Abyan mengangkat alis tipis, mencoba tetap tenang. “Oh, itu… kemarin aku sibuk urusan kerjaan sampai larut. Handphone ketinggalan di mobil, jadi nggak kebawa masuk.” Pak Adi, ayahnya, ikut menimpali. “Kerjaan apa sampai nggak bisa dihubungi sama sekali? Kamu tuh sudah mau nikah, jangan bikin calon istrimu khawatir.” Abyan meneguk kopi, memberi jeda sejenak sebelum menjawab. “Ada urusan di luar kota, Pa. Nggak bisa ditunda. Baru pulang subuh tadi.” Ia mengalihkan pandangan, menghindari tatapan penuh selidik ibunya. “Ya sudah, tapi tolong jangan bikin orang khawatir lagi,” ujar Bu Ratna, walau tatapannya seakan belum sepenuhnya percaya. Abyan hanya mengangguk, lalu buru-buru mengalihkan pembicaraan ke topik pekerjaan ayahnya. Fokus dia sekarang adalah mendapat kepercayaan sang kakek walaupun mustahil karena ada cucu lain. Tapi, yang selalu ditekan untuk bekerja hanyalah dirinya. itu tidak adil, bukan? Hanya karena cucu lain masih berstatus mahasiswa, sang kakek membebaskan Hen
Terakhir Diperbarui : 2025-08-11 Baca selengkapnya