"Aku?" Sonya mengerjap, lalu jemarinya yang lentur dengan kuku merah menyala menunjuk dadanya sendiri dengan gestur yang dibuat seolah tak bersalah. "Tadinya aku mau memberimu kejutan ke kantor, Sayang. Tapi saat aku melihat mobilmu keluar, aku jadi penasaran. Jadi, ya... aku ikuti saja." Bibirnya menyunggingkan senyum manis yang dipaksakan. Tentu saja itu bohong. Sonya telah mengintai Henry sejak pagi, mengikuti setiap belokan jalan layaknya pemangsa yang tak ingin kehilangan jejak. Henry memalingkan wajah, rahangnya mengeras hingga otot-pipi tampak menonjol. "Kamu bahkan tidak pernah tahu cara menghargai privasi, bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta pada wanita sepertimu," gumam Henry, nyaris tak terdengar. Suaranya tertelan bising kendaraan, namun kebencian di matanya terbaca jelas. "Tapi aku sangat mencintaimu, Henry!" Suara Sonya mendadak meninggi, melengking membelah udara siang yang panas. Sontak, beberapa ibu yang sedang menunggu anak-anak mereka menoleh serentak. Tat
Leer más