“Apa… apa yang baru saja kau katakan?” tanya Dita, matanya menatap Barra seolah ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.Barra tersenyum tipis, sorot matanya penuh keyakinan. “Seperti yang kau dengar,” ujarnya tenang. “Aku membawamu kemari untuk meminta restu dari ayahmu.”Belum sempat Dita membuka mulut untuk menanggapi, tawa keras tiba-tiba memecah ruangan. Bintara menyandarkan tubuhnya ke kursi, wajahnya dipenuhi ekspresi mengejek.“Jadi pria ini,” katanya sambil menunjuk Barra, “yang membuatmu kabur dari rumah?”Rahang Dita mengeras. Giginya saling bergemelatuk menahan emosi yang sejak tadi ia tekan. Ia melangkah maju, menatap ayahnya tanpa gentar.“Jangan memutarbalikkan keadaan,” ucapnya dingin. “Aku pergi karena Papa.”Bintara mengernyit tajam.“Berani sekali kau menyalahkanku!”“Jika Papa tidak memaksaku menikah dengan Edgar,” lanjut Dita dengan suara bergetar namun tegas, “aku tidak akan pernah meninggalkan rumah.”Tangan Bintara terangkat tinggi, amarahnya memuncak
Dernière mise à jour : 2026-01-18 Read More