Waktu bergerak lambat dalam kegelapan.Karyo masih berbaring, mata terbuka menatap langit-langit yang retak. Nyeri di dadanya tidak pergi—hanya mundur sedikit, seperti ombak yang menarik napas sebelum menghantam lagi.Sepuluh menit. Dua puluh menit. Mungkin lebih.Gelombang kedua datang.Lebih kuat dari sebelumnya. Seperti ada tangan yang meremas jantungnya dari dalam, memelintir, tidak mau lepas."Ngghh..."Karyo menggigit bibir. Tangannya mencengkeram sprei sampai buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin merembes dari pori-pori, membasahi kaos tipisnya.Napasnya pendek. Terputus-putus. Paru-parunya terasa terlalu kecil.Di sampingnya, Ratih bergerak sedikit dalam tidur. Karyo membeku—tidak boleh bangun, tidak boleh tahu.Gelombang ketiga.Tubuhnya gemetar di luar kendali. Bukan gemetar kedinginan—gemetar seperti mesin yang suda
Zuletzt aktualisiert : 2026-02-21 Mehr lesen