Mag-log inSetiap melahirkan anak perempuan, Alana akan dihina sang mertua. Puncaknya adalah saat dia melahirkan anak ketiga yang juga perempuan. Mertuanya marah besar, hingga Alana mengalami baby blues.... Akankah Alana mampu mempertahankan rumah tangganya? Terlebih, wanita dari masa lalu sang suami, telah kembali....
view moreHari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Pagi-pagi sekali, Alina sudah bersiap. Gadis kecil itu sudah tidak sabar untuk tiba di sekolah. Tak hentinya ia bercermin, merapikan rambutnya yang dikucir. Bukan hanya Alina, Kevin yang sedari tadi sudah datang, terlihat gelisah. Pria itu tidak sabar untuk berjalan bergandengan bersama Alana. Bergandengan? Itulah yang ia bayangkan. Tidak berselang lama, Alana dan ketiga putrinya menghampiri. Kevin nampak semringah. Bagaimana tidak? Hari itu adalah hari paling istimewa bagi dirinya. Semua sudah berada di mobil. Kevin pun segera melajukan roda empatnya dan meninggalkan kediaman Alana. ***Alana, Kevin, dan si bungsu Alina sudah tiba di sekolah. Sebelumnya, mereka mengantarkan Liana dan Ilana terlebih dahulu.Kevin tersenyum lebar. Bagaimana tidak? Ia mereka memiliki keluarga cemara, dimana Alina digandeng di sisi kiri dan kanan. Ditambah lagi, pakaian yang mereka pakai sama. Baik dari model maupun warna.Bel berbunyi. Tandanya games akan dim
Di ruang makan, Burhan dan Kevin duduk berseberangan. Kevin acuh-tak acuh walaupun Burhan sedari tadi menatapnya tajam. Jikalau tidak ada anak-anak, Kevin yakin keributan akan terjadi. "Ayo, makannya habiskan," ucap Kevin lembut kepada Alina"Kakak sama Ila juga, ya?!" lanjutnya. Kevin mengunyah rotinya lagi dengan santai, lalu menoleh ke arah Burhan. "Gak sarapan?" tanyanya santai. "Cihh!" Burhan tersenyum sarkas. "Habiskan saja punyamu, lalu cepatlah pergi!"Kevin tersenyum miring. "Tentu saja. Tidak mungkin juga saya menginap di sini. Ah, tapi ... sepertinya akan seru kalau saya menginap di sini.""Kau--" Gigi Burhan bergemeretak, bahkan rahangnya terlihat mengeras, menahan amarah kepada Kevin. "Iya, Papi nginep aja di sini, Pi," sambar Ilana cepat. Kevin menatap Ilana sambil tersenyum. "Bagusnya begitu?"Ilana mengangguk. "He'em!"Kevin kembali menatap Burhan. Tak lama senyum setengah mengejek terbit dari bibir Kevin. Bagaimana tidak? Ia merasa geli sekaligus puas dengan eksp
Kevin berjalan mondar-mandir mencoba memikirkan cara untuk membujuk Alana agar ikut. Selain tidak ingin mengecewakan Ilana, ia tidak ingin acara kejutan yang sudah disusun hancur berantakan. Ting! Sebuah notifikasi pesan masuk. Kevin berjalan cepat menuju ranjang. Disambarnya ponsel dan membuka pesan itu. Bibirnya melengkungkan senyum. Bagaimana tidak? Ternyata Alana memintanya untuk datang ke rumah esok hari."Ada apa, ya, kira-kira? Ngasih jawaban atau ... apa?" Monolog Kevin. Kevin tersenyum lebar. "Ah, tak peduli apa pun itu, yang penting besok aku bertemu Alana."Kevin segera menyimpan ponselnya, lalu bergegas tidur. *Esok harinya. Pagi-pagi sekali Kevin sudah bangun. Ia memilih dan memilah baju yang sekiranya pantas ia kenakan untuk bertemu dengan Alana. Setelah dirasa dapat yang pas, ia segera memakainya kemudian bercermin. Kevin menata rambutnya, membenahi kemejanya, tak lupa menyemprotkan parfum. "Sempurna!" cicitnya sambil menatap dirinya di depan cermin dengan pen
"Tidak!" Liana berteriak sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Ada apa?""Kenapa, Nak?""Sayang, kenapa?"Tanya itu datang bersamaan dari mulut Yunia, Yuni, dan juga Kevin. Perlahan Liana menarik tangannya dan melihat ke arah Yuni. "Ah, e-enggak, kok.""Kamu pasti capek, ya? Istirahatlah. Sana, tidur di kamar Papimu," titah Yuni. "Tidak, aku tidak capek. Hanya saja ...," Liana menggantung kalimatnya sambil menatap Kevin dan Yuni bergantian. Kevin duduk di samping Liana. "Katakan saja, Sayang, ada apa?""Iya, ada apa, Nak?" tanya Yuni dengan nada khawatir. Liana menunduk dengan kedua tangan memeras rok seragamnya. "Emm ... itu ... maaf ... soal Nenek yang bikin kue ...,"Lagi, Liana tidak melanjutkan ucapannya. Dan lagi, Kevin membujuk agar Liana bicara. Liana menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, "Nenek gak akan taro racun di kue ulang tahun Mami, kan?"Kalimat itu membuat semua melongo. Kevin dan Yunia tersenyum, lalu menatap Yuni seolah-olah menunggu jawa
Makan siang selesai. Sebelum meninggalkan restoran, Kevin mengirim pesan kepada Alana bahwasanya dirinya akan membawa putri mereka ke rusun. Tanpa menunggu balasan dari Alana, Kevin bergegas meminta mereka naik mobil.Ayah dan ketiga gadis itu sudah berada di dalam mobil. Si bungsu Alina dengan se
Alana hanya diam berdiri sambil mendengarkan kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Yuni, bahkan ia tidak peduli dengan posisi Yuni yang tengah bertekuk lutut sambil memeluk kakinya. Tak hanya Yuni, tetapi Yunia juga. Namun, ia tak menampik jika hatinya berdesir mendengar pengakuan Yuni. Ya,
"Ikut sama Mas!" Kevin menarik lengan Alana. Alana terhunyung. "Aww! Sakit, Mas, lepas!"Rey dengan cepat melepas tangan Kevin dan mendorongnya. Tubuh Rey yang lebih tinggi dan kekar dari Kevin tentu saja mampu membuat pria itu terjatuh. Tak cukup sampai di situ, Rey mencengkeram kerah Kevin dan m
Alana sudah memberi sambutan. Saatnya masing-masing divisi mempresentasikan kinerjanya. Tibalah giliran Kevin. Semula pria itu dengan percaya diri berjalan ke arah monitor, bahkan tangan pun sudah menggenggam remote pointer. Namun, bibirnya tiba-tiba terasa kelu saat tak sengaja ia melihat Rey men












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu