ログインSetiap melahirkan anak perempuan, Alana akan dihina sang mertua. Puncaknya adalah saat dia melahirkan anak ketiga yang juga perempuan. Mertuanya marah besar, hingga Alana mengalami baby blues.... Akankah Alana mampu mempertahankan rumah tangganya? Terlebih, wanita dari masa lalu sang suami, telah kembali....
もっと見るKevin berjalan mondar-mandir mencoba memikirkan cara untuk membujuk Alana agar ikut. Selain tidak ingin mengecewakan Ilana, ia tidak ingin acara kejutan yang sudah disusun hancur berantakan. Ting! Sebuah notifikasi pesan masuk. Kevin berjalan cepat menuju ranjang. Disambarnya ponsel dan membuka pesan itu. Bibirnya melengkungkan senyum. Bagaimana tidak? Ternyata Alana memintanya untuk datang ke rumah esok hari."Ada apa, ya, kira-kira? Ngasih jawaban atau ... apa?" Monolog Kevin. Kevin tersenyum lebar. "Ah, tak peduli apa pun itu, yang penting besok aku bertemu Alana."Kevin segera menyimpan ponselnya, lalu bergegas tidur. *Esok harinya. Pagi-pagi sekali Kevin sudah bangun. Ia memilih dan memilah baju yang sekiranya pantas ia kenakan untuk bertemu dengan Alana. Setelah dirasa dapat yang pas, ia segera memakainya kemudian bercermin. Kevin menata rambutnya, membenahi kemejanya, tak lupa menyemprotkan parfum. "Sempurna!" cicitnya sambil menatap dirinya di depan cermin dengan pen
"Tidak!" Liana berteriak sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Ada apa?""Kenapa, Nak?""Sayang, kenapa?"Tanya itu datang bersamaan dari mulut Yunia, Yuni, dan juga Kevin. Perlahan Liana menarik tangannya dan melihat ke arah Yuni. "Ah, e-enggak, kok.""Kamu pasti capek, ya? Istirahatlah. Sana, tidur di kamar Papimu," titah Yuni. "Tidak, aku tidak capek. Hanya saja ...," Liana menggantung kalimatnya sambil menatap Kevin dan Yuni bergantian. Kevin duduk di samping Liana. "Katakan saja, Sayang, ada apa?""Iya, ada apa, Nak?" tanya Yuni dengan nada khawatir. Liana menunduk dengan kedua tangan memeras rok seragamnya. "Emm ... itu ... maaf ... soal Nenek yang bikin kue ...,"Lagi, Liana tidak melanjutkan ucapannya. Dan lagi, Kevin membujuk agar Liana bicara. Liana menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, "Nenek gak akan taro racun di kue ulang tahun Mami, kan?"Kalimat itu membuat semua melongo. Kevin dan Yunia tersenyum, lalu menatap Yuni seolah-olah menunggu jawa
"Sekali lagi maaf, Pi. Maksudnya tadi itu ... aku mau kasih Papi surprise.""Surprise?" Kevin mengulang. "Iya, Pi," sambar Alina, "kami pura-pura nolak untuk diajak ke rumah nenek. Nah, nanti di jalan pulang, kita setuju, deh, ke rumah nenek. Gitu."Liana menunduk. "Maaf."Embusan napas lega ke luar dari mulut Kevin. Ya, kejutan. Benar-benar kejutan. Kevin terkejut dengan kejadian yang terjadi tadi dan terkejut karena ternyata Liana mau diajak ke rumah. "Terima kasih, Sayang, terima kasih," ucap Kevin penuh haru."Ya, udah, Pi, let's go!" seru Alina. "Tapi, apa kalian sudah izin mami?" Kevin mentap putrinya bergantian. Semua menggeleng, membuat Kevin menepuk jidatnya sendiri dan terjadilah gelak tawa. "Baiklah-baiklah, Papi yang akan minta izin. Sebentar!" Kevin mengeluarkan ponselnya dalam saku celana. Jarinya dengan lincah menekan setiap huruf sampai akhirnya pesan pun terkirim. Senyum cerah merekah nampak dari bibir Kevin. Ia tidak akan menyiakan kesempatan yang sangat berhar
Kevin tertawa garing. "O-oh, gitu ya? Papi pikir tante kalian ...," Kevin tidak melanjutkan ucapannya. "Apa?" tanya Liana. Kevin melihat kaca spion. Matanya menatap Liana dan Alina bergantian. "Tidak ada apa-apa. Tidak usah dibahas."Kevin kembali fokus menyetir dengan perasaan kecewa. Liana hanya mengangkat kedua bahunya, lalu bersilang dada. "Oke!"Tak berselang lama, tibalah mereka di sekolah Liana. Setelah Liana turun, mobil kembali melaju menuju sekolah berikutnya. Tak lupa Kevin membuat janji kepada ketiga putrinya terlebih dahulu jika pulang nanti ia akan menjemput.Tujuan Kevin berikutnya adalah bengkel. **"Kenapa?" "Tidak!" jawab Kevin lesu, saat William bertanya."Hah! Sejujurnya aku bosan dengan jawabanmu. Sedari malam sikapmu aneh. Bisa tidak, lain kali datang ke sini raut mukamu itu sumringah?"Kevin tersenyum. "Tentu saja bisa, Pak Tua."William memutar bola matanya malas. "Kau ini seperti perempuan saja. Moodnya berubah-ubah!""Hahahahah!" Kevin tertawa terpingkal
Jam sepuluh pagi Alana beserta keluarga sudah berada di kantor polisi. Alana dan ketiga putrinya sedang menunggu di ruang besuk. Tidak berselang lama Kevin datang. Alangkah terkejutnya Ilana saat melihat wajah Kevin yang penuh dengan luka memar. "Muka Papi kenapa?" Ilana setengah histeris. Kevin
Bugh! Bogem mentah Rey berhasil melumpuhkan Kevin. Pria itu tersungkur."Kamu tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" Rey tampak panik. Pria itu mengamati Alana dari rambut hingga ke kaki, bahkan memutar badan Alana. "Ya ampun, Kak, aku tidak apa-apa. Untung Kakak datang tepat waktu."Rey membawa A
Alana mengembuskan napas kasar. Memang tidak ada salah Kevin menemui putri-putrinya. Akan tetapi, Alana akan lebih menghargai jika saja Kevin bertanya dan meminta izin terlebih dahulu kepadanya. Ditambah lagi saat pagi bukanlah waktu yang tepat."Darimana dia tahu alamat ini?" tanya Rey. Alana men
"Tunggu!" Liana berteriak sambil mengejar Rey. Pun dengan kedua adiknya. Rey menoleh. "Ada apa, hem?""Om kenapa pergi? Kan, kita belum kasih jawaban," kata Liana. Rey mengernyitkan dahinya. Bukankah sikap mereka tadi adalah jawabannya? Pikir Rey. "Jadi?" tanya Rey memastikan. "Kita mau Om Papa












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビュー