MasukNatasha Amelia tak pernah menyangka, tujuannya untuk bertemu sang sahabat di hotel, justru membuatnya terlibat dengan Edgar Pradipta, calon pewaris keluarga pradipta, yang mengira dirinya adalah pengantin sewaan pria tersebut! Karena kesalahpahaman di awal itu, Natasha terpaksa menjalani sebuah kontrak sebagai pengantin Edgar demi mempertahankan reputasinya dan membantu pria tersebut mempertahankan takhta pewaris yang diperebutkan keluarga besar Pradipta. Kiranya, akankah Natasha baik-baik saja ketika mengikuti sandiwara sang pewaris tampan itu? Atau ... keduanya malah terjebak dalam perasaan tak terduga dan mulai bimbang dengan status Natasha sebagai 'pengantin sewaan'?
Lihat lebih banyak“Apa… apa yang baru saja kau katakan?” tanya Dita, matanya menatap Barra seolah ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.Barra tersenyum tipis, sorot matanya penuh keyakinan. “Seperti yang kau dengar,” ujarnya tenang. “Aku membawamu kemari untuk meminta restu dari ayahmu.”Belum sempat Dita membuka mulut untuk menanggapi, tawa keras tiba-tiba memecah ruangan. Bintara menyandarkan tubuhnya ke kursi, wajahnya dipenuhi ekspresi mengejek.“Jadi pria ini,” katanya sambil menunjuk Barra, “yang membuatmu kabur dari rumah?”Rahang Dita mengeras. Giginya saling bergemelatuk menahan emosi yang sejak tadi ia tekan. Ia melangkah maju, menatap ayahnya tanpa gentar.“Jangan memutarbalikkan keadaan,” ucapnya dingin. “Aku pergi karena Papa.”Bintara mengernyit tajam.“Berani sekali kau menyalahkanku!”“Jika Papa tidak memaksaku menikah dengan Edgar,” lanjut Dita dengan suara bergetar namun tegas, “aku tidak akan pernah meninggalkan rumah.”Tangan Bintara terangkat tinggi, amarahnya memuncak
“Mari kita akhiri sandiwara ini.”Edgar terdiam beberapa detik. Rahangnya mengeras.Detik berikutnya, ia membopong tubuh Natasha di atas pundaknya.“Edgar! Turunkan aku!” Natasha memukul punggungnya.“Kau kelelahan,” jawab Edgar datar. “Kau bicara tanpa berpikir.”“Aku sadar! Lepaskan aku sekarang!”Natasha memberontak, seperti setiap kali Edgar memaksanya. Namun Edgar tak menggubris.“Aku tidak akan meninggalkanmu di tengah hujan,” ucapnya tegas. “Marahmu bisa menunggu. Kondisimu tidak.”“Jangan sok peduli!” bentak Natasha. “Aku tidak butuh itu darimu!”Edgar tetap melangkah, menembus hujan deras menuju hotel.Sesampainya di sana, langkahnya langsung terhenti sejenak. Beberapa orang menoleh. Bisik-bisik terdengar pelan.Namun tak satu pun berani bertanya.Wajah Edgar dingin dan serius. Tatapannya seolah memperingatkan siapa pun untuk tidak ikut campur.Begitu tiba di salah satu kamar hotel, Edgar langsung membawa Natasha masuk ke kamar mandi dan menurunkannya di sana. “Mandilah,” ti
“Siapa kalian?!” tanya Natasha tajam pada wanita dan anak kecil yang tadi ia tolong.Keduanya diam. Wanita itu menunduk, anak kecil di pelukannya tak berani menoleh.Kecurigaan Natasha menguat. Ia melirik ke depan. Seorang pria duduk di kursi kemudi—hoodie hitam, topi, dan masker menutupi wajahnya.Jebakan.“Apa mereka berniat menculikku?” batinnya.“Berhenti!” teriak Natasha. “Turunkan aku sekarang!”Mobil justru melaju.Panik, Natasha memukul kaca jendela. “Tolong! Tolong! Siapa pun yang mendengarku, tolong aku!”Tak ada yang peduli.Wanita di sampingnya berbisik pelan, “Sudah… tidak ada gunanya.”Natasha menoleh tajam. “Kalian mau apa dariku?!”“Kami hanya ingin kamu ikut dengan kami,” jawab wanita itu singkat.“Tidak!” Natasha menepis. “Aku tidak mengenal kalian. Turunkan aku sekarang!”Tak ada yang menanggapi. Mobil terus melaju.“Berhenti!” suara Natasha meninggi. “Atau aku akan berteriak lagi!”Wanita itu tetap diam. Anak kecil di sampingnya hanya menunduk.Mobil akhirnya melamb
Edgar menepikan mobilnya di pinggir jalan dengan perasaan putus asa setelah berbicara dengan Barra. Hatinya terasa kosong, dan pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tak kunjung terjawab. Ia meremas kemudi mobil dengan erat, berusaha meredam emosi yang terus bergemuruh di dalam dirinya. "Apakah Natasha benar-benar membenciku?" gumamnya pelan, suaranya nyaris tertelan oleh keheningan mobil. Ia tidak bisa memahami mengapa semuanya berubah begitu cepat. Edgar menutup matanya sejenak, berharap menemukan kedamaian di tengah kekacauan pikirannya. Tapi, justru yang muncul adalah bayangan Natasha—wajahnya yang selalu tenang dan tatapannya yang dalam.Tiba-tiba, suara notifikasi pesan masuk memecah kesunyian. Edgar membuka matanya dan meraih ponselnya dengan lesu, mengira itu hanya pesan dari Julian yang mungkin ingin membahas urusan pekerjaan. Namun, saat melihat nama pengirim di layar, tubuh Edgar menegang. Nama yang tertera di sana bukan Julian, melainkan Barra.Dengan cepat, Edgar membuka pes
Setelah kejadian tragis terjadi di kontrakan Danu, Rio langsung dilarikan ke rumah sakit dengan ambulans yang melaju cepat, beradu dengan waktu untuk menyelamatkan nyawa pria itu. Dini, dengan wajah pucat dan tangan gemetar, ditangkap oleh polisi dan dibawa pergi dengan pengawalan ketat. Berita meng
Rio dan Dini berjalan melewati gang sempit yang hanya diterangi oleh beberapa lampu jalan yang sudah kusam. Suasana malam itu terasa dingin dan sunyi, hanya sesekali terdengar suara langkah kaki mereka yang bergema di antara tembok-tembok rumah yang berdekatan. Dinding-dinding gang dipenuhi coretan
"Tidak ada yang paling ku sesali di dunia ini kecuali terlahir menjadi putra Mamah." Kata-kata itu terdengar jelas di telinga Dini, merasuk ke dalam hatinya seperti belati yang menusuk tanpa ampun. Perasaan sedih, kecewa, dan marah bercampur menjadi satu, membentuk badai emosi yang berkecamuk di dal
Sesampainya Dini di depan kamar Natasha, ia menoleh ke kanan dan kiri dengan hati-hati. Setelah memastikan bahwa tidak ada tanda-tanda kehadiran Rio maupun Edgar, ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar tersebut.Tok.. Tok.. Tok.."Siapa?" tanya Natasha dari dalam kamar. Suaranya terdengar rag
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak