“DIAM.”Fazwan yang lebih percaya pada Izora pun ingin menampar Tia. Laki-laki itu sudah mengangkat tangannya dan Tia sangat terkejut.“Kau ingin menamparku Fazwan?” tanya Tia.Laki-laki itu mengurungkan niatnya dan tidak jadi menampar Tia. Dia berusaha untuk mengendalikan emosinya.“Tampar saja aku Fazwan, kau juga memiliki kesempatan untuk menjadi seperti Izora dan ibunya, sekarang kau lebih mempercayainya kan? Kalau begitu lakukanlah hal yang sama seperti mereka agar kau puas. TAMPAR AKU DAN SAKITI AKU!” suruh Tia.Perempuan itu tidak ingin mennagis di depan Izora dan Fazwan, dia buru-buru menghapus air matanya dengan kasar saat air mata itu hendak jatuh.“Sakit sekali Fazwan, dia menamparku dengan sangat kencang. Aku tidak tahu kenapa dia setega itu padaku.” Lagi lagi Izora mencari perhatian lebih pada Fazwan dan ingin memanas manasi Tia.“Kau baik-baik saja Izora? Harusnya kau tidak pergi ke sini. Ayo kita pergi ke tempat lain saja, aku akan mengobatimu.”Mendengar itu hati Tia b
Read more