“M-maaf? Apa yang Mas Yoga tadi bilang?” aku sangat terkejut sampai tak bisa berkata banyak, begitu pula Dina yang membuka mulutnya lebar.“Nih anak ya! Mulutnya udah kaya ember bocor!” Dina mencubit lengan sepupunya gemas, aku pun tertawa kecil namun dalam hatiku bertanya apa iya? Atau ini hanya perasaanku aja, udahlah, jangan geer, Din. Ingat, kamu udah bersuami dan dia abdi negara. Nggak mungkin ‘kan abdi negara nikahin janda, ih, amit-amit.“Amit … amit …” ucapku sambil memukul jidatku pelan.“Kamu kenapa, May? Pake getok-getok jidat?” Maya dan sepupunya ternyata memperhatikanku. Duh, malunya ….“Enggak … nggak apa-apa,” ujarku tertawa kecil.“Oh, ya, ngomong-ngomong kalian mau sampai kapan di Jogja?” tanya Yoga mengalihkan perhatianku.“Kalo aku sih maunya selamanya, Jakarta is sumpek. Nggak tau deh kalau Maya, kayaknya sih dia nggak bisa lama-lama di sini, kangen ayang mbeb-nya nanti,” kelakar Dina.“Saya juga maunya di sini terus, kalau bisa malah pengen pindah,” ujarku nyeletu
Magbasa pa