LOGINSandrina Rahayu, seorang wanita muda yang dilabeli perawan tua karena belum menikah di usia menjelang 30 tahun, merasa jika dunia ini sangat tidak adil padanya. Ia sering mempertanyakan pada dirinya sendiri mengapa dirinya belum menikah dan tidak bisa mendapatkan perhatian dari lawan jenis padahal wajahnya lumayan cantik dan penampilannya pun menarik. Apakah Sandrina akan bertemu dengan jodohnya segera
View MoreSetelah perbincangan tentang cucu, aku merasa tidak tenang. Karena pandangan si Bapak yang konon katanya akan menjadi suamiku semakin intens. Aduh! Kok aku jadi merinding."San-san, kapan-kapan main ke ke rumah Mama." Kami sudah selesai makan dan kedua orang tua Pak Anggara mengatakan akan langsung pulang.Aku mengangguk sembari melepas kepergian mereka. Di sebelahku, Pak Anggara masih tetap menatapku."Bapak ih, ngeliatin terus. Serem tahu!" Pria itu malah terkekeh. "Tahu nggak, saya lagi bayangin waktu bikin cucu buat Mama Papa sama kamu," bisiknya dengan seringai jahil yang sering ia perlihatkan akhir-akhir ini.Aku bergidik ngeri. Ia malah tertawa."Suka ih, godain kamu."Aku melengos. Pria ini berbeda sekali dengan kesehariannya di kantor. "San, kita jalan-jalan dulu yuk," ajaknya."Jalan ke mana?" tanyaku."Ya kemana aja, masih pengen berduaan sama kamu soalnya," katanya.Kok aku takut ya mendengarnya. Aku menyipitkan mata. "Bapak nggak akan berbuat aneh-aneh kan?"Pak Anggara
Teman-temanku tidak percaya jika aku dan atasanku tidak benar-benar menjalin hubungan istimewa. "Nggak usah malu San, kita tahu kok." Begitu kira-kira ucapan mereka setiap kali aku menyangkal. Mayang pun menjadi getol menggodaku, ada saja pembahasan tentang atasanku di sela-sela perbincangan kami. Bahkan ketika membicarakan tentang makanan pun ujung-ujungnya pasti nama Pak Anggara muncul dalam pembahasan. "Kamu kalau naksir bapake ngaku aja May," kataku sembari geleng-geleng kepala."Kak San nggak usah cemburu gitu deh, aku bukan orang yang suka nikung laki orang kok. Aku mah setia sama si gedung sebelah aja." Mayang malah menggoda. Aku mencebik. "Yang sebelah mana? Kiri atau kanan?" "Kanan dong, kan sebelah kanan lebih baik," jawabnya sembari menaik-turunkan kedua alisnya. "Kayak orang yang ada di sebelah Kak San, itu yang terbaik buat Kak San." Mayang melirik ke arah sebelah kananku, dari wangi parfumnya sih aku bisa pastikan yang berada di sana adalah atasanku. "San, nanti ka
Aku kira ucapan Pak Anggara perihal pertemuannya dengan kedua orang tuaku hanya bualan belaka ternyata semua itu adalah nyata. Buktinya pagi-pagi sekali ibuku menelepon hanya untuk mengabari jika kemarin ada calon menantu yang berkunjung ke rumah kami."Pantesan kamu nggak mau Mama kenalin sama cowok, ternyata udah punya pacar," katanya tanpa basa-basi. "Pacar ganteng nggak pernah dibawa ke rumah.""Aku nggak pacaran Ma.""Nggak pacaran gimana? Kalau nggak pacaran, mana mungkin si Angga datang ke rumah." Suara mamaku berada di antara sewot dan senang.Aku menghela nafas lelah. "Beneran Ma, dia itu emang suka becanda. Lagian dia itu kan boss aku di kantor mana mungkin kita pacaran.""Udah deh jangan banyak alasan, pokoknya minggu depan kamu pulang. Angga sama keluarganya mau silaturahmi."Aku mengerutkan kening. "Serius?""Ya serius, dia sendiri yang bilang," jawab mamaku tercinta.Aku memijat pelipisku yang mendadak pening. Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh atasanku yang un
"Ciee... calon mantunya Ibu," goda Mayang.Aku mendelik. Sungguh di luar prediksi saudara-saudara. Aku tidak pernah menyangka jika orang tua Pak Boss yang ngaku-ngaku mau jadi Bapak-nya anak-anakku itu akan berkunjung. Alhasil sebutan Nyonya Boss berubah menjadi calon mantunya Ibu, kampret sekali memang teman-temanku itu."Bentar lagi kantor kita hajatan guys!" Mba Diah yang mengatakan hal itu. "Waduh! Harus siap-siap nyari kado nih," tambah Pak Harun.Aku manyun. "Hey! Calon mantunya Ibu, tolong bilangin dong sama anaknya Ibu buat approve budget." Kali ini Mas Cahya yang menggodaku.Aku mendelik. "Nyebelin!"Mas Cahya tertawa. "Siapa yang nyebelin? Aku sih nggak mungkin nyebelin, pasti yang nyebelin anaknya Ibu ya?"Aku kembali manyun. Mas Cahya tentu saja tertawa.Aku menatap Mayang yang sedang menatapku sambil tersenyum lebar. "Aku senang Kak San akhirnya mau menikah.""Siapa yang mau nikah May," kataku sewot."Lah, memangnya Kak San mau jomlo seumur hidup?" tanya Mayang kaget.A












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.