Hujan masih mengguyur Kane ketika Arin terbangun keesokan paginya. Suara air yang jatuh dari langit-langit teras terdengar seperti tangisan panjang yang tak berujung. Ia membuka mata, menatap langit-langit kamar yang asing, dan untuk sesaat ia lupa di mana berada. Tapi nyeri di pergelangan tangannya segera mengembalikan ingatan.Mansion Levis Mouse. Perangkap yang disebut pernikahan.Arin bangkit, menggenggam jubahnya, dan melangkah ke jendela. Halaman mansion tenggelam dalam kabut tebal. Pepohonan bergoyang diterpa angin, dedaunan basah berserakan di mana-mana. Kolam renang yang semalam mengilap seperti kaca hitam kini keruh, dipenuhi daun-daun mati yang mengapung.'Seperti rumah ini,' pikirnya getir. 'Indah di luar, tapi mati di dalam.'Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunannya. Arin membuka pintu, menemukan Naira berdiri dengan nampan sarapan—teh hangat, roti panggang dengan selai stroberi, dan sepiring buah segar."Selamat pagi, Nona," sapa Naira dengan senyum yang tampak dipa
Read more