LOGIN“Ih, kok kamu mau, sih punya suami bekas sahabatmu. Emang nggak ada laki-laki lain apa!?" Bukan sekali dua kali aku mendengar cibiran seperti itu terhadap Mas Dendi, suamiku yang dulunya adalah suami Tantri, sahabat baikku. Bahkan kedua orang tuaku pun tak menyetujui pernikahanku dengan Mas Dendi karena embel-embel "bekas", tapi satu hal yang mereka tak tahu bahwa Mas Dendi bukanlah laki-laki biasa. “Dan kini saatnya kita tunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya pada mereka-mereka yang telah menghinamu, Mas!”
View More“M-maaf? Apa yang Mas Yoga tadi bilang?” aku sangat terkejut sampai tak bisa berkata banyak, begitu pula Dina yang membuka mulutnya lebar.“Nih anak ya! Mulutnya udah kaya ember bocor!” Dina mencubit lengan sepupunya gemas, aku pun tertawa kecil namun dalam hatiku bertanya apa iya? Atau ini hanya perasaanku aja, udahlah, jangan geer, Din. Ingat, kamu udah bersuami dan dia abdi negara. Nggak mungkin ‘kan abdi negara nikahin janda, ih, amit-amit.“Amit … amit …” ucapku sambil memukul jidatku pelan.“Kamu kenapa, May? Pake getok-getok jidat?” Maya dan sepupunya ternyata memperhatikanku. Duh, malunya ….“Enggak … nggak apa-apa,” ujarku tertawa kecil.“Oh, ya, ngomong-ngomong kalian mau sampai kapan di Jogja?” tanya Yoga mengalihkan perhatianku.“Kalo aku sih maunya selamanya, Jakarta is sumpek. Nggak tau deh kalau Maya, kayaknya sih dia nggak bisa lama-lama di sini, kangen ayang mbeb-nya nanti,” kelakar Dina.“Saya juga maunya di sini terus, kalau bisa malah pengen pindah,” ujarku nyeletu
“Kita sudah sampai Mbak. Mbak … Mbak.”“O-oh, iya … maaf, Mas Yoga.” Aku buru-buru mematikan ponsel dan turun dari mobil. “Wah, panjang banget antriannya, ya,” kataku melihat barisan panjang orang-orang di sebuah tempat makan yang mungkin lebih mirip kaki lima. “Kira-kira kita masih kebagian nggak ya?” tanyaku meragu dengan situasi di depanku saat ini.“Kebagian, kok. Jangan khawatir.” “Eh, kebagian?” aku langsung menoleh ke arah Yoga dengan banyak pertanyaan dalam benakku. Masa sih? Antriannya aja ngalahin bus Transjakarta, batinku.“Yuk, Mbak.” Yoga spontan menarik tanganku masuk dari arah berlawanan. Kami tidak mengantri seperti orang-orang itu. Aku pun diam dan seperti orang bodoh mau saja diajak ke sana-sini.“Mbok Jum, sotone kaleh (Bu Jum, sotonya dua),” ucapnya sambil mengangkat dua jarinya dan tersenyum. Wanita tua yang ada di depanku dengan batik lusuh warna coklat pudar serta jarik (kain) lurik dan celemek yang penuh dengan warna kuning serta bermacam-macam warna yang sang
“Sudah sampai.”Yoga mengantarku hingga ke depan pintu kamar hotel. Aku pun hanya bisa mengangguk menahan malu dan rasa tak enak karena beberapa saat lalu tanganku mengalung di lengan kekarnya tanpa permisi. Tak ada kata yang terucap dari kami. Saat hendak menempelkan kartu hotel, suara berat dan pelan Yoga tiba-tiba membangunkan bulu kudukku.“Aku dulu juga punya pengalaman yang sama seperti Mbak Maya.”“A-apa? Maaf Mas Yoga?” kepalaku pun langsung spontan menoleh ke kiri tepat melihat pria ini dengan tatapan bingung.“Maaf, jadi curcol.” Tawanya sambil garuk-garuk kepala. “Yasudah, kalau begitu saya pamit dulu, Mbak Maya. Selamat malam dan selamat beristirahat.” Tubuh tegap pria itu segera balik kanan mengayun langkah seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam celana bahan hitam polos. Aku melihat punggung lebar dan gagah sepupu Dina sedikit sendu. Aku tak salah dengar! Dia mengatakan sesuatu yang aku yakin berhubungan dengan masa lalunya.***“Ah, lelahnya!” tubuhku langsung kuhemp
“Karena pernikahan kita di ujung tanduk.”“Apa maksudmu, May? Kenapa bicara begitu? Kenapa tiba-tiba ….” Mas Dendi terbelalak, begitu pula Yoga. Aku pun tak menyangka bisa bicara seperti ini.“Bukankah semua sudah jelas, Mas? Pernikahan kita sudah hancur!” tegasku namun masih dengan suara datar dan rendah. “Kenapa kamu bisa bilang begitu, May? Tolong jelaskan,” pinta Mas Dendi. Dari raut wajahnya, aku tahu dia sangat terkejut dan shock dengan ucapanku. Aku melirik ke arah Yoga yang sepertinya penasaran dengan rumah tanggaku, tapi tak mungkin juga ‘kan aku cerita, dia orang lain. Masa aib aku ceritakan dengan orang yang baru pertama bertemu.“Itu-”Belum lagi aku selesaikan ucapanku, ponsel milik Mas Dendi berdering nyaring. Dan firasatku mengatakan itu adalah Tantri!“Kenapa nggak diangkat?” tanyaku tersenyum sinis.“Nanti aja, nggak penting!” jawab Mas Dendi. Memang dia tak menjawab telepon yang masuk, tapi Yoga merasa risih dan terganggu dengan deringan berisik ponsel milik suamik
Akhirnya, kujalankan perintah Bu Melanie. Saat kuhubungi, ia sedang berada di luar dan tak lama menghubungi balik dan siap untuk bertemu. Entah mengapa langkahku begitu berat, rasanya ada sesuatu yang menempel di betisku sampai-sampai Dina menegurku karena tak kunjung pergi.“Mau berangkat jam bera
Aku memutuskan untuk meninggalkan kantor Mas Dendi dengan hati hancur. Entah terbuat dari apa sebenarnya hatiku, kenapa masih saja menerima kenyataan yang sangat menyakitkan hati.“Apakah benar aku harus mengikuti ucapan ayah dan ibu?” ***Dina : May, kamu di mana? Dicariin Bu Melanie.Pesan singk
Mas Dendi terbelalak mendengar ucapanku. Ia dengan segera turun dari motor dan menarik tanganku.“Apaan, sih, Mas! Sakit tahu!” keluhku mencoba melepaskan tangannya.“Bilang sekali lagi!” sentaknya.“Bilang apa?” tanyaku mengalihkan pandangan.“Kata-kata yang baru saja keluar dari mulut kamu, Maya!”Belu
Aku dan Yoga berjalan tak tentu arah. Entah ke mana kaki membawa kami, tapi yang kutahu aku harus menjauh dari suamiku dan Tantri. Air mataku sudah hampir terlepas dari kelopak mata, kucoba menahan namun tak bisa. “Kalau Mbak Maya capek, berhenti dulu di sini nggak apa-apa.”Aku terkejut dan menol












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews