Dita menyeret Ian menuju minimarket yang ada di seberang resto tempat ia makan tadi. Ian hanya diam tak mengatakan apapun sejak tadi. Ia bahkan membiarkandiinya diseret kesana kemari oleh Dita. Kepalanya menunduk menatap lantai dingin minimarket, lalu bergerak menoleh ke arah Dita. Mereka berdua sedang berdiri di depan lemarin pendingin yang di dalamnya berjajar berbagai macam minuman dingin. Ian menatap wajah Dita yang nampak sibuk berpikir pada jajaran minuman tersebut. "Mau minum apa? Kopi?" Dita menoleh padanya yang membuat tubuh Ian tersentak kaget. Melihat hal itu Dita hanya mampu menggelengkan kepala dengan senyum geli di wajahnya. Namun senyum itu seketika membeku saat Ian melepaskan jaket jeansnya dan melingkarkannya pada pinggangnya. Gerakan itu mulus tanpa canggung, tapi membuat jantung Dita berdetak lebih cepat. "Biar nggak dingin," ucap Ian usai selesai mengikat jaketnya ke pinggang ramping Dita. Dita segera membuang muka dan berjalan memutar ke arah rak yang be
Read more