Tamparan keras menghantam pipi Alyas dengan suara yang nyaris menggelegar di toilet yang sunyi itu. Wajah Alyas memerah, bekas tangan Andini terukir jelas, sementara matanya yang semula penuh amarah kini terpancar kebingungan dan luka. Andini menghembuskan napas panjang, dada terasa sedikit lega setelah menumpahkan kemarahan yang terpendam. Matanya yang tajam menatap tajam ke arah pria di depannya, seolah ingin menancapkan pesan bahwa ia bukan wanita yang bisa dipermainkan."Kita masih punya keterikatan pernikahan, jangan harap kamu bisa punya hubungan dengan orang lain," suara Alyas pecah, penuh dendam dan kepahitan. Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan melangkah pergi dengan langkah berat, meninggalkan Andini yang berdiri terpaku dengan dada berdebar dan hati yang remuk.Saat pintu tertutup rapat di belakang Alyas, perlahan-lahan air mata mulai mengalir di pipi Andini, membasahi kulitnya yang hangat. Ia menutup wajah dengan tangan gemetar, berusaha menahan rasa sakit yang bukan h
Baca selengkapnya