi, namun sebelum itu, ia menghubungi Dante dan meminta izin padanya. Sebelum Dante membalas chat Irin, Irin sudah di jemput oleh Alex. Alex adalah orang kepercayaan ayah Irin, Alex pun adalah sahabat kecil Irin. Hanya saja, Alex adalah anak dari keluarga biasa saja. "Aku nggak peduli kamu nggak balas, aku harus pergi." Gumam Irin sambil menatap ponselnya. Irin pun berjalan keluar, dan mendapati Alex sudah berdiri dan bersandar di mobilnya. "Alex," "Hai, Nona manis… silahkan masuk," ucap Alex yang kini mulai membukakan pintu mobil untuk Irin. "Terimakasih, pengawal…" "Ck, pangeran gitu kek, masa dunia akting sama d
Read more
DMCA.com Protection Status