Tok … tok … tok …Suara ketukan pintu menghentikan tangan Andini, “ada yang datang,” ucap Andini panik. Dia langsung cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya menjahit telapak tangan Alyas lalu selesai. “Siapa?” tanya Alyas.“Ini aku Michelle, Sayang.” Deg …Andini sontak menatap tajam wajah Alyas, “dia siapanya Bapak? kok, manggil Sayang?” “Saya sudah bilang kalau kita sedang berdua, jangan panggil saya Bapak, saya itu bukan Bapak kamu, ya!” “Oke, oke, lain kali saya akan pikiran hal itu.” Alyas malah tersenyum melihat raut wajah Andini yang terlihat tidak nyaman, di saat Michelle terus menerus memanggil Alyas dengan sebutan ‘Sayang.’ “kenapa kamu jadi tidak nyaman begitu? apa kamu cemburu?” Andini mengerutkan keningnya heran, “apa, cemburu? kenapa disaat seperti ini, kamu memikirkan hal semacam itu?”“Iya, kamu sepertinya sedang cemburu.” “Tolong jangan bercanda! jawab saja pertanyaan saya, siapa Michelle itu?” “Dia calon istri saya.” Andini terbelalak kaget, kemudian mengedar
Magbasa pa