Pagi itu, sebagai perantau yang jarang pulang, Karyo sebetulnya sudah gelisah sejak malam sebelumnya. Beberapa jam sebelum kereta mendekati Yogyakarta, ia mendadak merasa harus mengabari Joko, anak sulungnya. Dengan tangan gemetar, ia menelpon dari kursi ekonomi yang sempit, suara kereta menggerung pelan di belakang."Halo, Joko? Iki Bapak..." (Halo, Joko? Ini Bapak...)"Lho, Pak? Bapak arep mulih?" (Lho, Pak? Bapak mau pulang?)"Iyo, Le. Bapak tekan Yogya sakjam meneh. Iso ndang jemput?" (Iya, Nak. Bapak sampai Yogya sejam lagi. Bisa jemput?)"Ngko aku usahain, Pak..." (Nanti saya usahakan, Pak...)"Bapak ora popo, kan?" (Bapak nggak apa-apa, kan?)"Ora popo, Le. Neng omah ketemu..." (Nggak apa-apa, Nak. Di rumah aja ketemu...)Telepon ditutup, dan Karyo limbung di bangkunya. Udara dalam gerbong pengap, tapi pikirannya jauh lebih berat—penuh kecemasan, takut, dan malu. Ia kembali
Last Updated : 2025-12-16 Read more