Pintu kamar terbuka tanpa ketukan.Ratih menoleh kaget dari tumpukan handuk di tangannya.Pak Irwan berdiri di ambang pintu.Napasnya masih tidak teratur. Kerah kemejanya kusut. Matanya... matanya seperti orang yang baru melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat.Ratih menelan ludah. Dia tahu apa artinya, ia siap, sudah menyiapkan diri sedari tadi. Perkataan Mas Karyo benar, Pak Irwan datang.Di sudut kamar, Dani tertidur pulas di kasur kecilnya. Napas anak itu pelan dan teratur, tidak terganggu oleh ketegangan yang tiba-tiba memenuhi ruangan.Irwan melirik Dani sekilas, lalu kembali menatap Ratih."Ikut saya."Dua kata. Bukan permintaan.Ratih meletakkan handuk di tangannya. Perlahan. Jantungnya berdegup kencang.Irwan sudah berbalik, melangkah keluar dari kamar menuju ruangan sebelah—Kamar tamu lain, cukup jauh dari kamar dimana Dani t
Terakhir Diperbarui : 2026-02-18 Baca selengkapnya