Share

Tertangkapnya musuh

Author: Friska.S
last update Petsa ng paglalathala: 2024-04-03 17:09:16

Arin memperbaiki rambut dan juga penampilannya yang telah hancur. Dia melihat sekelilingnya, matanya tengah mencari keberadaan sahabatnya itu. Tak lama kemudian seseorang yang ditunggu-tunggu pun datang dan menghampirinya. Dia sangat terkejut saat melihat sahabatnya dengan kondisi yang kacau.

"Kau tidak apa-apa, Rin? Siapa yang telah berbuat hal ini padamu?" tanya sahabatnya yang bernama Lala itu. Wajahnya memperlihatkan bagaimana perasaannya saat ini. Ya khawatir. Dia sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya yang hancur.

Dia mengelap keringat yang bercucuran di wajah Arin dengan tisu. Kemudian dia mengambil segelas air putih yang terletak di meja dan memberinya pada Arin. Arin pun meminumnya. Dia pastinya sangat haus. Sejak tadi pria yang telah memperlakukan dirinya sangat kasar tidak membiarkannya bebas melawan, apalagi sampai memberinya minum. Mustahil!

"Kenapa kau tidak panggil aku tadi, Rin? Aku bisa datang membantumu cepat," ucap Lala sambil merapikan rambut sahabatnya itu.

"Aku tidak butuh sahabat sepertimu, kau mengerti itu? Aku tidak membutuhkan sahabat. Dan jelas-jelas aku tidak menginginkannya." Kata-kata itu diucapkan dengan nada bergetar yang membuat pendengar Arindinita di Club terperangah.

"Arin, tenanglah," mohonnya.

"Sahabat? Ya ampun! Aku sudah hidup 20 tahun tanpa repot-repot terlibat dengan makhluk yang menyebalkan dan tak berguna —"

"Maukah kau mendengarkan dulu?"

"Dan saat aku mendapati sahabatku sendiri yang membiarkan aku datang kesini—Ya Tuhan! Kau benar-benar punya nyali, Lala."

"Aku tidak membohongimu atau menjembakmu," sahut Lala membela diri. "Aku cuma berpikir kau mungkin akan menganggap ajakanku ini cukup berguna untuk menghibur hatimu yang kacau."

Arin mendengus.

"Tak seorangpun atau tempat manapun yang cukup berguna," jelasnya tegas. "Makhluk sejenismu memang diciptakan hanya untuk menyakitiku."

"Baiklah, aku takkan berdebat."

Kedua wanita itu bersahabat sudah lama, mereka sama-sama putih dan manis. Hanya rambut pirang Lala satu-satunya ciri-cirinya yang membedakan kedua wanita itu dengan orang tua mereka. Tetapi pada Lala, wanita yang banyak mencuri perhatian lawan jenisnya, pirang pada rambutnya yang ikal lebat bergradasi sehingga terkesan glamor. Sementara pada Arindinita, tidak memakai pirang aliat rambut hitam yang lurus kaku, membingkai wajahnya yang terkesan serius.

Cara berpakaian mereka pun memperlihatkan kepribadian yang bertolak belakang. Lala mengenakan pakaian mengikuti perkembangan mode modern mutakhir yang eksklusif. Sementara Arindinita sepertinya mengenakan ala saja yang berada dalam jangkauannya dan terasa nyaman. Lala memiliki sosok tubuh langsing menggiurkan. Sementara Arindinita, jelas-jelas bertubuh langsing. Tapi sulit menilai hal lainnya.

Lala mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang Club yang mewah di pusat bagian barat kota. Ruangan itu dipenuhi dengan berbagai benda-benda seperti gelas ala-ala modern dan vas bunga yang kalau terjatuh saja langsung pecah, dan bebas di antaranya menarik perhatian para pengunjung.

"Dia menakjubkan," seru Lala, menunjuk dada seorang pria muda yang terlihat sangat tampan.

"Darimana dia? Tampaknya dia masih terlihat sangat muda," jelas Arin sembari menengadah, "Betul, dia memang masih muda."

"Benar-benar ganteng," desah Lala, sembari mengamati wajah pria itu dari dekat. "Hidung mancung, wajah aristokrat yang disangga leher kokoh berotot, dan bibir itu—terkesan tegas sekaligus menyembunyikan sensualitas yang menggairahkan. Aku bertaruh dia bak macan sepanjang berurusan dengan wanita."

"Kau menghabiskan waktu terlalu banyak memikirkan yang bukan-bukan," sahut Arin tajam.

"Dan mau sama sekali tidak menghabiskan waktu memikirkannya. Itu memalukan."

Arin cuma mengangkat bahu. "Banyak hal lain yang lebih menarik dalam hidup ini."

"Omong kosong, tentu saja tidak ada," bantah Lala yakin. "Aku cuma berharap kau lebih tertarik pada pria yang masih bernapas yang ada di sini daripada kau hanya menjomblo terus."

"Coba lihat dirimu sendiri!" sindir Arin. "Kau barusan mengkhayalkan pria itu. Omong-omong pria itu pasti tidak akan menyukaimu, karena seleranya memang berbeda dari pria lain. Dan kau sama sekali bukan pilihannya."

"Sinis sekali. Asal kau tahu saja, pria itu juga tertarik padaku. Kalau tidak, dia mungkin sudah mengalihkan pandangannya dariku."

"Kau hanya menilai lirikannya saja dan bukan hatinya?" Arin sungguh tak menyangka bahwa ada gadis seperti Lala yang hanya melihat penampilan dibandingkan dengan sifatnya.

"Dia pria tampan, sepertinya dia kaya raya dan cukup bagiku hanya memikirkan uangnya saja dibandingkan perasaannya padaku," jelas Lala penuh perasaan.

"Cih!" Arin memandang lekat wajah dari sahabatnya itu dengan penuh arti. Hal yang paling sulit dia tuntaskan malam ini. Mengingat dirinya tadi diperlakukan kasar oleh pria yang tidak dikenal, hatinya merasakan hancur berkeping-keping. Karena penasaran siapa sebenarnya pria itu, Arin tak bisa menutupi semua yang terjadi padanya.

"La," pangillnya lirih. Mulutnya memang sangat sulit untuk bicara, namun dia harus mencaritahu siapa sebenarnya orang itu dan apa maunya.

"Apa kau mengenal pria yang bernama Levis Mouse yang sering berkunjung ke tempat ini?" tanya Arin kemudian.

"Kenapa kau menanyakan hal itu?" Lala sampai kaget mendengarnya. Tentu saja dia mengenal siapa pria itu. Dan berkali-kali dia berusaha menutupinya dari Arin, karena tidak mau Arin mendapat kesempatan untuk mencuri hatinya.

"A—aku tidak mengenalnya," jawab Lala dengan gugup.

"Apa kau serius?" tanya Arin sambil mengerutkan kening, bagaimana mungkin? "Bukannya dia terkenal di tempat ini? Lalu, kenapa kau malah tidak kenal sama pria itu?"

Arin merasa kalau yang diucapkan oleh sahabatnya itu tidaklah benar. Bagaimana mungkin sosok pria mafia kejam yang terkenal di tempat itu tidak dikenal oleh Lala. Apa yang sebenarnya yang disembunyikan Lala tentang pria itu?

"Aku serius, Rin. Aku tidak kenal dengan pria yang kau sebut. Aku mungkin lama di sini, tapi tidak semua tentang Club malam ini aku mengetahuinya, bukan?"

Lala masih saja terus berbohong. Untuk membuat Arin merasa yakin dengan jawaban, dia menawarkan Arin untuk minum. "Apa kau mau minum? Biar aku panggilkan," ucap Lala yang kemudian memanggil seorang pelayan.

"Ah, tidak usah. Aku ingin pulang saja. Ini sudah jam berapa, besok aku harus bekerja," tolak Arin saat Lala menawarkan minuman.

"Owh begitu, baiklah, aku mengerti keadaanmu. Ditambah penampilanmu yang sudah berantakan kayak gini sudah seharusnya tadi kamu merapikannya dulu. Dan kita malah asik membahas pria itu," sahut Lala sambil terkekeh.

Arin hanya tersenyum tipis, kemudian pamit pergi. Meninggalkan sahabatnya sendirian di sana. Arin tahu bahwa Lala bisa menjaga dirinya. jadi, dia tak perlu mengkhawatirkannya lagi.

Saat Arin keluar dari Club itu, tiba-tiba seseorang datang dan membekap mulutnya. Saat mata Arin akan tertutup rapat, Arin sempat wajah dari orang itu hingga akhirnya tertutup rapat.

"Tuan, aku telah mengamankannya," ucapnya memberitahu seseorang di balik telepon.

"Apa kau tahu sedang berurusan dengan siapa, Alex?"

Suara yang menantang itu kembali terdengar di telinga Alex yang sudah tak berdaya sedang duduk di atas kursi, mulai dari kaki dan tangannya diikat kuat, sehingga untuk melepaskan diri pun pria itu tidak sanggup.

Alex bahkan tidak memedulikan ucapan dari pria yang telah berbicara padanya. Dia tersenyum smirk dan tidak terlihat sedikitpun rasa ketakutan di wajahnya.

"Apa kau pikir aku takut denganmu? Aku memang kau tangkap sekarang, namun aku nanti juga bisa bebas," ucap Alex sangat sombong.

"Sebelum kau bebas, aku sudah terlebih dulu memotong kepalamu."

"Aku takut..." Alex mengejek pria yang berdiri di hadapannya, meskipun dia melihat ada kemarahan yang besar yang bahkan bisa membunuhnya saat itu juga, tidak sedikitpun dia merasa goyah dan terus menantang.

"Kurang ajar!" umpatnya, kemudian memberi satu pukulan tepat di ujung bibirnya.

"PUKUL SAJA... PUKUL SAJA..." Teriakan suara Alex menggema penuh di ruangan tua itu. "AKU BAHKAN TIDAK TAKUT MATI, TUAN MUDA LEVIS MOUSE!!!"

"Kau tidak takut mati?"

Alex hanya tertawa kecil. Kemudian menatap tajam. "Kau akan hancur berkeping-keping di tanganku!"

"Cih!" Levis membuang ludahnya tepat di wajah Alex. Melihat keadaannya saat ini yang tak bisa bergerak bebas, hanya menatap wajah itu dengan penuh kebencian sampai akhirnya air ludah Levis menetes ke bawah.

Alex memilih diam dan memalingkan muka. Dia sama sekali tak bergairah untuk melawannya. Dia melirik ke seluruh tempat dan mencari akal bagaiman caranya untuk bisa bebas dari penjagaan yang dilakukan oleh Levis. Dan dia juga sedang menunggu kabar dari anak buahnya dalam melakukan rencana barunya.

"Sial! Lama sekali mereka melakukannya," batin Alex, kalau sampai hari ini dia belum juga mendapat kabar, dia pasti akan memberikan hukuman yang seberat-beratnya pada mereka.

"Kenapa kau diam, Alex Ferguson?" Levis kembali mengangkat suaranya. Dia sangat tahu sisi kepribadian Alex. Pria itu tidak akan mau mengalah sebelum rencana yang dia susun untuk menghancurkan Levis, dia akan terus mencobanya.

Alex tidak menjawab. Hanya keheningan yang tercipta di antara keduanya. Levis yang merasa bosan berada disitu ingin segera pergi dari sana, namun langkahnya terhenti saat ponsel yang ada dibalik sakunya berbunyi. Levis segera mengangkatnya.

"Halo," jawab Levis sembari mengangkat satu alis. Dia penasaran siapa yang telah berani menghubunginya di saat-saat dirinya telah menangkap musuhnya. Apalagi nomor yang masuk adalah nomor tidak dikenal.

"Itu pasti anak buahku sudah menjalankan tugasnya dengan baik," sambung Alex sambil tersenyum licik.

Levis tidak memedulikan pria itu. Dia masih tetap terjaga. "Halo, ini siapa?" Dia yang tak punya kesabaran segera membanting ponselnya. "Tidak penting!" tukasnya, kemudian dia meninggalkan tempat itu.

Alex tahu kalau itu pasti anak buahnya. Dia tidak sabar untuk bebas dan membuat perhitungan pada Levis, karena telah berani mengurungnya di tempat yang tidak layak untuk dia tempati. Awalnya dia datang untuk menghancurkan kota Kane, tempat lahir dan tempat berkuasanya sosok Levis Mouse dan akan membunuh pria itu, namun ternyata dirinya berujung ditahan. Kekuatan dari musuhnya lebih kuat dibandingkan dengan kekuatan yang dia bersama anak buahnya selama beberapa tahun belakangan ini.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • MENDADAK JADI ISTRI TUAN MAFIA    Bab 11

    Tiga minggu telah berlalu sejak Lavina ditahan. Tiga minggu sejak Arin mengetahui kebenaran tentang kematian ayahnya. Tiga minggu sejak Levis mengatakan bahwa ia punya pilihan untuk pergi atau tinggal.Dan Arin masih di sini.Ia tidak tahu persis mengapa ia belum pergi. Setiap pagi ia bangun, berpikir untuk mengemasi barang-barangnya, memanggil taksi, dan meninggalkan mansion megah ini selamanya. Tapi setiap pagi juga, ada sesuatu yang menahannya. Mungkin aroma kopi yang diseduh Naira. Mungkin sinar matahari yang masuk melalui jendela kamarnya. Mungkin tatapan Levis saat mereka berpapasan di lorong—tatapan yang tidak lagi dingin, tapi juga tidak bisa ia artikan.Atau mungkin, Arin takut. Bukan takut pada Levis, tapi takut pada dirinya sendiri. Karena perlahan, tanpa disadari, ia mulai terbiasa dengan kehidupan ini. Mulai merasa aman. Mulai merasa... betah.Dan itu yang paling menakutkan.---Pagi ini, Arin duduk di teras belakang, menghadap ke taman. Matahari baru saja naik, menyinari

  • MENDADAK JADI ISTRI TUAN MAFIA    Bab 9

    Tiga hari telah berlalu sejak percakapan di perpustakaan itu. Tiga hari sejak Levis mengatakan bahwa ayahnya dibunuh. Tiga hari sejak dunia Arin terbalik untuk kesekian kalinya. Dan selama tiga hari itu, Levis tidak muncul. Arin bertanya pada Naira, tapi gadis itu hanya menggeleng. "Tuan sedang ada urusan di luar kota, Nona. Beliau bilang akan kembali beberapa hari lagi." Beberapa hari. Arin tidak tahu harus merasa lega atau cemas. Tanpa kehadiran Levis, mansion ini terasa lebih sunyi, tapi juga lebih berbahaya. Karena tanpa Levis, tidak ada yang melindunginya dari Lavina. Dari Evander. Dari semua ular yang bersembunyi di balik dinding mewah ini. --- Pagi ini, hujan akhirnya berhenti. Matahari muncul dari balik awan, menyinari halaman mansion dengan cahaya keemasan yang hangat. Arin memutuskan untuk berjalan-jalan di taman, ditemani Naira yang setia mengikuti dari belakang. Taman mansion itu luas—begitu luas hingga butuh sepuluh menit berjalan kaki dari teras depan hingga ke g

  • MENDADAK JADI ISTRI TUAN MAFIA    Bab 8

    Hujan masih mengguyur Kane ketika Arin terbangun keesokan paginya. Suara air yang jatuh dari langit-langit teras terdengar seperti tangisan panjang yang tak berujung. Ia membuka mata, menatap langit-langit kamar yang asing, dan untuk sesaat ia lupa di mana berada. Tapi nyeri di pergelangan tangannya segera mengembalikan ingatan.Mansion Levis Mouse. Perangkap yang disebut pernikahan.Arin bangkit, menggenggam jubahnya, dan melangkah ke jendela. Halaman mansion tenggelam dalam kabut tebal. Pepohonan bergoyang diterpa angin, dedaunan basah berserakan di mana-mana. Kolam renang yang semalam mengilap seperti kaca hitam kini keruh, dipenuhi daun-daun mati yang mengapung.'Seperti rumah ini,' pikirnya getir. 'Indah di luar, tapi mati di dalam.'Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunannya. Arin membuka pintu, menemukan Naira berdiri dengan nampan sarapan—teh hangat, roti panggang dengan selai stroberi, dan sepiring buah segar."Selamat pagi, Nona," sapa Naira dengan senyum yang tampak dipa

  • MENDADAK JADI ISTRI TUAN MAFIA    Bab 7

    Malam itu, Arin duduk di tepi ranjang kamar yang terlalu luas untuknya. Kamar ini—kamar pengantin, kata Naira—tapi tak ada satu benda pun di sini yang terasa seperti miliknya. Bahkan aroma ruangan ini asing, campuran kayu mahoni dan parfum pria yang terlalu tajam.Parfum Levis.Arin menghela napas berat. Tangannya masih membiru bekas cengkeraman suaminya tadi pagi. 'Aku adalah maut yang kebetulan menikahimu.' Kalimat itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Ia mengangkat tangannya, menatap jejak biru di pergelangan. Sakit. Tapi bukan itu yang paling perih. Yang paling perih adalah bagaimana pria itu mengucapkan "sayang" pada wanita di telepon dengan suara yang begitu lembut—sesuatu yang tak akan pernah ia dengar untuk dirinya sendiri.Di luar, angin malam berdesir pelan. Arin bangkit, melangkah ke jendela. Dari sini ia bisa melihat halaman mansion yang luas, diterangi lampu taman kuning redup. Kolam renang mengilap seperti kaca hitam. Patung-patung marmer berjejer di sepan

  • MENDADAK JADI ISTRI TUAN MAFIA    Cinta atau madu?

    "Semalam kau darimana?" tanya Arin dengan raut wajah polos yang masih sungkan terhadap suaminya itu. "Apa urusanmu?" tekan Levis Mouse, suami yang baru satu hari saja bersama setelah pernikahan mereka. Arin mengangkat kepalanya, awalnya dia tak berani menatap, namun dirinya tidak lemah. Dia membusungkan dadanya dan mendekat seolah tak merasakan takut. "Aku adalah istrimu, tentu saja aku berlagak seperti istri di matamu. Meski aku tahu status ku di hidupmu tak pernah ada artinya. Namun, gelar yang kudapat saat menjadi istrimu tentu aku tak akan sia-siakan," ucap Arin tersenyum menantang. "Dan kamu pikir dengan dirimu yang bergemilang harta, aku akan diam, begitu maksudmu?" lanjut gadis itu sangat lantang. Levis Mouse sangat marah. Dia kembali mendekati gadis itu dan mencengangkan erat tangannya. Sedangkan Arin hanya membola, menatap lekat wajah suaminya itu. Perasaannya bertambah kalut. "Apa maksud dari ucapanmu itu gadis jalang? Aku bukan saja seorang suami untukmu, teta

  • MENDADAK JADI ISTRI TUAN MAFIA    Menikah dengannya

    Keesokan harinya, Arin bangun saat mendengar bunyi jam beker. Tangannya meraihnya di atas nakas dan segera mematikannya. Dia melihat sudah pukul tujuh. Matanya yang masih mengantuk mau tidak mau harus membuka matanya, "ssshhh, aww," dia mendesis kesakitan saat bagian kepalanya masih terasa sakit, dia melihat tempat itu sangat berbeda dari kamarnya. Dimanakah dia? Arin mengelilingi setiap sudut kamar, ingin melihat kamar siapakah yang sangat indah itu yang tersusun rapi. Jauh dari kata berantakan yang sering dia lakukan di kamarnya sendiri.Dia berjalan menelusuri bingkai yang ada pada nakas di sebelah kiri ranjang. Dari jaraknya yang beberapa meter sedang mengerutkan kening seakan-akan dia pernah melihatnya. Karena rasa penasaran yang tinggi dia pun mendekatinya. Dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui siapa orang di balik foto tersebut."Dia? Apa ini adalah kamarnya?" batin Arin saat tercengang melihatnya.Bagaimana mungkin dia bisa berada di tempat pria itu, sedangkan dia baru sa

  • MENDADAK JADI ISTRI TUAN MAFIA    Lari

    "Evander!" bentak seorang wanita setengah baya pada seorang putranya yang masih tertidur pulas di ranjang.Anaknya itu langsung terbangun saat mendengar suara ibunya yang keras. Matanya yang masih dalam keadaan mengantuk berusaha membuka mata lebar-lebar untuk menatap ibunya."Ada apa, Mom? Malam-m

  • MENDADAK JADI ISTRI TUAN MAFIA    Mencari keberadaannya

    "Kau sudah mencarinya ke seluruh kota ini?" tanya Levis.Pria itu sangat marah saat mendengar nama Arin menghilang. Baru saja dia kepikiran untuk memberinya pelajaran dan sekarang semua yang sudah dia rencanakan gagal sepenuhnya. Dia menatap sekretaris pribadinya itu dengan tatapan sengit. Mana mun

  • MENDADAK JADI ISTRI TUAN MAFIA    Menikahlah denganku!

    "Apa yang kurang dariku, Arin? Bukankah kau melihat semua yang ada padaku tidak ada pada yang lain?" Sorot mata yang tajam sedang menghadang tatapan gadis cantik yang tengah gemetar menghadapinya."Anda memang memiliki segalanya, tapi aku tidak tertarik sama sekali!" Keberanian macam apa itu? Bisa-

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status