LOGINArindinita adalah gadis cantik berusia 20 tahun yang sedang menjalani kuliah di Universitas ternama di kotanya. Terpaksa harus menikahi sang mafia yang kejam tanpa ampun. Entah apa yang telah diperbuat oleh ayahnya dulu sampai-sampai dia harus berurusan dengan pria itu. Arin harus terbiasa hidup sengsara dibawah tahanan pria itu. Hidupnya bagaikan di neraka yang tidak akan habis ujungnya. Bagaimana kisah cinta antara Arin dan Levis selanjutnya?
View More"Apa yang kurang dariku, Arin? Bukankah kau melihat semua yang ada padaku tidak ada pada yang lain?" Sorot mata yang tajam sedang menghadang tatapan gadis cantik yang tengah gemetar menghadapinya.
"Anda memang memiliki segalanya, tapi aku tidak tertarik sama sekali!" Keberanian macam apa itu? Bisa-bisanya Arin mengatakan langsung pada pria yang hanya memiliki kesabaran setipis tisu."Menikah denganku atau kuserahkan pada mereka!"Arin semakin takut. Dia melihat banyak pria di arena club seperti zombie yang kehausan darah. Manik mata Arin hanya menatap nanar pada sosok pria yang tengah mengancam dirinya."Apa maumu, Tuan Levis Mouse?!" tegas Arin semakin berani. Jika memilih diam dan membiarkan pria itu menginjak-injak harga dirinya tentu bukan namanya Arin."Aku tidak akan mengulang perkataan ku lagi setelah ini. Aku ingin kau jadi milikku sampai aku nantinya tidak memerlukan dirimu lagi. Kau hanya perlu berbalas budi padaku!"Deg!Jantung Arin mendadak berhenti. Dia merasakan napasnya seakan berhenti saat itu juga. Keberanian yang terkumpul tadi mendadak hilang. Apa yang terjadi sebenarnya?Arindinita adalah kepanjangan dari namanya. Gadis cantik berusia 20 tahun yang sedang menjalani kuliah di Universitas ternama di kotanya. Malam ini dia berada di suatu Club ternama. Awalnya dia tidak ingin pergi ke tempat itu, namun temannya memaksanya untuk pergi. Hingga dia bertemu seorang pria mafia yang dia sendiri tidak tahu asal-usulnya.Pria itu terus memaksanya seakan dia sangat mengenal Arin. Arin terus memberontak dengan sekuat tenaganya sembari memohon agar pria itu melepasnya, namun pria itu tidak mendengarnya sama sekali."Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran Anda saat ini, Tuan. Aku adalah wanita baik-baik dari keluargaku. Mana mungkin aku sangat gampang untuk didapat olehmu."Arin menarik tangannya kuat, meskipun terasa sakit, namun dia tidak ingin lama-lama berada di sana sampai orang lain menilai buruk tentangnya. Disaat Arin hendak melangkahkan kakinya, disaat itu pula pria itu marah dan menghentikan langkahnya."Kau tidak boleh pergi sebelum menyetujuinya, Arin!" seru pria itu. Wajahnya telah berhasil menggambarkan suasana hatinya yang sedang murka. Kemudian dia mendekati Arin yang tengah mematung dan menyentuh bibirnya."Kau tidak boleh pergi dari tempat ini, Arin. Hanya aku... Hanya aku yang boleh meninggalkan tempat ini jika urusannya sudah selesai," bisik pria itu sembari mengelus wajah Arin hingga sampai ke dagu dan mencengkeramnya sangat kuat. Arin sampai terkejut dibuatnya."Wajah ini sama sekali tidak berarti dibandingkan dengan apa yang sudah kuberikan pada ayahmu itu," terangnya."Apa maksudnya? Apa yang sudah diberikan pria ini pada ayahku? Tidak mungkin! Tidak mungkin ayahku kenal dia dan sampai berurusan dengannya," batin Arin. Air mata yang berusaha dia tahan untuk tidak menangis kini keluar dengan sendirinya.Cengkraman pria itu sangat kuat. Arin bisa merasakan bagaimana tangan itu tengah melukainya. Mungkin saja berdarah karena rasanya perih. Tatapannya sangat membunuh. Arin sampai harus menunduk agar menghindar darinya."Jangan pernah menolak sekali-kali perintahku atau aku akan mencabik-cabik tubuhmu ini, sampai kau tahu akhirnya bahwa orang yang telah kau hadapi saat ini adalah orang yang tak bisa ditolak ataupun ditentang!" tegas dari pria itu sambil tersenyum miring."Siapakah Anda sampai berani menyentuhku?" Arin beranikan diri untuk menatapnya. Hembusan napas kasar dan bibirnya yang bergetar sudah jelas sekali bahwa dirinya memang ketakutan. Namun, dia seolah-olah masih kuat agar mampu menghadapi pria kejam itu."Aku?" Pria itu malah tersenyum miring. "Aku adalah Levis Mouse. Seperti katamu tadi. Kau betul menyebut namaku.""Aku sama sekali tidak mengenal Anda. Aku menyebut nama itu, karena Anda memang terkenal di tempat ini," sahut Arin yang kemudian menamparnya.Plaak!"Itu adalah tamparan akibat tangan Anda berani menyentuhku!"Pria itu tidak terima begitu saja saat tangan Arin menamparnya dengan mulus. Dia pun lebih mendekat lagi ke arah Arin hingga menyisakan hanya beberapa senti darinya, kemudian menjambak rambutnya."Kau berani menamparku?" Tangan pria itu meraih sebelah tangan Arin seraya menciumnya nakal kemudian membalikkannya ke belakang hingga punggung Arin bersentuhan dengan tubuh pria itu. "Berani sekali tangan kotor ini menampar pipiku. Kalau aku mau, aku bisa menghabisimu sekarang juga.""Kenapa tidak berani, Tuan? Habisi saja aku. Aku juga tidak sudi bersama pria iblis yang tidak memiliki sisi prikemanusiaan!" tantang Arin."Kau—""Kenapa, Tuan Levis Mouse? Anda merasa benar dengan ucapanku? Kalau Anda memang berperikemanusiaan, tidak mungkin Anda tega melakukannya padaku," ucap Arin sembari tersenyum kecut.Mendengar ucapan Arin bukannya membuat pria itu merasa iba. Malah pria itu semakin memperkuat genggamnya dan memutar tangan Arin dengan tega. Arin merasa kesakitan dengan perbuatan pria tersebut."Kau memberiku nasihat? Kau tidak perlu buru-buru untuk kematianmu. Aku sudah menyusun semuanya dengan baik. Kau hanya tinggal menurut saja dengan apa yang aku mau, lalu kau akan pergi dengan damai nanti," ucap pria itu yang kemudian mendorongnya sampai tubuh Arin mengenai meja dan terbalik begitu saja."Aku tidak ingin sebagai tontonan di sini. Kalau kau ingin tahu banyak tentangku dan tentang ayahmu, kau bisa menikah denganku. Aku jamin kau tak ingin melewatkannya, bukan?""Mengapa harus menikah jalan satu-satunya?""Karena menikah denganku, aku bisa merasakan ayahmu yang telah pergi tidak tenang di alam sana."Arin yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa pasrah dan menyerah. Dia ingin tahu banyak tentang ayahnya. Apa yang sudah dikatakan pria itu telah membuatnya begitu penasaran. Dan juga telah terbesit rasa dendam yang dalam terhadapnya.Meskipun ini bukan didasari cinta, melainkan balas budi, Arin tidak akan pernah menganggap kisahnya dengan pria itu sebagian dari kisah hidupnya nanti. Salah satu cara untuk membuat pria itu bertekuk lutut padanya adalah membiarkan dirinya menikah dengan pria itu dan saat-saat itulah dia akan membalas semuanya."Baiklah, aku akan menerimanya. Aku akan menikah dengan Anda," ucap Arindinita kalah telak. Dia tak sanggup mengelak apalagi memberontak. Melihat anak buah dari pria itu sangatlah banyak. Jika dia melawan sekarang, sudah pasti nyawanya terancam.Levis memandanginya. "Cepat sekali kau untuk menyerah, Arindinita... Apakah kau telah menyusun rencana untuk menyingkirkanku dari hidupmu?""Tepat sekali! Tepat sekali dugaanmu, aku memang akan membunuhmu. Mencabik-cabik seluruh kulitmu hingga kau merasakan sakit yang luar biasa dan aku akan pastikan kau lebih baik mati daripada mendapatkan hukuman dariku, Tuan Levis Mouse," batin Arin sambil mengepal tangan kuat.Pria itu mendekat dan ingin menciumnya, namun tiba-tiba seseorang menghentikannya."Tuan," panggil salah satu anak buahnya.Pria itu menyipitkan matanya, dia sangat terganggu dengan munculnya anak buahnya itu."Kau tidak bisa bedakan tempat sekarang?" tegas pria."Gawat, Tuan Muda. Seluruh kota Kane telah dikepung musuh dan telah membuat onar di sana," beritahu anak buahnya itu.Alhasil, pria itu pun memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Arin mematung menyaksikan kepergiannya.Tiga minggu telah berlalu sejak Lavina ditahan. Tiga minggu sejak Arin mengetahui kebenaran tentang kematian ayahnya. Tiga minggu sejak Levis mengatakan bahwa ia punya pilihan untuk pergi atau tinggal.Dan Arin masih di sini.Ia tidak tahu persis mengapa ia belum pergi. Setiap pagi ia bangun, berpikir untuk mengemasi barang-barangnya, memanggil taksi, dan meninggalkan mansion megah ini selamanya. Tapi setiap pagi juga, ada sesuatu yang menahannya. Mungkin aroma kopi yang diseduh Naira. Mungkin sinar matahari yang masuk melalui jendela kamarnya. Mungkin tatapan Levis saat mereka berpapasan di lorong—tatapan yang tidak lagi dingin, tapi juga tidak bisa ia artikan.Atau mungkin, Arin takut. Bukan takut pada Levis, tapi takut pada dirinya sendiri. Karena perlahan, tanpa disadari, ia mulai terbiasa dengan kehidupan ini. Mulai merasa aman. Mulai merasa... betah.Dan itu yang paling menakutkan.---Pagi ini, Arin duduk di teras belakang, menghadap ke taman. Matahari baru saja naik, menyinari
Tiga hari telah berlalu sejak percakapan di perpustakaan itu. Tiga hari sejak Levis mengatakan bahwa ayahnya dibunuh. Tiga hari sejak dunia Arin terbalik untuk kesekian kalinya. Dan selama tiga hari itu, Levis tidak muncul. Arin bertanya pada Naira, tapi gadis itu hanya menggeleng. "Tuan sedang ada urusan di luar kota, Nona. Beliau bilang akan kembali beberapa hari lagi." Beberapa hari. Arin tidak tahu harus merasa lega atau cemas. Tanpa kehadiran Levis, mansion ini terasa lebih sunyi, tapi juga lebih berbahaya. Karena tanpa Levis, tidak ada yang melindunginya dari Lavina. Dari Evander. Dari semua ular yang bersembunyi di balik dinding mewah ini. --- Pagi ini, hujan akhirnya berhenti. Matahari muncul dari balik awan, menyinari halaman mansion dengan cahaya keemasan yang hangat. Arin memutuskan untuk berjalan-jalan di taman, ditemani Naira yang setia mengikuti dari belakang. Taman mansion itu luas—begitu luas hingga butuh sepuluh menit berjalan kaki dari teras depan hingga ke g
Hujan masih mengguyur Kane ketika Arin terbangun keesokan paginya. Suara air yang jatuh dari langit-langit teras terdengar seperti tangisan panjang yang tak berujung. Ia membuka mata, menatap langit-langit kamar yang asing, dan untuk sesaat ia lupa di mana berada. Tapi nyeri di pergelangan tangannya segera mengembalikan ingatan.Mansion Levis Mouse. Perangkap yang disebut pernikahan.Arin bangkit, menggenggam jubahnya, dan melangkah ke jendela. Halaman mansion tenggelam dalam kabut tebal. Pepohonan bergoyang diterpa angin, dedaunan basah berserakan di mana-mana. Kolam renang yang semalam mengilap seperti kaca hitam kini keruh, dipenuhi daun-daun mati yang mengapung.'Seperti rumah ini,' pikirnya getir. 'Indah di luar, tapi mati di dalam.'Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunannya. Arin membuka pintu, menemukan Naira berdiri dengan nampan sarapan—teh hangat, roti panggang dengan selai stroberi, dan sepiring buah segar."Selamat pagi, Nona," sapa Naira dengan senyum yang tampak dipa
Malam itu, Arin duduk di tepi ranjang kamar yang terlalu luas untuknya. Kamar ini—kamar pengantin, kata Naira—tapi tak ada satu benda pun di sini yang terasa seperti miliknya. Bahkan aroma ruangan ini asing, campuran kayu mahoni dan parfum pria yang terlalu tajam.Parfum Levis.Arin menghela napas berat. Tangannya masih membiru bekas cengkeraman suaminya tadi pagi. 'Aku adalah maut yang kebetulan menikahimu.' Kalimat itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Ia mengangkat tangannya, menatap jejak biru di pergelangan. Sakit. Tapi bukan itu yang paling perih. Yang paling perih adalah bagaimana pria itu mengucapkan "sayang" pada wanita di telepon dengan suara yang begitu lembut—sesuatu yang tak akan pernah ia dengar untuk dirinya sendiri.Di luar, angin malam berdesir pelan. Arin bangkit, melangkah ke jendela. Dari sini ia bisa melihat halaman mansion yang luas, diterangi lampu taman kuning redup. Kolam renang mengilap seperti kaca hitam. Patung-patung marmer berjejer di sepan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews