[POV Rey]Langkah sepatuku menggema memantul di dinding pualam Aula Utama Sekte Samsara.Tempat yang dulunya menjadi pusat spiritual paling sakral dan tak tersentuh di Ibukota ini kini terasa layaknya sebuah makam raksasa. Pilar-pilar penyangganya retak, permadani merahnya robek, dan udara dipenuhi oleh sisa-sisa keputusasaan dari faksi yang baru saja kehilangan dewanya.Aku melangkah sendirian, menyusuri karpet merah yang mengarah lurus menuju singgasana giok di ujung ruangan.Tiba-tiba, dari balik bayangan pilar-pilar raksasa, tiga sosok melesat keluar dengan kecepatan kilat. Tiga Tetua Sekte yang tersisa, wajah mereka berkerut oleh dendam kesumat, menerjang ke arahku dari tiga sudut berbeda. Pedang spiritual mereka memancarkan cahaya biru yang menyilaukan, membidik leher, jantung, dan tulang belakangkangku secara bersamaan."Mati kau, Tiran Verdansk!" raung salah satu dari mereka dengan sisa-sisa tenaga Qi terakhirnya.Aku bahkan tidak repot-repot menghentikan langkahku atau menole
Baca selengkapnya