"Berkemas bisa menunggu sebentar lagi, kan?" bisikku, mengeratkan pelukanku pada pinggang ramping Amanda dan Livia.Mendengar godaanku, wajah Amanda seketika merona merah hingga ke telinga. Ia menyembunyikan wajahnya di dadaku, sementara Livia terkekeh pelan, menyandarkan dagunya di bahuku.Udara di dalam kamar utama ini mendadak terasa sedikit lebih panas. Keputusanku untuk menyetujui kepindahan ke Lunaris sepertinya benar-benar memicu gelombang kasih sayang yang luar biasa dari kedua istriku ini."R-Rey... air mandinya nanti dingin," cicit Amanda, meski tangannya sama sekali tidak berusaha mendorong dadaku menjauh. Sebaliknya, jemarinya justru bermain nakal di kancing kemejaku yang baru saja ia pasang."Biarkan saja dingin," balasku santai. Aku menunduk, mengecup leher jenjang Amanda, menghirup aroma lavender dari kulit putihnya yang begitu mulus. "Nyonya Besarku bilang ingin segera memulai program memiliki anak di Lunaris, bukan? Sebagai suami yang siaga, aku rasa kita tidak perlu
Mehr lesen