LOGINJahama menatap Tia yang merupakan menantunya dengan tatapan tidak suka. Dia lalu mengalihkannya pada Zafar anaknya. "Kau sudah membawa menantu untukku, tapi aku merasa tidak mendapatkan apapun dari itu," jelasnya. Zafar kaget dan mencoba mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin menyakiti hati istrinya. "Bu, tolong bicaralah hal lain saja, itu tidak penting," katanya. "Apa yang tidak penting? Kau membawa seorang Tuan puteri ke rumah ini kan? Aku hanya bertanya sebenarnya apa yang kau bawa? Sebuah beban saja atau ada hal baiknya?" Menikah dengan Zafar adalah salah satu ujian hidup Tia. Bagaimana Tia menghadapi masalah hidupnya dengan mertua dan masalah lainnya selama menjadi istri Zafar? Ikuti terus keseruan kisah mereka ya!
View More“Tia Rhea Malavika, apa kau menerima pernikahanmu dengan Zafar Ishwar Nafian?”
Laki-laki setengah tua yang diminta untuk menikahkan pasangan itu menegaskan pertanyaannya pada mempelai wanita. Perempuan yang dipanggil Tia itu pun terdiam cukup lama. “Aku menerimanya.” Akhirnya ucapan itu keluar dari mulutnya dengan pasrah. Zafar adalah pelayan di rumah keluarga besar Yardan, dan pernikahan antara dirinya dengan Tia anak majikannya itu terjadi karena jebakan yang dilakukan oleh Izora Nayantara saudara tiri Tia. Bagi Tia sendiri dia sudah kehilangan segalanya, tidak ada lagi yang ingin dia perjuangkan. Apapun yang terjadi padanya hari ini, semua seakan telah merampas habis kebahagiaan dan harapan hidupnya. 'Setelah aku menemukan ibuku nanti, akan aku balaskan semua perlakuan tidak adil ini,' pikir Tia dan mulai menanamkan tekad itu di dalam hatinya. 'Hari ini aku boleh kalah dan tidak memiliki apapun atau siapapun, tapi tunggulah. Hari dimana aku bisa bersama dengan ibuku, disaat itulah seharusnya akan menjadi hari kehancuran untuk saudara tiriku,' katanya lagi dalam hati. Zafar hanya bisa menahan rasa sesak di hatinya melihat kondisi Tia yang menyedihkan. Sebagai seorang pengantin yang akan ia bawa ke rumahnya harus dalam keadaan seperti ini. Tanpa make up, tatapan mata yang kosong dengan mata yang sembab dan lebih menyedihkannya lagi banyak lebam di wajah dan tubuhnya. Ibu dan saudara tiri Tia merasa sangat bangga atas hasil usahanya menyingkirkan Tia dari rumah mereka. Tia benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan, sekarang dia harus pergi ke rumah Zafar sebagai istrinya tanpa membawa baju dan barang-barang miliknya. Sedangkan orang yang harusnya menikah dengan Tia harus menikah dengan Izora, saudara tirinya. Setelah Tia sampai di rumah Zafar dia sangat terkejut karena rumahnya sangat kecil dan sempit, berbeda dengan rumah orang tuanya yang ia tempati selama ini. Tia sampai tepat di depan pintu rumah Zafar dan langkahnya terhenti sambil memperhatikan rumah itu. Zafar yang menyadarinya pun menyuruh Tia untuk segera masuk. “Masuklah Tia,” pinta Zafar. Dia tahu apa yang ada di dalam pikiran gadis itu tentang rumahnya. “Masuklah nak, sekarang rumah ini adalah rumahmu juga,” kata Kamal yang merupakan ayah Zafar, sekarang menjadi mertua Tia. Jahama yang merupakan ibunya Zafar terkejut ketika melihat putranya dan suaminya membawa seorang perempuan ke rumahnya. Jahama memang belum tahu jika Zafar mendadak menikah malam itu juga. “Dia adalah Tia, pengantin Zafar anakmu.” Begitulah cara Kamal memperkenalkan Tia pada istrinya. Sorot mata penuh tanya pada Jahama masih belum paham juga. "Apa?” tanya Jahama. Zafar menyuruh Tia untuk masuk ke kamarnya, sedangkan Jahama tidak percaya dengan semua ini. Bagaimana tidak? Zafar tiba-tiba pulang dan membawa seorang perempuan yang berstatus sebagai istrinya. “Hei Kamal jangan bercanda padaku, pengantin apa yang kau maksud? Lihatlah wajahnya penuh dengan lebam, apa kau menemukan seseorang yang dianiaya di jalanan lalu kau bawa pulang ke rumah ini?” tanya Jahama masih tidak percaya meskipun Zafar sudah membawa Tia masuk ke kamarnya. Kamal sudah sangat lelah malam ini, dia hanya menghela nafas pelan menanggapi pertanyaan istrinya. "Percaya atau tidak, dia adalah menantumu sekarang, dia adalah putri dari Tuan Yardan, namanya Tia” jelasnya sambil duduk di kursi. Jahama menutup mulutnya, antara ingin percaya namun sulit baginya untuk menerima itu. “Astaga putrinya? Ini tidak mungkin. Kenapa dengannya? Untuk apa dia menikah dengan Zafar?” Banyak pertanyaan yang ingin Jahama tanyakan karena dia benar-benar penasaran, namun Kamal tidak ingin membahasnya. Kamal sudah memberitahukan pada istrinya bahwa Tia sekarang adalah menantunya. Selebihnya dia meminta Jahama bertanya sendiri dengan Zafar. Di dalam kamar, Tia hanya bisa menangisi nasibnya, sekarang dia berada di kamar Zafar yang sangat kecil sedangkan biasanya dia tinggal di kamarnya yang mewah. Dia juga tidak memiliki apapun saat ini, bahkan baju yang dia miliki pun tidak diijinkan untuk dibawa oleh ibu tirinya. Perempuan itu hanya bisa menangis, hidupnya seperti sudah kehilangan arah. Zafar yang melihatnya sangat tidak tega pada Tia. “Jangan menangis Tia, berhentilah menangis,” ucap Zafar tidak tahu cara membuat gadis itu berhenti menangis. “Aku tidak ingin tinggal di sini, aku tidak bisa Zafar. Semua ini karenamu,” kata Tia akhirnya menyalahkan Zafar. Tia tidak siap tinggal bersama suaminya. “Jika kau tidak mau tinggal di sini, kau akan tinggal dimana Tia?” Perempuan itu terdiam karena belum memiliki pikiran kemana ia akan tinggal dan menata hidupnya kembali setelah ini. Zafar keluar dari kamarnya karena ingin mencari kotak obat di rumahnya dan bermaksud ingin mengobati luka Tia. “Obati dulu lukamu,” katanya setelah ia kembali ke kamarnya. “Jangan menyentuhku!” ujar Tia dengan cepat begitu Zafar ingin mengobatinya, dia menggeser tubuhnya menjauh dari Zafar. Bagi Tia, Zafar tetap pelayan di rumahnya meskipun laki-laki itu sudah menikahinya sekarang. “Menjauhlah dariku, kau tidak memiliki hak untuk mendekatiku,” lanjutnya dengan tegas. Zafar menghela nafas berat, dia tidak mengerti kenapa dalam kondisi luka seperti ini Tia justru masih keras kepala. “Ambilah, kau bisa mengobati lukamu sendiri,” ucap Zafar memberikan kotak obat itu padanya. Tia menatap Zafar tidak suka. “Aku tidak membutuhkan itu, lagipula kau tidak memiliki hak untuk mengatur hidupku. Kau hanya pelayan di rumahku.” “Sejak ayahmu memecatku, aku bukan lagi pelayan di rumahmu, dan sejak ayahmu menikahkanku denganmu maka aku adalah suamimu yang memiliki hak dan harus bertanggung jawab terhadapmu,” jelas Zafar mengingatkan Tia. Tia tersenyum miring mendengar itu, dia pikir pernikahan itu tidak ada artinya baginya. “Aku tidak peduli Zafar, aku tidak peduli dengan apapun, menjauhlah dariku!” perintahnya. Tia masih tidak ingin Zafar ada di dekatnya, dia juga tidak peduli dan membiarkan rasa sakit akibat beberapa luka di tubuhnya. Zafar hanya diam lalu meninggalkan Tia sendiri, laki-laki itu menemui adiknya dan memintanya bicara pada Tia untuk mengobati lukanya sekaligus membawakan makanan untuk Tia. Zanira yang merupakan adik kandung Zafar pun menuruti kakaknya dan masuk ke kamar menemui Tia. “Kakak, aku adalah Zanira saudara kandung kak Zafar. Lihat apa yang aku bawa?” tanyanya sambil memperlihatkan makanan yang dia bawa, tapi Tia sama sekali tidak tertarik. “Makanan ini sangat enak, kakak harus mencobanya,” bujuk Zanira. Tia tidak menaggapi Zanira, dia benar-benar tidak ingin melakukan apapun saat ini. “Aku tidak lapar,” ucapnya dengan dingin menolak makanan dari Zanira. “Tapi, kenapa kakak terluka? Itu tidak bisa dibiarkan, aku akan membantumu mengobatinya,” kata Zanira lagi sambil membuka kotak obatnya dan hendak membantu mengobati luka Tia. “Tidak. Tidak perlu, kau pergilah! Aku tidak ingin bicara pada siapapun.” Zanira tidak ingin pergi dan masih berusaha membujuk Tia sesuai permintaan kakaknya. Zafar yang tahu bahwa Tia tidak akan mau pun meminta Zanira untuk pergi. “Letakkan makanannya di sini, malam nanti kakak iparmu akan memakannya,” kata Zafar. Mendengar itu Tia memalingkan muka dari Zafar, dia pikir tidak akan menyentuh makanan itu sedikitpun. Karena sudah lelah Zafar pun ingin tidur. "Apa yang kau lakukan di situ?” tanya Tia ketika melihat Zafar menggelar karpet di lantai dan membawa bantal serta selimutnya. “Aku sudah mengantuk Tia, aku ingin tidur, kalau kau membutuhkan sesuatu kau bisa membangunkanku.” “Apa? Kenapa kau tidur di situ?” “Lalu kenapa? Apa kau bersedia tidur bersamaku di malam pertama kita?” Bersambung.Hari ini Tia dan Zafar menghadiri pernikahan saudara tirinya. Perempuan itu menggunakan gaun berwarna pink berpadukan warna biru muda yang sangat cantik.Tia tau bahwa ayahnya tidak akan mau bicara padanya atau sekedar menatapnya. Di tengah tengah pesta, Tia masih merasa tidak rela jika Fazwan menikah dengan perempuan lain. Tapi Tia tetap berusaha untuk mengikhlaskan semuanya. Saat ia sedang memperhatikan prosesi pernikahan saudara tirinya dengan mantan kekasihnya itu tiba tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang.Tia lalu menoleh dan melihat perempuan cantik setengah tua sedang menatap wajahnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. "Maaf, bibi kau–"Tia tidak meneruskan kata katanya. Perempuan di depannya ini menatapnya haru, Tia tidak mengerti ada apa dengannya?"Tia," ujar perempuan itu sekarang matanya sudah berlinang cairan bening, yah penuh dengan air mata yang membuat Tia semakin tidak mengerti. Perempuan itu lalu memeluk Tia dan menangis. Sedangkan Tia terdiam membeku di
“DIAM.”Fazwan yang lebih percaya pada Izora pun ingin menampar Tia. Laki-laki itu sudah mengangkat tangannya dan Tia sangat terkejut.“Kau ingin menamparku Fazwan?” tanya Tia.Laki-laki itu mengurungkan niatnya dan tidak jadi menampar Tia. Dia berusaha untuk mengendalikan emosinya.“Tampar saja aku Fazwan, kau juga memiliki kesempatan untuk menjadi seperti Izora dan ibunya, sekarang kau lebih mempercayainya kan? Kalau begitu lakukanlah hal yang sama seperti mereka agar kau puas. TAMPAR AKU DAN SAKITI AKU!” suruh Tia.Perempuan itu tidak ingin mennagis di depan Izora dan Fazwan, dia buru-buru menghapus air matanya dengan kasar saat air mata itu hendak jatuh.“Sakit sekali Fazwan, dia menamparku dengan sangat kencang. Aku tidak tahu kenapa dia setega itu padaku.” Lagi lagi Izora mencari perhatian lebih pada Fazwan dan ingin memanas manasi Tia.“Kau baik-baik saja Izora? Harusnya kau tidak pergi ke sini. Ayo kita pergi ke tempat lain saja, aku akan mengobatimu.”Mendengar itu hati Tia b
“Jangan khawatir Tia, aku bahkan sudah menemukannya.”Zafar tidak pernah merasa sakit hati atas apa yang Tia katakan padanya. Walaupun Tia mengatakan dirinya tidak mencintainya dan menyuruhnya untuk berhenti mencintai wanita itu, Zafar tidak peduli.“Tidak ada yang kau dapatkan dari mencintaiku Zafar, kau mencintai orang yang sama sekali tidak memiliki cinta untukmu. Orang yang kau cintai hanya memiliki rasa sakit, kalau kau meneruskannya maka kau juga akan mendapatkan rasa sakit itu,” jelas Tia sambil menatap Zafar meyakinkan laki-laki di hadapannya ini.Zafar hanya tersenyum pada Tia.“Kenapa tidak Tia? Kalau aku bisa mengambil semua rasa sakitmu, aku akan sangat bahagia karena itu.”“Aku tidak memiliki cinta atau apapun itu Zafar, aku sudah membuang jauh-jauh rasa cinta yang aku miliki dan saat ini, aku hanya memiliki satu tujuan hidup yaitu bertemu dengan ibuku.”Setelah Tia menegaskan itu pada Zafar dia pun pergi meninggalkan kamarnya dan bersiap-siap untuk menyiapkan sarapan.Me
“Aaaaaaa.” Tia berteriak dan membalikkan badannya dari Zafar.“Ada apa Tia? Apa yang kau lihat? Apa ada kecoa di kamar ini?” tanya Zafar tidak mengerti dan khawatir dengan teriakan Tia.Sedangkan wanita itu baru menyadari bahwa dirinya berteriak dan takut jika ayah mertuanya sampai mendengarnya. Tia berharap Kamal tidak mendengar teriakannya.“Ada apa Tia?” “Emm Zafar, kau ... kenapa kau tidak membenarkan kancing bajumu? Maksudku kenapa kau tidak merapikan bajumu di kamar mandi saja?” tanya Tia dan tentu saja itu membuat Zafar terheran.Jadi hanya karena hal itu, Tia hingga berteriak terkejut melihatnya yang baru akan membenarkan kancing bajunya. Zafar baru selesai mandi dan mengenakan bajunya di kamar, dia tidak tahu jika Tia akan masuk.Laki-laki itu hanya diam dan membenarkan kancing bajunya yang belum selesai ia benarkan.“Sudah Tia, jangan berteriak lagi.”“Aku tidak akan berteriak jika kau memakai bajumu dengan benar,” omel perempuan itu dengan kesal.Tia masih belum membalikka
"Aaaww." Tia merintih kesakitan dan takut berada di dapur, dia pun meninggalkan dapur dan menangis ketika melihat tangannya yang terluka karena minyak panas itu."Ya Tuhan apa yang aku lakukan?" tanyanya pada dirinya sendiri.Perempuan itu tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia hanya merasa ketaku
"Iya Zanira, kakakmu itu telah berbohong padamu," ucap Tia.Zafar yang mendengar itu pun terkejut. Dia tidak ingin Tia mengatakan yang sebenarnya juga pada Zanira. "Emm, Zanira kau harus segera pergi ke kampus kan? Ayo cepat bersiap-siap, atau ibu akan memarahimu?"Zafar bermaksud untuk membuat Zanira
"ZAFAAAARR."Tia ketakutan dan langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.Perempuan itu mulai menangis karena tidak segera mendapatkan jawaban dari suaminya.Dia baru sadar bahwa sejak tadi Zafar tidak ada di kamarnya."Huhuu huuuu."Tia hanya bisa menangis sendiri. Sementara Zafar yang sudah tidu
Pagi hari Zanira bangun lebih awal daripada Tia. Begitu juga dengan Zafar, dia juga sudah bangun dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantornya.Saat Tia membuka mata, dia sudah tidak melihat siapapun di kamarnya. Zanira yang semalam tidur bersamanya sekarang sudah pergi, wanita itu juga tidak melihat






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews