"Tidak!" Liana berteriak sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Ada apa?""Kenapa, Nak?""Sayang, kenapa?"Tanya itu datang bersamaan dari mulut Yunia, Yuni, dan juga Kevin. Perlahan Liana menarik tangannya dan melihat ke arah Yuni. "Ah, e-enggak, kok.""Kamu pasti capek, ya? Istirahatlah. Sana, tidur di kamar Papimu," titah Yuni. "Tidak, aku tidak capek. Hanya saja ...," Liana menggantung kalimatnya sambil menatap Kevin dan Yuni bergantian. Kevin duduk di samping Liana. "Katakan saja, Sayang, ada apa?""Iya, ada apa, Nak?" tanya Yuni dengan nada khawatir. Liana menunduk dengan kedua tangan memeras rok seragamnya. "Emm ... itu ... maaf ... soal Nenek yang bikin kue ...,"Lagi, Liana tidak melanjutkan ucapannya. Dan lagi, Kevin membujuk agar Liana bicara. Liana menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, "Nenek gak akan taro racun di kue ulang tahun Mami, kan?"Kalimat itu membuat semua melongo. Kevin dan Yunia tersenyum, lalu menatap Yuni seolah-olah menunggu jawa
閱讀更多