Setelah perbincangan tentang cucu, aku merasa tidak tenang. Karena pandangan si Bapak yang konon katanya akan menjadi suamiku semakin intens. Aduh! Kok aku jadi merinding."San-san, kapan-kapan main ke ke rumah Mama." Kami sudah selesai makan dan kedua orang tua Pak Anggara mengatakan akan langsung pulang.Aku mengangguk sembari melepas kepergian mereka. Di sebelahku, Pak Anggara masih tetap menatapku."Bapak ih, ngeliatin terus. Serem tahu!" Pria itu malah terkekeh. "Tahu nggak, saya lagi bayangin waktu bikin cucu buat Mama Papa sama kamu," bisiknya dengan seringai jahil yang sering ia perlihatkan akhir-akhir ini.Aku bergidik ngeri. Ia malah tertawa."Suka ih, godain kamu."Aku melengos. Pria ini berbeda sekali dengan kesehariannya di kantor. "San, kita jalan-jalan dulu yuk," ajaknya."Jalan ke mana?" tanyaku."Ya kemana aja, masih pengen berduaan sama kamu soalnya," katanya.Kok aku takut ya mendengarnya. Aku menyipitkan mata. "Bapak nggak akan berbuat aneh-aneh kan?"Pak Anggara
Terakhir Diperbarui : 2026-01-05 Baca selengkapnya